Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Tinggalkan aku!


__ADS_3

Aisha masih saja terdiam, pandangannya bahkan sedikitpun tak teralihkan.


“Maaf karena kita bahkan harus kehilangan calon buah hati kita sebelum dia sempat lahir ke dunia. Ca … katakan sesuatu, Abang mohon … jangan cuma diem kayak gini Sayang, bicaralah … jangan bikin Abang makin takut Ca.” Faris masih terus saja memohon karena tak mendapati reaksi apapun dari istrinya.


Tiba-tiba Aisha menarik tangannya yang tengah dipegangi oleh Faris, masih tanpa bersuara, Aisha mencoba untuk mendudukan dirinya, namun ketika Faris hendak membantunya, Aisha justru menepis dengan kasar tangan Faris yang mencoba menyentuh bahunya.


“Ca kamu kenapa Sayang? Abang paham kalo Ica marah sama Abang, marahlah sepuas hatimu Sayang … karena emang Abang yang salah. Tolong bicaralah … jangan diemin Abang kayak gini.” Faris terus saja memohon sambil berusaha menyentuh tangan Aisha yang selalu menghindar.


Aisha mendongakkan wajahnya mencoba menatap suaminya.


“Kemana Abang selama ini? Baru sadar Abang sekarang? Setelah anak kita udah nggak ada Abang baru sadar? Terlambat Bang!” Aisha berujar sambil mengusapi air matanya yang justru semakin menderas.


“Kenapa Ica nggak bilang ke Abang kalo Ica hamil? Kalo Abang tau, sesibuk apapun Abang, pasti akan Abang luangkan waktu buat kalian?” Faris bertanya sepelan mungkin agar Aisha tak semakin salah paham dengannya.


Aisha memejamkan netranya cukup lama, perasaan seorang istri yang begitu menantikan kehadiran sang buah hati kini justru harus pupus bahkan sebelum ia sempat melihat buah hatinya terlahir ke dunia.


“Nggak bilang? Selama ini Ica selalu berusaha buat bilang ke Abang, tapi apa? Abang selalu sibuk dengan dunia Abang sendiri! Abang bahkan sedikit pun nggak ada niatan buat tau apa yang Ica rasain, apa yang Ica alami selama ini … sampe anak kita hadir di rahim Ica pun Abang nggak pernah sadar. Abang pikir selama ini Ica nggak sakit saat liat Abang yang justru begitu memprioritaskan Tasya padahal anak Abang sendiri begitu membutuhkan ayahnya!”


Aisha menghela napasnya kasar berusaha menstabilkan diri karena semakin terisak sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Abang bahkan tega nuduh Ica karena Ica lalai jaga Tasya … selama ini Ica kesulitan Bang, awal kehamilan bukanlah hal yang gampang buat Ica yang baru pertama ngerasain gimana rasanya hamil.”


Tubuh dan pikiran Faris yang sudah sangat lelah membuatnya langsung tersulut emosi.


“Ini semua takdir Ca! Abang pasti sayang sama darah daging Abang sendiri, apa Ica menyalahkan Abang karena anak kita pergi!?” ucap Faris penuh penekanan, bahkan kini ia mengguncang bahu Aisha.


Sontak Aisha terkesiap dengan perlakuan suaminya, dadanya semakin sesak karena mendengar kembali bentakan Faris, terlebih mengingat kondisinya saat ini.


“Oh maaf kalo Abang ngerasa kayak gitu, Ica nggak menyalahkan siapapun kok, Abang tenang aja. Ica sadar kalo Ica yang terlalu lemah buat berjuang sendirian jaga anak kita.” Aisha berkata dengan tenang, nadanya pun tak setinggi sebelumnya, namun setiap kalimatnya justru seperti sebuah sayatan untuk Faris yang mendengarnya.


“Ok Abang yang salah! Abang penyebab semua ini! Puas kamu!?” teriak Faris mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


“Tinggalin Ica Bang ….” Aisha berucap dengan sesenggukan.


Hati Faris melunak melihat air mata itu semakin menderas.


“Abang minta maaf … Abang nggak ada maksud kayak gitu Sayang ….” Faris mulai menitikkan air mata tanpa dia sadari.


“Tinggalin Ica Bang! Lepas!” Aisha segera menepis tangan Faris yang hendak mendekapnya, tubuh Aisha bergetar saat mengatakannya, isaknya semakin terdengar memilukan.


Aisha merasa gagal menjadi seorang istri, apalagi setelah harapannya menjadi ibu tiba-tiba saja pupus karena keegoisan dirinya juga suaminya. Selama ini Aisha mencoba untuk selalu bersabar dengan badai yang tak jarang menghampiri bahtera rumah tangganya, ia selalu mencoba untuk kuat apalagi setelah mengetahui ada nyawa yang juga harus ia jaga. Namun saat ini, entah kenapa kesabaran itu seperti sudah di ambang batas, ia menyesali dirinya yang terlalu lemah untuk bersanding dengan sosok suami seperti Faris.


“Baiklah … Abang akan pergi kalo itu bisa bikin Ica lebih baik.” Faris mengecup sekilas kening Aisha yang sudah lebih tenang sebelum berlalu dari ruangan itu. Dari pada perdebatan semakin panjang dan ia takut tidak akan bisa mengontrol emosinya lalu akan lebih menyakiti istrinya, maka Faris memilih sementara menyanggupi permintaan Aisha. Dalam hatinya, apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan sang istri.


Tepat saat itu, Bu Maya datang bersama Roger ke ruangan Aisha, wanita paruh baya itu nampak sangat khawatir melihat putrinya berbaring di atas ranjang dengan tatapan kosongnya.


“Faris titip Ica ya Bu,” ucapnya ketika berpapasan dengan Maya.


Faris hanya menyalami ibu mertuanya sekilas lantas melanjutkan langkahnya dengan gontai dengan diikuti Roger, sedangakan Maya tentu saja kebingungan dengan apa yang terjadi diantara putri dan menantunya.


***


“Kenapa anak Aisha yang harus menanggung keegoisan dari orang tuanya Bu? Anak Aisha nggak salah Bu ….”


Tangis Aisha semakin pilu setelah ia mencoba menceritakan apa yang sudah menimpa rumah tangganya, sejak Faris yang tak pernah ada waktu untuknya, hingga kehadiran Tasya yang justru membuat semuanya terasa semakin runyam.


“Sayang … anak adalah titipan, bukan salah siapa-siapa jika Tuhan lebih memilih untuk mengambilnya kembali, Dia lebih menyayangi anak kalian dari pada orang tuanya sekalipun.” Diusapnya punggung putrinya yang semakin bergetar dalam pelukannya, sekuat apapun Aisha, Maya tahu jika putrinya juga hanya wanita biasa seperti kebanyakan wanita lainnya, Aisha masih tetap putri kecilnya yang begitu disayanginya melebihi dirinya sendiri.


Maya keluar setelah Aisha terlihat sudah cukup nyaman dalam lelapnya, saat itu juga ia melihat Faris yang masih terduduk di depan ruangan, keadaannya sama kacau dengan putrinya di dalam.


Faris langsung bangkit dan memeluk tubuh Maya yang sudah seperti ibunya sendiri, air matanya tumpah di pelukan wanita yang selama ini begitu menyayanginya layaknya putranya sendiri.


“Faris minta maaf Bu … ini semua emang salah Faris. Faris yang bodoh ….” Pria itu semakin sesenggukan dalam dekapan Maya.

__ADS_1


“Ibu nggak bermaksud membela siapapun di sini, kalian sama-sama anak Ibu yang sangat Ibu sayangi. Ibu hanya minta jaga Aisha ya Nak, jangan lagi kamu sakiti dia. Kalo kamu udah nggak sanggup, kembalikan Aisha sama Ibu, biar Ibu yang akan berdiri melindunginya, Ibu masih kuat buat lindungin Aisha, Ibu yang akan selalu berjuang buat Aisha, karena hanya Aisha yang Ibu punya, dia segalanya buat Ibu,” tutur Maya mengusapi punggung menantunya, air mata bahkan sudah turut berjatuhan dari netra rentanya.


“Ibu titip Aisha ya Sayang ….”


Faris langsung mengeratkan dekapannya pada tubuh renta itu, sesak semakin menjalari tubuhnya mendengar kalimat dari mertuanya itu.


“Faris janji Bu … Faris akan selalu menyayangi Aisha lebih dari apapun. Faris janji setelah ini nggak akan ada lagi air mata kesedihan yang keluar,” ucapnya dengan tulus, Maya bahkan bisa meraskannya dari setiap kalimat yang Faris lontarkan.


Maya perlahan merenggangkan pelukannya, diusapnya peluh yang sudah bercampur darah di wajah menantunya itu.


“Kamu pulang dulu yah, bersih-bersih terus istrirahat, biar Ibu yang jaga Aisha di sini.” Maya berucap dengan lembut.


Faris sontak menggeleng dengan kuat, “Nggak Bu, Faris nggak butuh apapun, Faris cuma mau nungguin Ica di sini.”


“Ibu paham kekhawatiran kamu Sayang, tapi percayalah … Aisha pasti baik-baik aja, Ibu tau gimana putri Ibu. Sekarang pulanglah … setidaknya buat bersih-bersih dan berganti pakaian.”


Akhirnya Faris pasrah mengikuti anjuran sang mertuanya, badannya juga benar-benar lelah dengan semua yang terjadi hari ini.


“Baiklah Bu, Faris pulang dulu sebentar buat ganti pakaian, abis itu Faris langsung balik lagi ke sini. Kalo ada apa-apa, Ibu langsung hubungi Faris yah.” Faris berucap sebelum menyalami Maya yang menganggukan kepalanya.


“Setirin saya Ger, saya lemes banget,” ujar Faris menyerahkan kunci mobil.


“Baik Tuan.” Roger langsung mengangguk dan mengikuti langkah Tuannya menuju basement.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


 


__ADS_2