Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Maaf, Nona


__ADS_3

Hari ini seusai membersihkan diri dan menunaikan solat subuh, Faris kembali merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Selain karena semalam ia dan sang istri yang pulang cukup larut, sepertinya Faris juga kelelahan setelah kemarin seharian memutar otak mempersiapkan surprise ulang tahun untuk istrinya.


Lain halnya dengan Aisha yang tak dapat memejamkan netranya kembali. Ia memilih beranjak dari tempat tidurnya setelah menarik selimut untuk sang suami yang nampak tenang dalam lelapnya.


Jika biasanya selama honeymoon Faris dan Aisha selalu memesan makanan untuk mengisi perut mereka, pagi ini tiba-tiba Aisha ingin memasak sendiri. Langkahnya mengayun menuju dapur untuk melihat bahan apa yang bisa ia eksekusi untuk sarapannya dan sang suami pagi ini. Faris memang sengaja menyewa kamar hotel yang memilik akses lebih dari sekedar kamar tidur, ia memilih paket lengkap dengan ruang bersantai juga dapur kecil yang tak kalah lengkap dengan dapur resort seperti saat ia tempati di Cappadocia.


Sayang sekali Aisha tak mendapati apapun di lemari pendinginnya kecuali beberapa minuman dingin yang memenuhi rak-rak pintunya. Ia lupa jika mereka belum sempat berbelanja bahan makanan apapun sejak tiba di Istanbul.


Aisha kembali ke kamar berniat untuk membangunkan Faris dan mengajaknya untuk menemani dirinya berbelanja kebutuhan makanan. Namun seketika Aisha mengurungkan niatnya saat mendapati gurat kelelahan tercetak jelas di wajah suaminya yang masih terlelap, membuat Aisha tak tega untuk sekedar membangunkannya.


“Hallo Roger, kamu bisa temenin saya belanja bahan makanan pagi ini?”


Aisha segera bersiap setelah mengakhiri panggilannya, lantas ia mengetikkan sebuah note pada ponsel suaminya yang tergeletak di atas nakas. Tak lupa sebuah kecupan hangat mendarat dari bibir ranumnya tepat pada kening Faris sebelum Aisha benar-benar pergi meninggalkan kamar hotelnya.


***


Akhir pekan yang ke sekian dalam hidup Faisal yang tak pernah berkesan. Pagi ini setelah mendapat panggilan dari seorang lelaki yang telah menyelamatkan juga merawat hidupnya, Faisal bergegas melajukan tesla hitamnya membelah padatnya jalanan kota Istanbul pada akhir pekan di awal musim panas tahun ini.


Di tengah fokusnya mengemudi, tiba-tiba Faisal merasa tubuhnhya sedikit lesu. Mungkin karena semalaman telah menggarap beberapa bahan untuk proyek besarnya dengan klien di anak perusahaan yang Babanya amanatkan untuk ia pimpin.


Faisal memarkirkan mobilnya di depan sebuah café yang biasa menjadi langganan untuknya sekedar menghilangkan penatnya.


“Americano please,” pinta Faisal pada seorang barista yang tersenyum ramah menyambut kedatangannya.


Tapi pagi ini Faisal sedang tidak memiliki banyak waktu sehingga ia tak bisa berlama-lama bersantai di sana. Setelah mendapatkan minumannya, ia bergegas melangkah kembali ke arah pintu masuk.


“Yes Baba, ini Isal udah on the way ke rumah,” tutur Faisal saat tiba-tiba ponsel di sakunya berdering.


Brukkk, langkah Faisal seketika terhenti ketika kopi di tangannya serasa melayang ketika ia membuka pintu di depannya.


“Oh God!” Faisal amat terkejut saat ternyata kopinya menumpahi seorang gadis yang juga hendak membuka pintu café di depannya.


“Kenapa Sal? Everything okay?” tanya sang Baba yang ternyata mendengar pekikan Faisal dari sebrang.


“Nggak apa-apa Ba, em wait sepuluh menit Isal nyampe,” ujar Faisal mengakhiri panggilannya dan beralih pada gadis yang tampak masih terkejut oleh noda kopi yang tiba-tiba mengguyur sweater putihnya.


“I am so sorry, really sorry,” ujar Faisal dengan bahasa inggris karena melihat sepertinya gadis itu bukanlah gadis Turki. (Aku minta maaf, benar-benar minta maaf)


“Oh it’s okay,” tutur Aisha hanya tersenyum sambil berusaha membersihkan sweaternya yang tak mungkin kembali bersih hanya dengan tisu yang ia usapkan.

__ADS_1


“Nyonya anda baik-baik saja?” Roger yang baru saja memarkirkan mobilnya segera berlari saat melihat majikannya mengalami sesuatu.


“Saya nggak apa-apa Roger, lagian kopinya udah lumayan dingin juga.”


“Oh kalian dari Indonesia?” tanya Faisal setelah mendengar percakapan Roger dan Aisha.


“Benar, kami memang dari Indonesia,” jawab Roger yang justru menjawab pertanyaan Faisal.


“Saya benar-benar minta maaf Nona, tadi saya sedang mengangkat telepon.” Faisal benar-benar merasa bersalah saat melihat noda kopi yang mengotori sweater Aisha sangat jelas terlihat.


“Tidak apa-apa Tuan, hanya noda kecil.” Lagi-lagi Aisha hanya bisa tersenyum saat laki-laki yang telah menumpahkan kopi di bajunya terlihat begitu sungkan.


“Kita kembali sekarang, Nyonya?” tanya Roger yang segera diangguki oleh Aisha.


“Saya permisi Tuan,” pamit Aisha lantas berbalik dan mengurungkan niatnya untuk memasuki café.


“Eh tunggu! Setidaknya biarkan saya membelikan baju ganti untuk anda kenakan Nona. Tidak mungkin anda pulang dengan keadaan seperti ini,” tutur Faisal menghentikan langkah Aisha dan Roger.


“Terima kasih sebelumnya Tuan, tapi tidak usah repot-repot, saya juga sedang terburu-buru,” tolak Aisha dengan ramah, ia tak sepenuhnya berbohong karena memang ia tengah terburu-buru khawatir Faris terbangun dan mencarinya, meski ia sudah meninggalkan note di ponsel Faris sebelumnya.


“Kalo begitu biar saya yang mengantar anda pulang, Nona,” tawar Faisal benar-benar tak enak hati dengan gadis di depannya ini.


“Tapi anda benar-benar tidak apa-apa Nona?”


“Saya baik-baik saja Tuan, anda tak perlu sungkan.”


“Baiklah, sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini.”


“Tidak masalah, kalo gitu kami permisi,” tutur Aisha ramah.


Faisal hanya mengangguk menatap kepergian sang gadis, sebenarnya ia benar-benar tak enak hati karena telah mengotori pakaiannya, terlebih gadis itu tak menuntut apapun darinya. Sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang mungkin akan langsung mencak-mencak jika berada di posisi Aisha.


“Ah aku bahkan lupa bertanya siapa namanya.” Tanpa sadar kedua sudut bibir Faisal tertarik mengingat gadis yang begitu ramah juga baik hati tadi.


“Nyonya apa perlu saya belikan kopinya terlebih dahulu untuk anda?” tanya Roger yang sudah duduk di balik kursi kemudi.


“Nggak usah Roger, kita langsung balik aja. Takutnya Bang Faris udah nungguin.”


“Baik Nyonya,” ucap Roger segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


***


Faris terpaksa mengerjapkan netranya yang meski masih merasa amat berat saat tangannya tak mendapati wanita pujaannya di ranjang tidur mereka.


“Sayang?” Faris yang masih merasa mengantuk hanya memanggil sang istri dengan mata yang masih terpejam tanpa berniat untuk bangkit.


Satu detik, dua detik, tiga detik, tak ada suara apapun yang menjawab panggilan Faris.


“Yang?”


Masih hening. Faris terpaksa bangkit untuk mencari keberadaan sang istri.


Di kamar mandi, kosong. Di ruang tv, kosong. Di dapur, juga kosong. Faris segera kembali pada kesadarannya saat tak mendapati Aisha di sudut manapun. Bahkan kini ia sudah sangat panik.


Ia meraih ponsel dia atas nakasnya berniat hendak menelepon istrinya. Tapi Faris mendapati sebuah note tertulis di layar ponselnya saat ia membuka kunci layarnya.


‘Bang, Ica keluar sebentar buat beli bahan makanan ya. Abang nggak perlu khawatir karena Ica pergi ditemenin Roger kok. Love you Abangku Sayang’


Faris segera menyambar jaket dan kunci mobilnya berniat untuk menyusul Aisha. sambil melangkah, jarinya aktif menekan kontak atas nama ‘Kesayanganku’, lalu tepat pada dering ketiga terdengar suara dari sebrang.


“Sayang kamu dimana? Kok nggak bangunin Abang sih kalo mau pergi? Kan Abang bisa temenin,” tanya Faris panik.


“Abang, Ica cuma keluar sebentar kok. Ini juga udah lagi jalan pulang. Abang nggak usah khawatir ya, lima menit InsyaAllah Ica nyampe,” tutur Aisha menenangkan sang suami yang terdengar sangat menghawatirkannya.


Mendengar jawaban istrinya, Faris mengurungkan niatnya untuk menyusul dan kembali mengayun langkahnya ke dalam kamar.


“Astaghfirullah!” Faris terkejut saat mendapati pantulan wajahnya ketika tak sengaja melintasi cermin di meja rias.


“Untung nggak jadi keluar, bisa disangka orang gila baru nih gue,” gumam Faris setelah mengamati lamat-lamat penampakan dirinya di cermin yang persis seperti manusia yang sudah bosan hidup, wajah lusuh juga rambut yang sudah tak tau arah gelombangnya.


“Gawat nih kalo bini gue liat aib memalukan ini.” Faris segera berlari terbirit-birit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan membenahi tampilannya sebelum Aisha kembali ke kamar hotel mereka.


***


Babang Faris baru ditinggal sebentar aja udah uring-uringan nggak karuan deh :D


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2