Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Aku ridho


__ADS_3

Dengan kecepatan di atas rata-rata atas perintah sang majikan, 10 menit kemudian Roger berhasil membawa Faris dan Aisha tiba di Rumah Sakit.


Setelah dibantu oleh Roger, Faris segera keluar dari mobil dan berlari membopong Aisha menuju pintu masuk Rumah Sakit. Luka di sekujur tubuhnya sudah tak ia rasa, saat ini keselamatan Aisha adalah yang utama menurutnya.


“Tolong siapkan IGD segera!” teriak Faris berlari membopong Aisha menerobos pintu masuk.


Para perawat yang selalu siaga segera berlarian mengikuti intruksi Faris.


“Apa sebaiknya Dokter juga diobati lebih dulu? Biar Bu Aisha ditangani oleh yang lain Dok,” ujar salah satu perawat yang sedang memasangkan beberapa peralatan medis ke tubuh Aisha.


“Luka saya nggak masalah, saya sendiri yang akan menangani istri saya!”


“Baiklah Dok.”


“Siapkan kantong darah untuk transfusi, darah B rhesus negative,” ujar Faris seraya menghentikan kucuran darah yang terus keluar dari luka.


Setelah rekontruksi dilakukan sesuai dengan lokasi anatomis pada luka dan dipastikan tidak partikel logam dan butir mesiu dari peluru yang tertinggal, penjahitan pada luka Aisha segera dilakukan.


Untung saja tidak ada keterlibatan kerusakan pada tulang sehingga tidak perlu dilakukan pemeriksaan X-ray dan Aisha bisa segera melewati masa kritisnya.


“Sayang, bangun. Tolong bertahan ya. Ica kan udah janji kalo Ica akan baik-baik aja. Separuh jiwa ini sudah Ica miliki, jadi tolong Sayang, jangan buat Abang khawatir. Abang sakit liat Ica kayak gini, harusnya Abang yang dapet luka ini, bukan Ica. Maafin Abang nggak bisa jagain Ica.”


Faris masih memohon dengan air mata yang menderas, pegangannya pada jemari Aisha semakin mengerat saat hawa dingin menjalari jemari dalam genggamannya.


“Ica tepatin janji Ica Bang.” Suara lirih dengan usapan di kepalanya membuat Faris mendongak.


Netra Faris berbinar, seperti mendapat kembali energi yang sempat hilang, berulang kali kalimat hamdalah ia rapalkan dengan beberapa kecupan.


“Makasih Sayang, Abang tau Ica kuat. Ica wanita yang hebat.”


Seulas senyum menghiasi wajah cantik yang terlihat pucat di atas blankar, Aisha tau jika cinta Faris benar-benar tulus untuknya, bahkan terkadang ia malu jika sampai saat ini dirinya belum bisa menjadi sosok istri yang sempurna untuk mengimbangi cinta Faris yang menurutnya sangat sempurna.


Tapi kejadian beberapa jam lalu mengingatkan Aisha, bagaimana jika yang dikatakan Wirawan adalah benar, bahwa di luaran sana juga banyak wanita-wanita yang ternyata juga mengagumi suami sempurnanya itu. Dan saat ini kekhawatirannya benar-benar nyata, Sofia adalah salah satu dari wanita-wanita itu.


Drrtt … drrtt … dering telpon Faris mengalihkan mereka.


“Bentar ya Sayang,” ujar Faris mengelus puncak kepala Aisha sebelum akhirnya menjauh untuk menerima telepon.


“Bagus! jangan sampai ada yang tertinggal, bereskan semuanya!”


“Baik Tuan.”


“Dia lupa sudah berurusan dengan siapa,” gumam Faris dengan seringainya sebelum kembali mendekati istrinya.


“Siapa Bang? Kok nelponnya ngejauh? Ada yang Ica nggak boleh tau?” tanya Aisha yang heran pada sikap suaminya.


Faris hanya mengulas senyumnya dan mendaratkan kecupan pada jemari dalam genggamannya.

__ADS_1


“Ica percaya ya sama Abang, bukan apa-apa kok. Itu hanya insting untuk bertahan hidup.”


***


“Masalahmu selesai, aku udah beresin semuanya. Suamimu sekarang udah mendekam di penjara.”


Faris menghampiri Sofia yang masih terbaring di atas blankar Rumah Sakit, ia cukup iba pada wanita di depannya. Bahkan saat sakit seperti ini pun tidak ada sanak keluarga yang menemaninya.


“Apa kamu tau alasanku memilih melakukan semua ini?” tanya Sofia dengan wajah pucatnya


“Tentu saja, suamimu bahkan menyerangku dan Aisha menjadi korbannya.”


“Kalo begitu nikahi aku, Faris.” Mata itu berkaca-kaca, suaranya parau menahan isak.


Faris sontak membelalak mendengar kalimat itu. Apa yang membuat wanita di hadapannya itu memiliki keberanian senekat itu.


“Kamu nggak waras? Itu nggak akan pernah terjadi!” Faris hendak beranjak, namun lengannya lebih dulu dicekal.


“Aku memang nggak waras karena cinta ini! Apa aku nggak berhak bahagia? Apa salahku sampe harus mengalami semua ini? Kenapa aku nggak seberuntung Aisha?” ujar Sofia meluapkan emosinya, air mata bahkan kini sudah tak terbendung dari netranya.


“Seharusnya bukan kayak gini caranya Sofi! Tanyakan hatimu, apa masih ada iman di sana? Karena orang beriman nggak akan mengeluh apalagi membandingkan hidupnya dengan orang lain.”


“Sampai kapanpun nggak akan pernah aku biarkan orang lain hadir dalam rumah tanggaku. Tolong kamu buang jauh-jauh perasaan itu, nggak seharusnya kamu mempunyai rasa pada laki-laki yang sudah beristri. Bahkan kamu sendiri sudah berkeluarga.”


Sofia semakin terisak mendengar penolakan Faris, pegangannya pada sprei di blankar mengerat.


“Aku sudah mencintaimu bahkan jauh sebelum Aisha hadir! Dan andai kamu tau, aku nggak pernah mengharapkan keluarga ini Faris!”


Faris sudah benar-benar jengah pada wanita di hadapannya, ia beranjak pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.


“Bagaimana jika Aisha justru menyetujuinya?”


Kalimat itu berhasil menghentikan langkah Faris di ambang pintu.


“Ingat baik-baik Sofi! Sampai kapan pun itu nggak akan pernah terjadi!” Faris kembali berbalik, meninggalkan Sofia yang semakin bergetar dalam isaknya.


***


Wajah Faris berbinar saat ia kembali ke ruangan Aisha dan mendapatkan istrinya sudah terbangun dari tidurnya. Aisha selalu menampilkan senyum termanisnya.


“Abang dari mana?”


“Maaf ya Sayang, tadi Abang keluar sebentar pas Ica tidur,” ujar Faris mengelus puncak kepala istrinya sayang.


Sejak penyerangan suami Sofia beberapa jam lalu, Aisha menjadi lebih banyak melamun. Kepalanya penuh dengan asumsi-asumsi yang mungkin terjadi seperti yang Wirawan katakan.


“Hey, kenapa Sayang?” tanya Faris mendudukan diri pada ranjang kosong di sisi istrinya.

__ADS_1


Aisha bangkit dari tidurnya, mendudukan dirinya dengan sebelah tangan yang tak terluka memeluk lututnya sendiri.


“Ica takut Bang,” ujarnya tanpa menoleh, masih dengan tatapan kosongnya.


Faris meraih wajah itu agar menatap ke arahnya.


“Apa yang Ica takutin hem?”


“Ica takut yang tadi suami Sofia katakan itu bener,” tutur Aisha sudah berkaca-kaca.


Ada nyeri yang menyelusup ke dadanya kala mendengar kalimat Aisha. Ia bukan hanya tak bisa menjaga Aisha, tapi juga membuat hatinya terluka.


Kedua ibu jari Faris mengusap lembut air mata yang perlahan meluncur membasahi pipi Aisha, bibirnya menyapu lembut bibir Aisha yang sedikit terbuka karena menahan isak.


“Ica hanya cukup percaya sama Abang. Apapun yang terjadi, Abang akan tetap menjadi milik Ica, juga sebaliknya. Sesuai janji dan impian kita, cuma Ica yang akan menjadi ibu dari anak-anak Abang, membina keluarga kecil kita dengan selalu penuh cinta. Abang mohon jangan pernah berubah ya Sayang.”


Faris merebahkan kepala Aisha di dadanya, mengelus lembut penuh cinta tanpa ingin melepasnya.


“Jangan tinggalin Ica ya Bang,” ujar Aisha semakin mengeratkan pelukannya.


“Nggak akan pernah Sayang.”


“Allohu Akbar … Allohu Akbar ….”


“Abang ke masjid dulu ya,” tutur Aisha mendongakkan wajahnya.


“Ica nggak apa-apa Abang tinggal?” tanya Faris cemas.


“Nggak apa-apa Bang, biar nanti Ica solatnya nungguin Abang selesai.”


“Ya udah, kalo Ica butuh apa-apa langsung panggil perawat ya.” Faris beranjak setelah lebih dulu mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya.


Tiga puluh menit kemudian Faris kembali dari solatnya, ada yang membuatnya terheran saat melihat Aisha tiba-tiba kembali membaringkan tubuhnya sambil memunggunginya.


“Ica mau makan dulu apa solat dulu Sayang?” tanya Faris membereskan peralatan solatnya.


“Ya udah makan dulu ya.” Faris beranjak menyiapkan makan malam untuk Aisha.


“Bang,” lirih Aisha kembali mendudukan dirinya.


“Mau pake bubur apa pake sayur Sayang? Eh pake sayur aja ya, biar ….”


“Ica ridho kalo Abang mau menikahi Sofia.” Kalimat Aisha memotong perkataan Faris seketika.


Deg, Faris menjatuhkan sendoknya mendengar perkataan istrinya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2