
Faris meraba-raba tempat tidur di sampingnya, membuatnya membuka mata saat tak mendapati istrinya di tempatnya.
Ia baru ingat bahwa kini dirinya tengah mendiamkan Aisha, bahkan ia lupa bagaimana caranya ia tertidur semalam.
Faris terduduk, mengerjapkan netranya, menyesuaikan dengan pencahayaan di ruangan yang kini ia tempati bersama pujaan hatinya.
Ketika ia melirik jam di atas nakas di samping tempat tidurnya, ia mendapati segelas air putih yang sudah bertengger cantik di sana.
Alih-alih meminumnya, Faris justru menimang-nimang air itu, terheran-heran apakah Aisha yang sengaja menyiapkan untuknya.
Pandangannya menyapu sekeliling, namun ia tak juga mendapati istrinya. Faris bangkit menuju kamar mandi, berniat mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat malamnya.
Betapa terkejutnya Faris ketika ia membuka pintu kamar mandi lalu mendapati Aisha sudah terduduk di tepi ranjang dengan senyum yang sudah melebar, terlihat pakaian solat juga sajadah untuknya sudah tertata rapi.
“Abang mau solat kan?” tanya Aisha membuat Faris mengangguk.
Tanpa Aisha ketahui, diam-diam ada lengkung indah yang tercipta di sudut bibir Faris sebelum ia benar-benar mengangkat tangannya mengucapkan takbir menghadap kiblat di atas sajadahnya.
***
Azka melangkah gontai keluar kamar, semalaman ia benar-benar dibuat gusar dengan kejadian di mall kemarin bersama Karina, matanya memang terpejam, namun pikirannya berkelana jauh tanpa arah tujuan.
“Hari ini jadwal Dokter Karina jam berapa Mba?” tanya Azka ketika menghampiri kamar putranya lebih dulu sebelum pergi ke kantor.
“Kalo ngga salah setelah asar Pak,” jawab Mba Sani seraya memakaikan pakaian untuk Rafa yang baru saja selesai ia mandikan.
Azka hanya manggut-manggut sebelum akhirnya melangkah menuruni tangga setelah lebih dulu menyapa putranya.
“Ndak mau sarapan dulu Tuan?” tanya asisten rumah tangganya yang sudah sibuk berkutat di meja makan.
“Nggak usah Bi, nanti saja di kantor,” jawab Azka tetap melangkah menuju parkiran, menancap gas mobilnya, membelah ramainya jalanan Surabaya.
***
Hari ini hari pertama Faris kembali bertugas di Rumah Sakit setelah resepsi pernikahannya dengan Aisha minggu lalu.
Seharusnya hari ini adalah hari bersejarah untuk Aisha karena bisa melayani suaminya sebelum berangkat bekerja untuk yang pertama kalinya sebagai status seorang istri.
Namun apa daya, justru hubungannya dengan Faris kini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja karena sikap labilnya.
__ADS_1
Aisha sudah duduk rapi di ruang makan, menantikan kehadiran suaminya dengan berbagai hidangan yang sejak subuh tadi susah payah ia siapkan.
Sejujurnya itu adalah pertama kalinya Aisha memasak untuk orang lain setelah ibunya.
Semasa lajang memang Aisha cukup disibukkan oleh kegiatannya sebagai mahasiswa kedokteran, membuatnya tak mempunyai banyak peluang untuk lebih berkenalan dengan dunia permasakan.
Terlihat Faris yang tengah menuruni anak tangga dengan raut muka yang Aisha sendiri tak bisa mengartikan.
“Sabar Sha! Surga itu mahal.” Aisha menyemangati dirinya sendiri.
Aisha yang memang sudah menantikan kedatangan Faris segera berdiri dari duduknya ketika Faris sampai dihadapannya. Menarik kursi untuk suaminya, mengambilkan piring yang suudah disediakan lalu mengambilkan beberapa sendok nasi beserta lauknya.
Faris masih tetap dalam diamnya, bahkan ketika Aisha menyerahkan piring yang sudah terisi padanya, Faris hanya menerimanya tanpa sedikit pun ada perubahan pada raut wajahnya.
Aisha berdehem untuk mencairkan suasana, mulai meminum jus nya dengan sedotan yang sengaja ia sediakan.
Semalaman Aisha browsing internet tentang bagaimana caranya membujuk pasangan yang sedang marah, ia ingat betul bagaimana urutan kegiatan yang harus ia lakukan.
“Minumlah menggunakan sedotan secara asal dengan tatapan yang terlihat menarik dan sudut bibir yang terangkat.”
“Teruslah membuat suara seruputan agar menimbulkan godaan fatal yang tak terlihat.”
“Menghisap sedotan seperti ini memang sangat efektif.”
Faris semakin mendekatkan wajahnya pada Aisha dengan tatapan yang tak sedikit pun berpaling darinya, membuat Aisha refleks memejamkan matanya.
Aisha tersenyum dalam pejaman matanya, usahanya kali ini pasti berhasil, pikirnya.
Ketika jarak wajah mereka sudah sangat dekat tiba-tiba Faris menempelkan telapak tangannya pada dahi Aisha.
“Ica sakit?” tutur Faris membuat Aisha membuka matanya kecewa.
“Kalo sakit ikut Abang aja ke Rumah Sakit,” bisik Faris tepat di telinga Aisha sebelum akhirnya meninggalkan Aisha termangu sendirian di meja makan.
“Sabar Sha.”
***
Begitu sampai di tempat tinggal barunya, Gus Hasan segera membersihkan dan merebahkan dirinya di kasur.
__ADS_1
Dua hari perjalanan cukup menguras energinya, netranya menatap kosong langit-langit kamarnya dengan ukiran khas Turki yang menambah kesan estetiknya.
“Apa kabar Aisha?” gumam Gus Hasan dengan mata yang terpejam, berharap di tempat barunya ia bisa segera melupakan wanita yang kini berstatus kakak iparnya.
Tiba-tiba Gus Hasan teringat sesuatu, segera ia raih ranselnya yang masih penuh dengan barang bawaan yang belum sempat ia bereskan.
Ia merogoh-rogoh saku sampingnya, tadi ia terburu-buru karena temannya yang sudah datang menjemputnya. Membuatnya memasukkan secara asal benda persegi panjang yang iatemukan saat di jembatan Bosphorus.
Gus Hasan menimang-nimang handphone berlogo buah apel tergigit di tangannya, ia coba menghidupkannya
dengan mengisi dayanya, dan ternyata handphone itu masih bisa hidup.
Hampir saja Gus Hasan melemparkan handphone di tangannya asal saat melihat gambar wallpaper yang terpasang, terpampang jelas wajah gadis cantik yang tak kebanyakan gadis Indonesia punya dengan rambut terurai yang ujungnya sengaja diwarnai pirang.
“Sepertinya dia gadis blasteran.”
Refleks memori kepalanya menayangkan dengan jelas adegan-adegan dimana gadis itu dua kali telah menolongnya, meski selalu dengan perangai yang dingin.
“Ceroboh!” gumam Gus Hasan namun dengan sudut bibir yang secara tak sadar terangkat membentuk lengkung indah.
“Bagaimana caraku mengembalikannya? Jangankan alamatnya di sini, namanya saja aku nggak tau.”
Gus Hasan meletakan kembali hadphone yang tengah diisi dayanya itu, mungkin besok ia bisa meminta bantuan Jayauntuk mencari alamat gadis itu.
Di Istanbul Gus Hasan memang hanya mengenal Jaya, sahabatnya sejak awal mereka di pesantren dulu. Ia bisa sampai di Istanbul pun karena bantuan semangat Jaya.
Gus Hasan memang mendapat panggilan beasiswa S2 nya dari Istanbul University, tapi awalnya ia cukup bimbang. Satu sisi ia tak ingin lagi jauh dari kedua orang tuanya yang semakin merenta, karenanya ia lebih memilih untuk merahasiakan perihal beasiswanya itu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Allah mempertemukannya dengan Aisha. Wanita yang dalam sekejap mampu merubah dunia Gus Hasan dengan perangainya.
Tapi ternyata mereka memang hanya ditakdirkan untuk bertemu, tidak untuk bersama. Dan kini Gus Hasan harus menelan bulat-bulat kenyataan pahit bahwa wanita pujaannya justru telah menjadi kakak iparnya.
Itulah alasan terbesarnya kini menerima panggilan beasiswa itu dan menginjakan kaki di negara ini. Anggaplah ini jihadnya, agar tak semakin berlarut-larut dalam dosa karena mencintai istri orang.
***
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1