Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Sudah Skenario Tuhan


__ADS_3

Kini aku memahami hatiku


Bahwa rasa yang coba untukku hindari


Nyatanya selalu tinggal dalam hati


Dan masih orang yang sama disini


Namun aku membiarkannya pergi lagi


Masihkah hatimu kau jaga untukku?


Masihkah yang kau tunggu hanya aku?


Masihkah kau dirimu yang dulu?


~Muhammad Azka El-Fatih~


“Permisi Mba, apa benar Dokter Aisha sedang internship di Rumah Sakit ini?” tanya pria berumur tiga puluhan pada resepsionis di RS PHC Surabaya.


“Sebentar saya lihat daftar internship -nya ya Mas,” jawab resepsionis ramah.


“Iya Mba silahkan.”


“Dokter Aisha Ameera Al-Insani Mas?”


“Iya Mba benar.”


“Kebetulan Dokter Aisha hari ini tidak ada jadwal Mas, ada lagi yang bisa saya bantu?” lanjut resepsionis.


“Kalau begitu boleh saya meminta alamat Dokter Aisha?” tanya Azka ragu.


“Mohon maaf Mas, kami tidak bisa sembarang memberikan informasi terkait staf maupun pasien di sini, kalau boleh tahu anda siapanya Dokter Aisha ya dan ada perlu apa mencari beliau?”


“Oh saya temannya Dokter Aisha, teman lama sih sebenarnya dan kami memang lose contact, jadi saya meminta bantuan ke sini, karena dengar-dengar Dokter Aisha sedang internship di sini," bohong Azka begitu lihai.


“Baik kalau begitu sebentar saya catatkan alamatnya,” jawab resepsionis percaya pada kebohongan Azka, yang kemudian diangguki oleh Azka.


“Ini alamatnya Mas, ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis ramah seraya menyerahkan alamat Aisha.


“Tidak Mba, terimakasih ya. Kalau begitu saya permisi," jawab Azka kemudian berlalu.


***

__ADS_1


“Bukan ibu bermaksud mencampuri urusan kalian, tapi hanya Aisha yang ibu punya, maka apapun akan ibu lakukan demi kebahagiaan Aisha, termasuk jika Aisha harus melupakan kamu, ” ucap Maya tetap tidak mau memberitahukan pada Azka kemana Aisha pergi .


Ibu mana yang sanggup melihat putri semata wayangnya terus menerus menanggung luka seperti itu? Maka apapun yang terjadi pada putrinya, ibunyalah yang akan selalu terdepan membelanya.


“Azka tahu Azka salah bu, tapi Azka mohon kasih Azka kesempatan untuk memperbaiki semuanya," jawab Azka tetap memohon.


“Saat ini kamu lelaki yang sudah berkeluarga Azka, tidak sepantasnya kamu berlaku seperti ini pada wanita lain. Ingat tanggung jawabmu pada keluargamu," tutur Maya mengingatkan Azka.


“Baik jika ibu tetap tidak ingin membantu Azka, Azka akan berusaha sendiri bu. Kalau begitu Azka pamit. Assalamualaikum," ucap Azka seraya meninggalkan rumah Aisha.


Surabaya North Quay


“Faris please kenapa kamu bawa aku ke sini lagi? Aku mau pulang!" ucap Aisha memberontak ketika ternyata Faris membawanya ke tempat dulu sering ia habiskan Bersama Azka.


“Sha dengerin aku! Mau sampai kapan kamu seperti ini terus? Selalu menghindar dari apapun yang berhubungan dengan Azka, semuanya sudah berlalu Sha!”


“Lalu kamu kira aku gak normal karena bersikap seperti ini terus? Gak gampang melupakan apa yang telah terjadi antara aku dan Azka, dan aku belum sekuat itu Faris!" jawab Aisha mulai terisak.


“Gak Sha, kamu kuat, aku tahu itu. Hidup harus tetap berlanjut Aisha, kita gak bisa stuck pada satu titik yang membelenggu kita, kita harus bisa menghadapinya bukan justru menghindar seperti pecundang.”


Aisha terdiam mendengar penuturan Faris. Selama ini justru sahabatnyalah yang selalu ada untuknya.


“Bantu aku Faris, bantu aku melewati semuanya," ucap Aisha parau.


“Atas dasar apa kamu ngomong kayak gitu?” tanya Aisha memberanikan diri.


“Aku tahu kamu selalu datang ke sini, ke tempat kenangan kita. Kamu datang sama Faris lalu kamu membayangkan jika Faris adalah aku. Faris hanya pelarian buat kamu kan? Karena hati kamu memang cuma buat aku Sha!”


Plak ... satu tamparan melayang dari tangan cantik Aisha untuk Azka.


Sebenarnya Aisha tidak pernah berlaku kasar seperti itu pada siapapun, hanya saja kali ini dia benar-benar tidak tahan mendengar ucapan Azka.


“Lama kita gak ketemu, kamu sudah berubah sejauh ini. Kamu bukan lagi Azka yang aku kenal!. Aku dan kamu cuma kisah yang hanya diizinkan untuk sementara, sekuat apapun kita berharap, hasilnya akan tetap sama. Kamu dan aku hanyalah luka. Dan cara terbaik menyembuhkan luka itu adalah melupakan.” tutur Aisha seraya menggandeng lengan Faris menjauh dari Azka.


Azka hendak menahan lengan Aisha namun segera ditepis oleh Faris.


“Dia udah bilang gak mau kan? Kenapa masih terus mengganggunya?” ucap Faris menahan Azka.


“Ini urusan pribadi gue sama Aisha, lo gak usah ikut campur!” jawab Azka sarkas.


“Halu ya lo! Kalian udah gak punya hubungan apa-apa lagi, kenapa selalu ngomong pribadi kayak gitu?” jawab Faris tak kalah sarkas.


“Oh lo lagi cari muka sama Aisha biar bisa gantiin posisi gue gitu? Jangan mimpi lo!”

__ADS_1


“Gue cuma gak tahan kalo ada orang yang mengganggu apa yang gue suka.” jawab Faris seraya menggandeng Aisha menjauh.


Dalam perjalanan pulang, baik Aisha maupun Faris saling diam dalam pikiran masing-masing, hingga akhirnya Faris memberanikan untuk berbicara lebih dulu.


“Soal yang tadi aku minta maaf, seharusnya aku memang gak ikut campur," ucap Faris membuka pembicaraan.


“Gak ko, tadi aku ....”


“Kayaknya aku cuma mikirin perasaan aku, tanpa mikirin gimana perasaan kamu. Padahal mungkin kamu merasa terbebani karena aku bersikap terlalu agresif. Kedepannya aku akan lebih berhati-hati," ucap Faris sebelum Aisha menyelesaikan ucapannya.


Aisha memilih diam tak menanggapi ucapan Faris, hatinya masih terlalu bingung. Keduanya kembali terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing.


***


“Jangan pernah menyesali siapapun yang datang dan pergi dalam hidup ini. Ada yang datang untuk membahagiakan, ada juga yang pergi untuk mendewasakan. Kita boleh marah dan kecewa, karena itu memang sifat manusia, tapi jangan lupa bahwa semua ini sudah bagian dari skenario Tuhan," pesan Maya ketika mendapati Aisha masih saja bersedih atas apa yang baru saja ia alami.


Sepandai apapun Aisha berpura-pura kuat di depan semua orang  terutama Azka, Aisha


tetaplah wanita biasa, hatinya masih amat rapuh untuk menerima semuanya.


Saat Azka tiba-tiba menghilang, ketika semua orang percaya Azka telah tiada, Aisha tetap percaya bahwa Azka pasti akan kembali, Azka pasti kembali menepati janjinya. Dan Azka memang benar kembali, tapi sudah tak mungkin untuk meneruskan kisah mereka yang sempat terhenti.


“Salahku yang telah menyuguhkan hati, tanpa tahu bahwa akan tersakiti secepat ini. Salahku yang telah menganggap ketidakmungkinan bersamamu menjadi mungkin," rintih Aisha di atas sajadahnya.


“Salahku yang telah berharap pada sesuatu yang tak pasti, Ya Allah Ya muqolibal quluub tsabbits qolbii ‘alaa diinika. (Wahai Dzat yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”


Aku bisa melupakan apa yang kau katakan


Aku juga sanggup melupakan apa yang kau lakukan


Tapi aku tak akan lupa bagaimana kau pernah membuatku tersenyum lalu kecewa


Kau pernah berjanji bahkan jika kau pergi, kau tak akan pergi untuk selamanya


Apa kau memintaku untuk tak melupakanmu?


Lalu apa masih salahku? Jika hati yang tiba-tiba kau paksa senyap, menyertakan rasa yang juga melenyap


~Aisha Ameera Al-Insani~


***


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ....

__ADS_1


__ADS_2