
Entah sudah berapa kali Karina mondar mandir di ruangannya sambil memandangi layar ponselnya. Pasalnya sejak tadi ia sudah berkali-kali menghubungi Azka karena pekerjaannya di Rumah Sakit sudah selesai.
Drrrtt … drrrtt … Karina seketika berbinar mendapati Azka meneleponnya.
“Halo Rin ….”
“Aku udah selesai Ka.” Karina langsung to the point.
“Maaf ya … tapi sore ini aku nggak bisa jemput kamu, aku ada urusan yang nggak bisa ditinggal. Kamu nggak apa-apa kan kalo naik taksi?”
Seketika binar di wajah Karina meredup, senyum yang sejak tadi merekah pun turut memudar.
“Ya udah, aku nggak apa-apa kok.” Karina menjawabnya asal.
Klik, ia langsung mematikan sambungan telepon tanpa persetujuan dari Azka.
“Dasar cowok! Enteng banget kalo tentang ngebaperin orang, giliran udah baper apa-apa jadi seenak jidat sendiri. Tau gitu pagi tadi aku nyetir sendiri, padahal kan dia yang ngotot mau nganterin, eh malah nggak tanggung jawab pulang suruh naek taksi gini.” Sepanjang jalan Karina terus saja menggerutu, ia menunggu taksi yang melintas di tepi jalan dengan wajahnya yang teramat lesu.
***
“Assalamualaikum Bu ….” Aisha langsung menghambur memeluk Maya ketika melihat ibunya itu sudah berkutat menyiapkan makanan di meja.
“Waalaikumsalam … eh Sayang, dari mana?” Maya yang juga teramat rindu dengan putri kesayangannya itu segera membalas pelukan Aisha.
“Dari Rumah Sakit Bu, abis nemuin Abang.” Aisha menjawabnya dengan lesu.
“Ya ampun masih kurang aja itu bulan madu nyampe suami kerja juga ngintilin?” Maya menggoda putrinya yang terlihat tak seceria biasanya.
“Ish Ibu! Aisha rencananya mau ngasih surprise ke Abang Bu, makanya nyamperin ke sana.”
“Surprise apa tuh? Ibu boleh tau nggak?” Lagi-lagi Maya menggoda putrinya.
Aisha tersenyum lantas mengeluarkan selembar kertas yang ia dapatkan dari dokter Fara tadi dan menyerahkannya pada Maya.
Awalnya Maya masih tampak bingung dengan gambarnya yang memang tak ia mengerti, namun seketika mulutnya menganga dengan mata berbinar saat membaca judulnya, yang ternyata itu adalah hasil USG kandungan putrinya.
“MasyaAllah Sayang ….” Maya segera memeluk kembali putrinya dengan haru.
“Selamat ya Sayang, sebentar lagi kamu akan jadi Ibu,” ujar Maya mengusap-usap punggung Aisha, air mata kebahagiaan sudah tak bisa lagi dibendungnya saat tahu jika sebentar lagi ia akan mendapat seorang cucu.
“Iya Bu, semoga Aisha dan Abang bisa menjadi orang tua yang baik ya Bu.”
“Aamiin Sayang, kalian pasti bisa.”
“Jadi Faris belum tau kalo dia sebentar lagi akan jadi ayah?”
Aisha langsung menggeleng menanggapinya.
“Akhir-akhir ini Abang lumayan sibuk Bu, belum lagi kantor yang juga mau ada proyek besar, Abang bener-bener sibuk.”
“Bukannya urusan kantor biasanya Pak Toni yang urus?”
“Kali ini proyeknya nggak main-main Bu, Abang harus turun tangan juga.” Lagi-lagi Aisha menjawabnya dengan lesu.
__ADS_1
“Ya udah jangan terlalu dipikirin, inget anak di perut kamu, kamu nggak boleh stress biar si adek juga sehat.” Maya mencoba menghibur putrinya, sebagai sesama wanita ia juga tahu betul jika di saat-saat seperti ini peran suami memang sangatlah dibutuhkan.
Aisha hanya tersenyum getir mencoba memahami keadaan, demi anak dalam kandungannya ia harus selalu kuat.
“Sebagai seorang istri, kita harus selalu mendukung dan menemani setiap langkah suami kita dalam perjuangannya, dia berjuang demi menafkahi keluarga. Dia sudah cukup lelah di medan pekerjaannya, jadi jangan ditambah lagi dengan beban urusan di rumah, kita harus mencoba mengerti karena apa yang dilakukannya semata hanya demi keluarga, bukan yang lain.” Maya kembali memberikan pengertian kepada putrinya agar pikirannya tak terlalu terbebani karena kesibukan suaminya.
“Aisha juga nggak tau Bu, mungkin karena hormon kehamilan buat Aisha jadi sedikit cengeng, gampang baperan. Padahal sebelumnya Aisha udah biasa kok kalo Abang sibuk kayak gini.”
“Itu wajar kok, ibu hamil emang pengennya selalu dimanja.”
Maya membungkuk dan menghentikan wajahnya di depan perut Aisha.
“Cucu Nenek nggak boleh nakal ya, harus kuat ditinggal Papi kerja.” Maya berujar seolah janin dalam perut Aisha mendengarnya.
“Iya Nek, adek nggak nakal-nakal kok.” Aisha menjawab sambil mengusapi perutnya.
“Mau makan sekarang apa nungguin Faris pulang? Ibu udah masakin makanan kesukaan kalian tuh,” ujar Maya menunjuk berbagai hidangan yang sudah tersusun rapi di atas meja.
“Abang nggak tau kapan pulangnya Bu, tadi aja masih ada operasi.”
“Ya udah kita makan dulu yuk, kasian nih cucu Ibu pasti udah kelaperan di dalem.” Maya
segera menggiring putrinya untuk duduk di salah satu kursi yang sudah berjajar
mengelilingi meja.
“Maaf ya Bu Aisha sama Abang belum sempet main ke rumah sejak pulang honeymoon, malah Ibu harus repot-repot bawain semua ini lagi.”
“Nggak apa-apa, lagian Ibu juga lagi senggang kok, Ibu tau menantu Ibu itu lelaki yang hebat, dia sibuk juga demi keluarganya.”
Hampir dua minggu ini Faris benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya. Akhir-akhir ini ia pun menjadi jarang sekali bercengkerama dengan sang istri, pasalnya ia selalu pulang larut ketika Aisha sudah terlelap, dan berangkat ketika gelap masih belum beranjak saat Aisha belum membuka matanya.
“Abang berangkat ya Sayang, maaf harus ninggalin Ica lagi. Doakan biar Abang selalu sehat dan semuanya cepet selesai.”
Aisha menatap sendu secarik kertas yang entah sudah ke berapa Faris tinggalkan setiap pagi di atas nakas, bersama sekuntum mawar putih yang selalu menyambut harinya.
“Tanpa Abang minta pun, doa Ica selalu mengalir deras mengikuti kemana pun langkahmu Bang.” Aisha segera beranjak dan membersihkan dirinya. Meski malas, tapi ia ingat ada nyawa yang kini selalu ia bawa di perutnya, ia harus tetap bahagia agar janinnya selalu sehat.
“Kamu jangan khawatir ya Sayang, nanti kalo Papi udah tau, pasti dia bakal beliin banyak barang-barang kebutuhan adek, kita bakal selalu disenengin sama Papi.” Kalimat itu pun entah sudah ke berapa kali terlontar dari mulut Aisha untuk janin di perutnya.
Hingga suatu hari Aisha dikejutkan oleh deru mobil suaminya yang pulang lebih awal dari biasanya, bahkan senja pun belum menampakkan pesonanya.
Aisha segera bergegas menuruni tangga dengan senyuman yang sudah mengembang dari kedua sudut bibirnya untuk menyambut kepulangan suaminya, rasa rindu benar-benar membuatnya tak ingin lagi berjauhan.
“Sayang … liat siapa yang Abang bawa.” Faris berujar dengan gembira sebelum Aisha menyelesaikan anak tangga terakhirnya, tangannya menggandeng seorang gadis kecil yang tentunya sudah tak asing lagi di mata Aisha.
“Tasya?” Aisha berujar namun nadanya justru terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Faris langsung mengangguk semangat membenarkan ucapan istrinya.
“Mulai hari ini sampe beberapa hari ke depan Tasya bakalan tinggal di sini sama kita Sayang.” Faris bertutur ketika Aisha masih mematung di tempatnya.
Sontak kening Aisha berkerut mendengar penuturan itu.
__ADS_1
“Kenapa Bang?”
***
“Bi, Karin mau ambil mobil yah.” Karina berujar ketika mendapati Surti tengah menyirami tanaman di kebun halaman rumah Azka.
“Nggak mau mampir dulu Bu dokter?” tanya Bi Surti yang melihat Karina hendak langsung memasuki mobilnya yang terparkir di garasi tak jauh dari kebun.
“Nggak usah Bi, udah sore. Rafa lagi ngapain Bi?”
“Den Rafa sepertinya masih tidur sejak Tuan pergi.”
“Oh emang Azka kemana Bi?” Karina yang berniat tak peduli nyatanya penasaran ketika tahu Azka tak ada di tempat.
“Wah saya kurang tau Bu dokter, Tuan nggak bilang apa-apa soalnya.”
Karina hanya mengangguk-angguk lantas segera menghidupkan mesin mobilnya setelah lebih dulu berpamitan pada Bi Surti.
“Astaghfirullah … saya lupa! Tuan kan nitipin sesuatu buat Bu dokter.” Bis Surti seketika teringat akan titipan majikannya ketika mendengar deru mobil Karina yang baru saja berjalan perlahan.
“Bu dokter … tunggu Bu!” Bi Surti segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari kecil mencoba mengejar mobil Karina yang beruntungnya belum sempat melewati gerbang.
Karina yang melihat Bi Surti dari spion mobilnya sontak menginjak remnya karena terdengar Bi Surti memanggil-manggil namanya.
“Iya Bi kenapa?” tanya Karina setelah ia turun dari kursi kemudinya.
“Sebentar Bu Dokter … Tuan Azka nitip sesuatu buat buat Bu dokter. Sebentar saya ambilkan
di dalam.” Bi Surti segera kembali berbalik dan melangkah ke dalam.
“Nitipin apaan tuh orang.” Karina bergumam sambil bersandar di mobilnya seraya menunggu Bi Surti yang ternyata sudah kembali dengan membawa kotak cukup besar di tangannya.
“Apa ini Bi?” Karina bertanya setelah kotak berwarna hitam itu berpindah ke tangannya.
“Saya nggak tau Bu, Tuan hanya bilang untuk memberikan ini pas Bu dokter dateng ngambil mobil.”
Karina hanya mengangguk-angguk mengiyakan.
“Pede bener tuh orang kalo aku mau ke sini ngambil mobil.”
“Emang Azka mau ada acara Bi?” Karina bertanya setelah membuka kotak di tangannya yang ternyata berisi dress cantik berwarna soft blue.
“Nggak tau juga Bu, tapi tadi Tuan sih perginya pake baju biasa aja, nggak pake baju rapi sih.”
“Aku jemput nanti abis isya yah, jangan lupa dipake bajunya, dandan yang cantik 😊”
Ternyata di antara lipatan baju itu terdapat secarik kertas, tanpa sadar kedua sudut bibir Karina pun tersungging membentuk lengkung indah.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...