
Aisha segera mendorong dada Faris begitu tersadar apa yang tengah mereka lakukan saat ini.
“Kenapa?” tanya Faris dengan suara serak menahan sesuatu yang sudah bergejolak karena perbuatannya baru saja.
Aisha tak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya dan berusaha melepaskan diri dari kungkungan pria di hadapannya. Secepatnya pula Faris meraih dagu Aisha agar kembali menatapnya.
“Bilang sama Abang, apa yang harus Abang lakuin biar Ica kembali percaya sama Abang?” Faris bahkan berujar dengan sedikit memohon.
“Kita ….” Aisha nampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Tiba-tiba tubuh Faris kembali merapat, membuat Aisha seketika pula menahan napas dan menutup netranya, namun ternyata Faris merapat untuk membuka laci yang tepat berada di belakangnya. Pria itu nampak mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah tertumpuk menjadi satu.
“Karena ini? Karena ini Ica nggak mau lagi Abang sentuh?” tanya Faris menunjukkan surat gugatan juga beberapa surat dari pengadilan agama yang baru saja diambilnya.
Aisha hanya mematung tanpa berucap, lidahnya bahkan seakan kelu untuk sekedar mengatakan ‘iya’.
Tanpa meminta persetujuan Aisha, dirobeknya semua kertas yang berada dalam genggaman Faris kini, robekannya bahkan sampai bertebaran memenuhi lantai tempat mereka berpijak.
“Sekarang udah nggak ada. Selama napas Abang masih berhembus … nggak akan pernah Abang biarkan surat-surat laknat itu sampai ke pengadilan! Apapun yang terjadi!” tukas Faris dengan sedikit penekanan. Aisha pun tak bisa menyangkal apapun karena sejatinya jauh di lubuk hatinya pun ia tak pernah menginginkan perpisahan ini.
Faris kembali mendekat, menghimpit tubuh Aisha di antara lemari dan dirinya. Aisha bahkan sampai memalingkan wajahnya menutupi kegugupan yang jelas sekali terlihat karena jarak mereka yang kini benar-benar berdekatan.
“Biarkan Abang sedikit egois malam ini,” bisik Faris dengan suara beratnya.
Belum sempat Aisha menjawab, tiba-tiba kedua tangan Faris sudah beralih meraih pinggangnya dan mengangkat tubuh Aisha hingga seketika terduduk di atas lemari pendek yang berada tepat di belakangnya.
“Bang!” Baru saja Aisha hendak melayangkan protesnya ketika dengan tidak sabaran Faris justru membungkam bibirnya dengan bibir milik pria itu, tidak ada lagi kecupan lembut seperti biasanya, kini yang Aisha rasakan hanyalah Faris yang begitu menuntut dan memburu.
__ADS_1
“Mpphh. Lepas Bang! Ica nggak mau.” Aisha memberontak saat merasakan tubuhnya yang seketika melayang karena Faris membawanya ke sebuah ruangan yang lebih tepat disebut dengan kamar.
Lagi-lagi Faris membungkam bibir itu dengan bibirnya, ia terus saja membawa langkahnya menuju ke atas pembaringan tanpa sedikitpun mengindahkan berontakan Aisha yang sekarang sudah berada di bawah kungkungannya.
“Ica pasti kedinginan kan?” tanya Faris mengerling nakal dengan tangannya yang sudah berselancar melepas segala yang Aisha kenakan.
“Ssshhh lepas Bang … Ica mau pergi.” Sekuat tenaga Aisha menutup rapat bibirnya agar tak sampai menimbulkan suara atas apa yang Faris lakukan terhadap tubuhnya, tapi sepertinya respon tubuhnya kini bahkan tak sejalan dengan ucapannya.
“Mau pergi kemana Sayang? Hemm?”
Tangan Faris bahkan kini tak tinggal diam bergerilya membuat gerakan sensual di segala bagian tubuh wanita yang tentu saja berstatus istrinya.
“Ica mau pergi sshhh … Ica mau pergi dari hidup Abang.” Aisha tetap tak menyerah dan terus memberontak layaknya seorang tawanan. Tapi suara Aisha yang tertahan justru semakin terdengar indah di telinga Faris. Semakin Aisha memberontak, maka semakin tertantang pula insting memburu Faris yang kini tengah menguasainya.
“Nggak bisa Sayang,” bisik Faris dengan seringainya.
Sekuat tenaga Aisha berusaha menyingkirkan tangan Faris yang terus saja memaksa, mereka kini bahkan terlihat seperti seorang mafia dan tawanannya dengan Faris yang dominan memaksa Aisha yang tentu saja tenaganya tak sebanding dengan dirinya.
Begitu Aisha hendak bangkit, Faris langsung saja menarik tubuh itu hingga kembali terjatuh ke pangkuannya, “Mau kemana hemm? Semua pintu udah Abang kunci … dan cuma Abang yang bisa buka kuncinya.” Lagi-lagi Faris tak sedikitpun memberi kesempatan Aisha untuk sekedar bernapas lega, karena kini bibirnya bahkan sudah menelusuri setiap inci dari kulit mulus Aisha yang berhasil dengan mudah Faris buka kain penutupnya.
“Abang sshhh … lepasin Bang, Ica mau pulang.”
“Nggak bisa Sayang …,” bisik Faris yang kini membawa wajah Aisha agar menatap ke arah kaca besar yang kini bertepatan berada di hadapan mereka. Faris menyibak rambut Aisha hingga mengekspos jelas leher jenjangnya, bibirnya pun berhenti di sana. Terlihat dengan jelas jika Faris sedikit menghisapnya hingga menimbulkan bekas merah yang tentu saja kentara.
“Ica liat itu di kaca … ini perbuatan Abang. Ini bukti kalo Ica milik Abang.”
Aisha yang sudah tidak bisa mengontrol dirinya akibat perbuatan tangan Faris di tubuhnya hanya bisa menggeliat kecil di atas pangkuan suaminya.
__ADS_1
“Sshh Bang ….” Rengekan itu bahkan terdengar seperti sebuah permohonan bagi Faris yang sudah tak bisa mengontrol dirinya.
“Ica nggak bisa pergi Sayang, Ica terikat selamanya sama Abang.”
Faris kini terus saja membuat Aisha tak berdaya dengan perbuatannya, “Liat Sayang, liat gimana Abang begitu tergila-gila sama Ica,” ujar Faris di sela-sela kegiatannya.
Aisha masih terus saja memberontak, namun sayangnya tubuhnya justru bergetar hebat menerima setiap sentuhan dari pria yang bahkan kini memaksanya. Dengan tidak tahu dirinya, kini bibir Aisha bahkan semakin jelas mengeluarkan rintihan-rintihan kecil yang membuat Faris semakin tak tahan.
“Tenang ya Sayang … Abang hati-hati kok,” ujar Faris dengan lembut, dikecupnya kening Aisha yang sudah begitu ia rindukan, napasnya sudah memburu dengan pikiran yang turut melayang terbang.
Faris hanya pria biasa, sabarnya pun ada batasnya, katakan ia tengah egois saat ini karena memaksakan hasrat yang selama ini begitu menyiksanya. Kembali dihadapkan dengan wanita yang memang hanya satu-satunya telah mengambil dunianya, jujur Faris tidak bisa untuk tak menuntaskan apa yang selama ini tertahan.
Wajah Aisha kini bahkan turut memerah merasakan Faris yang sudah tak terkontrol lagi, ingin teriak pun rasanya tidak mungkin karena pria diatasnya kini tak bisa ia sangkal masih berstatus sebagai suaminya.
Aisha merasa tubuhnya begitu lemas saat seperti biasa lenguhan panjang penuh kelegaan dari suaminya terdengar jelas mengakhiri kegiatan mereka.
Faris memejamkan matanya saat rasa lega, lepas, membuat tubuhnya seakan terbang melayang. Rasa gelisah juga rindu yang menjadi satu kini seakan sudah terlepas ke tempat yang seharusnya. Tak terasa butiran kecil pun menetes membuatnya ambruk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aisha yang nampak masih mengatur napasnya. “Alhamdulillah … terima kasih Nyonya Faris, maaf Abang kasar,” bisiknya lantas merengkuh tubuh lemah Aisha ke dalam pelukannya.
Merasa begitu lemas, Aisha hanya bisa menyembunyikan wajahnya tanpa sedikit pun membalas ucapan suaminya, seketika pula netranya terpejam tak kuasa menahan kantuknya. Bahkan sepertinya saat ini Aisha lupa tengah dimana dirinya berada.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1