
“Ladies and gentlemen. We will be taking off shortly. Please make sure that your seat belt is securely fastened. Thank you.”
Pengumuman dari pramugari bergema di kabin pesawat, pesawat pun mulai berjalan di landasan. Para awak kabin juga duduk di kursi masing-masing setelah memastikan penumpang telah siap untuk berangkat.
“Para penumpang yang terhormat, waktu lepas landas telah dekat. Pastikan sabuk pengaman anda telah terpasang dengan sempurna. Terima kasih.”
Pemberitahuan keselamatan itu berputar lagi, kali ini diulangi dengan Bahasa Indonesia.
Kalimat hangat dari suara manis itu malah terdengar seperti kalimat perpisahan pilu bagi Gus Hasan yang sejak awal duduknya sudah dilanda kegelisahan.
Denyut jantung yang sejak tadi sudah tak stabil detaknya malah seakan berhenti ketika badan pesawat bergetar dan benar-benar mulai mengapung di udara.
Penampakan kota Yogyakarta tempat kelahirannya pun semakin mengecil tersamarkan udara. Kota yang pernah membawanya mengenal cinta sekaligus luka.
“Selamat tinggal Aisha, semoga kita selalu bahagia walau tak bersama.”
Melupakanmu bukan sesuatu yang mudah untukku
Maka biarkan luka ini menemani sepi di hati
Semoga saja rasa sakit mampu menghapus dirimu seiring hari
Dan semoga kecewa mampu melunturkan cinta yang pernah ada
~Hasan Fajrurraihan~
***
Waktu masih menunjukan pukul sembilan pagi saat mobil yang dikendarai Azka tiba di basement sebuah mall terbesar di Surabaya. Seperti yang Azka katakan bahwa ia ingin memanfaatkan hari liburnya untuk bermain bersama Rafa.
Azka dan Karina berjalan berdampingan menuju ke arah pintu masuk yang ada di depannya dengan Rafa berada di stroller bayi yang Karina dorong, mereka lebih tampak seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis.
“Kita langsung ke arena bermain aja yah?” tanya Karina ketika mereka sampai di lantai utama.
“Siapa yang mau main?” Azka yang mendengar permintaan Karina mengerutkan dahinya bingung.
“Kita lah,” jawab Karina sambil berjalan mendahului Azka ke arah Arena bermain di lantai atas.
Karina yang sudah lebih dulu mulai memasuki lift, segera menarik lengan Azka yang tampak masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
Azka hanya mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya pasrah mengikuti Karina memasuki lift.
Pintu lift terbuka, pengunjung lain yang ikut dalam rombongan lift mereka segera keluar saat tombol lantai lift berada pada nomor dua.
Namun Karina dan Azka masih tetap bergeming di tempatnya, menandakan tujuan mereka bukan pada lantai tersebut.
Sekali lagi lift berdenting terbuka, mengantarkan mereka ke sebuah ruangan besar bertliskan
‘Timezone’ yang dipenuhi oleh berbagai macam wahana permainan dan tampak sudah dipadati pengunjung.
“Pertama, kita udah bukan anak kecil. Kedua, kita bukan remaja labil. Dan ketiga, saya nggak mau ngikutin kamu kalo cuma buat mempermalukan saya dengan keinginan kamu yang aneh ini,” tutur Azka menghentikan langkah Karina yang sudah sangat antusias sambil mendorong stroller Rafa.
Karina melangkah balik, mendekati Azka.
“Pertama, ini bukan sekedar keinginan aku, tapi jiwa sosial Rafa juga perlu dikembangkan. Kedua, ini nggak sememalukan seperti yang kamu pikirkan!” jawab Karina ketus.
“Sayang, Rafa mau main yang mana hem?” tanya Karina yang sudah berjongkok di hadapan stroller Rafa, menyejajarkan tingginya dengan kereta bayi dihadapannya, yang ditanya hanya menggeliatkan tubuhnya sambil sesekali tangannya menunjuk-nunjuk sesuatu.
Usia Rafa memang baru menginjak satu tahun, wajar saja jika ia belum bisa berbicara.
“Ayo Rafa main berdua aja ya sama Bu dokter,” lanjut Karina segera mendorong stroller Rafa, meninggalkan Azka mematung di tempatnya.
Karina segera menuju ke depan kasir untuk membeli kartu yang berisi saldo sebagai alat tukar permainan.
Seperti yang sudah Karina duga, wahana ini benar-benar menyenangkan. Bahkan ia sampai tak henti-hentinya tergelak melihat reaksi Rafa yang juga tampak keasyikan.
Dari kejauhan, Azka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Karina yang benar-benar ajaib di matanya. Dan sepertinya Rafa juga sangat nyaman bila bersamanya.
***
Perjalanan Yogyakarta – Surabaya yang memakan waktu hingga lima sampai enam jam sama sekali tak terasa bagi sepasang pengantin baru yang sedang sama-sama dimabuk asmara, siapa lagi jika bukan Faris dan Aisha yang tengah dalam perjalanan pulang dari pesantren Pakde dan Bukdenya.
Setelah melewati tugu selamat datang kota Surabaya, tiba-tiba Aisha merasa perutnya tak enak, mungkin karena tengah datang bulan, pikirnya.
Ia mencoba mengalihkan rasa sakit di perutnya dengan melihat ke arah jendela untuk menikmati pemandangan yang terhampar. Tapi nihil, rasa mualnya benar-benar tak kunjung hilang.
Keringat dingin mulai tercetak jelas di dahinya, pendingin di dalam mobil seakan tak ada efeknya. Bau pengharum di dalam mobil juga justru menambah buruk rasa mualnya.
“Kenapa sayang?” tanya Faris yang menyadari kegelisahan istrinya.
__ADS_1
Faris ternyata jauh lebih peka dari yang Aisha kira, karena memang sejak tadi Aisha berusaha menutupinya.
Tak kunjung mendapat jawaban, Faris mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari Aisha.
“Ya ampun tangan Ica dingin banget sayang,” lanjut Faris saat mendapati tangan istrinya sangat dingin juga dibasahi peluh.
“Perut Ica nggak enak Bang,” jawab Aisha memegangi perutnya karena rasa mual yang semakin memburuk.
“Bang kita menepi sebentar ya,” lanjutnya benar-benar tak kuat.
“Ya Allah Ica pucet banget, sebentar kita cari rest area ya,” jawab Faris cemas setelah melihat wajah Aisha.
“Sebentar aja Bang, Ica udah nggak kuat.” Aisha semakin mengeratkan tautan jemari mereka.
“Iya iya sebentar.”
Faris menepikan mobilnya di jalanan yang dirasa cukup sepi. Aisha segera berlari menjauh dari mobil. Ia merasa malu jika harus muntah di depan suaminya, mungkin pengantin baru masih saling jaga image.
Faris segera turun dari mobil, menyusul Aisha yang masih berjongkok di tepi jalan mengeluarkan isi perutnya. Tak lupa ia membawa kotak tisu dan air mineral. Belum ia sampai, Asiha sudah mengibaskan tangannya.
“Abang jangan deket-deket!” teriak Aisha saat melihat Faris mendekat ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Faris yang tetap mendekat.
“Ica malu.”
Faris justru tertawa mendengar jawaban Aisha, istrinya ini sungguh menggemaskan di matanya. Sedang seperti ini pun tetap tidak ingin terlihat buruk. Apa memang semua gadis selalu menjaga image seperti itu jika di hadapan pasangannya, pikirnya.
Belum sempat Faris menjawab, Aisha sudah kembali mengeluarkan isi perutnya, terdengar suaranya seperti khas orang muntah.
Faris segera memijat pelan leher istrinya dengan cemas tanpa menghiraukan tangan Aisha yang mengibas ke arahnya.
Faris langsung sigap memberikan tisu pada Aisha setelah dirasa ia sudah selesai dengan muntahnya.
“Sini cuci dulu tangannya sayang,” tutur Faris sambal mengalirkan air mineral.
Aisha pasrah mengikuti ucapan Faris, meski malu ia tidak bisa menolak. Ia basuh tangan dan mulutnya dengan bantuan suaminya yang sejak tadi sudah siaga di sampingnya.
***
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...