Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Berusaha 3


__ADS_3

Setiba di Rumah Sakit, Aisha berpamitan pada Faris untuk berbelanja, meski sebenarnya memang ada yang harus ia siapkan untuk mendapatkan maaf dari sang suami.


“Liat aja, berapa lama Abang bisa mengabaikan Ica.” Aisha yang sangat percaya diri bahwa usahanya kali ini pasti berhasil sudah menunggu Faris di balik pintu ruangan Faris.


Aisha sengaja tak memberi tahu Faris jika dirinya sudah menunggu di ruangannya, ia ingin membuat kejutan untuk suaminya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


Sesekali Aisha mengintip dari lubang kunci untuk memastikan kedatangan Faris, namun tetap tak kunjung terlihat batang hidungnya, belum juga ada tanda-tanda kedatangannya.


Dua puluh menit sudah Aisha berdiri di balik pintu, akhirnya terdengar derap langkah kaki menuju ruangan itu.


Faris yang merasa aneh karena tidak biasanya ruangannya dalam keadaan gelap segera menuju ke arah saklar untuk menghidupkan lampu, namun aksinya terhenti oleh kemunculan Aisha yang tiba-tiba dengan membawa sebuah lilin aroma terapi di tangannya.


“Kenapa Ica di sini?”


“Ica nungguin Abang lama banget.”


“Nungguin buat apa?”


“Akhir-akhir ini sikap Abang jadi dingin banget ke Ica.”


“Icalah yang mengabaikan semangat Abang.” Faris tetap dalam mode dinginnya.


“Maafin Ica Bang ….” Aisha tertunduk untuk menyembunyikan sesaknya.


Sejujurnya Faris pun merasa sakit melihat reaksi Aisha seperti itu, namun sebagai kepala keluarga ia harus bisa membawa arah ke mana rumah tangganya harus melaju.


“Ica nggak berniat buat nyembunyiin apapun dari Abang, biar luka itu menjadi urusan Ica. Ica berharap kita memiliki hubungan yang setara, karena bagi Ica cinta itu setara.”


“Abang kan udah bilang, apapun yang Ica rasakan berbagilah sama Abang. Jangan menanggungnya sendiri.”


Aisha tersenyum mendengar penuturan Faris, suaminya memang berhati mulia.


“Pertama kita memulai itu adalah karena ketidaksengajaan, dan tiba-tiba Ica menghilang. Lalu kita kembali dipertemukan di pesantren juga merupakan karena ketidaksengajaan, sampe kita benar-benar dipersatukan dalam ikatan yang halal seperti saat ini. Tapi kali ini Ica akan membuktikannya, kita bisa memulainya dari awal lagi.”


“Kenapa Ica nggak mengatakan hal itu dari awal?”


“Cuma ini yang mau Ica bicarakan?”


Aisha mengangguk mengiyakan pertanyaan suaminya.


“Dalam hidup, jika kita bertemu dengan kekecewaan, semakin cepat kita mengetahuinya maka semakin banyak juga kehidupan yang mungkin harus dihilangkan.”


“Apa maksud Abang?” Aisha benar-benar terkejut dengan reaksi Faris, apa mungkin kesalahannya memang tak termaafkan?.

__ADS_1


“Abang menitipkan harap bukan karena sebuah rasa percaya semata, tapi ada rasa yakin juga ingin. Ica yang telah Abang berikan harap untuk memegang kepercayaan hati, mengapa diam dan mengabaikan perasaan tanpa bertindak untuk meyakinkan?”


“Ica tau mungkin memang Ica yang kurang berjuang. Tapi Ica janji ….”


“Maaf tapi ini udah terlambat.” Tiba-tiba ucapan Faris menghentikan kalimat Aisha.


“Ica bisa pulang, Abang bakal nyuruh supir di rumah buat jemput,” lanjut Faris menghidupkan lampu ruangannya setelah lebih dulu mematikan lilin yang Aisha pegang.


Aisha yang merasa kecewa karena usahanya yang benar-benar Faris abaikan segera keluar dari ruangan Faris setelah lebih dulu tetap mencium punggung tangan suaminya, dan benar saja supir yang Faris perintahkan telah siaga di parkiran Rumah Sakit.


***


“I have been here, at the café on the west of the bridge. Table number ten.” (Aku sudah di sini, di café sebelah barat jembatan. Meja nomor sepuluh).


Pria berambut pirang dengan mata hazel itu kembali menyesap kopinya setelah memutus sambungan teleponnya.


Belum sempat kopi pesanannya habis, seseorang yang ditunggunya sudah datang menghampirinya.


“Are you Brandon?” tanya Gus Hasan sebelum benar-benar duduk di kursi yang sudah dipesan.


“Of course, Ayla’s boyfriend.” (Tentu saja, pacarnya Ayla)


Pria berambut pirang itu menjawab dengan percaya dirinya.


Gus Hasan hanya manggut-manggut sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menyerahkannya pada pria bule dihadapannya.


“Ok thank you.”


“You’re welcome.”


“You can order something, I will pay for it.” (Kamu bisa memesan sesuatu, aku akan membayarnya).


“Thanks before. But I’m here just for giving this. I have to come back now.” (Terima kasih sebelumnya. Tapi saya ke sini hanya untuk mengembalikan ini. Aku harus kembali sekarang).


Gus Hasan menolak halus tawaran Brandon.


“Oh okay I see.” (Baiklah saya mengerti).


“Kamu lagi?” belum sempat Gus Hasan bangkit dari duduknya suara seorang gadis membuatnya mendongak.


“Ayla?” ucap Gus Hasan saat mengetahui siapa yang datang.


“Dari mana kamu tau namaku?”

__ADS_1


“Your boyfriend,” jawab Gus Hasan sambil menoleh ke arah Brandon yang tengah menghabiskan kopinya.


“Hai baby, you know this man?”


“I am not your girlfriend Brandon! Remember that!” ujar gadis itu merasa jengah pada pria bule di hadapannya.


“Aku cuma mengambil ponsel ini untukmu, Baby.” Brandon bangkit mendekat ke arah Ayla dengan seringainya, menyerahkan ponsel di genggamannya kepada sang pemilik.


“Jangan pernah memanggilku ‘Baby’! Aku bukan pacarmu! Kamu bisa pergi sekarang, kelihatannya kamu sudah menghabiskan kopimu,” tutur gadis itu dengan tegas.


“Hey what’s wrong with you?” Brandon semakin mendekat untuk meraih tangan gadis di hadapannya, namun kedua ajudan gadis itu lebih dulu menepisnya.


“Jangan pernah menyentuhku!”


“Em maaf saya permisi dulu. Sepertinya kalian butuh ruang untuk berbincang.” Gus Hasan bangkit dari kursinya, membuat keduanya menghentikan perdebatan di antara mereka.


“Jangan mengikutiku!” Gadis itu segera berlari menyusul Gus Hasan keluar dari café.


Brandon yang hendak mengikutinya terpaksa harus menghentikan langkahnya saat kedua pengawal gadis itu lebih dulu menghadangnya.


***


Aisha segera berlari ke dalam rumah begitu mobil yang dinaikinya terhenti di halaman luas rumah mereka.


Air mata yang sudah dia bendung mati-matian sejak di depan Faris akhirnya jatuh juga. Semua pegawai di rumahnya menatap heran ke arah majikannya.


“Nyonya mau makan dulu? Biar saya siapkan.” Penuturan dari salah satu pelayannya menghentikan langkah Aisha di ujung tangga. Aisha hanya menggeleng lemah dan kembali berlari memasuki kamarnya.


Menangis. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Karena dengan menangis hatinya akan merasa sedikit lega.


Dia tumpahkan air matanya hari ini, dia juga berharap hanya hari ini, semoga hanya hari ini.


“Apa Bang Faris beneran mencampakkan aku? Sekarang gimana caranya lagi aku bisa ngebujuk dia,” gumam Aisha di sela tangisnya.


“Kenapa Bang Faris kayak gini sama Ica?”


Berbagai pertanyaan berkelebat di kepala cantik Aisha, kedua tangannya sudah mencengkeram sprei di kasurnya kuat-kuat, bahkan kini bantal yang menjadi tumpuannya sudah basah karena air matanya.


Entah sudah berapa bungkus tisu juga yang berserakan di lantai kamarnya.


Sore itu Aisha luapkan segala kesedihannya, hingga suara isakan yang semula menggema di kamarnya berubah menjadi dengkuran halus yang cukup berirama.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2