Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Napas ini untukmu


__ADS_3

Faris masih berkutat dengan berkasnya tentang proyek besar di Ankara yang baru saja dimulai ketika tiba-tiba alat penyadap yang sejak tadi tergeletak di sampingnya berdecit dengan nyala merah, menandakan jika ia sudah terkoneksi dengan pasangannya yang lain yang saat ini Roger bawa.


Brukkk … Faisal yang mengoperasikan ponselnya tanpa sadar menubruk tubuh seseorang ketika ia berjalan menuju apartemen Aisha.


“Maafkan saya Tuan, saya sungguh tidak sengaja,” ujar Faisal dengan sopan kepada lelaki bertopi yang baru saja ditabraknya.


“Ah tidak apa, saya juga sedikit meleng tadi. Ini ponsel anda,” ujar pria itu menyerahkan ponsel Faisal yang tentu saja terjatuh karena mereka bertabrakan.


“Saya permisi.” Belum sempat Faisal mengucapkan terima kasih, pria itu sudah kembali


meneruskan langkahnya.


Ditatapnya punggung pria tadi yang berjalan menjauh, “Aku kok kayak nggak asing ya sama suara itu? Tapi pernah denger dimana?” Faisal kini bertanya-tanya karena pasalnya suara pria tadi terdengar tak asing di telinganya.


Sedangkan pria bertopi tadi yang tak lain adalah Roger kini sudah kembali ke mobilnya dan melaporkan jika tugasnya sudah terlaksana dengan baik.


Dengan cepat Faris memasang alat itu ke telinganya, untuk beberapa saat hanya terdengar derap kaki yang beradu dengan lantai, kemudian suara dentingan lift yang membuat Faris semakin menajamkan pendengarannya.


“Kakak ….” Terdengar jelas sekali suara seorang wanita menyebut kata itu saat menyambut kedatangan Faisal, dan Faris tentu saja tahu siapa pemilik dari suara itu.


“Kakak?” Tentu saja Faris mengernyitkan keningnya saat mendengar wanita yang masih berstatus sebagai istri sahnya memanggil Faisal dengan sebutan kakak.


Faris menghentikan kegiatannya agar bisa fokus mendengarkan setiap kalimat yang Aisha dan Faisal bicarakan, hingga kemudian keduanya membicarakan pasal mereka dan sang ibu yang akan berziarah ke makam ayah mereka.


Tanpa berpikir lagi, Faris segera membenahi tampilannya, diraihnya koper yang belum sempat ia bongkar lantas tangannya seketika sibuk mengoperasikan ponselnya untuk memesan tiket penerbangan langsung ke Istanbul, tujuannya tentu saja untuk meluruskan apa yang sudah terlanjur berkelit di rumah tangganya.


“Pemakaman muslim yang waktu itu ya Ger,” pinta Faris saat ia sudah tiba di Istanbul dengan Roger yang sudah menunggunya di Bandara. Sedangkan urusan di Ankara sepenuhnya Faris serahkan kepada Pak Toni untuk mengurusnya.


Beruntung penerbangan domestik Ankara-Istanbul hanya memakan waktu satu jam lima menit, membuat Faris bisa tiba di pemakaman bahkan sebelum Aisha dan Faisal sampai di sana.

__ADS_1


Cukup lama Faris berdiri di depan mobilnya hingga sesosok wanita yang amat ia rindukan keluar dari mobil bersama seorang pria juga wanita paruh baya yang tak lain adalah Faisal dan Maya. Ketiganya melangkah beriringan menuju pusara yang tentu Faris tahu milik siapa.


Faris sengaja menjaga jaraknya agar ketiga orang tersebut tak menyadari kehadirannya, lagi pula meski hanya memantau dari kejauhan tapi alat penyadap di telinganya yang sudah terhubung dengan alat yang sengaja dipasang Roger di belakang ponsel Faisal bisa menghantarkan dengan jelas setiap percakapan ketiganya.


Hingga sebuah pengakuan Faisal di atas pusara ayah mertuanya membuat Faris benar-benar kebingungan, pasalnya sang istri tak pernah sekalipun bercerita jika ia memiliki seorang kakak laki-laki. Namun Aisha dan ibu mertuanya pun tak menyangkal kenyataan itu, berarti memang ada sebuah privasi yang tak Faris ketahui.


Ketika ketiganya tampak hendak beranjak dari sana, Faris segera mengayunkan langkahnya, semesta pun seakan mendukungnya karena Aisha yang tiba-tiba mendapat sebuah panggilan membuatnya tertinggal oleh sang kakak dan ibunya, tentu saja kesempatan itu tak Faris sia-siakan.


Cukup lama Faris memandangi siluet wanita yang kini tengah menerima telepon dengan posisi membelakanginya, ingin rasanya Faris membawa tubuh it uke dalam dekapannya seperti dulu, hingga sebuah keberanian membuka suaranya untuk memanggil sang pujaan hati.


Sedangkan di kejauhan, Faisal baru menyadari jika adiknya tak kunjung menyusul dirinya, “Bu Isal susulin Ais dulu ya, di luar panas, Ibu tunggu aja ya di mobil,” tuturnya yang segera diangguki sang ibu.


Namun seketika langkah Faisal terhenti saat melihat lelaki yang kini berdiri tepat di belakang sang adik, tangannya seketika mengepal mengingat bagaimana sakitnya Aisha karena pria itu. Tanpa pikir panjang, Faisal semakin mempercepat langkahnya hingga sebuah pukulan dahsyat ia layangkan pada wajah yang diketahui Faisal sebagai adik iparnya.


Rasa kecewa kini benar-benar menjalar di setiap aliran darah Faisal\, ia bersumpah kepada dirinya sendiri jika ia pasti akan membalas setiap air mata yang adiknya jatuhkan demi pria ba****an di hadapannya itu.


Berulang kali Faisal melayangkan serangannya pada Faris, namun pria itu sedikit pun tak ada niatan untuk membalas setiap perlakuannya, bahkan ketika ajudannya berusaha menahan Faisal pun Faris mencegahnya. Hingga ketika Aisha sendiri yang memintanya untuk berhenti, barulah Faisal menghentikan aksinya.


Mendengar hal itu, Faris sontak saja menggeleng dengan kuat, ia bangkit lantas tiba-tiba mengambil pistol dari balik jaket yang Roger kenakan dan langsung memberikannya pada sang kakak ipar, “Lebih baik Kakak bunuh saya sekarang dari pada meminta saya untuk melepaskan Aisha Kak.”


Tanpa diduga, Faisal benar-benar mengambil pistol yang Faris sodorkan, mengokangnya lantas mengarahkannya tepat di depan dada Faris, “Kamu pikir saya nggak berani?” ujarnya bersiap menarik pelatuk pistol dalam genggamannya.


Faris memejamkan matanya, pasrah jika nyawanya harus berakhir di tangan kakak iparnya asalkan tak dipisahkan dengan istri tercinta.


Namun untuk beberapa saat Faris kembali membuka matanya saat merasa tak ada pergerakan dari kakak iparnya.


Tanpa diduga Aisha kini beralih di hadapan Faris, tepat di depan pistol yang sudah Faisal siap layangkan pelurunya, entah keberanian dari mana Aisha bahkan seketika mencekal moncong pistol agar pelurunya tak sampai mengenai tubuh pria di belakangnya yang tak lain adalah suaminya.


“Apa-apaan kamu Dek!?” Faisal yang lepas kendali bahkan sampai membentak adik kesayangannya itu, ditariknya dengan kasar tubuh Aisha agar bergeser menjauh dari hadapan pistolnya.

__ADS_1


“Kakak yang apa-apaan!?” teriak Aisha tak kalah kencang.


Faris pun sampai kaget melihat reaksi sang istri yang begitu lepas tak seperti biasanya.


“Apa pernah Ayah mengajarkan Kakak menjadi manusia tak berperasaan? Apa Kakak juga nggak mikirin gimana perasaan Ais!?” tanya Aisha yang kini sudah berlinang air mata.


Faisal menurunkan pistolnya perlahan, “Bilang sama Kakak sekarang, apa kamu masih punya perasaan untuk calon mantan suamimu ini?”


Belum sempat Aisha menjawab pertanyaan sang kakak, Faris menggeser tubuhnya ke hadapan mereka, diraihnya dengan lembut tangan lentik Aisha yang selama ini sangat ia rindukan.


“Sumpah demi Allah, demi rumah tangga kita, Abang nggak pernah menyentuh Sofia atau wanita manapun Ca, cukup kamu yang ada di hidup Abang. Jika terbukti Abang berbohong ….” Diraihnya pistol dari tangan Faisal dan Faris serahkan pada genggaman Aisha.


“Silahkan kamu sendiri yang lepaskan peluru ini untuk Abang … Abang rida jika napas ini berakhir di tanganmu,” imbuhnya mengarahkan pistol dalam genggaman Aisha ke dadanya sendiri.


Tangan Aisha bergetar menggenggam senjata dalam tangannya, seketika pistol itu pun jatuh tergelak mencium tanah tempatnya berpijak.


“Obatin luka Abang,” ujar Aisha lirih terdengar seperti sebuah perintah, “Bawa Abang pulang Ger,” pintanya yang kini menoleh pada Roger yang sejak tadi masih mematung menyaksikan semuanya.


“Ais mau pulang Kak.” Kini Aisha beralih pada kakaknya, lantas tanpa menunggu jawaban ia segera melangkah meninggalkan ketiga pria yang masih berdiri tegak di belakangnya.


Faisal sendiri memilih untuk segera mengejar langkah adiknya, meninggalkan Faris yang juga masih mematung menatap punggung wanita pujaannya kini berjalan menjauh meninggalkannya, lagi.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


 


__ADS_2