Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Cappadocia, here we come


__ADS_3

Selesai dengan kegiatan umroh dan city tour di Mekkah, acara selanjutnya adalah berziarah dan city tour di Madinah kurang lebih tiga hari yang berakhir di Masjid Quba.


Setelahnya rombongan dijadwalkan berkemas untuk kembali ke tanah air. Namun tidak dengan Faris dan Aisha. Mereka berencana akan langsung terbang ke Turki untuk acara honeymoon keduanya.


Sebenarnya jika mereka mengambil travel umroh plus, maka akan ada city tour juga ke Turki, namun Faris lebih memilih untuk trip pribadi agar honeymoon mereka lebih tenang dan bebas.


Selesai berkemas, rombongan langsung menuju ke Bandara Prince Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah (MED). Faris, Aisha dan rombongan berpisah di Bandara karena rute penerbangan mereka yang berbeda.


“Selamat bulan madu ya Pak dokter sama Bu dokter.”


Semua rombongan menyalami Faris dan Aisha sebelum ke gate mereka.


“Kok Om dokter sama Tante nggak ikut pulang bareng Farhan?”


Tiba-tiba bocah kecil yang sudah Aisha tahu bahwa ia bernama Farhan menghampiri keduanya.


Aisha dan Faris berjongkok, menyamakan tinggi mereka dengan Farhan.


“Om sama Tante masih ada urusan di sini, Sayang,” ujar Aisha kemudian memeluk bocah itu dengan sayang.


“Lain kali kita ketemu di Surabaya ya Boy.” Kali ini giliran Faris yang merengkuh bocah itu sebelum keduanya benar-benar pergi.


Melihat Aisha yang tampak kelelahan, Faris menyuruhnya untuk duduk di deretan kursi panjang, sedangkan dirinya pergi check in dan mendaftarkan bagasi.


Sekitar lima belas menit Faris baru kembali setelah mendapatkan boarding pass dan langsung mengajak Aisha untuk menunggu pada gate yang sesuai dengan boarding pass tadi.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Faris segera mengapit jemari Aisha menuju kelas bisnis di pesawat, dan tentunya ia sudah request agar duduk bersebelahan dengan sang istri karena Faris benar-benar tidak bisa jauh-jauh dengan Aisha. Bucin memang, tapi itulah kenyataan yang tengah dirasakan dokter tampan itu.


Setelah mendapatkan kursinya, Faris segera menarik Aisha ke dalam pelukannya, merebahkan kepala mungil itu ke dadanya. Beruntung pesawat sedang kosong, hanya ada mereka berdua di kelas bisnis.


Selamat tinggal Haramain, semoga Allah mengizinkan kita untuk kembali ke sini suatu hari nanti. Hanya itu yang dapat Faris dan Aisha tuturkan sebelum pemandangan kota Haramain benar-benar menghilang di balik awan.


“Ayo tidur, Abang tau Ica pasti cape,” tutur Faris yang hanya diangguki oleh sang istri, rasa lelah yang mendera benar-benar membuat keduanya langsung melayang bersamaan dengan pesawat yang juga take off dan melayang di atas awan.


***


“Karin!”


Karina yang sudah selesai dengan acara belanjanya dan hendak menuju basement sontak menoleh ketika namanya dipanggil.


Kini Karina benar-benar menyesal telah menoleh ketika mengetahui siapa sang pemilik suara. Ia hendak berbalik pun percuma, karena kini Sofia sedang menuju ke arahnya.


“Mba Sani tunggu di mobil aja, nanti saya nyusul,” tutur Karina yang segera diangguki oleh Mba Sani yang kerepotam membawa hasil belanjaan.


“Wow baru berapa minggu nggak ketemu udah punya anak aja Lo,” sapa Sofia ketika melihat seorang balita yang tengah terlelap di stroller yang tengah Karina dorong.


“Lo ngapain di sini?” tanya Karina mengalihkan pembicaraannya.


“Belanja lah, emang orang ngapain lagi di mall selain belanja?” jawab Sofia menunjukkan kantong belanjanya.


“Gue kira numpang ngadem doang.”


“Suami gue emang lagi di bui, tapi itu nggak bikin dia tiba-tiba kere ya.”


“Mama ayo! Tasya pengen pulang.”


Seorang gadis kecil dalam genggaman Sofia tiba-tiba merengek.

__ADS_1


“Iya bentar dong Sayang, Mama lagi ngobrol dulu,” ujar Sofia menenangkan sang putri.


“Halo cantik, kenalin ini Tante Karin.”


Karin membungkukkan badannya untuk menyapa putri Sofia.


“Hay Tante, aku Tasya. Ini dedenya namanya siapa Tante? Ganteng banget ih gemes.” Tasya langsung membelai gemas pipi Rafa yang masih terlelap dalam stroller-nya.


“Ih Sayang jangan gitu, nanti dedenya bangun,” cegah Sofia mewanti-wanti.


“Namanya Rafa, Sayang.”


“Eh Rin, kok beberapa hari ini gue nggak liat Faris di Rumah Sakit sih? Dia resign?” Tiba-tiba Sofia menarik tangan Karina agar sedikit menjauh dari putrinya yang tengah asyik memandangi Rafa yang masih pulas.


“Demi apa Lo sampe stalking dia segitunya?” Karina cukup terkejut dengan pertanyaan Sofia, ternyata Sofia tak main-main dengan perasaannya pada Faris.


‘Nggak mungkin Sofia nggak tau kalo Faris sama Aisha lagi pergi umroh, padahal semua staf Rumah Sakit juga diundang. Kecuali emang Faris yang sengaja nggak undang dia pas walimatussafar. Kayaknya Faris sama Aisha udah cukup waspada sama kelakuan Sofia deh.’


“Woy gue nanya nih!”


Karina sontak tersadar dari lamunannya.


“Faris kan lagi pergi umroh sama istrinya,” jawab Karina santai.


“What? Umroh? Kata siapa Lo?” Sofia sudah terkejut setengah mati.


“Gue dateng lah pas walimatussafar-nya.”


“Bren*sek! Dia nggak undang gue. Ternyata Faris beneran ngindarin gue.” Wajah Sofia benar-benar sudah merah padam.


“Kan gue udah bilang, Faris tuh bukan tipe cowok yang gampang Lo goda, apalagi seenaknya minta ngemadu istrinya. Udahlah Rin, cowok di luar sana kan masih banyak.”


‘Nggak paham Lo bilang? Gue juga pernah di posisi kayak Lo Sof, tapi gue nggak segila Lo. Gue masih punya harga diri.’


“Udah deh jangan persulit hidup Lo, meminta Faris berpindah pelukan itu cuma mimpi! Come on wake up Sof!” (Ayo bangun, Sof!)


Karina tahu mau seperti apapun dirinya menyadarkan Sofia, pasti ia akan tetap dengan ambisinya. Tapi setidaknya Karina sudah tak ingin lagi ikut campur dengan rencana-rencana busuk yang selalu memenuhi kepala temannya itu.


“Big no! Gue akan tetap perjuangin cinta gue!”


“Ya ya what ever terserah Lo! Gue mau cabut takut anak gue keburu nangis,” ujar Karina segera berlalu tanpa menghiraukan ocehan-ocehan Sofia di belakang.


“Permisi ya cantik, dedenya mau pulang dulu. Next time kita maen lagi deh,” tutur Karina lembut membawa stroller Rafa.


“Beneran ya Tante.” Tasya sudah memasang wajah berbinarnya.


“Iya sweetie beneran,” ujar Karina segera melengang sebelum Sofia mencak-mencak.


***


Pukul 00.45 dini hari waktu setempat, pesawat yang ditumpangi Faris dan Aisha mendarat di Kayseri Airport (ASR), Turki.


Faris melirik keluar jendela setelah pesawat sudah landing sempurna di lintasannya, ia segera merogoh ponselnya memanggil salah satu kontak yang berada pada urutan teratas di catatan panggilannya. Dilihatnya Aisha masih terlelap di dadanya.


Merasa kasian melihat istrinya tertidur, Faris segera mengangkat tubuh Aisha ala bridal style tanpa berencana untuk membangunkannya.


Hal itu sontak mengundang perhatian seisi Bandara yang tetap ramai meski waktu menunjukan dini hari. Sedangkan urusan koper dan yang lainnya sudah diurus oleh seseorang yang sudah siaga di gate kedatangan, menyambut tuan dan nyonya mudanya.

__ADS_1


“Langsung ke resort, Tuan?” tanya pria yang selalu tampak gagah dengan jas hitamnya saat melihat sang tuan keluar dari gate tengah membopong sang nyonya yang tak sadarkan diri.


“Iya, kayaknya Aisha juga udah cape banget,” jawab Faris tanpa menghentikan langkahnya yang langsung menuju parkiran.


Aisha yang baru menyadari ada perubahan dari posisi tidurnya terbangun, ia merasa tubuhnya melayang, dan pemandangan pertama yang dilihatnya ketika ia membuka mata adalah wajah tampan suaminya yang terfokus ke depan hingga tak menyadari seseorang dalam gendongannya sudah membuka mata.


Betapa terkejutnya Aisha ketika ia sudah mendapatkan kembali kesadarannya dan menatap ke sekeliling yang tampak ramai, dan lihatlah, orang-orang itu tengah menatapnya. Fiks ini di Bandara, pikirnya.


“Bang,” panggil Aisha sontak membuat Faris mengalihkan pandangannya.


“Eh udah bangun, kita udah nyampe Bandara nih, ini mau langsung ke resort.”


“Kok Abang nggak bangunin Ica sih? Kan malu tau diliatin,” protes Aisha segera mengalungkan tangannya ke leher Faris.


“Dih biarin aja, kenal juga nggak,” jawab Faris santai tanpa menghentikan langkahnya ataupun menurunkan sang istri dari gendongannya.


Aisha yang sudah kepalang malu hanya bisa menyembunyikan wajahnya ke dada bidang suami yang tengah membopongnya, jika ia memaksa turun di tengah-tengah seperti ini hanya akan menambah malu dirinya. Akhirnya ia memilih pasrah hingga Faris mendudukannya pada kursi penumpang di mobil yang sudah menanti mereka di parkiran.


Pria berjas hitam yang sejak tadi mengekori Faris, dengan sigap segera membukakan pintu mobil untuk tuannya. Ia sendiri langsung berlari ke pintu sebrang dan duduk di balik kemudi.


“Roger?” tanya Aisha mengerjapkan netranya, khawatir jika penglihatannya yang salah. (Boleh flashback di bab ‘kecolongan' ya kalo ada yang lupa sama Babang Roger).


Yang ditanya sontak menoleh dan tersenyum takdim pada sang nyonya yang sudah terjaga dari lelapnya.


“Ini beneran Roger, Bang?” tanya Aisha menoleh ke arah suaminya.


“Dari tadi kemana aja, Sayang?”


“Loh kok bisa Roger di sini sih?” tanya Aisha yang masih belum paham.


“Abang yang sengaja minta Roger ke sini, Yang. Biar kita nggak repot kalo kemana-mana.”


“Ya ampun, kasian tau Rogernya Bang. Jauh-jauh dari Indo.”


“Nyonya tidak perlu khawatir, sudah tugas saya memastikan keamanan dan kenyamanan Tuan dan Nyonya,” ujar Roger menengahi Nyonya dan Tuannya.


“Tuh kan Rogernya juga bilang nggak apa-apa, Yang.”


“Ya iyalah, mau potong gaji dia kalo berani protes.”


Faris sontak tertawa dengan asumsi sang istri, sedangkan Roger tetap dengan wajah datarnya, hanya sedikit terlihat menahan senyumnya.


Aisha kembali merebahkan kepalanya pada dada bidang Faris, ingin menikmati perjalanannya pun suasana masih gelap, tak nampak apapun kecuali gedung-gedung yang menjulang dan jalanan yang cukup lengang.


Hingga akhirnya sampailah mereka di resort yang memang sudah Faris booking, yang ternyata ada persis di tengah kota Goreme.



Tempat yang sangat strategis untuk memandangi matahari terbit, tapi juga indah di kala senja.


Dari resort tempat mereka berdiri, tampaklah bukit-bukit kapur berbentuk kerucut mengelilingi resort yang mereka tempati, yang semakin menyala dengan bantuan sinar rembulan. Menambah kesan romansa bagi mereka yang memang berkunjung untuk memadu cinta.


***


Yee sesi honeymoon segera dibuka hihi🤭


Bakal lebih panas nih kalo Mbak Sofia tau Faris sama Aisha nggak sekedar pergi umroh 😂

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya ya readers tersayang...


__ADS_2