
Setelah susah payah mengenakan baju yang suaminya pilihkan, Aisha mulai bingung bagaimana caranya memakai hijab, lengannya masih terasa nyeri jika diangkat. Ia memutuskan untuk merias wajahnya lebih dulu sebisa dan sesimple mungkin sembari menunggu Faris yang masih khusu dengan solat dhuhanya.
Eyeshadow natural dark brown dengan lip matte berwarna nude yang tak terlalu mencolok menambah kesan hidup di wajahnya, sangat cocok dengan sweater turtleneck-nya yang berwarna mocca.
“Udah siap Sayang?” tanya Faris menghampiri sang istri.
“Udah, tinggal pake hijab, tapi susah,” jawabnya memasang puppy eyesnya.
“Sini Abang bantu pake, masih sakit kalo diangkat yah?”
“Heem lumayan sih.”
Aisha menyerahkan hijab pashmina yang berwarna senada dengan sweaternya pada Faris. Membiarkan suaminya mengambil alih pemasangan hijab itu di kepalanya.
“Ini gimana pakenya Sayang?” tanyanya meneliti hijab panjang di tangannya.
“Ini tinggal dipakein sama panjang, terus dibawah dagu pake peniti, terus sisanya tinggal ditalini ke belakang deh biar simple.”
Faris mencoba mengaplikasikannya seperti arahan sang istri, beberapa kali ia pasang lepas hijab itu, ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Tanpa pikir panjang, Faris meraih ponselnya. Membuka aplikasi tutorial mengenakan hijab pashmina simple, pandangannya fokus memahami dan mempelajarinya.
Aisha tak kuat lagi menahan tawanya melihat suaminya tampak gugup hingga keringat bermunculan di dahinya, apalagi ketika harus memakaikan peniti di bawah dagunya untuk menyatukan hijab agar tak terlepas.
“Abang santai aja,” goda Aisha menahan tawanya.
“Sumpah ini sih lebih menegangkan dari operasi usus buntu, Sayang,” jawabnya tetap fokus pada peniti di tangannya, ia khawatir akan menyakiti istrinya.
Setelah beberapa kali lepas pasang, akhirnya peniti itu terpasang sempurna, dan Faris mulai menalikan kedua ujung hijab itu ke belakang leher agar terlihat lebih rapi.
“Huh, akhirnya. Kalo sakit bilang ya Sayang,” tuturnya tak yakin pada hasil karyanya.
“Siap Bos.”
“Eh tapi bagus kan hasil karya Abang? nggak beda jauhlah sama punya Ica. Eh coba deh foto dulu,” tuturnya percaya diri. Aisha menurut saja, ia mulai berdiri dan berpose mengikuti intruksi sang suami.
"Tuh kan bagus Sayang," tutur Faris menunjukan hasil jepretannya.
"Ih baju pilihan Ica juga bagus kok, sini deh Ica fotoin Abang juga." Aisha mengambil alih ponsel dari tangan suaminya.
__ADS_1
"Tuh kan bagus, Abang jadi keliatan muda kayak anak tujuh belasan," ujarnya memuji hasil karyanya.
"Dih emang Abang masih muda yey," bela Faris membuat sang istri justru tergelak.
***
Dari atas balkon kamarnya, Azka memperhatikan putranya yang tengah dengan riangnya bermain dengan Mba Sani di taman. Rafa kini semakin beranjak tumbuh, ia bahkan sudah mulai belajar berjalan, namun ada sesuatu yang justru membuat dada Azka sesak.
Azka sadar bahwa selama ini betapa minim waktunya untuk menemani pertumbuhan sang putra, ia sudah lalai menjaga janjinya pada mendiang sang istri.
“Maafin aku ya Di, aku lalai menjaga putra kita. Padahal kamu sudah bertaruh nyawa untuk menghadirkannya.”
Tanpa sadar setetes embun mengalir dari ujung netranya.
“Pa-pa,” teriak Rafa terbata sambil melambai ke arahnya.
“Hay Sayang,” balas Azka ikut melambai pada Rafa, lalu ia memilih turun untuk bergabung dengan sang putra, setidaknya meminimalisir rasa bersalahnya.
***
“Kita mau jalan kemana Bang?”
“Gimana kalo ke North Quay yuk? Udah lama nggak ke sana,” saran Faris merangkulkan lengan kekarnya pada pundak sang istri, dan Aisha pun melingkarkan lengan kanannya pada punggung suaminya. Sengaja berjalan bersisian menuruni anak tangga menikmati setiap langkah bersamaan, padahal lift bertengger di depan kamarnya.
Faris sesekali menggoda sang istri dalam rengkuhannya sambil membelai puncak kepalanya gemas, mereka berjalan menuju garasi dengan penuh canda ria.
Faris mengendarai mobilnya santai, layar spidometer range rover-nya hanya menunjukkan pada angka 40 km/jam, padahal jalanan cukup lengang karena mengingat hari ini bukanlah weekend maupun hari libur.
Faris menyetir dengan satu tangannya karena satu lagi terus saja bertaut dengan jemari sang istri, untung saja Faris adalah pengemudi yang handal sehingga Aisha tak perlu khawatir. Sesekali disela fokusnya mengemudi, Faris melirik wajah cantik istrinya yang tampak asyik memandang ke luar jendela, wajah yang setiap saat selalu memenuhi ruang hidupnya.
Tibalah mereka di tempat yang selalu menjadi favorit keduanya, tempat yang menjadi saksi juga sejarah perjalanan hidup mereka hingga saat ini.
“Gimana kalo kita ke rooftop aja Yang? Pasti seru deh,” ajak Faris yang langsung diangguki Aisha dengan antusias.
Faris sengaja memilih tempat di rooftop agar tak terlalu bising dengan pengunjung yang lain, selain itu juga agar mereka bisa menikmati keindahan hamparan lautan luas yang terlihat semakin mempesona jika dilihat dari ketinggian dan kapal-kapal pesiar yang tampak apik berjajar di dermaga.
Dan benar saja di rooftop itu tak ada seorang pun kecuali mereka karena memang Faris sudah sengaja mengatur semuanya, hanya saja Aisha belum menyadarinya.
Mereka duduk bersantai pada sofa yang terdapat di ujung rooftop yang menghadap langsung ke arah lautan dan jembatan Suramadu yang tampak ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.
Tak selang berapa lama dari kedatangan mereka, seorang pelayan menghampiri keduanya dengan nampan berisi semua varian makanan kesukaan Aisha. Sontak Aisha terkejut karena ia merasa belum memesan apapun.
“Ini semua Abang yang pesen?” tanya Aisha meregangkan sandarannya yang semula pada bahu sang suami.
__ADS_1
“Iya dong,” jawab Faris antusias.
“Kapan? Kayaknya dari tadi Abang sama Ica terus, kok bisa?”
“Bisa dong, apa sih yang enggak buat cintaku,” tuturnya kembali merengkuh pundak sang istri.
“Ish Abang ih! Malu tau,” bisik Aisha merasa malu karena pelayan yang mengantarkan makanan itu masih tetap pada posisinya.
“Permisi, ini buket bunganya Mba.” Seorang pelayan yang lainnya menyusul menghampiri keduanya dan menyerahkan buket bunga mawar putih pada Aisha, membuatnya semakin tercengang.
“Bang?” Aisha menoleh pada sang suami, menatapnya penuh tanya.
Faris hanya tersenyum dan mengangguk lalu meraih buket mawar putih dari tangan sang pelayan dan bersimpuh di hadapan Aisha yang sudah berdiri. Kedua pelayan itu pun turut undur diri, memberikan ruang bagi pengunjungnya.
“Maafin Abang ya Sayang, selama ini Ica banyak terluka karena Abang. Maafin Abang karena belum bisa menjaga Ica dengan baik,” tutur Faris mendongak.
Aisha meraih buket mawar itu juga tangan sang suami agar turut berdiri.
“Abang nggak perlu minta maaf karena apapun. Bagi Ica, Abang adalah sosok suami yang nyaris sempurna. Ica bersyukur karena pria yang nyaris tanpa kekurangan seperti Abang bersedia memilih wanita dengan segala kekurangan seperti Ica.” Tanpa sadar bulir kebahagiaan meluncur dari sudut netranya. Seketika Faris langsung menarik Aisha ke dalam dekapannya.
“Ica itu luar biasa, Ica segalanya buat Abang,” jawabnya meregangkan dekapannya, mengambil amplop putih yang juga terdapat dalam buket mawar dalam genggaman istrinya.
“Coba Ica buka deh,” titah Faris menyerahkan amplop putih di tangannya.
“Apaan nih?” Aisha yang amat penasaran langsung membuka amplop tanpa basa-basi.
Aisha benar-benar terkejut pada isi amplop itu, netranya sudah membulat sempurna dengan mulut yang terbuka.
Tiket umroh dan tiket honeymoon ke Turki kini benar-benar di tangannya.
“Abang serius?” tanya Aisha masih tak percaya pada apa yang dilihatnya.
“Serius lah Sayang. Maaf ya Abang baru bisa ajak Ica honeymoon sekarang, kemaren-kemaren Abang selalu sibuk sama kerjaan. Nanti kita ajak Ibu sekalian, kita ziarah ke makam Ayah.”
Aisha langsung menubruk kembali tubuh sang suami, menenggelamkan wajahnya di sana.
“Ica udah nggak tau lagi harus ngomong apa, terlalu banyak dan terlalu indah kejutan-kejutan dari Abang untuk sekedar dibalas dengan terima kasih.”
Hari itu mentari bersinar dengan indahnya, seindah rasa yang kini tengah melanda hati Faris dan Aisha.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...