Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Sesejuk Embun Pagi


__ADS_3

Mentari baru saja kembali ke peraduannya, menyisakan temaram yang masih sunyi seperti biasanya. Hanya terdengar rintik hujan di luar menemani dua insan yang tengah bersimpuh di atas sajadah.


Karina tampak menitikan air mata kala mengamini Azka yang melantunkan asma-Nya, ia sadar betapa selama ini ia telah larut dan terjerat dalam gelimangan dosa.


Karina sudah jarang sekali bahkan akhir-akhir ini hampir tidak pernah lagi menunaikan solat berjamaah yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim.


Ada rasa sejuk dan tenang kala ia mencurahkan segala permohonan maaf dan menyadari kesalahannya kepada Sang Pencipta, hatinya terasa begitu lega, hingga ketika Azka mengakhiri doanya Karina masih tetap larut dalam nestapanya.


Azka yang merasa bingung ketika melihat Karina tengah terisak sambil menutup wajahnya mencoba mendekat, memperhatikan apa gerangan yang membuat gadis yang selalu bar-bar di hadapannya itu justru terlihat amat rapuh dalam sendunya.


Sepersekian menit Azka masih sabar menunggu Karina menyelesaikan isaknya.


Karina yang penasaran karena merasa tak ada respon apapun dari Azka membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya, betapa terkejutnya ia bahwa ternyata Azka sudah ada di hadapannya, menatapnya dengan raut yang sulit diartikan.


“Udah?” tanya Azka ketika Karina membuka tangannya.


Karina yang ditanya justru tidak menjawab, ia sibuk mengusap air mata yang bersimbah di wajahnya.


“Kalo udah tenang, saya tunggu di ruang makan,” tutur Azka seraya beranjak meninggalkan Karina yang masih terduduk di atas sajadahnya.


***


Malam yang semakin larut tak benar-benar hening bagi mereka yang tengah saling menyalurkan kerinduan, mengkondisikan detak jantung masing-masing agar iramanya tak sampai mencuat keluar dada.


Aisha tengah bersusah payah menahan napas karena Faris yang tiba-tiba merebahkan diri di pangkuannya, pun dengan Faris yang sebenarnya detak jantungnya tak baik-baik saja lebih memilih untuk memejamkan matanya.


Perlahan jemari Aisha memberanikan untuk menyusuri wajah Faris di pangkuannya, membelai lembut rambut yang terasa menggelitik menembus gamisnya.


“Bang,” panggil Aisha membuka percakapan.


Faris yang masih memejamkan matanya hanya menjawab dengan deheman.


“Abang kan udah janji sama Ica mau cerita kenapa Abang tiba-tiba bisa tau keberadaan Ica, tiba-tiba ngelamar Ica, atau jangan-jangan ibu yang ...,” tutur Aisha yang terhenti karena Faris yang tiba-tiba bangkit membungkam bibir mungil Aisha dengan lembutnya sapuan bibirnya.


“Malem ini humairaku bener-bener bawel ya,” tutur Faris lembut membelai wajah istrinya yang sudah lebih dulu merona.


“Ab ...,” lagi-lagi kalimat Aisha terhenti oleh bungkaman bibir Faris.


Faris yang terlihat seperti baik-baik saja kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Aisha.


“Apa yang ditakdirkan menjadi milik kita tak akan melewatkan kita, begitupun sebaliknya. Sejauh apapun Ica pergi dari Abang, Allah selalu punya cara untuk menyatukan yang berjodoh. Karena di lauhul mahfudz sana namamu yang bersanding dengan namaku,” tutur Faris menetap lekat manik mata humairanya.


“Sejak kapan Abang mulai suka sama Ica?” tanya Aisha memberanikan untuk membalas tatapan lelaki di pangkuannya.


“Sejak Allah menakdirkan kita bertemu.”

__ADS_1


“Jadi cinta pandangan pertama? Secepat itu? Kok bisa?”


Faris menggeleng lalu tersenyum mendengar deretan pertanyaan Aisha.


“Karena cinta tak butuh sebuah alasan.” Lagi-lagi jawaban Faris mampu membungkam Aisha.


“Kan Ica nggak pernah bilang ke siapapun kemana Ica pergi, kecuali sama ibu. Apa Abang tau keberadaan Ica dari ibu?”


Lagi-lagi Faris menggeleng, ia bangkit untuk duduk menyejajarkan tubuhnya dengan Aisha yang bersandar di kepala ranjang, lalu mulai mengingat-ingat hari dimana dirinya berhasil menemukan Aisha dengan mudahnya.


Flashback on


“Mba Aisha maksudnya Gus?” tanya Rini menebak.


Faris yang mendengar nama Aisha disebut segera memalingkan wajah yang sejak tadi memandang ke arah lain.


Seketika bayangan masa lalu tentang Aisha terputar kembali dengan jelas, bahkan kini jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya dengan hanya mendengar nama Aisha yang entah Aisha mana yang dimaksudkan.


Tetapi apakah itu Aisha yang Faris kenal? Aisha Ameera Al-Insani, wanita pujaannya yang sampai sekarang masih terselip namanya di setiap sepertiga malamnya. Jika memang iya apa Faris masih boleh merindukannya?


“Iya itu maksudnya Mba,” jawab Gus Fakih antusias membuat Faris tersadar dari pikirannya.


Sepeninggal Rini dari hadapannya, bunyi genderang di hatinya semakin meronta-ronta, harap-harap cemas seraya menunggu kedatangan Aisha yang dimaksudkan.


Sudah hampir 2 tahun Aisha meninggalkan Faris tanpa kabar, meninggalkan sejuta tanya juga luka, bahkan keberadaannya pun Faris tak mengetahuinya.


Tapi tak ada yang berubah dari wanita yang hingga kini selalu menginvasi prajanya, hanya terlihat tampilannya yang semakin menawan dengan pakaian syar'inya yang dikenakan.


Hati Faris menyejuk seperti terguyur embun pagi, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan karena dapat melihat kembali Aisha wanita pujaannya.


Tapi Faris tak kuasa untuk menghadirkan pertemuan, ia lebih memilih mundur diam-diam dari pada harus kembali kehilangan. Baginya, sudah lebih dari cukup dengan mengetahui bahwa Aisha baik-baik saja.


“Fakih, Om Faris mau nelepon dulu yah, Fakih main dulu sama Mba Ica,” tutur Faris pada keponakan kecilnya.


“Jangan lama-lama yah Om,” jawab Gus Fakih merajuk.


“Iya Insya Allah nanti Om cepet balik lagi.”


Faris segera menjauh sebelum Aisha menghampiri keduanya, tanpa ada yang tahu diam-diam ia mengamati Aisha dari kejauhan.


Flashback off


“Kenapa Abang nggak pernah terus terang tentang perasaan Abang yang sebenernya sama Ica? Dan kenapa juga Abang malah menghindar waktu tau keberadaan Ica?”


“Karena komitmen rasa itu atas nama dua hati, bukan egois dengan memaksa hati untuk menjadi seperti yang diingini, sedangkan waktu itu Abang tau kalo salah satu alasan Ica pergi adalah buat memperbaiki diri. Bisa saja Ica akan merasa terbebani jika saat itu Abang mengutarakan yang sebenarnya, karena Abang tau Ica belum sepenuhnya bisa menutup luka karena Azka. Maka Abang lebih memilih untuk kembali menunggu lalu memantapkan hati meminta Ica pada yang lebih berhak atas diri Ica.”

__ADS_1


Aisha menatap lelaki di sampingnya tak percaya, ada haru yang juga menelusup hatinya, tak menyangka jika ternyata cinta Faris benar-benar setulus dan sebesar itu terhadapnya.


“Jadi yang ngekhitbah Ica lewat Kyai Safar juga Abang?”


Faris hanya mengangguk, lalu kembali merebahkan diri di pangkuan Aisha.


“Gimana ceritanya? Kok tiba-tiba gitu?” tanya Aisha semakin antusias.


“Beneran pengen tau?” tanya Faris yang langsung diangguki Aisha dengan semangat.


“Sekali dulu,” jawab Faris sambil mengetuk-ketukan telunjuknya di pipinya.


“Apa?” jawab Aisha polos.


Cup, Aisha membulatkan matanya, lagi-lagi terkejut ketika Faris tiba-tiba memberikan kecupan singkat di pipinya yang semakin merona.


“Kayak gitu,” ucap Faris enteng.


“Ih nggak ah,” jawab Aisha yang semakin merona.


“Waktu itu bilangnya sama Bunda mau jadi pendamping yang solehah buat Abang,” jawab Faris kembali mengingatkan Aisha saat dirinya meminta izin pada kedua mertuanya di atas kuburnya.


“Ih Abang … jangan diinget-inget, Ica malu.”


“Ih kok jadi pemalu sih, nggak seru.”


“Tapi janji lanjutin ceritanya,” tutur Aisha yang langsung diangguki dengan semangat oleh Faris.


Perlahan Aisha menurunkan wajahnya, mendekatkan bibirnya pada salah satu pipi Faris, namun bukan Faris jika tak memiliki akal untuk mengambil kesempatan.


Faris segera memalingkan wajahnya sehingga justru bibir Aisha mendarat tepat di bibirnya. Aisha yang merasa terkejut segera kembali menarik wajahnya, namun kalah cepat dengan pergerakan tangan Faris yang sudah lebih dulu menahan tengkuk Aisha agar tak melepas kecupan mereka.


Aisha hanya pasrah mengikuti permainan Faris, menikmati yang awalnya hanya sebuah kecupan kini justru semakin panas menjadi pagutan yang memabukan.


Setelah dirasa Aisha kehabisan napas, Faris melepaskan bibirnya.


“Abang curang ih,” gerutu Aisha memukul pelan bahu Faris.


“Tapi Ica suka?” tanya Faris menggoda.


“Ih tetep aja Abang yang menang banyak,” jawab Aisha menutupi rona di pipinya yang seketika mengundang tawa Faris di pangkuannya.


 Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2