
Maya mengulum senyumnya saat melihat Aisha keluar kamar mandi dengan keadaan rambutnya yang basah, kini ia baru menyadari sesuatu di balik mengapa putrinya itu mengenakan kemeja yang menurutnya lebih cocok untuk ukuran seorang pria.
Sedangkan Faisal hanya datar saja karena dalam hatinya ia masih belum bisa sepenuhnya percaya pada lelaki yang kini menjadi suami dari adiknya itu, dengan cepat ia menggelarkan sajadah untuk mereka bertiga seolah tengah mengalihkan perhatian.
Aisha sendiri justru malah salah tingkah dengan reaksi berbeda dari kakak dan ibunya, dengan segera ia meraih pengering rambut dan duduk di depan cermin riasnya.
Begitulah seorang wanita, apapun selalu ditanggapi dengan berlebihan. Padahal dengan sikapnya yang seperti itu justru akan semakin mengundang kecurigaan orang.
“Ayo Sayang kita berjamaah dulu,” ucap Maya yang tampaknya memahami kegugupan putrinya setelah melirik Faisal yang tampaknya sudah bersiap di atas sajadahnya.
“Iya Bu, sebentar,” ucap Aisha segera menyelesaikan kegiatannya.
***
Jauh di negeri tercinta, seorang wanita tengah berusaha menerobos keamanan di kediaman Abdullah. Dengan congkaknya wanita itu melangkah mengatasnamakan dirinya sebagai calon dari Nyonya Faris yang baru.
“Mohon maaf Mba, tapi Tuan kami sedang tidak berada di tempat,” ujar sang penjaga keamanan langsung membuntuti Sofia yang tetap melanjutkan langkahnya.
“Ya saya tau … kan saya calon Nyonya kalian selanjutnya,” ucap Sofia tetap melengos memasuki rumah Faris yang kini hanya berpenghuni para pelayan dan pengawalnya saja.
“Saya cuma pengen tau aja gimana kinerja kalian kalo calon suami saya lagi nggak ada di rumah,” imbuh Sofia yang kini sudah menapaki tangga berniat hendak ke kamar Faris di atas sana.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya langsung mencekal lengan Sofia, membuat wanita itu mau tak mau menghentikan langkahnya jika tak ingin tubuhnya terhuyung dari atas tangga.
“Siapa lagi nih!? Belum tau kalo saya calon Nyonya kalian?” tukas Sofia yang tampaknya murka karena Bi Asih tiba-tiba mencekal tangannya dengan kasar.
__ADS_1
Dengan segera Bi Asih menyeret Sofia untuk kembali menuruni anak tangga.
“Saya kepala pelayan di sini, saya yang diamanahi oleh Tuan Faris untuk menjaga rumah ini selama beliau tidak ada, terutama … dari wanita-wanita tak punya harga diri seperti anda!” Agaknya Bi Asih pun sudah paham akan kemana arah tingkah Sofia nantinya.
“Kurang ajar!” umpat Sofia dengan sebelah tangannya yang sudah bersiap melayangkan tamparan untuk Bi Asih, beruntung seorang pria yang baru saja tiba dengan cepat menahan tangan Sofia hingga terhenti di udara.
“Emang beneran cewek nggak waras lo ya! Liat-liat lawan dong kalo mau nyerang,” tukas pria yang mencekal tangan Sofia, pria itu tak lain adalah Azka. Pasalnya hari itu Azka memang sengaja bertandang ke rumah Faris berniat untuk menanyakan perihal keberadaan Aisha, pria itu pun dengan terang-terangan berniat ingin membantu Faris. Namun agaknya Azka tak tahu jika Faris kini tak berada di Indonesia dan bahkan sudah berhasil menemukan wanitanya.
“Kalau pun benar anda adalah calon Nyonya Faris di sini … saya adalah orang pertama yang tak akan pernah sudi wanita semulia Nyonya Aisha harus digantikan dengan wanita murahan macam anda!” tukas Bi Asih saat melihat Sofia yang kalah telak dengan cekalan Azka.
“Kamu! Kenapa diam saja calon Nyonyamu diperlakukan seperti ini?” Sofia pun kini tampaknya mencari pembelaan dari seorang penjaga yang kini masih mematung di belakang Azka.
“Ikut gue lo.” Tanpa aba-aba, dengan kasar Azka segera menarik tangan Sofia dan membawanya keluar dari kediaman Abdullah.
----
Dengan sekali hentak Sofia berhasil melepas cengkeraman Azka pada tangannya.
“Heh lo kalo ngomong ngaca juga dong!” cecar Sofia setelah berhasil melepaskan diri dari Azka, mereka kini sudah berada di luar kediaman Abdullah.
“Apa bedanya gue sama lo? Sampe sekarang lo juga masih ngincer Aisha kan?” Sofia tersenyum miring mengejek nasib Azka yang menurutnya juga tak berbeda jauh dengannya.
Azka pun turut tersenyum miring mendengar tuduhan Sofia yang memang tak sepenuhnya salah.
“Bedanya, kalo gue tau diri! Lo bener bahwa gue emang masih ada rasa sama Aisha … tapi gue nggak pernah tuh sedikitpun memaksakan perasaan gue. Cinta nggak selamanya harus memiliki Mba!”
__ADS_1
“Ha ha ha ….”
Gelak Sofia justru menggelegar mendengar penuturan Azka yang menurutnya terlalu kolot, “Klise banget alesan lo!”
“Lo yang terlalu picik menyikapi hidup ini! Lo punya suami yang bahkan rela menghalalkan segala cara demi mempertahankan istrinya, harusnya lo bersyukur dengan apa yang lo miliki sekarang. Lo bahkan punya anak yang tanpa sadar yang dia jadikan panutan adalah lo sebagai ibunya. Di kota ini ada ribuan lelaki … tapi kenapa cuma Faris yang lo lirik dan ganggu hidupnya? Buka mata lo! Hidup nggak selamanya harus ngikutin alur ego lo!”
Tiba-tiba mata Sofia memanas mendengar penuturan Azka yang terasa begitu menohok batinnya.
“Lo ngomong kayak gitu karena lo nggak tau apa yang udah gue lewatin sampe gue jadi semurahan ini! Lo nggak tau gimana hancurnya menjadi gadis penebus hutang sebagai balas budi terhadap orang tuanya! Gue harus balas budi untuk kewajiban yang sudah seharusnya semua orang tua lakukan! Dan lo juga nggak tau kan gimana sesaknya sebuah pernikahan tanpa adanya cinta di dalamnya? Apa salah kalo sekarang gue pengen terlepas dari semua itu? Gue juga pengen ngerasain bahagia kayak yang orang-orang banggakan Ka!”
Sofia mengalihkan pandangannya agar Azka tak sampai melihat genangan air di pelupuk matanya.
Azka pun sedikit terenyuh dengan pengakuan wanita di hadapannya kini, ternyata selama ini banyak orang yang tidak baik-baik saja dengan kehidupan mereka yang terlihat sempurna di hadapan orang banyak. Kisah Sofia kurang lebih mencerminkan kisahnya bersama mendiang sang istri yang kini meninggalkan putra untuknya. Ternyata Sofia pun seperti dirinya, sama-sama terjebak dalam keadaan yang pada akhirnya membuat mereka dirundung penyesalan.
Azka tentu tau bagaimana rasanya memiliki perasaan pada pada orang yang ternyata sudah memiliki pasangan, dan semua itu tentu di luar kendalinya, termasuk juga Sofia.
“Apa lo akan gunain rasa sakit lo itu sebagai alasan buat menuhin ambisi lo? Memaksakan hati yang jelas-jelas nggak ada ruang buat lo di dalemnya. Apa lo nggak bakal lebih sakit nantinya meski lo berhasil milikin raga Faris tapi lo jelas tau kalo hatinya hanya buat orang lain? Lo tega nyiksa diri lo sendiri juga orang yang lo cinta?” Azka sedikit menekankan kalimatnya, menghadapi wanita dengan ribuan kekesalan di hatinya tidak hanya bisa dengan cara normal seperti pada orang lain yang memang baik-baik saja.
Sofia terdiam mendengar ultimatum yang Azka lontarkan, hati kecilnya pun menyadari jika pria yang begitu diidamkannya kini benar-benar sudah memiliki seseorang yang berhak penuh atas dirinya, yaitu istrinya, Aisha.
“Manusia nggak ada yang sempurna, termasuk gue. Tapi mereka berhak berubah, menjadikan hidupnya lebih baik.” Azka melangkahkan kakinya keluar gerbang di ujung kalimatnya, membiarkan Sofia mencerna setiap kalimat yang sudah ia coba untuk sedikit melindungi rumah tangga wanita yang kini masih dicintainya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...