
Pagi-pagi sekali sebelum Faris berangkat ke Rumah Sakit, ia melajukan mobilnya menuju ke rumah ibu mertuanya, ia bahkan tak sempat melahap sarapannya lebih dulu untuk menunggu Mang Udin membuka pintu gerbang di sana.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mang Udin baru saja membuka gembok gerbang yang menggantung di sana saat mobil Faris merayap memasuki komplek perumahan itu.
“Eh Aden, pagi sekali Den, ada apa?” tanya Mang Udin saat melihat seseorang yang turun dari mobil di depannya adalah suami majikan mudanya.
“Sengaja mau ketemu Mang Udin,” seloroh Faris mendudukan diri pada kursi di samping Mang Udin.
“Beneran Den, Mamang mah nggak tau kemana perginya Nyonya sama Non Aisha,” tukas Mang Udin seakan mengerti maksud dan tujuan Faris menemuinya.
“Santai aja Mang, saya percaya kok. Oh ya kalo malem di rumah kosong ya Mang? Mamang sama yang lainnya pada pulang semua?” tanya Faris mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya Den
… kata asisten Nyonya, Nyonya Maya berpesan kalo kami disuruh pulang aja kalo
sore, baru pagi-pagi balik lagi buat bersih-bersih dan yang lainnya.”
“Asisten Ibu?” tanya Faris meyakinkan pendengarannya, sedangkan Mang Udin tentu saja mengangguk mengiyakan.
“Berarti secara nggak langsung asistennya Ibu berhubungan sama Ibu atau pun istri saya dong Mang?”
“Tah iya Den, Mamang baru ngeh,” ujar Mang Udin dengan logat sundanya.
“Mamang punya kontaknya asisten Ibu nggak? Atau alamat rumahnya mungkin Mang,” tanya Faris seperti menemukan titik terang.
“Kalo kontaknya Mamang nggak punya Den, soalnya kalo ada apa-apa dia suka langsung dateng ke sini. Nah kalo alamatnya Mamang inget karena pernah disuruh Nyonya nganterin pulang.”
“Diimana Mang? Kasih tau Faris,” ucap Faris dengan semangat.
“Em … jalan mawar, komplek perumahan xx. Aden tanya saja nama ‘Salsa’ di sana, pasti pada tau Den,” usul Mang Udin yang segera diangguki oleh Faris.
“Makasih ya Mang infonya … saya jalan dulu.”
“Sama-sama Den, semoga dipermudah semuanya ya Den.” Mang Udin berucap seakan memahami kesulitan yang tengah Faris hadapi saat ini.
***
Mobil Faris merayap sesaat setelah memasuki gapura perumahan seperti yang Mang Udin tuduhkan, ia menghentikan mobilnya saat melihat ada segerombolan ibu rumah tangga yang tengah berbelanja pada tukang sayur yang melintas.
“Permisi Bu … mau nanya kalo rumahnya Salsa yang sebelah mana ya Bu?” tanya Faris pada segerombolan
__ADS_1
ibu rumah tangga yang masih menegrumuni tukang sayur.
“Salsa yang mana nih Mas? Soalnya nama Salsa nggak cuma satu di komplek ini,” ujar salah satu wanita itu meminta ciri-ciri yang lebih spesifik.
“Em ….” Faris menggaruk tengkuknya sendiri mulai kebingungan, pasalnya ia hanya sekedar mengetahui nama dari asisten ibu mertuanya itu, tak ada foto atau keterangan lain yang lebih spesifik untuk ia tunjukkan.
“Salsa yang anaknya Bu Yani kali Bu, yang katanya kerja sebagai asisten bukan Mas?” ujar wanita lain yang masih asyik memilih sayuran menebak pertanyaan Faris.
“Ah iya Bu bener, dia kerja sebagai asisten di event organizer milik ibu mertua saya,” timpal Faris membenarkan.
“Nah kan bener. Itu Mas rumah yang ada di ujung lorong sebelah kanan,” ujar sang ibu menunjukkan
“Oh iya, terima kasih ya Bu,” ucap Faris dengan sopan, ia lantas mengeluarkan beberapa lembar uang rupiah berwarna merah dan memberikannya kepada tukang sayur yang masih dikerumuni ibu-ibu rumah tangga itu.
“Untuk belanjaan mereka Pak,” ucap Faris mendekati sang pemilik gerobak lantas berlalu setelah lebih dulu mengangguk dengan senyum ramah pada ibu-ibu di sana.
“Siap Pak terima kasih.” Pemilik gerobak itu tampak bersemangat karena pasalnya belanjaan yang di ambil ibu-ibu komplek itu tak akan mencapai nominal yang Faris berikan.
“Terima kasih loh Mas ganteng baik hati … semoga makin langgeng ya sama istrinya,” celetuk ibu-ibu di sana sesaat setelah Faris membunyikan klakson mobilnya tanda berpamitan.
Faris tersenyum di dalam mobilnya saat mendengar doa yang dilontarkan dari para ibu-ibu di sana, ia selalu ingat akan pesan mendiang bundanya dulu, ketika setiap hari saat ia masih anak-anak ia selalu melihat sang bunda yang keluar dari rumah dengan wajah sembab untuk bersedekah entah memberi makan satu atau dua orang yang kurang mampu di jalan, saat kala itu ayahnya divonis mengidap penyakit yang cukup serius yang Faris sendiri tak mengerti di usianya yang masih belia. Bundanya selalu berusaha keras mendoakan sang ayah dengan cara apapun.
Begitulah pesan sang bunda kala itu saat Faris kecil bertanya mengapa bundanya selalu memberi kepada orang lain.
Tanpa terasa ujung netranya terasa basah, ia kini merasakan apa yang bundanya kala itu rasakan, saat kehilangan rasanya sudah hampir di depan mata.
“Allohumaghfirlahum … Bunda, harus kemana lagi Kakak cari istri Kakak Bun?” ucap Faris bertanya seolah sang bunda berada di dekatnya. Untuk saat ini rasanya Faris ingin sekali menjadi anak manja yang mengadukan segala masalah yang dihadapinya kepada kedua orang tua.
Bersamaan dengan itu, Faris menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan ciri-ciri seperti yang segerombolan ibu rumah tangga tadi tuduhkan.
Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, seorang wanita paruh baya menyembul dari balik pintu.
“Maaf cari siapa ya Mas?” tanya wanita itu yang tampak asing dengan wajah Faris.
“Saya cari Salsa Bu, apa benar ini kediaman Salsa? Saya menantu dari Bu Maya tempat Salsa bekerja Bu,” jawab Faris memperkenalkan dirinya.
“Oalah … bosnya Salsa to, silahkan masuk Mas, biar saya panggilkan dulu anak saya,” ujar sang wanita yang ternyata adalah ibu dari Salsa.
“Siapa Bu?” Suara seorang gadis terdengar sedikit berteriak dari dalam saat mendengar ibunya berbincang.
“Ini ada bosmu Sa,” jawab sang ibu yang juga sedikit berteriak.
__ADS_1
“Bos Salsa? Bu Maya kan lagi nggak di Indonesia ….”
Salsa yang tengah membenahi lengan kemejanya seraya melangkah ke ruang tamu sontak menghentikan kalimatnya saat melihat ternyata sosok Faris yang ibunya maksud sebagai bosnya.
“Mati aku!” batin Salsa masih dengan wajah paniknya.
“Ibu kemana Sa?” tanya Faris yang langsung bangkit dari duduknya saat mendengar penuturan Salsa.
“Ya wes Ibu buatin minuman dulu ya.” Sang ibu akhirnya melengang pergi dari keduanya.
“Sa jawab saya! Kemana Ibu sama istri saya pergi?” Faris mengulangi kalimatnya saat Salsa masih mematung di tempatnya tanpa reaksi.
Dengan cepat Salsa menggeleng dengan wajah paniknya, seperti seorang anak yang dituduh mencuri.
“Sa-saya nggak tau Pak, sumpah,” ujar Salsa menangkupkan kedua tangannya seolah memohon ampun pada Faris.
“Tadi kamu kan yang bilang kalo Ibu lagi nggak di Indonesia? Kamu juga pasti tau kemana tujuan Ibu.”
“Beneran Pak saya nggak tau. Bu Maya hanya memberitahukan jika beliau hendak ke luar negeri waktu itu, tapi nggak bilang negara mana tujuannya,” tutur Salsa dengan sekali tarikan napas, seolah Faris adalah harimau yang siap menerkamnya jika ia berbicara lamban.
“Ok kalo kamu nggak tau kemana Ibu dan istri saya pergi … tapi kamu pasti punya kontak Ibu atau istri saya yang bisa dihubungi kan?” tanya Faris kembali mendesak Salsa.
“Em ….” Salsa hanya celingukan seolah mencari jawaban.
“Maaf Pak saya buru-buru masih ada urusan ….” Tiba-tiba Salsa berlari keluar rumah dengan secepat kilat meninggalkan Faris yang masih mematung terkejut di ruang tamunya.
“Salsa ….”
Tak mau kalah, Faris pun segera berlari keluar mencoba menyusul Salsa, namun entah jurus apa yang wanita itu miliki sehingga dalam sekejap mata Faris sudah tak lagi menemukan Salsa, bahkan bayangannya sekalipun tak Faris dapati.
“Aku yakin Salsa pasti tau sesuatu.”
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1