
Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...
***
“Kamu tunggu istri saya di sini yah, takutnya nanti dia nyariin kita.” Faris berpesan pada Roger agar menunggu Aisha di halaman masjid, sedangkan dirinya lebih memilih untuk menunggu di mobil.
“Baik, Tuan.”
Faris duduk di kursi penumpang, ia menyandarkan punggungnya berniat untuk memejamkan matanya sebentar selagi menunggu istrinya yang belum keluar dari masjid. Tiba-tiba netranya menangkap benda pipih yang tergeletak di samping kursinya, tepatnya di tempat duduk istrinya, mungkin Aisha melupakan ponselnya.
Faris mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata, tiba-tiba rasa penasaran membuatnya meraih ponsel Aisha lalu membukanya dengan password yang diketahuinya.
Ketika ponsel berhasil dibuka, langsung terlihat beberapa notifikasi mengambang pada layar itu, salah satunya ada direct message yang belum terbaca.
Klik, Faris langsung saja membuka pesan itu yang langsung membawanya pada room chatt.
Deg, lagi-lagi hati Faris terguncang melihat isi pesan itu, terlebih saat melihat sang pemilik akun yang mengirimi direct message pada istrinya itu.
Faris segera mengembalikan ponsel it uke tempatnya, ia kembali menyandarkan punggungnya dengan beberapa kali menghembuskan napasnya kasar, kali ini ia benar-benar memejamkan netranya.
“Ya Allah … kenapa rasanya sakit sekali saat tau ada pria lain yang juga mencintai wanitaku.”
***
Karina masih mematung di depan kamar Azka yang sedikit terbuka, ia ragu apakah harus masuk dan membangunkan Azka atau menunggu hingga Azka terbangun. Ia melirik arloji pada pergelangan tangannya, sudah hampir pukul delapan dan ia harus segera ke Rumah Sakit.
Akhirnya Karina memilih untuk masuk ke kamar Azka, ternyata benar Azka masih terlelap di atas pembaringan. Namun untuk beberapa saat, tiba-tiba Azka terlihat sangat gelisah dalam tidurnya, seperti seseorang yang berusaha bangun dari mimpi buruknya. Karina yang menyaksikannya pun sontak segera mencoba membangunkan Azka dengan menepuk-nepuk pelan lengannya.
“Hah, Astaghfirullah ….” Azka tersentak dari tidurnya, napasnya masih tersengal-sengal dengan peluh yang bercucuran di dahinya.
Ia semakin terkejut ketika melihat Karina sudah duduk di hadapannya, ia kembali mengusap-usap netranya, khawatir belum terbangun dari mimpinya.
Grep, Azka segera merengkuh erat gadis yang kini tengah duduk di sisi ranjangnya ketika menyadari jika itu bukan lagi mimpi. Bayangan Karina yang pergi meninggalkan dirinya dalam mimpi benar-benar membuatnya takut.
__ADS_1
“Jangan tinggalin aku.” Azka berucap sambil mengeratkan pelukannya.
Sedangkan Karina sendiri tak membalas atau pun menolak pelukan Azka, ia masih cukup kaget dengan perlakuan Azka saat ini.
“Hah?” Karina mencoba menajamkan telinganya, ia takut salah dengar atas apa yang Azka ucapkan baru saja.
Karina melepas rengkuhan Azka pada dirinya perlahan, diusapnya peluh yang masih bercucuran di dahi Azka.
“Kamu mimpi buruk?” Karina bertanya dengan lembut.
Azka tak mengiyakan atau pun menolak pertanyaan Karina, tiba-tiba ia menghentikan tangan Karina yang tengah mengusap-usap peluh di dahinya. Untuk beberapa saat iris mereka saling beradu.
“Menikahlah denganku.” Azka berucap tanpa sedikit pun memalingkan pandangannya dari wajah Karina. Cantik, hanya itu yang terlintas di kepala Azka ketika melihat dengan jelas wajah Karina dari dekat.
“Hah?” Karina semakin terkejut dengan apa yang Azka ucapkan.
Tok … tok … tok ….
Seketika Karina menarik tangannya dari wajah Azka dan segera bangkit dari duduknya kala mendengar suara pintu yang diketuk. Ternyata dia adalah Mba Sani yang tengah menggendong Rafa.
“Maaf Tuan mengganggu, ini Den Rafa sudah selesai dimandikan.” Mba Sani merasa canggung karena sudah menganggu Tuannya yang ternyata tidak tengah sendiri di kamarnya.
Sedangkan Azka hanya bisa tersenyum melihat Karina yang tampak sangat gugup seperti seorang pencuri yang tertangkap basah. Lantas dengan santainya ia melangkah dan mengambil alih Rafa ke dalam gendongannya, lalu menyerahkannya pada Karina.
“Kalian turun duluan, aku mau ke kamar mandi,” tutur Azka lantas mengecup wajah putranya yang sontak membuat wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dengan wajah Karina yang tengah menggendong putranya.
Glek, Karina hanya bisa menelan salivanya ketika Azka mengecup wajah Rafa dan membuat rahang tegasnya semakin jelas jika dilihat dari samping, apalagi jakunnya yang sudah sangat menonjol naik turun benar-benar membuat wajah Karina bersemu seketika.
“Mau nungguin di sini aja?” Azka bertanya ketika Karina tak kunjung melangkah dan justru mematung menatapnya.
“Eng-enggak, ini mau turun kok.” Karina berucap dengan sedikit tergagap ketika tertangkap basah tengah memandangi wajah Azka.
Dengan cepat Karina melangkah keluar sambil menggendong Rafa, sedangkan Azka masih tetap di tempatnya menatap gemas tingkah Karina yang terlihat salah tingkah.
“Cewek emang gitu yah kalo lagi salting.” Azka terkikik membayangkan wajah Karina yang sudah bersemu lantas segera masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.
__ADS_1
***
Faris membantu Aisha yang terlihat seperti kesulitan meraih koper mereka di atas lemari, diraihnya koper miliknya juga milik istrinya lalu ia pun berjalan meraih pakaian-pakaiannya berniat untuk dikemas.
“Biar Ica aja Bang,” ujar Aisha meraih pakaian-pakaian di tangan suaminya.
“Abang bantu.” Faris ikut terduduk juga untuk membantu istrinya mengemasi pakaian mereka.
Mereka mengemasi pakaian dengan saling terdiam satu sama lain. Aisha yang merasa kurang enak badan sekaligus pikirannya yang masih bercabang-cabang memilih mengurungkan niatnya untuk sekedar bertanya kenapa saat ini suaminya terlihat lebih pendiam hingga bahkan tiba-tiba membuat jadwal kepulangan tanpa berdiskusi dengan dirinya lebih dulu. Mungkin ada masalah mendadak di kantor atau pun Rumah Sakit, Aisha hanya bisa menerka-nerka tanpa berani berucap.
Malam ini sekitar pukul sepuluh waktu setempat, Faris, Aisha dan Roger sudah berada di Bandara untuk penerbangan langsung ke Surabaya. Tak butuh waktu lama mereka bisa segera check in karena memang Roger sudah mengurus semuanya.
Aisha mengikuti langkah suaminya menuju kelas bisnis lantas mendudukan diri di kursi miliknya yang tentu saja bersebelahan dengan Faris. Dilihatnya Faris langsung menyandarkan diri dan memejamkan netranya.
“Bang ….”
“Iya Sayang?” Faris membuka matanya ketika mendengar istrinya memanggil, namun Aisha hanya menggelengkan kepala mengurungkan niatnya.
Faris memilih kembali memejamkan mata, begitupun dengan Aisha yang juga memilih untuk memejamkan mata, sebenarnya Aisha ingin bersandar pada dada sang suami seperti biasanya, tapi ia ragu untuk melakukannya, khawatir itu akan mengusik Faris dari tidurnya.
Setelah beberapa saat Faris kembali membuka matanya saat tak mendapati gerakan apapun di sampingnya, ternyata istrinya sudah terlelap tanpa bersandar ke dadanya, ia justru bersandar ke sisi lain di sampingnya.
Nyut, hati Faris terenyuh melihat pemandangan itu. Diraihnya dengan lembut kepala Aisha lalu disandarkan pada dadanya, lantas perlahan ia rengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya.
“Demi Allah, saya mencintaimu, Aisha Ameera Al-Insani ….”
Lagi-lagi kalimat itu mengiang-ngiang di telinga Faris. Belum lagi pesan dari Azka yang seperti menari-nari memenuhi kepalanya.
“Kenapa kamu nggak mau jujur tentang yang sebenarnya ke Abang, Sayang?” gumam Faris seolah bertanya yang tak mungkin akan didengar oleh Aisha yang sudah terlelap.
Faris membenarkan posisinya senyaman mungkin agar tak sampai mengusik tidur istrinya, ia pun kembali memejamkan mata. Saat ini Faris benar-benar lelah dan butuh tidur, badannya penat, kepalanya berdenyut dengan pikiran kacau, dan hatinya … oh sungguh pedih rasanya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...