Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Memantau dari jauh


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


______________


Bukan tanpa alasan Ayla segera menjauh ketika ia tahu sosok yang sudah mengusik hatinya berada di hadapannya. Dengan cepat ia membereskan baki makanan yang padahal baru saja disentuhnya. Ia memilih melangkah kembali ke kelasnya menunggu pelajaran selanjutnya yang akan diisi tak lain oleh kakaknya. Melihat wajah tenang sang kakak membuat gadis yang duduk di antara barisan kursi mahasiswa itu menyunggingkan senyumnya. Hatinya menghangat melihat senyum itu terbit di wajah tampan lelaki yang sejak kecil tumbuh bersamanya. Betapa ia merasa bangga memiliki sosok yang tengah berdiri tegak di depan mimbar sana.


“Dek.”


Ayla menoleh saat suara yang biasa memanggilnya dengan sebutan itu terdengar hingga ke telinganya.


“Kita makan yuk,” ajak Faisal saat mereka telah menyelesaikan kelasnya.


“Kakak mau bikin Ayla gendut? Ayla kan baru makan siang tadi sebelum masuk kelas,” protesnya pada sang kakak.


“No, Kakak tau makan kamu nggak bener. Udah ikut kakak,” ujar Faisal yang langsung mendahulukan langkahnya.


“No, Kak. Ayla nggak bisa kalo hari ini. Ayla udah ada janji.” Penolakannya seketika menghentikan langkah Faisal.


“Sama siapa? Kamu nggak lagi menghindar dari Kakak kan?” selidik Faisal yang segera mendapati gelengan dari lawan bicaranya.

__ADS_1


“It’s a secret. Tenang, Ayla bukan mau macem-macem kok. Bye, Ayla duluan.” Gadis itu segera membawa langkahnya menjauh tanpa menunggu jawaban dari Faisal yang masih mematung dengan kening berkerut di tempatnya. senyumnya tercetak menyadari sang adik yang tampaknya sudah kembali ceria seperti sebelumnya.


Gadis bermantel choco brown itu menghela napas panjang dengan beberapa kantung belanjaan yang tampak cukup merepotkan di kedua tangannya. Sudah lebih dari satu jam gadis itu berjalan menyambangi setiap food court yang terdapat di Istinye Park yang sangat luas. Memilah beberapa jenis makanan yang dicarinya ternyata cukup melelahkan. Untunglah hari ini ia tidak memakai heels seperti biasanya yang pasti akan membuat kakinya terasa sakit karena berkeliling tempat seluas ini.


Merasa cukup dengan yang dibelinya, gadis itu keluar dari Istinye Park dengan wajah yang ceria. Terbayang olehnya wajah gembira anak-anak yang menyambut kedatangannya di panti asuhan yang akan dikunjunginya. Di sanalah ia janji bertemu dengan wanita paruh baya seusia ibunya yang beberapa hari lalu ditemuinya saat di Blue Mosque, Nyonya Khadija. Ya, beliau memang tinggal di panti asuhan itu dan menjadi salah satu pengurus di sana.


Dari yang Ayla dengar, Nyonya Khadija memang hidup sebatang kara. Suaminya sudah lebih dulu menemui sang pencipta, dan ia juga tidak dikaruniai anak dari pernikahannya tersebut. Sejak kepergian mendiang suaminya, Nyonya Khadija memang tidak berniat untuk menikah lagi. Baginya, tidak ada cinta kedua ketika seluruh cintanya sudah turut bersemayam bersama jasad suaminya.


Karena itulah hingga saat ini beliau memilih mengabdikan dirinya di yayasan sosial yang mengurusi anak-anak yang terpisah dari keluarganya, atau memang tak pernah tahu asal usulnya sejak terlahir ke dunia.


Ayla segera menginjak pedal gasnya dengan senyum yang sejak tadi mengembang. Ia tak ingin terlambat, bahkan sudah merasa tak sabar ingin menemui sosok yang dirasa sudah menjadi tempat bersandar yang nyaman, bahkan ketika kenyamanan itu tak ia dapatkan di dalam rumahnya.


Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit sampai mobil yang dikemudikan Ayla merayap perlahan di pekarangan yang tampak asri dipenuhi anak-anak dari berbagai usia tengah asyik dengan kegiatan mereka masing-masing.


Nyonya Khadija yang menyadari kehadiran Ayla pun seketika bangkit dan menyambutnya. Tak disangka gadis yang beberapa hari lalu ditemuinya itu ternyata menepati janji untuk menyambanginya di sini.


Beberapa anak turut berlarian mengikuti langkah Nyonya Khadija dan berebut untuk menyalami Ayla dengan wajah yang riang gembira. Anak-anak itu semakin bersorak ketika Ayla menunjukkan apa yang dibawanya dan membagi rata pada semua anak di sana. Hati Ayla menghangat menyaksikan kebahagiaan yang terpatri jelas di setiap wajah anak yang menerima makanannya. Ternyata sesederhana itu mencari kebahagiaan di tempat ini.


“Anak-anak … kalian lanjutkan belajarnya dulu ya. Ibu mau menemani kakak cantik ini untuk mengobrol dulu,” tukas Nyonya Khadija yang langsung diangguki patuh oleh anak-anak di sana.


Menjauh dari kerumunan anak-anak itu, Nyonya Khadija mengajak Ayla untuk berkeliling panti sambil berbincang.


_______

__ADS_1


Lagi-lagi Ayla baru menginjak halaman rumahnya ketika mentari sudah berganti tugas dengan sang rembulan. Rumah megah bak istana itu tampak sepi seperti biasanya. Hanya ada beberapa pengawal yang berjaga di depan gerbang dan pekerja lain yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Sedangkan dari ujung jalan, seseorang pun memutar balik stir kemudinya begitu memastikan mobil yang Ayla kendarai berhasil memasuki gerbang.


Sudah bisa Ayla tebak jika kedua orang tuanya pasti belum kembali. Hal itu bukan lagi sesuatu yang aneh bagi Ayla yang sudah terbiasa bertemankan sepi. Neneknya sudah lama tinggal bersama bibinya, menambah frekuensi sepinya di rumah itu. Dulu saat kakak lelakinya masih tinggal di sana, Ayla setidaknya masih bisa merasakan sedikit kehangatan keluarga. Tapi kini tak ada lagi alasan yang membuatnya betah berlama-lama di dalam bangunan nan megah yang kini menjadi pijakannya.


Menatap lurus ke depan, Ayla semakin mempercepat langkahnya menaiki anak tangga yang membawanya menuju kamar. Satu-satunya tempat ternyaman dari luasnya bangunan yang menjadi tempat tinggalnya.


Sambil menunggu adzan isya berkumandang, Ayla merenungi kalimat yang Nyonya Khadija katakan.


“Coba kamu renungi, sudahkah baik hubunganmu dengan kedua orang tuamu? Seburuk apapun orang tua, bukan lantas menjadi pembenaran untuk kamu membenci mereka. Pernahkah kamu bertanya, alasan apa yang membawa mereka sampai setidakperhatian itu kepadamu? Tidak ada orang tua yang menginginkan kesedihan untuk anaknya. Ingat, kamu bisa berdiri tegak di sini sekarang atas perantara kedua orang tuamu yang sudah menghadirkanmu ke dunia. Ridhallahi fii ridha walidain.”


Ayla terdiam, salahkah sikapnya selama ini yang selalu mengacuhkan kedua orang tuanya? Bukankah mereka yang lebih dulu menciptakan jarak di antara dirinya?.


Nyonya Khadija mendudukan dirinya di kursi taman yang sudah tampak usang. Pandangannya lurus ke depan entah apa yang ia terawang.


“Coba kamu ingat-ingat juga, adakah hati yang mungkin tersakiti oleh lisan dan perbuatanmu, juga kewajiban sebagai seorang muslimah yang belum kamu penuhi? Penuhi dulu maunya Allah, baru akan Dia penuhi apa maumu.”


Ayla membawa langkahnya menuju cermin rias yang terpajang di pojok ruangan, mengamati lekat pantulan dirinya yang terpampang jelas dari ujung kaki hingga kepalanya.


“Aku seorang muslimah, tapi penampilanku sedikitpun tak menunjukkan identitasku sebagai seorang muslimah.” Ia menyentuh surai panjangnya yang indah terurai dengan pandangan yang nanar.


‘Penuhi dulu maunya Allah, baru akan Dia penuhi apa maumu’


________

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2