Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Fiks reaksi jamu


__ADS_3

Tiittt … titt ….


Karina yang tengah berbincang dengan Sofia di sofa ruang tamunya sontak menoleh mencoba melirik ke halaman rumahnya saat mendengar suara klakson dari halaman rumahnya.


“Siapa? Tamu Lo?” tanya Sofia.


“Nggak tau,” jawab Karina acuh, siapa juga malam-malam begini. Mereka kembali berbincang tanpa ingin tahu siapa yang datang.


“Permisi Non, ini ada yang nyariin,” ujar asisten rumah tangga Karina dari arah pintu yang sontak membuat Karina dan Sofia menoleh ke arah sumber suara.


“Hai,” sapa Azka yang sudah di belakang asisten rumah tangganya.


Karina sontak membulatkan matanya kemudian segera mendekati Azka yang masih mematung di ambang pintu.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Karina sedikit berbisik.


“Kan aku udah bilang tadi siang,” jawab Azka santai.


“Aku juga kan udah jawab kalo aku nggak ada waktu.”


“It’s ok, kamu bisa lanjutin obrolan sama temen kok, aku nggak akan ganggu,” jawab Azka keukeuh.


“Terserah,” ketus Karina kembali ke sofa yang terdapat Sofia yang masih duduk di sana. Sedangkan Azka dengan polosnya mengekori Karina dan ikut bergabung duduk di sofa.


“Siapa?” tanya Sofia berbisik saat Karina mendekat.


“Bukan siapa-siapa.”


“Friend with benefit?” Sofia mencoba memancing Karina.


“Ngaco Lo! Dia udah punya anak, tapi duda,” jawab Karina juga berbisik.


“Wow, sugar daddy,” puji Sofia tiba-tiba mengambil tas tangannya.


“Have fun, gue balik dulu,” ujar Sofia melambai pada Karina juga Azka.


“Rese Lo!” jawab Karina yang bisa didengar oleh Azka.


Sofia hanya mengangkat tangannya membentuk huruf ‘O’ tanpa menoleh dan tetap melangkah menuju pintu keluar.


“Siapa?” tanya Azka saat Sofia sudah menghilang di balik pintu.


“Temen.” Lagi-lagi Karina hanya menjawab singkat.


“Keliatannya kalian cukup deket.”


“Lumayan, dia lagi butuh bantuan aja makanya ke sini.”


“Bantuan apa?” tanya Azka lagi.


“It’s privacy.” (Ini privasi)


“It’s ok, I see. Tapi aku punya feeling nggak enak sama temen kamu, keliatannya dia bukan orang sembarangan,” selidik Azka mengungkapkan kekhawatirannya. Entah kenapa Azka tiba-tiba merasa temen Karina bukanlah orang baik, padahal ia sama sekali tak mengenalnya. (Baiklah, aku mengerti)


“Don’t judge a book by it’s cover.” (Jangan menilai buku hanya dari sampulnya)


“Ok ok sorry, aku cuma khawatir aja,” ujar Azka mengalah, ia tak mau Karina semakin menghindarinya.


‘Kamu bener Ka, Sofia emang bukan orang sembarangan. Dia cukup berbahaya.’


“Aku cumanggak mau kamu salah bergaul dengan keadaan kamu yang udah memutuskan buat hijrah menjadi lebih baik sekarang. Inget, lingkungan bergaul salah satu faktor terbesar yang akan mempengaruhi hijrah kamu kedepannya,” tutur Azka tidak ingin sesuatu terjadi pada Karina.


“It’s ok, thanks udah ngingetin.” Karina mengambil minuman yang dibawa asisten rumah

__ADS_1


tangganya kemudian menyerahkannya pada Azka.


“Emm, sebenernya Sofia emang lagi minta bantuan aku buat dapetin Faris,” ujar Karina hati-hati. Entah kenapa penuturan Azka tadi membuatnya ingin mengatakan yang sesungguhnya.


“Faris siapa? Temen kalian?” Azka yang tengah meminum minumannya terlihat biasa saja dengan pengakuan Karina.


“Iya, Faris Zein Abdullah. Suaminya Aisha.”


“What? Are you kidding me?” (Apa? kamu becanda?) kali ini Azka benar-benar terkejut hingga ia hampir memuncratkan minumannya.


“Beneran, dia minta tolong aku karena aku kerja satu Rumah Sakit sama Faris.”


“Jadi kamu sama Faris ternyata udah saling kenal? Kalian temenan?”


“Iya, aku, Faris, sama Sofia satu kampus dulu.”


“Tapi temen kamu tau kan kalo Faris udah nikah?” tanya Azka yang masih tak percaya dengan permintaan teman Karina.


“Dia tau, dia juga udah nikah dan Faris juga udah berkali-kali nolak dia kok.”


“She’s really crazy,” ujar Azka benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran wanita yang Karina sebut sebagai temannya. (Dia benar-benar gila)


“How about you Azka? Bukannya kamu juga masih ngejar-ngejar Aisha yah? Padahal kamu juga tau kalo Aisha udah bahagia sama pilihannya.” (Bagaimana dengan kamu Azka?)


Boom!


Pertanyaan Karina benar-benar sebuah tamparan keras untuk Azka.


***


Sepeninggal Ning Sabina dari kamar Faris, keduanya kembali merebahkan diri di ranjang tidur mereka.


“Sayang,” panggil Faris lirih membuat Aisha menoleh.


“Yang, should we continue?” tanya Faris lembut tepat di telinga Aisha, memberikan sensasi aneh bagi Aisha. dan tanpa Aisha sadari kini wajah Faris sudah tepat dihadapannya. (Yang, haruskah kita lanjutkan?)


“Arghh,” erang Aisha tiba-tiba menjauhkan diri dari Faris, bangkit dari tempat tidur dan mencoba mencari-cari sesuatu.


“Sayang, nyari apa sih?” tanya Faris yang bingung dengan tingkah istrinya.


“Remot control AC dimana sih Bang? Ica panas banget nih,” jawabnya tetap fokus pada tujuannya mencari remot control AC.


Faris mengernyitkan keningnya, rasa-rasanya suhu di kamarnya sudah seperti biasa. Faris mencoba mengamati sang istri yang terus bergerak gelisah terduduk disofa sambil mengibas-ngibaskan kerah piyamanya, mencoba mendinginkan badannya yang semakin terasa panas padahal suhu AC sudah diturunkannya.


Faris berjalan mendekati sang istri, ia berjongkok di hadapan Aisha untuk mengamatinya lebih dekat, pasalnya wajah Aishapun kini sudah memerah seperti menahan sesuatu. Otak Faris mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


“Arrggh.” Rasa panas membuat Aisha hilang akal dan tiba-tiba bangkit dari duduknya membuat Faris yang tengah berjongkok tepat di hadapannya sontak terjengkang menyentuh dinginnya lantai kamar karena suhu AC yang diturunkan istrinya.


“Sayang mau ngapain?” teriak Faris saat melihat sang istri berlari ke arah kamar mandi.


“Mandi Bang, Ica nggak kuat panas banget,” teriak Aisha tak kalah keras dari dalam kamar mandi.


Aisha menyandarkan badannya ke dinding kamar mandi, lututnya terasa lemas, ia mencoba mengatur napasnya, bahkan dinginnya lantai kamar mandi yang ia duduki tak mampu meredakan hawa panas di tubuhnya. Aisha benar-benar merasa sangat panas, rasanya ia ingin melepas semua pakaiannya segera saking merasa panasnya.


“Apa mungkin ini efek dari jamu yang tadi Mba Sabina bawa?” Faris mencoba menerka-nerka berbagai kemungkinan.


“Tapi kalo iya, kenapa aku biasa aja? Apa karena Ica minum duluan jadi efeknya belum aku rasain?”


Tiba-tiba Faris berpindah duduk ke lantai dari yang semula terduduk di sofa setelah kepergian Aisha, hawa panas mulai menyergap tubuhnya.


Dilihatnya suhu AC pada remot yang baru saja Aisha lemparkan yang menunjukkan angka tujuh belas derajat celcius, tapi anehnya justru hawa panas semakin menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Fiks ini pasti gara-gara jamu yang tadi Mba Sabina bawain,” cerocos Faris mencoba berjuang mengembalikan kesadarannya.

__ADS_1


“Sayang buka dong pintunya, Abang juga pengen mandi, gerah banget nih,” ujar Faris berlari ke arah pintu kamar mandi.


“Abang mandi di kamar bawah aja,” sahut Aisha dari dalam.


Tiba-tiba Faris merasakan sesuatu yang aneh pada bagian bawah tubuhnya.


“Arrgghh! Sayang buka dong, Abang nggak kuat ini,” ujarnya di depan pintu kamar mandi seraya mengetuk-ngetuknya.


“Arrgghh sumpah nggak kuat gue,” racau Faris frustasi dan segera memasuki kamar mandi tanpa menunggu jawaban sang istri yang beruntungnya pintu itu tak dikunci.


Faris membuka paksa pintu kamar mandi, saat memasukinya Faris langsung menuju ke ruang bathup karena tak menemukan istrinya di walk in closet. Dan benar saja, didapatinya Aisha yang tengah berendam di dalam bathup dengan busa yang menutupi seluruh tubuhnya terlihat damai seraya memejamkan netranya.


Faris mendudukan dirinya di sisi bathup, mengamati keindahan ciptaan Tuhan dihadapannya cukup mengalihkan Faris dari rasa panasnya.


Wush … wush ….


Aisha membuka matanya saat merasakan sapuan dingin menerpa kulitnya yang tak tertutup busa.


“Abang,” pekik Aisha terkejut saat mendapati suaminya sudah duduk dihadapannya tengah meniupi busa-busa yang menutupi tubuhnya. Faris hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


“Abang ikutan yah, panas juga nih,” pintanya bersiap melepaskan pakaiannya.


“Eh tunggu Bang!” ucapan Aisha sontak menghentikan aktifitas Faris.


“Apalagi Sayang?” Faris yang sudah merasa sangat kepanasan benar-benar pusing.


“Apa mungkin ini efek dari jamu yang dibawa Ning Sabina tadi yah Bang? Atau jangan-jangan ini emang jamu buat per ….”


“Ah nggak tau ah Sayang, Abang udah nggak tahan ini,” potong Faris frustasi sambil mengacak rambutnya kasar, karena tanpa sadar hanya dengan melihat tubuh istrinya yang bergerak-gerak di dalam air saja mampu membuat celana yang Faris kenakan semakin terasa sesak.


“Abang!” pekik Aisha sontak mengalungkan lengannya ke leher Faris saat tiba-tiba


suaminya mengangkatnya dari dalam bathup dengan ala bridal style menuju tempat tidur di kamar mereka.


“Sutt Sayang diem, sakit banget ini ya Allah,” ujar Faris karena Aisha yang terus memberontak dalam gendongannya benar-benar membuat sesuatu di pangkal pahanya berdenyut.


“Tapi ini spreinya kan jadi basah Bang,” protes Aisha saat Faris mendaratkan tubuhnya yang basah di atas ranjang.


Faris tak mengindahkan protes Aisha, ia hanya menatap sang istri dengan tatapan yang nampak sayu oleh kabut gairah dengan langsung mengungkung tubuh Aisha dibawahnya.


Entah kenapa melihat Aisha yang berbaring membuat otak Faris berkelana.


“Aduh Sayang beneran sakit ini,” ujar Faris meringis seperti menahan sesuatu.


Di luar dugaan Faris, Aisha yang juga sama-sama tengah menahan dirinya tiba-tiba menarik tengkuk Faris dan menyatukan bibir mereka.


Faris yang tidak ingin menyia-nyiakan hal itu sontak menahan tengkuk Aisha untuk memperdalam pagutannya, menjelajah dan menyesap manisnya bibir mungil yang selalu menjadi candunya.


Sapuan bibir Faris sudah berpindah ke leher dan tubuh bagian atas Aisha, napasnya terdengar memburu, Aisha sendiri yang sudah kehilangan kendali atas tubuhnya hanya bisa pasrah dengan apa yang suaminya lakukan.


“Bismillahi Allohumma janibnassyaithoona wajannibbissyaithoona maa rozaqtanaa.”


Napas mereka tak lagi saling bersahutan, kini justru saling beriringan menikmati malam yang terasa semakin panjang.


***


Bersambung ...


Kira-kira Azka bakal biarin Karina buat bantuin Sofa nggak yah?


Btw usaha Faris sama Aisha kali ini bakal berhasil juga nggak yah? apa mereka justru bakalan batal umroh?


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ....

__ADS_1


__ADS_2