
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
_____
“Permisi, Tuan.” Suara bariton tiba-tiba mengejutkan Abbas yang baru saja mematikan teleponnya.
“Ah Roger, saya kira siapa. Silahkan duduk, biar saya pesankan minuman,” tukas Abbas yang melihat Roger sudah berdiri di sampingnya.
Mengiyakan tawaran Abbas, Roger pun menarik kursi kosong yang tersisa di meja itu, “Terimakasih Tuan,” ucapnya menganggukkan kepala.
“Oh ya Nak Faris sedang pergi ke toilet,” tutur Abbas menginformasikan pada Roger yang barangkali mencari-cari tuannya.
“Ah iya, Tuan Faris sudah memberitahu saya baru saja.”
Belum sempat minuman yang Roger pesan datang, Faris sudah kembali lebih dulu dari toilet, alhasil perbincangan pun berlanjut di antara ketiganya. Hal itu sedikit bisa membuat Faris melupakan apa yang baru saja terjadi dengannya dan Aisha beberapa jam lalu.
“Apa kalian berencana akan tinggal dalam waktu lama di Istanbul?” tanya Abbas kepada kedua pria gagah yang tengah duduk bersamanya.
“Entahlah Tuan, mungkin sampai urusan saya di sini terselesaikan,” jawab Faris terlihat sebiasa mungkin.
“Kalau begitu boleh saya meminta kartu nama Nak Faris? Barangkali suatu saat saya membutuhkan bantuan Nak Faris.”
“Tuan bisa menghubungi saya jika membutuhkan sesuatu terkait Tuan Faris,” tukas Roger sebelum Faris menjawabnya.
“Ah tentu saja Tuan saya akan memberikannya.” Jawaban itu tentu saja membuat Roger menoleh kepada Tuannya dengan alis yang saling bertaut, sedangkan yang diprotes justru hanya mengulas senyumnya.
Langsung saja Faris merogoh sesuatu dari balik saku celananya dan memberikan dua lembar kertas kepada Abbas yang langsung menerimanya dengan berbinar. “Barangkali Tuan membutuhkan bantuan saya sebagai tenaga medis,” imbuh Faris karena turut menyerahkan kartu namanya sebagai seorang dokter.
“Ah terima kasih banyak Nak Faris.”
Sedangkan Roger justru memicingkan kedua netranya menyaksikan pemandangan di hadapannnya.
***
Suasana sejuk dari AC yang berhembus di setiap sudut ruangan membuat beberapa orang semakin mengeratkan mantelnya di tengah musim gugur yang tengah melanda kota Istanbul. Aroma barang-barang yang tersusun rapi di rak-rak dengan lantai yang mengkilap membuat siapapun betah berlama-lama untuk memenuhi troli belanja mereka.
__ADS_1
Istinye Park memiliki bagian tertutup dan udara terbuka yang memiliki taman sentral hijau dan tempat perbelanjaan pinggir jalan. Pusat tersebut meliputi sebuah bazaar makanan Turki otentik, sebuah tempat pasar tradisional yang terinspirasi oleh sejarah dan arsitektur Turki.
Pemandangan yang sangat umum di sebuah supermarket dengan orang-orang yang berlalu lalang mendorong troli mereka, memilih barang yang berkualitas, bahkan melihat dan menghitung harga.
Dari sekian banyak pengunjung yang ada, lelaki yang tengah mendorong trolinya dengan sang wanita yang sibuk memilah barang belanjaannya lebih terlihat seperti sepasang suami istri yang tengah bekerja sama mencari kebutuhan rumah tangga mereka. Di sinilah Faisal dan Aisha berada, di Istinye Park. Salah satu pusat perbelanjaan yang cukup populer di kota Istanbul.
“Berat yah? Sini gantian biar Aish yang bawa trolinya.” Jemari lentik yang sejak tadi begitu terampil memasukan barang-barang yang menurutnya diperlukan tiba-tiba mengambil alih troli dalam genggaman sang kakak.
“Apa sih Dek … masa laki gini doang berat,” tukas Faisal tetap kekeh dengan troli dalam genggamannya.
“Ya kan belanjaan kita banyak, Aish pikir Kakak keberatan soalnya dari tadi diem mulu giliran ditanya ham hem doang udah kayak nisa sabyan.”
Sontak Faisal mengerutkan keningnya tak paham, “Siapa nisa sabyan, Dek?” tanyanya mengejar langkah Aisha yang sudah mengambil alih trolinya.
“Aish kasih tau juga gak bakalan kenal orang Turki mah.” Aisha justru menjulurkan lidahnya mengerjai sang kakak.
“Kakak tuh diem aja orang Kakak mana ngerti masalah beginian, lagian liat kamu milih belanjaan udah kayak lagi ngerjain ujian serius banget,” sindir Faisal yang kini sudah menyamai langkah adiknya.
“Namanya juga cewek Kak.” Tentu saja Aisha membela diri, sudah menjadi hukum alam jika wanita memang selalu ingin menang.
“Emang semua cewek gitu yah kalo lagi milih belanjaan sampe lupa sama sekitar?” tampaknya lelaki yang sudah cukup lama membujang itu penasaran dengan mahluk bernama perempuan.
Pernyataan Aisha sontak membuat Faisal terdiam, entah apa yang terlintas di benak lelaki itu.
“Maaf … Kakak jadi keinget Kak Bila yah?” Aisha sontak menghentikan langkahnya saat menyadari perubahan dari sang kakak.
“Apa sih adik cantikku baperan banget.” Yang dikhawatirkan justru mengulas senyumnya dengan mengusap gemas puncak kepala sang adik, tapi entah yang tersimpan di hatinya, hanya sang pemilik yang tau.
Dengan cepat Faisal lantas mengambil alih troli di tangan Aisha dan mendorongnya ke arah antrian manusia yang tengah menyelesaikan pembayaran mereka di meja kasir.
Aisha pun hanya mengulas senyumnya, meski ia tak tumbuh bersama sang kakak tapi nalurinya paham betul jika kakaknya itu tengah menyembunyikan lukanya di balik sikap dan senyuman yang selalu ia tunjukkan kepada orang-orang.
Bagaimanapun Aisha pernah merasakan dan berada di posisi kehilangan, dan tentu itu bukan sesuatu yang gampang untuk dilupakan begitu saja, pun tidak semudah mengucapkan kalimat ‘ikhlaskan saja’.
Satu yang kini terlintas di benak Aisha, kakaknya adalah lelaki yang hebat, ia terlalu pandai menyimpan lukanya sendirian.
“Loh Nyonya?” tiba-tiba saja seseorang menyapa Aisha di tengah lamunannya menunggu Faisal yang mengantri di meja kasir.
__ADS_1
Melihat siapa yang menyapa sontak saja membuat Aisha celingukan karena khawatir ada seseorang yang saat ini tengah dihindarinya juga turut serta.
“Tenang saja Nyonya, saya nggak lagi sama Tuan Faris kok, beliau lagi sibuk mempersiapkan diri untuk acara nanti malam kelihatannya.” Roger sengaja menambahkan informasi itu agar wanita di hadapannya merasa penasaran.
Roger tahu jika Nyonya dan Tuan mudanya masih sama-sama menyimpan rasa, mereka hanya belum berani jujur dengan diri masing-masing jika keduanya masih saling membutuhkan.
Di luar dugaan Roger, nyonya mudanya justru hanya manggut-manggut sambil memainkan ponselnya. Tampaknya Aisha tidak tertarik dengan informasi yang Roger lontarkan, entah merasa gengsi untuk sekedar bertanya.
“Nyonya di sini bersama siapa?” tanya Roger lagi mencoba menarik perhatian wanita muda itu dari ponsel di genggamannya.
Yang ditanya pun mendongakkan wajahnya menatap sang lawan bicara, “Sama Kak Isal. Tuh dia lagi ngantri di kasir,” ujar Aisha menunjuk dengan dagunya.
“Loh saya kira Tuan Faisal juga ikut sibuk untuk pertemuan nanti malam … tapi keliatannya Tuan Faisal memang tipikal kakak yang baik memilih meluangkan waktu untuk bersama adiknya.”
Mendengar penuturan Roger sontak kening Aisha berkerut, “Pertemuan apa? Kak Isal nggak cerita apa-apa soal pertemuan nanti malam.”
“Oh kayaknya Tuan Abbas belum kasih tau Tuan Faisal buat hadir juga, atau mungkin memang sengaja tidak mengabari karena memang putrinya yang akan dikenalkan kepada Tuan Faris.”
“Tunggu tunggu. Maksudnya gimana sih Ger, saya nggak paham.”
“Yes, akhirnya nyonya terpancing juga.” Batin Roger.
Roger justru mengedarkan pandangannya mencari-mencari sesuatu.
“Gimana kalo kita duduk dulu Nyonya di sana?” Roger menunjuk salah satu meja di food court yang tersedia, menawari Aisha agar perbincangan mereka lebih nyaman, karena tidak mungkin mereka akan terus berdiri di tengah orang-orang yang berlalu lalang dengan troli mereka.
Aisha yang terlanjur penasaran hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah Roger yang terayun menuju meja yang baru saja ditunjuk.
“Jadi begini Nyonya ….” Roger mulai meposisikan diri dan menceritakan kejadian kecelakaan malam itu yang membawa dirinya dan sang tuan muda berbincang dengan Tuan Abbas yang tak lain adalah orang tua asuh dari Faisal.
“Terus maksudnya ngundang Abang ke pertemuan nanti malem kenapa? Abang nggak apa-apa kan? Nggak ada yang luka?” tanpa sadar Aisha justru mengkhawatirkan keadaan lelaki yang masih berstatus suaminya itu.
____
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...