
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Faris yang tengah mengeringkan rambutnya sontak menoleh saat mendengar pintu terbuka dan ucapan salam sang istri. ia lantas bangkit dan menghampiri Aisha yang baru saja masuk.
“Loh, Sayang kamu kenapa kok kotor gini bajunya?” tanya Faris yang terkejut saat melihat sesuatu mengotori baju yang dikenakan Aisha.
“Roger kamu bawa kemana istri saya?” tanya Faris menjadikan Roger sasaran.
“Hanya mengantar belanja sesuai keinginan Nyonya, Tuan,” jawab Roger yang masih bolak-balik membawa hasil belanjaan sang Nyonya.
“Nggak apa-apa kok Bang, tadi cuma kecelakaan kecil doang,” tutur Aisha segera meraih punggung tangan Faris dan mengecupnya.
“Kecelakaan kecil gimana maksudnya, Yang?” Faris terus membuntuti Aisha yang tengah membereskan barang belanjaannya ke dalam lemari es.
“Tadi pas mau ke café nggak sengaja tabrakan sama orang gitu, pas dia keluar Ica masuk, terus nggak sengaja kopinya tumpah ngenain Ica deh. Gitu ceritanya,” tutur Aisha lalu mencuci tangannya di wastafel ketika selesai.
“What kopi? Panas dong Yang? Mana yang sakit?” tanya Faris panik sambil membolak-balik tubuh Aisha di depannya.
“Roger kamu kemana aja sih sampe istri saya kesiram kopi.” Lagi-lagi Roger yang kena sasaran.
“Maaf Tuan tadi saya tengah memarkirkan mobil,” ujar Roger yang hanya bisa menunduk.
“Bukan salah Roger Bang, Ica aja tadi yang kurang hati-hati. Lagian nggak ada yang sakit kok. Kopinya udah lumayan dingin juga.” Dengan segera Aisha menggiring suaminya untuk duduk di sofa dan menenangkannya. Dengan sigap Faris pun menarik Aisha ke dalam pangkuannya.
“Saya permisi Tuan, Nyonya.”
“Makasih ya Roger udah anterin saya.”
“Tidak masalah Nyonya.” Roger memilih untuk segera undur diri sebelum menyaksikan kemesraan majikannya lebih lanjut.
“Yang nabrak cowok apa cewek? Masih muda apa udah tua?” tanya Faris setelah Roger menghilang di balik pintu dan menutupnya sempurna.
“Cowok,” jawab Aisha santai.
“Masih muda?” tanya Faris penuh selidik.
“Agak tuaan sih, ya kira-kira seumuran Abang deh.”
“Agak tuaan tapi seumuran Abang?” tanya Faris mengulangi jawaban istrinya.
Denganpolosnya Aisha mengangguk.
“Berarti Abang udah tua dong?” Faris mulai menekuk wajahnya.
“Emang Abang masih muda?”
“Sayang!” Faris sudah merengek tak terima.
__ADS_1
“Emang sebelah mana Ica salahnya?”
“Tua tuh kayak Pakde atau Pak Toni, itu tua namanya. Kalo Abang mah sugar daddy.”
“Ih Abang kan belum jadi daddy,” protes Aisha tak terima.
“Tuh jadi daddy aja belum masa Ica bilang tua.”
“Iya iya Sayangku, Abang Faris yang paling ganteng mempesona,” bujuk Aisha menangkup wajah suaminya, membuat Faris sontak tergelak.
“Tapi kenapa Ica nggak bangunin Abang aja sih? Abang kan nggak mau Ica kenapa-kenapa,” tutur Faris balik menangkup wajah ayu istrinya.
“Ica nggak tega banguninnya, Abang keliatan kayak cape banget.”
“Nggak. Abang nggak pernah cape kalo buat Ica.”
Aisha sontak tersenyum mendengar jawaban Faris.
“Ya udah Ica minta maaf yah udah pergi nggak bilang-bilang dulu ke Abang. Janji deh nggak gitu-gitu lagi,” tutur Aisha mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.
Melihat wajah menggemaskan itu Faris tak bisa untuk tak menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut di seluruh wajah istrinya itu.
“Lagian kan Ica bisa suruh Roger aja buat beli makanan, atau delivery, Yang. Nggak usah repot-repot masak.”
“Ica kan juga pengen masakin buat Abang, nggak makan makanan delivery mulu. Abang pengen
makan apa? Biar Ica masakin sekarang,” jawab Aisha dengan senyum manisnya dan langsung mengalungkan lengannya ke leher Faris yang tanpa sadar justru membangunkan sesuatu di bawah sana.
“Belum kenyang semaleman, Sayang?” goda Aisha tak kalah sensual di telinga Faris.
Senyum Faris sontak melebar mendengar istrinya yang semakin pandai merayu dirinya.
“Udah pinter nih sekarang,” ujar Faris menjawil hidung bangir istrinya yang langsung dibalas tawa oleh Aisha.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Faris langsung membopong Aisha kembali ke kamar dan mengungkung tubuh istrinya di atas pembaringan.
“Ica bersihin ini dulu ya bentar, lengket nih,” tutur Aisha menghentikan aksi Faris yang tengah bermain-main di ceruk lehernya.
“Jangan lama-lama Yang,” ujar Faris merebahkan dirinya dengan bertumpu pada satulengannya sambil menatap sang istri.
“Siap komandan.”
***
Setelah menjalankan ibadah terindahnya, Faris dan Aisha kembali terlelap hingga mentari benar-benar semakin meninggi, bahkan sudah hampir tiba waktunya solat duhur.
Tapi lagi-lagi Faris tak mendapati Aisha di sampingnya ketika ia membuka mata.
__ADS_1
“Sayang? Suka banget ninggalin Abang di tempat tidur deh,” tutur Faris dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Abang ayo makan dulu, bentar lagi duhur,” tutur Aisha sedikit berteriak dari dapur.
Aroma sedap yang berasal dari masakan Aisha pun membuat Faris tak tahan untuk tak membuka mata dan menghampirinya di dapur.
“Masak apa Yang?” tanya Faris merebahkan kepalanya di bahu Aisha yang tengah menyiapkan makanan.
Cup, Aisha menoleh dan mengecup lembut wajah yang tengah bertumpu ke bahunya. Namun Faris yang selalu punya akal dengan segera menolehkan wajahnya juga sehingga bibir Aisha justru tepat mengenai bibirnya juga.
“Dasar maunya menang banyak emang,” ujar Aisha melepas tautan mereka ketika merasa kehabisan oksigen.
Faris hanya tersenyum penuh kemenangan dengan semakin mengeratkan pelukannya.
“Maaf ya Ica belum bisa kalo harus masak makanan Turki, jadi Ica cuma masak rendang kesukaan Abang sama yang lainnya deh,” tutur Aisha menunjuk beberapa makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Faris merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah Aisha yang seketika terlihat murung.
“Kenapa minta maaf? Abang nikahin Ica tuh buat jadi istri Abang, pendamping hidup Abang, bukan koki restoran,” tutur Faris menghibur istrinya.
“Ya tapi kan Ica juga pengen jadi istri yang pinter melayani suami.”
“Ica juga udah pinter kok, sempurna malah.”
“Ihhh ngegombal terus,” ujar Aisha tersipu dan sontak mencubit perut suaminya.
Dengan telaten Aisha menyiapkan piring dan menyendokkan nasi untuk suaminya lantas untuk dirinya juga.
Belum sempat Aisha menyendokkan nasi ke mulutnya, tiba-tiba Faris mengambil alihnya. Aisha yang tak mengerti hanya mengangkat alisnya.
“Ica kan udah cape masak, jadi biar Abang yang suapin makan,” tutur Faris menyimpan sendok dan bangkit ke arah wastafel untuk mencuci tangannya, lantas menyuapkan makanan untuk Aisha juga dirinya tanpa menggunakan sendok.
“Abang nggak jijik nyuapin Ica pake tangan langsung?”
“Kenapa harus jijik? Ica tuh istri Abang, jangankan pake tangan, pake mulut juga boleh,” tutur Faris lembut membuat Aisha langsung tersedak makanan di mulutnya, dengan segera Faris langsung memberikan air minum yang sudah tersedia.
“Mau coba?” goda Faris yang melihat wajah istrinya sudah memerah.
“Abang!” pekik Aisha geram.
“Hahaha iya iya ayo makan lagi biar tambah cantik.”
“Nggak nyambung! Mana ada orang makan bisa bikin cantik.”
***
Maafin kalo part kali ini pendek ya gaes ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...