Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Panik


__ADS_3

Maafin baru sempet up lagi ya gaess ... kakak authornya lagi agak cengeng kemaren imunnya hihi dikit-dikit tumbang terus ...


***


Faris masih bersimpuh dalam sujud panjangnya, air matanya turut membasahi sajadah yang menjadi alas tubuhnya, lisannya pun tiada henti mengucap hamdalah atas apa yang sudah dialaminya hari ini, khususnya ia dan rombongan yang berhasil selamat dari kecacatan penerbangan mereka.


Dari Bandara Ankara Faris memang langsung menuju ke hotelnya, ia sengaja tak langsung terbang ke Istanbul menemui sang istri karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya, termasuk urusan bisnis yang juga menjadi salah satu alasan kedatangannya ke kota ini.


Tok … tok … tok …, tampaknya ada seseorang yang mengetuk kamar hotelnya, pikirnya mungkin pihak pelayanan hotel yang hendak menawarinya makanan.


Ceklek, Faris cukup terkejut ketika siluet dua orang pria yang menjadi pemandangan pertamanya saat pintu terbuka. Pasalnya Pak Toni dan Roger baru hendak menyusul hari berikutnya.


Pak Toni segera menubruk tubuh kekar yang masih berbalutkan baju koko lengkap dengan setelan sarungnya, “Kamu baik-baik aja Le?” tanya Pak Toni seraya membolak-balikkan tubuh Faris khawatir pria itu terluka.


“Alhamdulillah Pak, aku baik-baik aja. Loh katanya kalian baru nyusul besok? Apa urusan di kantor udah beres Pak?” tanya Faris heran.


“Urusan kantor sudah Bapak handel, kita sengaja langsung terbang pas liat berita internasional kalo pesawat kamu sempet hilang kontak, syukurlah Gusti masih menyelamatkan kalian semua.”


Setelah perbincangan singkat itu, Faris segera membawa Pak Toni dan Roger memasuki kamar hotelnya sebelum mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing yang juga bersebelahan dengan Faris.


“Gimana sudah ada tanda-tanda keberadaan istrimu?” tanya Pak Toni setelah menyeruput minumannya yang baru saja Faris suguhkan.


Faris mengangguk dengan mantap, “Aku udah suruh orang aku di sini buat mantau Aisha, tapi aku juga butuh bantuan kamu Ger, buat nyelidikin Faisal,” tutur Faris pada Roger.


“Faisal? Siapa dia?” tanya Pak Toni dan Roger hampir bersamaan.


“Pria yang waktu itu kita temui di resto pas di Istanbul loh Ger, yang sama sepupu saya Gus Hasan.”


Roger mencoba mengingat-ingat sosok pria yang disebutkan Faris, lantas ia pun mengangguk mantap setelah Faris menunjukkan potret pria itu.


“Ada apa dengan pria ini? Apa dia berusaha mendekati istrimu?” tanya Pak Toni yang tampaknya mengerti kegelisahan Faris.


“Aku juga nggak tau Pak, tapi orang suruhanku bilang Faisal bahkan sempet dateng ke apartemen Aisha, dia bahkan keliatan akrab sama Bu Maya,” jelas Faris seperti yang diketahuinya dai orang suruhannya yang sengaja ia perintahkan sebelum Faris terbang ke kota ini.


“Apa Tuan membutuhkan identitas pria itu?” tanya Roger memperjelas tugasnya.

__ADS_1


“Bentar, saya ambil dulu,” ucap Faris yang segera bangkit dan tampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


“Saya butuh kamu pasang ini di sekitar Faisal, pokoknya di sesuatu yang selalu ada bersama Faisal. Saya butuh tau sedekat apa dia sekarang sama istri saya,” tuturnya kemudian seraya menyerahkan alat penyadap yang sudah ia siapkan kepada Roger.


“Baik, Tuan.”


“Besok saya kirimkan alamat Rumah Sakitnya, soalnya Faisal katanya masih di rawat di Rumah Sakit,” imbuh Faris lagi sebelum Pak Toni dan Roger akhirnya kembali ke kamar mereka masing-masing.


***


“Kak … ini ponselmu dari tadi bunyi terus.” Maya yang menemukan ponsel putranya terus berdering dari balik jaket dalam genggamannya segera memberikannya pada sang empunya yang tampaknya masih bercengkerama dengan sang adik.


Faisal dan Aisha sontak melepaskan pelukan mereka lantas berbalik ke arah sang ibu yang sudah berdiri di ambang pintu.


“Dari siapa Bu?” tanya Faisal seraya bangkit dan menghampiri Maya yang juga mendekat.


“Salman,” ucap Maya setelah melirik nama yang tertera di layar ponsel dalam genggamannya.


Mendengar nama itu sontak Faisal segera mengambil alih ponselnya, “Isal angkat telpon dulu ya Bu,” ujarnya lantas sedikit menjauh dari sang ibu dan adiknya.


“Lapor Tuan, Nyonya dan Tuan besar juga Nona Ayla sedang bergerak menuju ke Rumah Sakit. Tuan harus tiba sampai lebih dulu di kamar sebelum mereka tiba,” tutur sang ajudan yang dipercayai Faisal.


Faisal sontak terbelalak mendengarnya, “Jangan becanda kamu Salman!” ujarnya penuh penekanan.


“Saya berani bersumpah, Tuan.” Salman pun menjawabnya dengan mantap.


“Tetap kondisikan situasi di sana, saya kembali sekarang juga.” Faisal segera menutup sambungan teleponnya dan kembali pada ibu juga adiknya.


“Siapa Kak?” tanya Maya yang tampaknya bisa melihat dengan jelas kekhawatiran di wajah putranya.


“Em … maaf ya Bu, Ais, Kakak harus balik dulu ke Rumah Sakit. Ada beberapa hal yang harus Kakak selesaikan dulu di sana. Kakak janji bakal sering-sering kunjungin kalian.” Faisal berujar dengan gelisah, pasalnya ia baru saja melepas rindunya pada ibu dan adik yang selama ini dicari-carinya.


Maya yang tampaknya paham dengan apa yang dialami sang putra pun hanya tersenyum lantas menarik tubuh it uke dalam dekapannya, “Pergilah, selesaikan dulu urusanmu. Kita nggak akan kemana-mana kok Kak,” tutur Maya berusaha untuk tegar, meski ia sendiri juga merasa tak ingin lagi terpisah dengan Faisal.


Kini giliran Faisal yang juga memeluk adiknya, “Kamu baik-baik ya Dek. Lupakan hal-hal yang sekiranya membuatmu terluka, kenangan buruk tak perlu lagi diingat-ingat,” tuturnya mengusap puncak kepala adiknya dengan sayang.

__ADS_1


“Iya Kak, Ais bakal coba buat lebih kuat. Kakak juga jangan banyak tingkah! Nanti lukanya nggak sembuh-sembuh tuh.”


Faisal sontak tergelak mendengar sang adik yang tampaknya begitu cerewet mengenai kesehatannya, “Siap Bu Dokter!” ujarnya mengacak gemas puncak kepala Aisha yang tertutup hijab.


Setelah berpamitan dan keluar dari apartemen ibu dan adiknya, Faisal langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tahu cepat atau lambat ia memang harus menjelaskan semuanya kepada Baba, Mami, juga adiknya, hanya saja untuk saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mereka mengetahui yang sebenarnya.


Baru saja menepikan mobilnya di halaman Rumah Sakit, ponselnya kembali berdering mengejutkannya.


“Anda dimana Tuan?” Suara bariton milik Salman langsung menyapa indra pendengarnya.


“Iya ini saya udah di lobi, apa mereka sudah sampai?”


“Belum Tuan, mungkin sekitar sepuluh menit mereka baru akan sampai,” tutur Salman yang membuat Faisal seketika kalang kabut.


“Ah shit!” Faisal bahkan sampai mengumpat karena harus mempercepat langkahnya.


“Sshh … aww ….” Faisal sedikit merintih saat harus kembali melepas jaketnya agar taka da yang curiga.


Tok … tok … tiba-tiba pintu kamarnya diketuk yang sudah pasti pelakunya adalah kedua orang tua angkatnya juga sang adik.


Faisal sontak saja berjingkat dan langsung menjatuhkan dirinya kembali ke atas blankar, pakaian yang baru saja digantinya pun ia buang dengan asal ke bawah blankar agar tak sampai ketahuan.


“Masuk …,” ujarnya kemudian sembari menetralkan napasnya yang masih tersengal.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


 


 

__ADS_1


__ADS_2