
“Assalamualaikum warohmatulloh … assalamualaikum warohmatulloh ….”
Aisha mengusap wajahnya seusai salam, tak lupa doa-doa kebaikan ia sematkan untuk keluarga kecilnya, terkhusus untuk buah hatinya agar selalu baik-baik saja dalam rahimnya.
Setelah menyelesaikan solat dan membenahi tampilannya, Aisha tak langsung pulang, ia melangkah menuju poli kandungan untuk memeriksakan kondisi kehamilannya, meski niat awal mengajak dan memberi kejutan untuk suaminya harus tertunda.
“Nggak apa-apa sekarang periksanya sama Mami dulu ya Sayang, Papi lagi banyak kerjaan, dia belum bisa nemenin adek ke dokter.” Aisha bergumam pada perutnya, lebih tepatnya untuk menyemangati dirinya sendiri karena di awal kehamilannya justru tak ada sosok suami yang menemaninya.
“Selamat siang ….”
“Wah … Bu Faris.” Dokter itu sedikit terkejut ketika menoleh dan mendapati pasien selanjutnya adalah Aisha, istri dari dokter bedah terbaik sekaligus penanam saham terbesar di Rumah Sakit ini.
“Selamat siang Dok ….” Aisha tersenyum ramah menanggapi sapaan dokter yang di jas putihnya itu tertulis nama ‘Fara’.
“Suatu kehormatan bagi saya bisa menangani Bu Faris.”
“Ah biasa saja Dokter.” Aisha merasa canggung jika diperlakukan seperti itu, itulah mengapa Aisha sempat berpikir tidak ingin memeriksakan kandungannya di Rumah Sakit tempat suaminya bekerja, hanya saja di sinilah Rumah Sakit dengan penanganan terbaik di kotanya.
Dokter Fara tersenyum ramah dan segera menggiring Aisha agar berbaring kemudian ia segera memeriksanya.
“Wah … selamat ya Bu, Faris junior sudah bersemayam di sini. Usianya sudah menginjak lima minggu Bu. Lihatlah, dia masih sangat kecil Bu.”
Aisha sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat ke layar monitor yang menampakkan gambar calon bayinya yang sudah bersemayam di sana.
“Iya terima kasih Dokter. Bagaimana keadaan kandungan saya Dok? Semuanya baik-baik aja kan?”
“Tenang saja Bu, si adek kuat kok kayak Papanya. Dia sangat sehat,” ujar Dokter Fara sambil membantu Aisha duduk kembali.
Ucapan hamdalah tak henti-hentinya Aisha rapalkan ketika mendengar kandungannya dalam keadaan baik-baik saja.
“Em … Dokter, boleh saya minta hasil USG-nya Dok?”
“Tentu saja Bu, sebentar ….”
“Terima kasih Dokter.” Aisha kembali turun dari ranjang dengan dibantu oleh dokter Fara setelah menerima hasil USG-nya.
“Apa ada keluhan Bu selama masa kehamilan?” Dokter Fara bertanya ketika melihat kondisi Aisha yang segar bugar tak seperti kebanyakan wanita mengandung yang akan merasa sangat payah di awal masa kehamilannya.
“Nggak ada sih Dok, mual juga saya biasa aja, nggak terlalu repot. Palingan kalo pagi sama kalo nyium bau yang agak menyengat aja.” Aisha menjawab apa adanya.
“Wah sepertinya si adek nggak mau merepotkan Mamanya ya.”
Aisha tersenyum mendengar penuturan Dokter Fara.
__ADS_1
“Saya bingung harus ngomong apa ini Bu, tidak perlu saya beritahu pun pasti Ibu dan Bapak sudah sangat pandai menjaga si adek nantinya,” seloroh Dokter Fara sambil menuliskan resep untuk Aisha.
“Semoga saja ya Dokter.” Aisha mengaminkan ucapan Dokter Fara.
“Ibu ke sini sendirian?” Dokter Fara bertanya ketika tak melihat sosok Faris menemani istrinya.
“Ah iya Dokter, suami saya masih ada operasi.” Aisha menjawab dengan sendu.
“Saya paham betul kesibukan Dokter Faris, ya beginilah tugas kita sebagai tenaga medis Bu, terkadang saya juga merasa sedih karena minim sekali waktu dengan keluarga. Tapi jangan terlalu dipikirkan ya Bu, Ibu nggak boleh stress.” Dokter Fara berujar seolah memahami kegundahan Aisha saat ini.
“Baik Dokter, terima kasih. Kalo gitu saya permisi.” Aisha mencoba tersenyum ramah sebelum meninggalkan ruangan itu.
Ketika keluar, Aisha melirik orang-orang yang tengah mengantri di kursi tunggu, hampir semua dari ibu-ibu di sana didampingi oleh suami mereka yang dengan sabar menanggapi segala keluhan dari istrinya yang mungkin sedikit rewel pada masa kehamilannya.
“Kamu jangan sedih ya Sayang, Papi juga ada di sini kok, cuma beda ruangan aja sama kita.” Lagi-lagi hanya itu yang bisa keluar dari mulut Aisha untuk menyemangati dirinya sendiri.
“Kita langsung pulang Nyonya?” Roger bertanya ketika sudah duduk di balik kursi kemudi.
“Kita ke mall sebentar ya, ada yang mau saya beli.”
Tentu saja ia hanya bisa mengangguk mengikuti permintaan Nyonya mudanya.
Aisha tak terlalu fokus memperhatikan jalanan, sedari tadi ia hanya memandangi kertas putih dengan gambar janin yang masih teramat kecil di sana. Hingga tiba-tiba Roger sudah menghentikan mobilnya di depan salah satu pusat perbelanjaan.
“Kamu tunggu di sini aja Ger, saya cuma sebentar kok.” Aisha berujar ketika Roger membukakan pintu untuknya.
***
Sesuai yang dikatakannya, Aisha kini sudah selesai dengan acara belanjanya yang memang hanya berniat membeli beberapa dus susu juga biskuit untuk ibu hamil.
Bugh … tiba-tiba Aisha menabrak seseorang ketika tengah berusaha mengambil ponselnya yang berdering.
“Maaf maaf Mas ….” Aisha segera berjongkok untuk memunguti belanjaannya yang sudah berserakan.
“Sha … kamu hamil?” Seseorang itu bertanya ketika mendapati seluruh kantong belanjaan Aisha hanya berisi biskuit dan susu kehamilan.
Aisha sontak mengangkat wajahnya saat mendengar suara itu terasa tak asing di telinganya. Dan benar saja, ternyata itu adalah Azka yang kini sudah ikut berjongkok membantunya membereskan belanjaan.
“Ah Aisha duluan ya Mas. Sekali lagi, maaf.” Aisha berujar tanpa menjawab pertanyaan Azka, ia justru membenahi belanjaannya dengan tergesa juga mengambilnya dari tangan Azka lantas bangkit tak memberikan Azka kesempatan untuk menjawab.
“Sha ….” Panggilan itu mampu menghentikan langkah Aisha.
“Kamu sendirian?” Azka bertanya ketika tak mendapati siapapun bersama Aisha.
__ADS_1
“Nggak kok, dianter sopir,” jawab Aisha menunjuk dengan dagunya ke arah Roger yang tampak sudah siaga di depan mobilnya.
“Oh ….” Azka mengangguk mengerti.
Sepertinya Faris memang menjaga Aisha dengan baik, setidaknya Azka kini bisa bernapas lega karena mengikhlaskan Aisha pada orang yang tepat. Namun sampai kapanpun cinta tetaplah cinta, Azka sudah berjanji terhadap dirinya sendiri jika ia adalah orang pertama yang akan berdiri melindungi Aisha ketika ada yang berusaha menyakitinya, bahkan jika itu Faris sekalipun
Aisha hanya tersenyum lantas segera berbalik dan kembali melangkah.
“Hati-hati ….” Hanya itu yang bisa Azka ucapkan ketika melihat Aisha mulai menjauh ke arah pintu.
“Makasih Mas.” Aisha berujar dengan lirih yang tak mungkin bisa Azka dengar.
“Senyum itu yang buat aku selalu susah lupain kamu, Sayang.” Azka bergumam ketika bayangan Aisha sudah tak lagi nampak, dan panggilan itu juga hanya bisa ia ucap untuk dirinya sendiri.
“Selamat ya sebentar lagi kamu akan jadi ibu, beruntung sekali anak yang kelak akan terlahir dari rahim wanita sesempurna kamu Sha.”
Aisha bukan berniat untuk menyembunyikan kehamilannya dari siapapun, termasuk Azka sekalipun. Ia hanya tidak ingin orang lain yang mengetahui lebih dulu ketika ayah dari anaknya sendiri justru belum mengetahui tentang ini.
“Kita langsung pulang, Nyonya?”
“Iya.”
Aisha segera merogoh ponselnya saat tadi sempat terlupa bahwa ponsel itu berdering hingga ia tak sengaja harus bertabrakan dengan sang mantan.
Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari ibunya.
“Halo Bu, Assalamualaikum ….” Aisha berujar ketika panggilannya dijawab tepat pada dering kedua.
“Waalaikumsalam Sayang, kamu di mana? Ini ibu sudah di rumah kamu.” Suara Maya terdengar jelas dari balik ponselnya.
“Ah iya maaf Bu, ini Aisha lagi di jalan pulang kok. Lima belas menit insyaAllah Aisha nyampe.”
“Oh ya sudah, ini Ibu sudah bawakan makanan kesukaanmu dan Faris. Ibu tunggu di rumah ya Sayang.”
“Ya Allah Ibu kenapa mesti repot-repot segala sih.” Aisha merasa tak enak karena selalu merepotkan ibunya, bagaimanapun ia sekarang adalah wanita yang sudah berkeluarga, tentu saja ia harus lebih mandiri dalam hal apapun.
“Anggap saja ini untuk merayakan kepulangan kalian. Ya sudah Ibu tutup dulu ya, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warohmatulloh ….”
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...