
Aisha segera beranjak menggeledah laci pada lemari di samping ranjang tidurnya, ia teringat jika Rey pernah memberikannya kartu nama saat Rey mengantar Aisha pulang ke apartemen selepas dari Blue Mosque.
Segera dicatatnya nomor ponsel yang tertera pada kartu itu di ponsel miliknya. Satu detik, dua detik,, hening belum tersambung.
“The number you are calling is not in service at this time, please ….”
“Rey … please … kamu pasti baik-baik aja kan? Kamu udah janji bakal selalu ada buat aku Rey ….”
“The number you are calling is not in service at this time, please ….” Lagi-lagi hanya suara operator saat ia mengulangi panggilannya.
Ia masih belum menyerah, diulanginya panggilan itu. “The number you are calling ….”
Aisha kembali lemas saat lagi-lagi hanya mendengar suara operator dari seberang, “Allohu … berarti bener Rey sekarang lagi bertugas di pesawat itu ….”
“Ya Allah sesungguhnya Engkau yang menundukkan kendaraan itu, Rey orang yang baik, aku mohon lindungilah dia juga semua yang ada di pesawat itu, biarkan mereka kembali menginjakkan kakinya di bumi milik-Mu ….” Aisha bergumam dengan parau karena air di pelupuk matanya kini semakin tiada hentinya mengalir.
Drrtt … drrrttt … getar ponsel dalam genggaman Aisha membuatnya tersentak, untuk sesaat netranya berbinar karena mengira Rey yang menghubunginya balik. Tapi sepertinya ia terlalu berharap, seseorang yang menghubunginya hanyalah petugas dari pihak apartemen.
“Selamat sore Nona ….” Terdengar suara bariton yang Aisha ketahui sebagai petugas keamanan apartemen menyapanya saat ia meletakkan ponsel itu di telinganya.
“Selamat sore Pak, ada apa ya?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Mohon maaf Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda di lobi saat ini.”
Kening Aisha mengernyit, orang yang mengetahui ia tinggal di apartemen ini hanyalah Rey dan Faisal.
“Apa mungkin Rey? Apa mungkin dia lagi ngeprank aku?”
“Siapa ya Pak? Laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki Nona. Tapi saya tidak tahu siapa, tadi saya tidak sempat bertanya identitasnya,” ujar sang petugas menatap ke arah Faisal yang kini memilih untuk duduk di kursi yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.
“Baik, saya akan segera menemuinya,” ujar Aisha singkat lantas menutup panggilannya.
Ting … Aisha langsung disuguhkan dengan siluet seorang pria yang kini tengah duduk membelakanginya di lobi apartemen.
Keningnya kembali mengernyit saat langkahnya semakin dekat dan ia menyadari siapa lelaki itu.
“Tuan Faisal?” ujar Aisha seolah bertanya. Hal itu sontak membuat Faisal bangkit dari duduknya dan berbalik menghadap wanita yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
“Assalamualaikum Aisha ….” Senyum Faisal langsung mengembang saat menyapa Aisha.
“Waalaikumsalam, ada apa ya Tuan sampai repot-repot mencari saya ke apartemen? Bukankah luka anda belum sepenuhnya membaik?” tutur Aisha yang merasa heran karena Faisal mencarinya.
Sedangkan Faisal hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Aisha tanpa menjawabnya, ia justru merogoh sesuatu dari balik jaketnya.
“Maaf saya sudah lancang membukanya. Tapi apa boleh saya tau siapa wanita yang bersamamu dalam foto ini?” tanya Faisal sesaat setelah membuka dompet Aisha dalam genggamannya dan menunjukkan foto yang terpasang di dalamnya.
“Maaf Tuan, dari mana anda bisa mendapatkan dompet saya? Dan memangnya ada apa dengan ibu saya?” Aisha justru balik bertanya karena terkejut melihat dompetnya yang berada di tangan Faisal, Aisha sendiri bahkan tak menyadari jika ia kehilangan dompetnya.
Sedangkan Faisal kini justru mematung dengan raut wajah yang sama sekali tak dimengerti oleh Aisha.
“Ibu? Kamu bilang wanita di foto ini ibumu?” Faisal bertanya dengan bergetar menahan semua rasa dalam dada.
Sontak Aisha hanya mengangguk mengindahkan pertanyaan pria di hadapannya.
“Nama kamu Aisha Ameera Al-Insani, apakah Dokter Muhammad Ameer adalah ayahmu?” Lagi-lagi Faisal bertanya sesuatu yang tak dipahami Aisha.
“Benar, almarhum adalah ayah kandung saya. Tapi ada hubungan apa ya anda dengan ayah saya? Sepertinya Tuan begitu mengenal beliau?”
“Jadi ayah benar sudah tiada?” tanya Faisal dengan parau, yang justru membuat Aisha semakin bingung karena ia menyebut sang ayah dengan sebutan ‘ayah’ juga.
“Tunggu! Saya benar-benar tidak paham dengan yang anda ucapkan, Tuan. Kenapa anda bertanya siapa wanita yang bersama saya di foto itu dan lagi kenapa anda menyebut ayah saya dengan sebutan ayah?”
“Saya Faisal Ameer … putra sulung dari almarhum Dokter Muhammad Ameer dan Maya Pratiwi. Ini Kakak, Ais …,” tutur Faisal dengan parau karena tak sanggup lagi menahan laju air yang kini semakin menderas meluncur dari kedua sudut netranya.
Sedangkan Aisha hanya mematung tak percaya mendengar semua pengakuan pria di hadapannya.
“Ais … ini Kakak, Dek. Kakak nggak nyangka kalo ternyata kamu sama Ibu juga selamat, Kakak kira kalian sudah meninggalkan Kakak sendirian di dunia ini.”
Namun pengakuan itu tetap tak membuat Aisha percaya begitu saja.
“Nggak! Nggak mungkin!” ujar Aisha memundurkan langkahnya.
“Aku anak tunggal, jadi tidak mungkin anda adalah kakak saya,” tukas Aisha tak henti-hentinya menggeleng tak percaya.
“Kamu bukan anak tunggal Dek … kamu punya kakak, dan ini Kakakmu. Kakak juga berhasil selamat dari kecelakaan itu.”
“Nggak! Ini nggak mungkin!”
__ADS_1
“Aisha … kok punya tamu nggak diajak masuk dulu sih Sayang?”
Maya yang baru saja kembali dari belanjanya sontak menegur putrinya yang justru mengajak tamunya mengobrol di tengah-tengah lobi apartemen.
Baik Aisha maupun Faisal, keduanya sontak menoleh mendengar kalimat wanita itu. Jantung Faisal kini berpacu kencang saat melihat wajah wanita yang melahirkannya kini berdiri tepat di hadapannya, wanita yang selama ini ia kira sudah pergi meninggalkannya.
“Ibu ….”
Faisal melangkah gontai menghampiri sang ibu, lututnya seketika ia tekuk begitu sampai di hadapan wanita yang ia panggil ‘ibu’.
“Astaghfirullah … apa yang kamu lakukan Nak?” Maya sontak terlonjak kaget saat tiba-tiba Faisal bersimpuh di kakinya.
Perlahan Faisal kembali berdiri, diraihnya tangan sang ibu yang tidak memegangi kantong belanjaan.
“Ibu ingat wajah ini?” tanya Faisal dengan parau seraya menempelkan tangan Maya di wajahnya sendiri.
Sorot mata keduanya sontak bersitatap, saling menyelami satu sama lain.
“Ibu ingat bocah laki-laki yang selalu merengek meminta adik perempuan pada ayah dan ibunya?” ujar Faisal kembali dengan tangan Maya yang tak sedikitpun ia lepaskan dari wajahnya.
Sedangkan Maya masih setia dengan diamnya, ia hanya mematung dengan raut yang Aisha tak mengerti apa artinya.
Faisal sedikit memundurkan langkahnya, tangannya perlahan melepas kancing kemeja teratas di balik jaketnya, menunjukkan bekas luka jahitan yang masih tertera jelas di dada kiri atasnya.
“Apa Ibu ingat luka ini?” Faisal kembali bertanya ketika Maya masih tak menunjukkan reaksi apapun.
“Bu! Jelasin sama Aisha siapa sebenarnya orang yang ngaku sebagai kakak Aisha Bu? Bukankah Aisha putri tunggal Ibu sama Ayah? Jadi siapa lelaki ini Bu?” Aishapun mendekat, meminta penjelasan kepada sang ibu atas apa yang disaksikannya.
“Apa ini Ais yang selalu Isal minta Bu? Benar kan Bu dugaan Isal? Adik Isal adalah perempuan.”
Seketika hati Maya sakit mendengar semua kalimat itu, bayangan-bayangan saat sebuah kecelakaan yang harus membuatnya kehilangan suami dan putra sulungnya membuat Maya ingin mentup rapat-rapat semua kenangan itu.
Seketika kantong belanjaan dalam genggamannya terjatuh, membuat isi di dalamnya berserakan ke lantai. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya kini jatuh juga.
Sesaat tangan Maya bergetar saat hendak kembali meraih wajah Faisal, sesak pun seketika menyeruak saat kembali menatap wajah yang selama ini ia kira sudah tiada, “Kakak … putra Ibu … ini benar kamu Nak?” ujarnya dengan suara bergetar.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...