
“Kamu mau kemana Diana?" tanya Azka ketika melihat Diana tengah sibuk membereskan baju-bajunya ke dalam koper berwarna silver.
“Aku mau pulang ke rumah ayah untuk sementara Mas, mungkin kita butuh ruang untuk saling menenangkan pikiran masing-masing," jawab Diana parau.
Keputusan itu teramat berat baginya, tapi mungkin itu jalan satu-satunya untuk meredamkan prahara dalam rumah
tangganya.
“Paling tidak, hingga Mas Azka bisa menerima kami sepenuhnya sebagai sebuah keluarga," lanjut Diana seraya mengelus perutnya yang mulai menyembul di balik gamisnya.
Ada sesak ketika Diana melanjutkan kalimatnya, ia tak tahu sabar yang mana lagi yang harus ia lalui dalam rumah tangganya ini. Sekuat apapun Diana berusaha untuk menjadi seperti yang Azka harapkan, akan sia-sia jika hati Azka masih terpaut masalalunya dan belum bisa menerima kehadiran Diana sepenuhnya.
Diana bangkit menyeret kopernya, menghampiri Azka yang sejak tadi bergeming hanya memperhatikan apa yang Diana lakukan.
“Mas Azka gak mau anterin Diana? Setidaknya memastikan aku dan calon anak kita selamat sampai tujuan.”
***
Diana menyeret koper dengan langkai gontai ke rumah mendiang ayahnya, rumah itu tidak ada yang berubah karena selalu dirawat dengan baik oleh para pegawainya.
Ada perih yang semakin sesak saat melangkahkan kaki ke rumahnya itu, teringat kenangan-kenangan Bersama ayahnya yang amat ia cintai di dunia ini.
“Non Diana mau menginap di sini?" tanya asisten rumah tangganya yang sudah siaga menyambutnya, Diana biasa memanggilnya Bi Darmi.
“Iya Bi, mungkin untuk sementara waktu, akhir-akhir ini saya merasa kangen sama rumah," jawab Diana sewajar mungkin.
“Sama Den Azka juga?”
“Mas Azka gak bisa nemenin saya dulu Bi, masih banyak urusan pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Diana sebelum Azka yang menjawabnya.
“Kalau begitu mari masuk Non, Den, biar Bibi buatkan minum dulu.”
Bi Darmi segera bergegas dengan membawa barang-barang Diana ke kamarnya.
“Kamu yakin mau di sini dulu Di,”tanya Azka ketika Bi Darmi sudah menghilang di balik tembok.
“Jika Mas Azka belum bisa membuka hati Mas Azka buat Diana, lebih baik Diana di sini dulu. Meski ayah sudah tiada setidaknya ini rumah Diana, di sini Diana akan merasa lebih baik.”
“Rumah seorang istri adalah di rumah suaminya Diana.”
“Lalu jika seorang istri selalu terluka karena suaminya, apa istri itu harus tetap di rumah suaminya? Mungkin akan lebih baik jika kita menghindar dari sumber masalah terlebih dahulu.”
“Aku gak mau membuat Mas Azka semakin berdosa karena terus menyakitiku dengan sikap Mas Azka yang seperti ini terus, bagaimanapun juga seorang suami tidak boleh menyakiti istrinya baik lahir maupun batin. Jadi Mas Azka bisa jemput aku ketika Mas Azka sudah bisa membuka mata untuk menerima kenyataan kalo aku istri Mas Azka dan ada calon anak kita yang butuh Mas Azka juga. Paling tidak, ketika hati Mas Azka sudah mulai bisa untuk beranjak dari masa lalu.”
Diana beranjak ke kamarnya setelah lebih dulu mencium tangan Azka, membiarkannya bergeming di ruang tengah sendirian. Ia terisak dalam diamnya sendiri, di kamar tempat ia selalu menemukan ketenangan di sana.
“Loh Non Diana-nya dimana Den?”tanya Bi Darmi yang baru saja muncul membawa minuman.
“Oh ... Diana katanya tadi agak cape Bi, makanya naik duluan. Kalau begitu saya juga pamit ya bi, nitip Diana dan calon anak kami.”
“Oh non Diana sedang isi toh Den?”
“Iya Alhamdulillah Bi, baru jalan empat bulan, kalo ada apa-apa segera hubungi saya ya Bi,”pinta Azka pada Bi Darmi asisten rumah tangganya.
“Siap baik Den.”
“Kalo begitu saya pamit Bi, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”lalu kemudian Bi Darmi mengantar Azka hingga ke pintu depan, dan kembali ketika mobil Azka telah menghilang di balik gerbang.
Bi Darmi segera naik ke kamar Diana, menghampiri barangkali ada yang majikannya butuhkan.
Tok ... Tok....
“Permisi Non, apa ada yang bisa Bibi kerjakan? Atau mungkin Non Diana membutuhkan sesuatu?”tutur Bi Darmi dari balik pintu, karena memang Diana menutup pintunya.
__ADS_1
“I-iya Bi makasih, Diana gak pengen apa-apa ko Bi, Bibi istirahat aja,”jawab Diana agak gugup, ia takut Bi Darmi mendengar isakannya.
***
“Ini bekalnya buat kamu sama Faris ya nak,”ucap Maya menyodorkan rantang bekal pada Aisha.
“Siap ibuku yang cantik,”jawab Aisha seraya mengecup kedua pipi ibunya yang mulai muncul kerutan di sana.
“Aisha berangkat dulu ya bu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, loh gak barengan sama Faris berangkatnya?”
“Faris udah di Rumah Sakit bu, dia nginep soalnya. Biasa dokter spesialis yang masih fresh graduate kan lagi banyak-banyaknya job,”jawab Aisha sambil terkekeh.
“Iya iya bener lagi sibuk-sibuknya.”
“Dadah ibu,”pamit Aisha melambai setelah mencium tangan Maya lebih dulu.
***
“Aisha!”panggil seseorang ketika Aisha baru saja turun dari taksi di depan Rumah Sakit, sontak Aisha menoleh ke sumber suara. Jujur hatinya masih sesak melihat siapa yang memanggilnya.
“Kamu masih inget sama aku?”tanya seseorang itu.
“Diana kan? Istrinya Azka?”jawab Aisha kembali bertanya, ada perih yang belum memudar di lubuk hatinya ketika melontarkan kalimat itu.
“Maaf aku nemuin kamu ke sini, tapi aku benar-benar perlu bicara sama kamu.”
“Maaf kayaknya kalo sekarang aku gak bisa, pasienku udah nunggu,”jawab Aisha sewajar mungkin.
“Mungkin kalo nanti pas waktu makan siang gimana? Sekalian kita makan siang bareng,”ajak Diana tidak menyerah.
“Baik Insya Allah.”
Aisha hanya menggangguk mengiyakan, lalu kemudian bergegas untuk menjalankan tugasnya.
“Selamat pagi Dokter Faris, sarapan anda datang,”sapa Aisha menghampiri sahabatnya di ruangannya.
“Eh kurir cantikku udah dateng,”jawab Faris balik menggoda sahabatnya. Ada lega ketika Faris melihat Aisha sudah kembali ceria seperti biasanya.
“Ongkosnya udah di bayar di aplikasi ya Mba,”lanjutnya terkekeh.
“Kurir kurir, makanya nikah biar ada yang sering merhatiin,”jawab Aisha balas menggoda.
“Kan nanti nikahnya sama kamu,”ucap Faris enteng. Sontak hal itu membuat Aisha membulatkan bola matanya.
“Cie baper baper,”lanjut Faris lagi-lagi menggoda sahabatnya. Sejujurnya kalimat itu bukan candaan semata, ada tulus dari lubuk hatinya yang tidak Aisha ketahui.
“Nih baper,”ucap Aisha seraya melayangkan cubitan di pinggang kiri Faris yang sontak membuat Faris meringis kesakitan.
“Jahat ya kamu,”ucap Faris sambil mengelus-elus bekas cubitan Aisha di pinggangnya.
“Syukurin tuh,”jawab Aisha seraya melangkah keluar dari ruangan Faris.
Persahabatan antara Aisha dan Faris memang tidak perlu diragukan lagi. Apapun itu, mereka akan saling terbuka untuk berbagi, kecuali mungkin soal perasaan Faris terhadap Aisha, meski sekarang Aisha sendiri sudah mengetahuinya.
Tapi Faris tetap tahu diri, karena mungkin Aisha hanya menganggapnya sebatas sahabat, tidak lebih. Begitupun dengan Maya, ibunya Aisha.
Sejak Faris ditinggalkan oleh kedua orang tuanya lebih dulu, Maya sudah menganggap Faris seperti putranya sendiri, bahkan ia selalu memperlakukan Faris sama seperti kepada Aisha.
Sudah tertanam dalam rasa sayang di antara ketiganya, mereka saling peduli dan saling melindungi layaknya seorang keluarga.
***
“Udah nunggu lama?”tanya Aisha pada Diana yang sudah datang lebih dulu di café depan Rumah Sakit.
__ADS_1
“Gak ko Sha, aku juga baru datang,”jawab Diana ramah.
“Mau pesen makanan dulu Sha?”
“Boleh.”
Diana kemudian memanggil waitress untuk memesan makanan.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu Sha, tentang mas Azka. Maaf kalo aku lancang nemuin kamu kaya gini.”
“Aku tahu kok kekhawatiran kamu sebagai seorang istri, tapi kamu tenang aja aku sama mas Azka udah selesai Di, aku cuma bagian dari masa lalunya.”
“Aku tahu Sha kalian memang udah gak punya hubungan apa-apa lagi, tapi yang ada di hati Mas Azka masih tetap hanya kamu,”ucap Diana mengusap sudut matanya.
“Sekarang kamu adalah istri sah dari Muhammad Azka El-Fatih, kamu yang lebih punya hak atas Azka, jadi kamu gak perlu khawatir Diana. Kamu hanya perlu lebih bersabar dan berusaha agar segera memenangkan hatinya.”
“Kurang sabar seperti apalagi aku Sha, satu tahun sudah pernikahan kita, nyatanya Mas Azka tetap belum bisa melupakan kamu.”
“Cinta akan tumbuh karena terbiasa, suatu saat pasti Mas Azka luluh sama kamu. Apalagi sekarang sudah ada benih mas Azka yang tumbuh di rahimmu.”
Drrtt ... Drrtt ... suara ponsel Aisha bergetar.
“Aku angkat telepon dulu yah,”ucap Aisha pada Diana yang kemudian diangguki oleh Diana.
“Hallo Waalaikumsalam,”jawab Aisha pada seseorang di seberang telepon.
“Aku lagi ada urusan sebentar, iya aku udah makan kok,”lanjut Aisha.
“Oke Waalaikumsalam.”tutup Aisha mengakhiri panggilannya.
“Siapa?”tanya Diana ketika Aisha sudah selesai.
“Faris.”
“Kalian sedekat itu yah?”
“Kita memang cukup dekat, Faris senior aku sejak kuliah, aku udah nganggep dia seperti kakaku sendiri.”
“Sha aku minta maaf karena aku hadir diantara kamu sama mas Azka, aku mungkin udah merusak semua mimpi-mimpi kalian,”ucap Diana tiba-tiba.
“Semua ini udah rangkaian takdir Di. Mungkin dulu aku sama Mas Azka memang berencana untuk bersama, tapi nyatanya memang bukan aku yang jodohnya, kamu gak perlu menyalahkan diri kamu seperti ini. Aku memang kecewa, tapi aku baik-baik aja kok, kamu gak perlu khawatir. Mungkin Alloh sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah buat aku.”
“Gak semua wanita memiliki ikhlas seluas lautan kaya kamu Sha, bahkan mungkin aku sendiri gak akan sanggup. Wanita sesempurna kamu berhak mendapatkan yang lebih baik Sha.”
“Aku juga cuma wanita biasa Di, jangan terlalu memuji,”gurau Aisha yang diikuti kekehan mereka.
***
Duhai malam, ajari aku kesabaran atas debaran yang terlukiskan
Mungkinkah ini titah cinta yang hendak menjadi kenyataan?
Ataulah ilusi dari doa yang terpanjatkan?
Duhai malam, adakah yang lebih mendebarkan dari sebuah penantian?
Penantian panjang akan takutnya kekeliruan
Adakah yang lebih haru dari doa-doa yang menderu?
Menderu kalbu di setiap sujud panjangku
~Diana Syafira~
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ....
__ADS_1