
Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...
***
“Kita ketemu waktu itu pas yang di café loh Bang,” bisik Aisha mengerti tatapan suaminya.
“Ehem maaf apa anda suami dari Nona ini?” tanya Faisal beralih kepada Faris.
“Benar sekali, perkenalkan saya Faris dan ini Aisha, istri saya.” Faris berujar dengan bangga sambil mengulurkan tangannya.
“Ah saya Faisal, sekali lagi saya minta maaf atas kejadian di café tempo hari terhadap istri anda.”
“It’s okay selama dia baik-baik saja.”
Gus Hasan segera menghambur ke arah Faris dan memeluknya setelah acara perkenalannya dengan Faisal.
“Mas Faris kok ke sini nggak bilang-bilang dulu sih sama Hasan? Kan Hasan bisa siap-siap,” tukas Gus Hasan setelah melepas pelukannya.
“Ah kemaren pulang dari tanah suci sekalian mampir ke sini buat honeymoon. Rencananya sih Mas emang mau nemuin kamu, eh taunya malah nggak sengaja ketemu di sini.”
Gus Hasan langsung mengangguk-angguk tanda paham, lantas menoleh ke arah Aisha dan menyapanya.
“Aisha apa kabar?”
“Alhamdulillah saya baik, Gus.” Aisha menjawab dengan senyumnya.
“Kalo gitu kita duduk dulu yuk.” Gus Hasan menggiring kakak sepupunya agar bergabung dengannya.
“Nggak apa-apa kan Kak? Ay?” Kini Gus Hasan beralih meminta persetujuan kakak beradik di sampingnya.
“Ah it’s okay santai aja, rame lebih enak.” Faisal menjawab dengan ramah. Sedangkan Ayla sejak tadi hanya berdiam diri menyaksikan mereka.
“Ternyata ini kakak ipar yang udah bikin Hasan tergila-gila.” Ayla membatin dengan tatapannya tak sedikit pun beralih dari Aisha, membuat sang empunya sedikit tidak nyaman ditatap seperti itu.
“Beliau salah satu tutorku di kelas Tomer, Mas. Kalo ini adiknya Kak Faisal, Ayla, temen Hasan juga.” Gus Hasan memperkenalkan Faisal dan Ayla pada kakak sepupunya.
“Terima kasih atas bimbingan anda untuk adik saya, Tuan,” tukas Faris dengan sopan.
“Sudah menjadi kewajiban saya, Tuan.” Faisal pun menjawabnya dengan ramah.
“Apa ini kakak hebatmu yang sering kamu ceritakan San?” Pertanyaan Faisal sontak membuat Faris menoleh pada adik sepupunya itu.
__ADS_1
“Wah gosipin apa nih kamu tentang Mas San?”
“Hasan sering bercerita tentang kehebatan anda sebagai seorang dokter juga dalam memimpin perusahaan,” ujar Faisal justru menjawab pertanyaan Faris.
“Ah biasa saja, saya hanya berusaha menafkahi keluarga kecil kami,” tutur Faris merendah sambil merangkul bahu istrinya. Tanpa sadar hal itu mampu membuat luka di hati Gus Hasan sedikit kembali mencuat ke permukaan, terlihat dari ekspresinya yang langsung mengalihkan pandangannya. Namun ternyata hal itu tak lepas dari pandangan Ayla.
“Tuan apa perlu kita reservasi meja lagi?” Roger yang baru saja tiba langsung menawarkan diri ketika melihat Tuannya bergabung dengan orang-orang yang tak ia kenal.
“Nggak usah Ger, mereka temen-temen adik saya kok.”
Dengan sigap Roger mengangguk tanda paham lantas kembali menegakkan tubuhnya di belakang majikannya dengan gagah.
“Kamu boleh jalan-jalan dulu, nanti saya hubungi kalo udah selesai.” Faris kembali berujar ketika melihat Roger justru bersiaga berdiri di belakang dirinya.
“Terima kasih, Tuan.” Roger segera melengang pergi setelah mendapat perintah.
“Sepertinya Faris bukan orang sembarangan.” Kini giliran Faisal yang membatin setelah
menyaksikan pengawal Faris yang tampak tak seperti pengawal biasa.
“Mas Faris sama Aisha udah berapa lama di sini?” Gus Hasan kembali memecah keheningan.
“Kurang lebih semingguan ya Yang?” tutur Faris yang langsung diangguki oleh Aisha.
“Sepertinya kalian pengantin baru ya?” Faisal bertanya setelah melihat keharmonisan antara Faris dan Aisha yang mampu membuat hatinya sedikit mencelos, mengingatkan Faisal pada wanitanya yang sudah lebih dulu menghadap sang Illahi.
“Tepat sekali, kami ke sini memang untuk honeymoon,” ucap Faris membenarkan dugaan Faisal.
Mereka terus saja saling bercengkerama sambil menikmati makanan yang dipesan, seolah sudah saling mengenal satu sama lain. Sedangkan Aisha dan Ayla lebih banyak terdiam, hanya sesekali tersenyum menanggapi.
“Bang, Ica ke toilet sebentar ya?” Aisha menyentuh pelan lengan suaminya yang masih asyik dengan perbincangannya.
“Mau Abang temenin nggak?” Faris bertanya dan mengusap lembut puncak kepala istrinya.
“Nggak usah, bentar doang kok.” Aisha menolak dengan halus dan segera bangkit dari kursinya menuju toilet.
“Mas Faris selalu terlihat sangat bahagia sama Aisha, tapi bagiku itu sungguh melukaiku Mas. Aku tau kalian memang saling mencintai, tapi bisa tidak lebih kendalikan diri jika di depanku?” Gus Hasan hanya bisa membatin saat lagi-lagi ia menyaksikan perlakuan manis antara kakak sepupu dan istrinya itu.
“Aku juga mau ke toilet.” Ayla berucap seolah meminta izin pada semuanya, ia lantas segera melangkah juga menuju toilet.
Ketika membenarkan riasan wajahnya di depan cermin, ekor mata Aisha menangkap seseorang yang baru saja masuk ke toilet, ia turut berdiri di depan cermin tepat di samping Aisha seolah hendak membenarkan riasannya pula.
__ADS_1
Aisha tak menyapa atau pun membuka suara karena memang mereka tak saling mengenal, ia memilih untuk segera menyelesaikan riasannya dan kembali ke kursinya.
“Kamu beruntung ya bisa dicintai kakak beradik sekaligus, apalagi mereka bukan orang-orang sembarangan.” Ayla yang juga tengah membenarkan riasannya berujar tanpa menoleh ke arah Aisha.
Aisha seketika celingukan setelah mendengar penuturan Ayla, ia kebingungan apa Ayla bermaksud berbicara dengan dirinya?.
“Apa kamu berbicara dengan saya?” Aisha bertanya karena tak mendapati siapa pun di sana kecuali dirinya.
“Kamu kira aku ngomong sendiri?” Ada nada kurang bersahabat pada setiap kalimat Ayla.
“Maaf, tapi saya tidak mengerti maksud ucapan kamu.” Aisha mencoba menjawabnya seramah mungkin.
“Oh nggak ngerti apa pura-pura lupa ingatan?”
“Maaf Nona saya benar-benar tidak mengerti maksud anda, lagi pula kita tidak saling mengenal jadi Nona tidak berhak bertanya seperti itu pada saya.” Aisha memilih menyelesaikan riasannya agar segera kembali.
“Oh beneran nggak ngerti ….” Ayla menggantung kalimatnya dan menoleh ke arah Aisha.
“Suamimu dan Hasan bukankah mereka kakak dan adik sepupu? Nggak mungkin kamu nggak tau kalo Gus Hasan sebenarnya mencintai kamu dan dia sengaja pergi Turki dengan alasan kuliah, padahal niat utamanya adalah menghindar dari lukanya karena melihat kakak sepupunya sendiri menikahi wanita yang diam-diam dicintainya.” Ayla menghentikan riasannya lalu kembali meneruskan kalimatnya.
Seketika Aisha tertegun mendengar penjelasan dari wanita yang pasalnya teman Gus Hasan ini, ia memang tahu jika Gus Hasan ternyata diam-diam menyukai dirinya, tapi ia benar-benar tidak tahu jika kepergian Gus Hasan ke Turki yang sebenarnya adalah untuk menghindar darinya juga suaminya.
“Oh apa jangan-jangan suamimu nggak tau kalo ternyata adik sepupu kesayangannya diam-diam mencintai istrinya di belakang? Aku nggak bisa bayangin gimana reaksi Tuan Faris sih kalo sampe dia tau tentang ini.” Ayla memainkan ujung rambutnya sambil menatap Aisha dari ujung kaki hingga kepala.
“Kamu sedang mengancam saya?” Aisha bertanya setenang mungkin.
“Oh apa benar dugaanku?”
“Saya memang tidak tahu kalian sudah sedekat apa hingga kamu bisa mengetahui hal pribadi tentang Gus Hasan, tapi maaf, menurut saya, saya tidak perlu menjelaskan atau pun memberikan jawaban apapun ke kamu tentang kehidupan pribadi saya. Karena kita memang tidak saling mengenal.”
Aisha memilih kembali merapikan tampilannya lalu segera melangkah meninggalkan toilet dan Ayla yang masih terlihat kesal dengan jawaban Aisha, niat hati ia ingin memastikan apakah Aisha juga ternyata memiliki perasaan yang sama terhadap Gus Hasan, malah ia ditinggalkan tanpa kepastian.
“Sepertinya Aisha memang bukan orang sembarang yang bisa dengan mudah aku taklukan.” Ayla bergumam menatap Aisha yang sudah menghilang di balik pintu, ia memilih kembali dengan riasannya sebelum benar-benar melangkah keluar.
***
Tenang Yayang Ica, dia cuma bocah kok wkwkwk
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...