
Hari yang cukup cerah dengan langit yang bersih tanpa ada yang menutupi bias mentari.
Aisha keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono putihnya. Ia tak tahu kemana Faris akan membawa dirinya hari ini, karenanya ia belum tahu juga baju apa yang akan cocok untuk dikenakannya.
“Udah mandinya Sayang?” tanya Faris menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.
“Abang lagi nyari apa?” tanya Aisha saat mendapati suaminya tengah seperti mencari-cari sesuatu di lemari baju mereka tanpa mengenakan baju atasannya.
“Oh iya Abang lupa nggak ngasih tau Ica. Hari ini kita naik motor ya? Biar so sweet hehe, makanya ini Abang lagi nyari-nyari baju yang cocok,” jawab Faris kembali memilah-milah pakaiannya.
“Ya Allah Abang!” Aisha terkejut saat ia mendekati Faris dan melihat punggungnya yang tanpa pakaian terdapat cukup banyak garis-garis kemerahan seperti bekas cakaran.
“Kenapa Sayang? Faris sontak berbalik dan menghentikan kegiatannya.
Aisha segera menggiring Faris untuk menghadap cermin besar yang terdapat di meja riasnya.
“Coba liat deh,” tutur Aisha memandu Faris agar menengok ke arah cermin melihat punggungnya sendiri.
Faris yang menyadari penyebab luka di punggungnya hanya mengulas senyumnya.
“Kok malah senyum? Emang nggak sakit?” Kening Aisha berkerut mendapati jawaban Faris.
Faris mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Aisha, membuat sang istri sontak memejamkan matanya.
“Karena Ica yang buat jadi nggak sakit, malah saking senengnya jadi pengen lagi,” bisik Faris membuat Aisha perlahan membuka matanya.
Aisha segera memalingkan wajahnya sambil menahan senyumnya, berbalik melangkah ke arah lemari untuk mengambil kotak P3K. Tepatnya untuk menyembunyikan semburat merah muda di pipinya yang pasti sudah terlihat.
“Sini Ica obatin dulu,” tutur Aisha menggandeng suaminya agar duduk di tepi ranjang, memudahkannya untuk mengobati lukanya.
Aisha membersihkan luka Faris dengan kapas yang sudah disiram dengan antiseptik, lalu mengolesinya perlahan dengan obat merah.
“Emang ini semua perbuatan Ica ya Bang?”
“Boleh diinget-inget lagi kalo nggak yakin,” goda Faris membuat Aisha menekan lebih keras lukanya yang tengah diobati.
“Awww … sakit Sayang,” pekik Faris membuat Aisha panik seketika.
“Aduh aduh, maaf ya Bang,” tutur Aisha segera mengusap-usap halus punggung dengan luka itu, membuat Faris semakin tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menggoda istrinya.
Selesai mengobati luka Faris, Aisha segera mengganti bajunya sendiri.
Ia tersenyum saat melihat pantulan dirinya pada cermin yang terdapat di walk in closet, bercak-bercak kemerahan yang cukup banyak di sekitar leher dan dadanya membuat Aisha tersipu, mengingat kembali kegiatannya semalam dengan sang suami.
Selesai mengenakan pakaian yang menurutnya cocok untuk menemaninya hari ini, Aisha keluar lalu mendudukan diri di depan meja riasnya dan mulai merias wajahnya.
__ADS_1
“Belum selesai juga Sayang?” tanya Faris merangkul pundak sang istri yang tengah focus pada riasannya.
“Abang ih! Tuh kan kecoret, ngagetin deh,” gerutu Aisha ketika polesan lipstiknya melenceng jauh dari bibirnya.
Faris tak tahan untuk tak menertawakan istrinya, dengan tawa yang tertahan ia membantu Aisha membersihkan lipstick yang over menggunakan tisu basah.
“Maaf Sayang, lagian lama banget sih. Masa udah hampir dua jam belum selesai juga dandannya,” tutur Faris mencuri kecupan di puncak kepala istrinya.
“Nggak usah lebay deh, masa iya nyampe dua jam. Lagian ntar kalo istrinya kucel Abang malu lagi bawanya.” Aisha masih menggerutu sambil membenarkan riasannya.
“Ih suudzon aja deh sama suami,” jawab Faris mencubit hidung bangir sang istri, membuat sang empunya tak henti-hentinya menggerutu.
Ia lalu kembali mendudukan dirinya di sofa setelah selesai mengenakan pakaiannya sendiri dan memainkan ponselnya sembari menunggu istrinya tercinta.
Selesai dengan riasannya, Aisha melirik suaminya yang tengah duduk di sofa dengan memainkan ponselnya yang sepertinya juga sudah selesai bersiap.
Dengan mengenakan celana jeans panjang dengan aksen sobek di bagian lutut dan blouse yang dibalut dengan jaket boomber-nya, Faris terlihat seperti ABG tujuh belasan tahun. Membuat Aisha semakin terkagum-kagum dengan Maha karya Tuhan yang tertoreh pada sosok sang suami.
“Ica udah Bang,” tutur Aisha membuat Faris mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Faris tanpa henti menatap Aisha dari ujung kaki hingga kepala, blouse dan jaket jeans yang berpadu dengan rok jeans senada membuat Aisha terlihat seperti anak-anak ABG kekinian.
“Wih gayanya udah kayak anak SMA aja nih Sayang,” tutur Faris berjalan mendekati istrinya.
“Ya udah ayo! Nanti keburu panas nih,” ajak Aisha yang sudah berjalan lebih dulu ke arah pintu.
"Orang dia yang dari tadi lama juga. Sabar Faris, untung saying," gerutu Faris sambal menyusul langkah Aisha.
"Abang! Ica denger yah," tutur Aisha berbalik dan menatap tajam suaminya, membuat Faris bergidik ngeri.
Namun tiba-tiba Aisha membulatkan netranya saat melihat bercak merah di leher Faris yang terlihat sangat jelas ketika Faris mendekat ke arahnya.
Faris mengerutkan keningnya melihat sang istri yang tiba-tiba mematung dengan netra membulat sempurna.
“Kenapa Sayang? Hey, kayak liat hantu aja.” Faris mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah sang istri.
Aisha mengeluarkan cermin kecil dari sling bag-nya, mengarahkannya pada leher sang suami yang tak tertutup.
“Liat deh Bang.”
“Kirain ada apa,” jawab Faris kembali mengulas senyumnya setelah melihat bercak merah yang mulai keunguan di lehernya.
“Aduh gimana Abang? Keliatan banget lagi.” Aisha kebingungan sendiri sambil mengusap-usap bercak tersebut, berharap bisa dihilangkan.
“Coba pake ini ya.” Aisha mengeluarkan foundation miliknya, mengoleskannya pada bercak itu untuk menyamarkan keberadaannya.
__ADS_1
Faris hanya menurut saja, dan justru tersenyum sendiri melihat tingkah gemas istrinya.
“Tetep masih keliatan Bang, gimana dong?” Aisha masih kebingungan karena usahanya tenyata tak cukup membantu.
“Ya udah sih Sayang, biarin aja.”
“Biarin aja? Abang mau keluar dengan keadaan kayak gini? Orang-orang mau ngomong apa coba kalo liat?”
“Paling ngomong kayak gini ‘wih ceweknya kayaknya liar banget tuh’,” tutur Faris berbisik menggoda Aisha.
Plakkk … satu tepukan mendarat di lengan Faris.
“Ih jahat yah humairaku,” tutur Faris dengan mengusap-usap bekas tepukan Aisha, seolah-olah merasakan sakit di sana.
“Lagian Abang sih.” Aisha mencebikan bibirnya sambil mengetuk-ngetukan jarinya di dagu, mencari cara bagaimana agar bercak itu bisa tertutupi.
Matanya berbinar ketika sepertinya ia mendapatkan ide.
Aisha segera melepas jaket yang tengah Faris kenakan, membuat Faris kebingungan sendiri melihat tingkah istrinya.
“Loh kenapa dibuka di sini Sayang? Mau lagi emangnya? Semalem sama tadi pagi belum puas juga?”
“Ih Abang mesum terus deh pikirannya,” teriak Aisha yang sudah melangkah menjauh mendekati lemari. Ia terlihat memilah-milah sesuatu di sana.
“Nah ketemu!”
Aisha kembali dengan membawa jaket jeans yang sudah ia tukar dengan jaket sebelumnya. Ia bernapas lega saat akhirnya jaket jeans itu bisa menutupi bercak merah di leher suaminya dengan kerahnya.
“Udah beres.” Aisha tersenyum puas karena merasa usahanya tak sia-sia.
“Padahal nggak usah ditutupin sih Sayang, biarin aja, biar semua tuh tau kalo Abang milik Ica.”
“Idih, tapi Ica malu bawanya.”
“Ya Allah jahatnya ….”
Aisha segera berlari mendahului Faris saat melihat Faris sudah bersiap hendak menggelitikinya.
Alhasil mereka saling berkejaran membuat seisi rumah menatap kedua majikannya keheranan.
***
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1