Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kekhawatiran Ning Sabina


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


______________


Pagi ini usai menyantap sarapannya, Ning Sabina berniat menyampaikan keinginannya untuk meminta izin kepada umi dan abinya untuk berlibur ke Turki. Ke Istanbul tepatnya. Tempat adik semata wayangnya menempuh pendidikan katanya.


Di balik liburannya itu, ada sesuatu yang harus ia pastikan. Apa yang ia temukan kemarin di kamar Gus Hasan benar-benar membuatnya tak tenang. Ning Sabina khawatir apa yang ia takutkan benarlah adanya. Setelah meminta izin kepada suaminya semalam, pagi ini ia harus mendapatkan izin dari kedua orang tuanya.


“Abi, Umi. Sabina ada yang mau dibicarakan,” ujarnya hati-hati.


“Bicara ya tinggal bicara saja, Nduk. Biasanya juga begitu kamu,” sahut Kyai Safar menyelesaikan makannya.


“Hari ini kan pengambilan rapot di sekolahnya Fakih, Bi, dan berarti mulai besok Fakih sudah libur sekolahnya. Sabina rencananya pengen ke Istanbul Mi, Bi. Pengen jengukin Hasan sekalian ajak Fakih liburan. Gimana? Boleh kan Bi, Mi?” tanyanya yang langsung mendapati anggukan dari sang abi.


“Abi sih boleh saja. Sekalian kamu liatin apa Hasan hidup dengan benar di sana.”


“Hus Abi ini, memangnya Hasan anak yang suka macem-macem to, Bi. Masa Abi ndak percaya sama anak sendiri,” protes Nyai Hamidah.


“Bukan begitu to Mi maksud Abi. Maksudnya hidup dengan benar itu apa Hasan di sana baik-baik saja, dia makan dan tidur dengan benar, belajar dengan benar. Terus apa dia ndak kesulitan beradaptasi di sana. Gitu lo Mi.”


“Oalah Abi ini, Hasan kan di sana ndak sendirian, Bi. Dia bareng juga sama Jaya. Ada Faris juga yang habis jengukin.”


“Faris, Mi? Dia lagi di Istanbul juga? Sama Aisha? Kok Umi sama Abi tau tapi Sabina ndak tau?” tanya Ning Sabina nampak terkejut mendengar adik sepupunya di sana pula.


“Ning, kebiasaan deh kalo bertanya ndak bisa satu-satu to,” ujar Salman mengingatkan istrinya.


“Eh iya maaf. Abisnya aku penasaran ini lo, Mas.”


“Bukan ke Istanbul, dia tujuannya ke Ankara. Tapi bilang mau jengukin Hasan sekalian. Sebelum berangkat Faris sowan ke sini, Nduk, tapi cuma sebentar. Katanya buru-buru karena malamnya dia langsung terbang ke Ankara. Kamu lagi jemput Fakih waktu itu, jadi ndak tau. Umi juga lupa ndak cerita,” tutur Nyai Hamidah menjelaskan kedatangan Faris waktu itu.


“Bukannya sepulang umroh mereka juga habis bulan madu ke Istanbul ya Mi? Sekarang bulan madu lagi?” tanya Ning Sabina semakin penasaran.

__ADS_1


“Memangnya orang bulan madu ndak boleh berkali-kali.” Kini giliran Kyai Safar yang bersuara. Sedangkan Gus Salman yang memang pendiam hanya menyimak obrolan pagi itu.


“Ya maksudnya kan Faris orang sibuk, Bi. Mau ke sini saja dia harus meluangkan waktu dulu.”


“Faris ke Ankara memang untuk urusan bisnis, Nduk. Bukan hanya buang-buang waktu,” ucap Nyai Hamidah menimpali.


“Tumben sekali Mi Faris mau ngurusin bisnis? Biasanya apa-apa kan Pak Toni.”


“Ya mungkin kali ini adikmu sudah sedikit tergerak hatinya untuk menjaga amanah mendiang Pakde, Bukdemu.”


“Alhamdulillah kalo kayak gitu. Eh jadi ini gimana? Sabina diizinin apa ndak?”


“Abi sih boleh saja. Kamu ikut juga kan, Salman?” tanya Kyai Safar membuat Salman menghentikan sendok dan garpunya.


“Kalo Salman ndak bisa ikut, Abi. Kasian santri-santri kalo ditinggal terlalu lama.”


“Lah berarti Sabina hanya berdua saja sama Fakih?” tanya Nyai Hamidah tampak cemas.


“Sabina bisa kok Umi berdua saja sama Fakih. Lagian benar yang dibilang Mas Salman, kan kasian kalo santri ditinggal terlalu lama. Nanti ndak ada yang bantuin Abi ngurus pondok, Mi.” Ning Sabina berusaha membujuk abi dan uminya. Ia benar-benar harus pergi menyusul adiknya dan memastikan sesuatu di sana. Sengaja ia tak mengatakan alasannya yang sebenarnya. Ia akan memastikan dan mengatasinya sendiri. Bahkan suaminya pun tak ia beri tahu perihal ini.


“Nggeh, Mi. Sekarang kan jaman canggih, lagipula tadi kata Umi Faris sama Aisha kan juga ada di sana, jadi Sabina bisa minta tolong mereka jemput kalo Hasan sibuk kuliah. Pasti Faris bawa asistennya juga, jadi bisa bantu Sabina buat jagain Fakih di sana.”


“Tapi kamu tetap hati-hati ya, Nduk. Kapan rencana kalian berangkat?”


“Jadwal pesawatnya lusa pagi-pagi, Mi. Sekitar jam sembilanan.”


“Lah kamu sudah pesan tiket tapi baru minta izin Abi sama Umi to?”


“Hehe. Sengaja biar diizinin Abi sama Umi. Kalo udah pesen tiket kan sayang kalo di batalin.”


“Dasar bisa saja ya kamu minterin Abi sama Umi.”


“Hehe maaf Mi,” ucap Ning Sabina menyembunyikan wajah pada lengan suaminya.


______

__ADS_1


Flashback on


“Dasar kalo anak lelaki memang dimana-mana sama saja ya. Ndak bisa gitu ya ngurus diri sendiri,” sungut Ning Sabina saat tangah membersihkan kamar Gus Hasan dan tidak sengaja melihat isi lemari adiknya itu yang sangat berantakan tak berbentuk.


Awalnya ia hanya berniat untuk mengganti seprai dan pewangi ruangan saja, namun melihat lemari yang tidak tertutup rapat membuat Ning Sabina mencoba menutupnya dengan benar. Namun rupanya salah satu isi lemari itu memang ada yang mengganjal sehingga membuat pintunya tidak bisa ditutup rapat.


Dikeluarkannya satu persatu isi lemari milik adiknya itu untuk ia tata ulang. Tiba giliran satu laci yang berisikan koleksi barang-barang milik Gus Hasan yang semuanya terbuat dari kayu kaukah. Sama seperti air zam-zam yang merupakan air berderajat tinggi, kayu kaukah pun bernilai sama di mata orang-orang muslim. Nilai sejarah dan manfaatnyalah yang membuat kayu ini menjadikannya istimewa.


Ning Sabina selalu membersihkan satu persatu barang-barang di sana bahkan sejak sang pemilik masih menempati kamarnya. Mulai dari tasbih, gelang, cincin, juga benda-benda lainnya.


Namun ada satu benda yang menarik perhatian Ning Sabina di sana, dan baru ia nampak saat ini. Sebuah foto berukuran kecil tanpa figura tergeletak begitu saja di antara benda-benda kaukah itu. Sosok dalam foto itulah yang menarik perhatian Ning Sabina. Ia cukup terkejut karena ternyata adiknya yang selama ini tak pernah sedikitpun menyinggung perihal lawan jenis rupanya memiliki seseorang yang dikagumi.


Terlihat sosok dalam foto yang membelakangi kamera itu tengah duduk dengan wajah menengadah menikmati rona senja di gazebo pesantren. Sepertinya sang adik memotretnya diam-diam. Dan sayangnya Ning Sabina tidak tahu seperti apa wajah dari sosok dalam foto itu.


“Berarti dia salah satu santriwati di sini,” gumam Ning Sabina mencoba menebak.


Ia mencoba mengingat-ngingat satu persatu perawakan santriwati di pesantren hingga tanpa sadar entah sudah berapa lama ia mondar-mandir di depan lemari dan mendadak kakinya tersandung kaki lemari dan membuat foto di tangannya terjatuh.


“Allohu sakit sekali …,” rintihnya membungkuk sambil menggapai foto yang terjatuh tadi.


Entah suatu kebetulan, atau memang sudah saatnya rahasia itu diketahui orang lain. Foto itu jatuh terbalik dan membuat tulisan yang tertera di bagian belakang foto bisa Ning Sabina baca dengan jelas.


‘Ana Uhibbuki, Aisha Ameera Al-Insani’


Tulisan tangan itu ditulis dengan huruf sambung yang nampak indah terukir. Ning Sabina paham betul jika adiknyalah pemilik tulisan itu.


Seketika kaki Ning Sabina terasa lemas membaca tulisan itu. Ana Uhibbuki yang berarti ungkapan cinta dalam bahasa arab. Ning Sabina menutup mulutnya tak percaya, tubuhnya luruh ke atas ranjang yang baru saja ia ganti seprainya.


Sejak kapan Gus Hasan menyukai Aisha diam-diam? Apakah ini hanya masa lalu sebelum Aisha menikah dengan Faris atau memang sampai saat ini rasa itu masih tersimpan?. Beragam pertanyaan seketika berkecamuk di kepala Ning Sabina. Jangan sampai dugaannya selama ini benar.


Flashback off


_____________


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2