
Hari terus saja silih berganti, tapi tidak dengan Faris yang masih meratapi kepergian sang istri. Walaupun begitu, Faris sadar jika hidupnya harus tetap berjalan, ada tanggung jawab lain yang juga mesti ia tunaikan selain perasaan dirinya pribadi.
Menjadi seorang dokter adalah impiannya sejak dulu, termasuk segala resiko yang harus dihadapinya juga merupakan tanggung jawab yang selamanya harus ia laksanakan sesuai sumpahnya.
Dan perusahaan yang saat ini ia pimpin, itu merupakan peninggalan mendiang kedua orang tuanya, perusahaan yang dirintis oleh ayah dan bundanya hingga berkembang sepesat sekarang, perusahaan yang sudah menghidupinya selama ini, juga yang sudah mewujudkan impiannya menjadi seorang dokter. Karenanya, Faris tidak boleh sampai lalai menjaga amanah yang sudah kedua orang tuanya perjuangkan mati-matian.
Maka hari ini Faris pun memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit juga menangani beberapa berkas untuk proyek pentingnya yang akan datang.
Sebagai manusia, Faris sudah berusaha dan berdoa. Urusan hasil, itu di luar kuasanya. Ia hanya manusia biasa, selebihnya mungkin ia cukup mengikuti skenario yang telah Tuhan gariskan.
Drrtt … ponsel di saku jas Faris berdering saat ia baru saja menyelesaikan operasi terakhirnya, tertera nama Pak Toni dalam layarnya.
“Iya Pak ….”
“Ada seseorang yang mencari kamu, katanya dia pengacara keluarga Ameer,” ujar Pak Toni dari sebrang.
“Mendiang ayah mertua saya maksud Bapak?”
“Betul, kamu ditunggu beliau sekarang di rumah.”
“Rumah mana Pak?” tanya Faris mulai panik.
“Rumah kamu, dia sudah di sini sejak tadi.”
“Ok aku pulang sekarang.”
***
“Selamat sore, apa betul anda saudara Faris Zein Abdullah?” Pria berpenampilan rapi dengan setelan jasnya menyapa Faris yang seketika menghampirinya di ruang tamunya.
“Betul, saya sendiri.”
“Perkenalkan saya Hartono Kusuma, pengacara dari keluarga Ameer.”
“Muhammad Ameer mendiang ayah mertua saya?” tanya Faris memastikan.
“Betul sekali, dan saya datang ke sini sebagai utusan dari Mba Aisha putri tunggal dari Bapak Ameer untuk mengajukan gugatannya yang sudah disetujui oleh pihak pengadilan agama.”
Seketika dunia Faris seakan runtuh, tubuhnya lemas hingga ia harus bersandar pada sandaran sofa, ucapan dari pengacara Aisha bahkan tak ia hiraukan.
Namun begitu, Hartono tetap saja melaksanakan tugasnya, ia tampak meraih tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa berkas dari sana.
“Ini surat gugatan dari saudara Aisha Ameera Al-Insani terhadap anda saudara Faris Zein Abdullah, silahkan dipelajari.”
__ADS_1
Faris menerima surat itu dengan tangan gemetar, pandangannya pun mengabur oleh air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Dan ini adalah surat panggilan sidang untuk anda hadiri sesuai tanggal yang tertera di sana,” ujar Hartono kembali.
Faris memejamkan netranya, ia menghela napasnya dengan berat membaca kata demi kata yang tertulis dalam surat panggilan sidang di sana.
“Apa istri saya akan hadir dalam persidangan nanti?”
“Mba Aisha sudah menyerahkan semuanya kepada saya sebagai kuasa hukumnya, jadi beliau tidak akan hadir secara pribadi.”
Jleb, entah belati macam apalagi yang mengoyak hatinya, kini Faris bahkan seakan sudah mati rasa tak sanggup menerima semua hujamannya.
“Apa saya boleh tau dimana istri saya sekarang? Atau setidaknya beri saya kesempatan untuk menghubunginya,” pinta Faris berusaha untuk tegar.
“Mohon maaf Pak, saya hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya, permintaan klien merupakan tanggung jawab saya, Mba Aisha sudah berpesan agar saya merahasiakan keberadaan beliau secara pribadi. Maka jika ada yang ingin saudara sampaikan, silahkan bisa dibicarakan dengan saya selaku kuasa hukum beliau.”
“Ini semua hanya salah paham Pak, tolong … tolong beri saya kesempatan untuk berbicara dengan istri saya,” ujar Faris penuh permohonan.
“Silahkan bisa Bapak jelaskan pada sidang perdamaian nanti. Jika tidak ada pertanyaan, saya permisi dulu Pak. Selamat sore.”
Pak Hartono pergi begitu saja dari rumah Faris tanpa menunggu persetujuan Faris yang masih mematung di tempatnya dengan hanya menatap nanar kepergiannya.
“Arrgghh …!”
Air matanya tak terbendung lagi, semua pegawai yang turut menyaksikannya juga hanya bisa tertunduk seakan merasakan sakit yang kini tengah dirasakan oleh Tuannya.
Prang … prang … Faris menghempaskan semua yang ada di sana, vas bunga di atas meja pun kini sudah hancur berantakan mengotori lantai.
“Kamu tenang saja Ris, pengacara kita akan mengurus semuanya.” Pak Toni datang dan menenangkan Faris yang masih saja membabi buta menghancurkan barang-barang yang ada di sana.
“Lakukan apa saja yang bisa membatalkan perceraian saya Pak.” Suara Faris melemah, ia benar-benar tak bisa membayangkan jika harus kehilangan wanita yang sudah mati-matian ia perjuangkan.
Faris yang hendak beranjak menuju kamarnya tiba-tiba menghentikan langkahnya, mematung di ujung tangga. Dengan segera ia berlari keluar dan menghidupkan mobilnya.
Faris baru saja terpikir jika pengacara Aisha tidak mau memberitahukan keberadaan Aisha padanya secara langsung, maka ia harus menggunakan cara lain. Dan saat ini Faris berniat untuk mengejar dan mengikuti diam-diam kemana perginya pengacara Aisha, mungkin dengan begitu ia bisa menemukan petunjuk, atau mungkin saja jika saat ini istrinya memang sengaja bersembunyi di tempat sang pengacara.
Faris membelokkan stir kemudinya ke arah jalan utama, diinjaknya pedal gas dalam-dalam hingga jarum spidometer terus merangkak naik, beruntung mobil range rover-nya memiliki performa pengejaran yang tak kalah baik seperti mobil sport hingga tak selang berapa lama ia bisa menemukan mobil yang dikendarai oleh pengacara Aisha kini tengah merayap memasuki pintu tol.
Sambil menempelkan kartu tol miliknya, mata Faris tak sedikitpun berpaling mengawasi mobil MPV yang sudah lebih dulu memasuki tol.
Faris menyusuri jalan demi jalan membuntuti laju mobil Pak Hartono, namun sayang ketika Faris tengah dalam-dalamnya menginjak pedal gas, mobil itu tiba-tiba berbelok ke sisi kiri tol yang menghubungkan ke jalan alternatif lain, sementara Faris yang tak ada aba-aba tentu saja terus bablas ke depan.
“Argghh …!” Faris memukul stir kemudinya dengan kuat, ia benar-benar kesal karena harus kehilangan satu-satunya orang yang saat ini mengetahui keberadaan istrinya.
__ADS_1
Tak ada jalan lain, kini Faris ke tujuan semula. Setelah keluar dari tol, Faris membelokkan stir mobilnya bukan ke arah rumahnya, melainkan rumah Maya yang kini menjadi tujuannya, mungkin di sana ia bisa mendapatkan informasi dari Mang Udin maupun pegawai lainnya di sana.
Sampai di tempat tujuan, Faris tidak membawa masuk mobilnya ke dalam gerbang karena terlihat gerbang itu tertutup rapat dengan gembok yang menggantung di sana. Rumah di balik gerbang itu juga nampak sangat sepi, bahkan terlihat gelap di dalamnya, hanya lampu luar dan lampu taman saja yang menyala sebagai penerang.
Faris semakin yakin jika salah satu pegawai di rumah Maya pastilah mengetahui keberadaan majikannya itu.
Faris menghentikan mobilnya di depan gerbang, netranya menoleh sekeliling dan mendapati segerombolan anak-anak ABG yang tengah nongkrong dan berdendang sambil memetik senar gitarnya.
“Permisi Dek, kalian tau nggak penghuni rumah itu pada kemana? Kok keliatannya kosong ya, pegawai yang kerja di sana juga nggak keliatan.” Faris bertanya setelah menghampiri segerombolan anak muda itu.
“Oh Mba yang cantik sama ibunya ya Bang?” ujar sang pemetik gitar menghentikan permainannya.
Faris mengangguk dengan semangat, “Iya bener, ada yang tau nggak mereka kemana?”
“Wah kita kagak tau tuh Bang, udah beberapa hari ini nggak liat ibunya, kalo si Mba cantiknya malah udah lama nggak liat.”
“Kalo pegawainya ada yang tau nggak pada kemana?” tanya Faris tetap tak menyerah.
“Oh kalo pegawainya sih sejak si ibu kagak keliatan beberapa hari ini emang selalu pulang kalo sore Bang, paling nanti pagi mereka baru balik.”
Faris hanya mengangguk-angguk, tampak sekali kekecewaan tersirat di wajahnya.
“Kalo gitu makasih infonya ya,” ujar Faris tampak merogoh saku celananya lalu menyodorkan beberapa lembar uang ratusan kepada para ABG itu.
“Nih buat ngopi, nemenin kalian nongkrong,” ujar Faris yang langsung disambut dengan wajah berbinar oleh anak-anak ABG itu.
“Wah … thanks banget Bang, semoga dilancarin urusannya ya Bang,” tutur mereka menerima pemberian Faris dengan wajah sumringah.
Faris hanya tersenyum dan mengaminkan dalam hati sebelum melangkah pergi dari gerombolan pemuda itu.
Bukan masuk ke dalam mobil, Faris justru mematung di depan gerbang menatap pagar besi yang menjulang tinggi itu dengan tatapan sendu. Ia sudah bingung harus kemana lagi mencari sang istri dan ibu mertuanya.
Tiba-tiba air dari langit berjatuhan membasahi gersangnya tanah bumi, segerombolan ABG yang tadinya masih asyik berdendang sontak berlarian terbirit-birit menghindari dinginnya air hujan pada malam itu. Tapi tidak dengan Faris yang justru malah duduk bersandar di depan gerbang, kedua lututnya ditekuk dengan wajah yang menengadah seolah memang meminta air langit untuk mengguyurnya.
Malam semakin beranjak, tak ada satu pun manusia yang terlihat keluar dari rumah mereka setelah hujan cukup lama berjatuhan. Faris benar-benar frustasi hingga derasnya hujan sama sekali tak ia hiraukan, ia kembali terisak sejadi-jadinya meratapi nasib rumah tangganya, air matanya menyatu dengan air langit yang juga berjatuhan seakan memahami perasaannya. Hingga hujan telah berhenti Faris masih belum beranjak dari tempatnya, badannya yang semula basah oleh guyuran air hujan pun kini sudah kembali mengering dengan sendirinya di badan.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1