Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Hati yang tergerak


__ADS_3

Abbas masih bergeming tak percaya, keterkejutannya jelas terlihat dari wajahnya yang tampak terbengong usai Faris memperkenalkan diri.


“MasyaAllah … jadi Tuan Faris ini adalah putra dari Tuan Abdullah? Maaf Tuan saya benar-benar tidak tahu karena Toni bercerita jika pewaris tunggal dari Tuan Abdullah tidak begitu tertarik dengan bisnis.” Abbas pun segera membungkukkan badannya usai menyalami uluran tangan Faris.


“Ah tidak apa Tuan, apa yang anda katakan memang tidak salah. Saya memang kurang tertarik dengan dunia bisnis sehingga selama ini urusan perusahaan dikelola oleh Pak Toni, selain saya sudah menganggap beliau seperti orang tua saya sendiri juga karena mendiang orang tua saya begitu mempercayai Pak Toni untuk mengurus semuanya.”


“Sekali lagi saya mohon maaf Tuan atas kelalaian saya yang hampir mencelakakan nyawa Tuan.” Kini Abbas benar-benar merasa segan setelah mengetahui siap sebenarnya Faris yang baru saja hampir celaka karena dirinya.


“Sambil menunggu asisten anda membereskan semua ini, bagaimana jika kita mencari kafe lebih dulu untuk mengobrol?” tawar Abbas mencoba mencari cara agar lebih mengenal pemuda tampan yang digadang sebagai pewaris tunggal dari Abdullah Company ini.


Faris yang memang selalu menghormati lawan bicaranya terlebih karena usianya yang lebih tua diatasnya pun tak lagi punya alasan untuk menolak, “Dengan senang hati Tuan Abbas,” ujarnya menyetujui penawaran Abbas.


“Ger nanti kalo udah beres kamu nyusul ya,” tukas Faris sebelum meninggalkan Roger yang tampak sibuk menghubungi seseorang untuk membereskan semuanya. Roger pun hanya mengangguk mengiyakan.


***


Di apartemennya, Maya yang tengah membereskan meja makan usai makan malamnya bersama sang putra langsung melangkah ke arah pintu begitu mendengar seseorang tengah mengetikkan sandi untuk membuka pintu, beberapa saat munculah Aisha yang langsung menyalaminya dengan langkah gontai.


“Kamu udah makan Sayang?” tanya Maya sengaja tidak menyinggung apa yang baru saja dialami putrinya, ia seolah memahami suasana hati Aisha yang tampak tidak sedang baik-baik saja, ia pun sudah bisa menebak apa penyebabnya.


Aisha hanya mengangguk sebelum akhirnya berpamitan pada sang ibu untuk ke kamar dan membersihkan diri.

__ADS_1


Dan benar saja sesampainya di kamar, Aisha segera melengang memasuki kamar mandi guna membersihkan tubuhnya lantas menggelar sajadahnya menghadap kiblat dan memakai mukenanya. Saat ini ia benar-benar butuh mengadu kepada Tuhannya, hatinya kembali kacau, ia sendiri tak memahami apa yang sebenarnya tengah ia rasakan.


Seperti sujud-sujud sebelumnya, kali ini pun sujud Aisha tak kalah panjang dan sesak dari biasanya, air mata sudah tak terhitung lagi butirannya membasahi tempat sujudnya, dalam sujud itu ia adukan segala kegundahannya, berharap Tuhannya yang Maha baik memberinya titik terang untuk permasalahan rumah tangganya.


Selesai dengan solatnya, Aisha melanjutkan doanya dengan air mata yang rupanya belum sanggup ia hentikan. Sepasang mata yang menyaksikan pemandangan itu pun turut mengusap ujung netranya saat mendapati putri bungsunya lagi-lagi berderai air mata di atas sajadahnya.


Aisha yang sudah menyelesaikan doanya seketika menoleh saat mendengar derap kaki memasuki kamarnya, secepat mungkin dihapusnya sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mata.


Tanpa berkata apapun, sang ibu langsung membawa Aisha ke dalam dekapannya, “Kamu harus kuat ya Sayang, Ibu tau kamu adalah wanita yang kuat. Ikuti kata hatimu Nak, jangan sampai penyesalan kalian rasakan nantinya.” Setegar mungkin Maya berucap sambil menahan air matanya.


Mendengar kalimat ibunya, Aisha tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya, ujian hati memang sungguh berat ia rasakan.


“Nak … hidup dan mati itu hanya milik Allah, bukankah apa-apa yang terjadi adalah berkat campur tangan Allah? Daun yang jatuh pun atas berkat izin Allah. Bukan hak kita menyalahkan apa-apa yang sudah terjadi, apa-apa yang memang sudah Allah gariskan yang padahal semua itu sudah tercatat di lauhul mahfudz sana bahkan jauh sebelum kita terlahir ke dunia ini.”


“Aisha selalu minta sama Allah agar mencukupkan hati ini untuk tidak menyalahkan siapapun lagi. Aisha kira dengan pergi ke kota ini dan menjauh dari hidup Abang akan bisa membuat hati ini membaik dan melupakan rasa sakit yang ada. Tapi nyatanya Aisha nggak sekuat itu Bu … semuanya justru makin terasa sesak ketika Aisha berusaha lupain Abang dan semua yang pernah terjadi di antara kita.”


“Karena masalah itu untuk diselesaikan, bukan justru dihindari. Yakin Aisha pergi sampai sejauh ini karena rasa sakit? Bukan ego?”


Aisha menggigit sudut bibirnya, menahan isak yang hampir tak bisa ia kendalikan. Ia menunduk menyembunyikan tangisnya, dihirupnya dalam-dalam udara untuk mengisi paru-parunya. Benar yang sang ibu katakan, apa mungkin ego yang membuatnya bertindak sampai sejauh ini? Rasa sakit hanyalah alibi untuknya menjauh dari kehidupan Faris.


“Setiap orang berhak melakukan kesalahan Sayang, karena manusia memang tempatnya lupa dan salah. Begitupun dengan suamimu, ia juga hanya manusia biasa. Jangan kamu permasalahkan kesalahannya, tapi lihatlah bagaimana dia sekarang berusaha untuk menjadi lebih baik, jangan lupa bahwa nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini Sayang.”

__ADS_1


“Aisha … putri Ibu yang paling cantik, pernikahan memang hanya berlangsung satu hari, tapi satu hari itu adalah untuk menuju berumah tangga. Aisha tau nggak apa arti ‘rumah tangga’ sendiri?”


Aisha mendongak dengan wajah yang sembab mendengar pertanyaan ibunya, ”Rumah tangga itu ibadah terpanjang yang nggak ada habisnya,” tukas Aisha sekenanya.


“Nah betul sekali, nggak ada habisnya hingga maut memisahkan. Rumah adalah tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan, kehidupan yang dijalani layaknya tangga yang harus didaki, maju, naik terus dan nggak ada kata mundur. Bila mundur, berarti rumah itu runtuh. Memang terkadang dalam proses pendakian tangga itu kita merasa lelah dan ingin turun, tapi disitulah tugas suami istri, harus bergandengan tangan, saling percaya dan menguatkan satu sama lain agar kalian bisa naik ke anak tangga yang berikutnya. Jangan karena satu kesalahan, lantas Aisha dengan mudahnya mundur melupakan perjuangan yang sudah kalian lalui untuk sampai pada anak tangga yang sekarang. Bersabarlah … nggak ada yang kekal di dunia ini, begitupun dengan masalah yang tengah Aisha dan Faris hadapi, semua akan indah pada waktunya, Sayang.”


Aisha justru semakin terisak mendengar setiap kalimat yang ibunya lontarkan.


“Kak Isal percaya adik Kak Isal wanita kuat yang penuh pertimbangan jika memutuskan hal yang besar dalam hidupnya ….”


Baik Maya maupun Aisha keduanya sama-sama menoleh mendengar suara dari balik pintu yang sedikit terbuka.


“Kakak ….”


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2