Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Yang Tertunda


__ADS_3

Faris segera bergegas kembali ruangannya setelah operasi dadakan yang berhasil menghambat kepulangannya akhirnya selesai juga.


Ia segera menyambar tasnya dan melangkah cepat ke arah basement, sebelum menghidupkan mobil ia sempat melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya, waktu menunjukan pukul setengah dua belas.


Semoga saja Aisha sudah makan duluan tanpa menunggu dirinya, itulah yang kini terlintas dalam benaknya.


Jalanan kota yang sudah cukup lengang membuat Faris semakin leluasa mengemudikan range rover-nya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Lelah kini benar-benar menyapanya, saat ini ia hanya ingin segera sampai di rumah, melihat kekasih halalnya itu sudah sangat menyuplai kembali staminanya.


Dua orang penjaga dari dalam gerbang rumahnya dengan sigap membukakan pintu gerbang, memberikan akses agar mobil sang majikan bisa memasuki halaman.


Faris membuka pintu mobilnya dengan tergesa, menyerahkan kunci mobil pada pegawainya lalu segera berlari memasuki rumah, para pegawai yang dilaluinya pun hanya menatapnya keheranan tanpa berani untuk bertanya.


“Loh ada apa to Mas kok lari-larian?” kalimat Pak Toni dari ujung tanggasontak  menghentikan langkah Faris.


Pak Toni memang pegawai kepercayaan keluarga Abdullah, semua pegawai di rumah itu juga tentunya sangat segan terhadapnya. Sehingga hanya ialah yang terlihat lebih santai jika berinteraksi dengan majikan mereka.


Jika sedang sendirian maka Pak Toni biasa memanggil Faris dengan sebutan ‘Mas’, panggilan yang sudah ia gunakan sejak awal kedatangannya untuk mengabdi pada keluarga Abdullah.


Namun kini Faris kecilnya sudah berumah tangga, bahkan ia sendiri menyaksikan bagaimana seorang Faris tumbuh hingga seperti sekarang, karenanya untuk menghormati majikan barunya yakni Aisha, ia akan sama seperti pegawai lainnya. Memanggil Faris dan Aisha dengan sebutan ‘Tuan’ dan ‘Nyonya’.


Padahal Faris dan Aisha sudah berkali-kali memberitahu agar tidak memanggil mereka seperti itu, namun semua pegawai tetap tidak ada yang merubahnya.


“Aisha dimana Pak?” tanya Faris dengan dada yang naik turun karena ngos-ngosan.


“Nyonya Aisha ya di kamar Mas, memangnya ada apa sampai lari-larian begitu?”


“Udah kelewat Pak,” jawab Faris membuat Pak Toni semakin bingung.


“Apanya yang kelewat Mas?”


“Kelewat rindu,” jawab Faris segera kembali berlari menuju kamarnya di lantai dua tanpa menunggu respon dari Pak Toni lebih dulu. Ia tak sanggup melihat reaksi Pak Toni yang pasti akan menganggapnya lebay.


“Kelakuan pengantin baru.” Pak Toni hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tawa melihat aksi Faris yang benar-benar seperti mengalami puber lagi.


***

__ADS_1


Karina masih terpaku di tempatnya, menatap kepergian pasangan itu dengan penyesalan yang kini menyelimuti dadanya.


Tiba-tiba Azka menarik tangannya menuju ke arah mobil.


“Tunggu dulu, Rafa,” ucap Karina mengingatkan Azka.


Tanpa berkata apapun Azka segera mengambil Rafa dari stroller dan menggendongnya.


“Masuk!” tutur Azka dingin ketika mereka sampai di depan mobil.


Karina hanya bisa menurut dan duduk di kursi samping kemudi tanpa berbicara sepatah kata pun. Wajahnya murung, bahkan ketika biasanya ia selalu ceria ketika menanggapi celotehan Rafa, kali ini Ia benar-benar hanya membisu.


Mobil yang Azka kemudikan sudah melaju dan membelah padatnya jalanan kota Surabaya siang itu, tapi canggung tetap merasuk di antara mereka.


“Kamu apa-apaan sih bersikap ceroboh kaya tadi? Gimana kalo terjadi apa-apa sama kandungan wanita tadi? Kamu mau tanggung jawab?” tanya Azka tetap Fokus pada kemudinya.


“Aku tau aku salah, aku minta maaf,” jawab Karina lemah.


“Kamu sadar nggak sih kalo perbuatan kamu itu udah ngerugiin orang lain!”


“Berhenti!” tiba-tiba Karina meminta Azka untuk menepikan mobilnya.


“Berhenti Azka!” Kali ini nada suara Karina naik satu oktaf.


Dan benar saja hal itu sontak membuat Azka segera menepikan mobilnya.


“Kamu mau tau apa yang ngebuat aku bisa ngelakuin hal ceroboh kaya tadi?” tanya Karina setelah Azka menghentikan mobilnya.


“Apa?” Azka hanya menatap Karina keheranan.


“Perasaan bodoh yang aku punya buat kamu jawabannya. Perasaan yang entah gimana dia hadir, bahkan sejak awal aku masuk dalam kehidupan kamu. Perasaan yang selalu membuat aku seperti wanita bodoh karena udah mencintai kamu yang aku sendiri nggak tau perasaan kamu gimana ke aku!” seru Karina panjang lebar mengeluarkan isi hatinya yang membuat Azka sontak hanya mematung.


Setelahnya, Karina langsung memberikan Rafa kembali ke pangkuan Azka lalu keluar dari mobil tanpa mempedulikan dimana dirinya saat ini.


Azka masih cukup terkejut dengan pernyataan Karina baru saja, hingga ia tak menyadari bagaimana caranya ia akan membawa pulang Rafa dengan keadaan dirinya tengah mengemudi.


Lain halnya dengan Karina yang sudah berjalan menjauh menyusuri trotoar, setelah dirasa mobil Azka sudah tak terlihat dari tempatnya, ia berjongkok memeluk lututnya sendirinya tanpa mempedulikan orang-orang yang sama berjalan di trotoar mungkin akan menatap heran dirinya. Saat ini ia benar-benar ingin menangis.

__ADS_1


***


Faris berhenti di depan pintu kamarnya, mengatur napasnya agar lebih stabil. Takutnya nanti Aisha bertanya ‘kenapa’ saat melihat dirinya ngos-ngosan.


“Assalamualikum sayang ….”


Faris celingukan mencari keberadaan Aisha setelah memutar knop pintu yang ternyata tak terkunci dan tak mendapati istrinya di sana.


“Sayang?” sekali lagi Faris memanggil, tetap tak ada jawaban.


Ia mencoba mencari ke kamar mandi, tapi tetap juga ia tak menemukan istrinya.


Sebelum kembali keluar kamar untuk mencari Aisha, Faris berniat untuk mematikan terlebih dahulu televisi yang menyala di kamarnya.


“Astaghfirullah!”


Betapa terkejutnya ia saat sedang mencari-cari remot kontrol justru malah menemukan Aisha yang sedang tertidur meringkuk di balik sofa.


Bukan hanya terkejut karena melihat Aisha yang tertidur di sana, tapi juga karena pakaian yang Aisha kenakan saat ini membuat Faris berkali-kali harus menelan ludahnya.


Keterkejutan Faris berhasil mengusik tidur Aisha, namun ia hanya menggeliatkan badannya sebentar tanpa terbangun, membuat piyama yang dikenakannya semakin tersingkap mengekspos paha mulusnya cukup tinggi, membuat Faris mengusap-ngusap dadanya sendiri menyaksikannya.


Faris berjongkok di hadapan Aisha yang masih terlelap, cukup lama menatapnya, hanya menatapnya dengan senyum yang semakin melebar.


Puas dengan menatap wajah Aisha, perlahan Faris mengangkat tangannya mengusap lembut puncak kepala Aisha lalu meninggalkan kecupannya di kening mulus Aisha.


Namun ada yang membuatnya heran. Aisha mengganti parfumnya, ini bukan aroma yang biasa dikenakannya. Kali ini aromanya lebih menyengat.


“Kenapa sih malem ini hem? Pake baju semenarik ini, wangi banget lagi.” Faris bergumam sendiri sambil perlahan membopong tubuh istrinya menuju ranjang tidur mereka.


Ia tak ingin Aisha sampai sakit badan jika sampai pagi harus tidur di sofa. Tapi lebih tepatnya karena Faris tak ingin tidur di ranjang sendirian.


Faris merebahkan Aisha perlahan di ranjang, menutupi paha jenjangnya yang sejak tadi menggoda iman dengan selimut hingga sebatas dadanya.


Lalu ia sendiri mencoba segera menyusul Aisha untuk terlelap di ranjang sisi kanannya yang kosong.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2