
Aisha menyusuri perlahan satu persatu anak tangga menuju dapur, sengaja ia pelankan derap langkahnya karena khawatir akan mengusik tidur sang ibu yang memang letak kamarnya tepat di ujung tangga.
“Astaghfirullah!” pekik Aisha seketika menghentikan langkahnya kala melihat sosok putih tengah berdiri memunggunginya.
“Nyari apa Sayang?” pertanyaan itu membuat Aisha membuka netranya perlahan.
“Ibu?” Aisha baru bisa bernapas lega saat tahu sosok putih tadoi adalah sang ibu yang memakai mukena tengah mengambil segelas air di dapur.
“Lah emang dikira siapa?” Maya justru kebingungan sendiri melihat reaksi putrinya yang masih mematung di ujung tangga.
“Aisha kira siapa, ngagetin aja deh Ibu,” jawabnya masih dengan dada yang naik turun karena terkejut sekaligus ketakutan.
Sedangkan Maya hanya tertawa melihat reaksi Aisha yang seperti melihat hantu.
“Tumben jam segini turun ke dapur? Kalian laper?” tanya Maya meneguk segelas air di tangannya.
“Ah Bang Faris yang laper Bu, lupa dia tadi terakhir makan pas lagi North Quay.”
“Loh kapan pulang dia? Kok Ibu nggak denger yah.”
“Katanya sih baru aja Bu, Aisha juga ketiduran jadi nggak tau deh.”
“Ya udah gih bikinin makanan dulu suamimu, kasian jangan sampe kelamaan. Bikin sandwich sama susu aja biar cepet,” ujar sang ibu sebelum beranjak kembali ke kamarnya.
“Siap Ibuku sayang.”
Aisha segera berkutat menyiapkan bahan-bahan seperti yang ibunya arahkan. Beberapa potong sandwich keju kesukaan suaminya dan segelas susu sudah berpindah ke piring di tangannya, dengan segera ia kembali ke kamar khawatir Faris menunggunya terlalu lama.
“Assalamualaikum.” Perlahan Aisha membuka pintu kamarnya yang sedikit melongo.
Aisha membuka pintu ketika salamnya tak mendapati jawaban, ternyata ia mendapati suaminya tengah bersujud di atas sajadahnya, ada sesuatu yang seperti menggelitik hatinya melihat pemandangan itu. Suaminya itu memang selalu menjaga ibadahnya meski sesibuk dan selelah apapun dirinya. Itulah yang membuat Aisha selalu merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena bisa terpilih menjadi pendamping dari seorang Faris Zein Abdullah, sosok yang amat sempurna menurutnya.
“Terima kasih telah Engkau karuniakan padaku sosok imam yang selalu menjaga hubungannya dengan-Mu Ya Allah,” lirih Aisha sebelum akhirnya meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja dan memutuskan untuk mengambil air wudu untuk mendirikan solat malamnya.
“Ica mau juga nggak Sayang?” pertanyaan itu membuat Aisha yang tertunduk berdoa setelah wudu mendongak.
“Nggak ah buat Abang aja, Ica masih kenyang kok,” tolaknya halus.
“Padahal ini enak banget loh Sayang,” ujar Faris seraya mengunyah sandwich yang sudah berpindah ke tangannya.
“Udah tau yey, kalo Ica yang bikin emang pasti enak,” pujinya melangkah mendekati sang suami.
“Dih masa?”
__ADS_1
“Iya dong,” jawab Aisha penuh percaya diri.
“Emang istriku terbaik banget.”
“Baru nyadar Bos?” goda Aisha kembali membuat Faris sontak tergelak bahkan hamper tersedak makanannya sendiri.
“Abang abisin dulu makannya, Ica mau solat dulu,” ujarnya seraya memakai mukenanya bersiap untuk solatnya.
“Siap Bidadariku!” jawab Faris membuat Aisha menyunggingkan senyumnya saat hendak mengangkat tangannya bertakbiratul ihram.
***
“Kita langsung ke Hagia Sophia aja, biar sekalian nanti aku solat jumat di sana,” ujar Gus Hasan setelah melirik jam yang melingkar di tangannya.
“Nggak di Blue Mosque aja?” tanya Ayla menoleh.
Gus Hasan hanya menggeleng.
“Aku ingin merasakan suasana Hagia Sophia setelah dialih fungsikan menjadi majid.”
“Oh ok,” jawab Ayla kembali menatap perairan yang luas.
“Kamu setuju Hagia Sophia kembali dijadiin masjid?” tanya Gus Hasan membuat Ayla kembali menoleh.
Gus Hasan mengangguk paham. “Ya, itu merupakan langkah besar dalam sejarah kebangkitan islam.”
“Itu juga yang membuatku semakin cinta dengan negara ini setelah Indonesia. Meski banyak pihak yang menentang keputusan itu, bahkan UNESCO sekalipun, tapi Presiden Erdogan sama sekali nggak gentar, beliau bahkan tetap pada keputusannya,” tutur Ayla memuji keputusan sang Presiden.
“Hagia Sophia adalah milik Turki, jadi Turki berhak mengubahnya kembali menjadi masjid. Bahkan negara Uni Eropa manapun nggak bisa memaksa buat ngebatalin keputusan itu,” imbuh Gus Hasan menyetujui pendapat Ayla.
“Beruntung waktu itu aku ada di sana menyaksikan adzan pertama di Hagia Sophia setelah delapan puluh enam tahun menjadi museum. Rasanya seperti terlahir kembali menyaksikan ratusan ribu umat muslim memadati pelataran Hagia Sophia turut melaksanakan solat jumat yang perdana di sana.” Pandangan Ayla menatap jauh menerawang kejadian waktu itu, ia menyaksikan momen sakral spesial itu Bersama kakak tercintanya.
“Aku iri sama deh sama kamu, andai aku dateng lebih awal waktu itu, pasti seneng rasanya menyaksikan langsung kebangkitan islam di depan mata,” seloroh Gus Hasan mengeratkan mantelnya, tak membiarkan hawa dingin turut menyelusup ke tubuhnya.
***
Selesai menyiapkan perlengkapan suaminya untuk ke Rumah Sakit, sekitar pukul tujuh Aisha turun ke lantai bawah. Ibunya sudah berkutat dengan dapur entah sejak kapan.
“Ica bantuin apa nih Bu? Tanya Aisha seraya memeluk pinggang Ibunya yang mulai merenta.
Jika orang-orang bilang bahwa seorang ibu adalah hidup bagi anaknya dan ayah adalah napasnya, menurut Aisha ibunya adalah hidup sekaligus napasnya. Dan ayahnya adalah kenangan yang harus ia ikhlaskan bahkan sebelum kehadirannya sempat ia srasakan.
Sejak kecil Aisha hanya bisa menatap nanar ketika teman-teman seumurannya diantar jemput ke sekolah oleh ayah mereka, ia tak tahu bagaimana rasanya itu semua. Bukan ia tak merasa iri pada anak-anak lainnya karena selalu memasang tameng seolah baik-baik saja, Aisha hanya berusaha untuk tak semakin membebani ibunya yang selalu berjuang luar biasa untuknya dengan keluhan-keluhannya karena merasa tak punya ayah. Bagi Aisha ibunya adalah segalanya, melebihi apapun di dunia ini.
__ADS_1
“Duduk dan makan aja Sayang, panggil suamimu sekalian,” jawab Maya dengan suara lembutnya mengusap punggung tangan Aisha yang masih melingkari pinggannya.
“Ih Ibu, Aisha kan udah gede, Aisha juga pengen jadi anak sekaligus istri yang berbakti,” keluhnya menegakkan tubuhnya.
Maya tersenyum melihat putrinya yang kini benar-benar telah menjadi seorang istri. Semoga rumah tangga putrinya selalu dilindungi oleh Allah juga selalu dilimpahkan kebahagiaan, doa itu yang selalu Maya panjatkan di setiap sujud panjangnya.
“Ya udah nih bantuin Ibu buat masak sayur sopnya,” ujar Maya menggeser tubuhnya memberikan tuang untuk putrinya semakin bereksplorasi.
“Siap Ibu ratu!” jawab Aisha dengan semangat sebelum akhirnya berkutat dengan bahan-bahan yang ada.
Hampir satu jam kedua wanita itu berkutat di dapur, beberapa jenis makanan pun sudah tertata rapi di atas meja. Roti dengan berbagai selai lengkap dengan tiga gelas susu di depan kursi masing-masing. Tak lupa cumi asam manis kesukaan Faris pun tersaji dengan sempurna, khusus Aisha yang memasak tanpa bantuan sang ibu. Sedangkan masakan-masakan yang lainnya dikerjakan berdua dengan ibunya.
“Emmm wangi banget nih.” Tiba-tiba suara bariton itu terdengar derapnya mendekati keduanya yang masih sibuk dengan tatanan di atas meja.
“Hebat deh dua ratuku ini, cup, cup.” Masing-masing kecupan mendarat di pipi kedua wanita hebat dalam hidup Faris saat ini.
Aisha segera menyiapkan piring dan menyendokkan nasi untuk suaminya yang sudah terduduk di kursinya.
“Oh ya nanti Ibu ikut pulang aja ya sama kita? Insya Allah besok walimatussafar di rumah biar semuanya ngumpul,” ujar Faris di sela makannya.
“Iya siap Sayang. Oh ya keluarga di Yogya udah dikabarin belum?”
“Udah Bu, Insya Allah besok pagi mereka nyampe,” jawab Faris kembali melanjutkan makannya.
“Ibu beneran nggak ikut Bu?” tanya Aisha menjeda makannya.
“Iya Bu, padahal kita berangkat bareng-bareng kan seru Bu,” imbuh Faris menyetujui penuturan istrinya.
“Kalian enjoy aja Sayang, Ibu di rumah aja nungguin kabar baik dari kalian,” tolak Maya lembut.
“Apaan tuh Bu?” tanya Faris tetap fokus pada makanannya.
“Bawa cucu dong buat Ibu,” seloroh Maya membuat Faris dan Aisha seketika tersedak makanan mereka, Aisha bahkan wajahnya sudah bersemu merah.
“Loh apa yang salah? Itu kan yang diharepin dari orang yang pergi honeymoon?”
“Iya iya siap Ibu ratu,” jawab keduanya bersamaan.
Ketiganya kembali melanjutkan sarapan mereka dengan saling bercengkerama satu sama lain, mungkin membuat iri bagi siapapun yang memandangnya. Pasalnya keluarga kecil mereka memang selalu harmonis dan bahagia, meski sebenarnya masing-masing dari mereka sama-sama tengah berusaha berdamai dengan luka yang masih cukup menganga.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...