Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Abang gagal buka puasa


__ADS_3

“Oh oke, langsung ke apartemen aja. Kebetulan saya juga baru nyampe.”


“…”


“It's okay, see you.” (Nggak apa-apa, sampe ketemu)


Faisal yang baru saja memarkirkan Tesla hitamnya langsung bergegas meninggalkan basement, menekan beberapa angka sebelum memasuki lift.


“Oh wow!”


Faisal cukup terkejut dengan keadaan dapur apartemennya yang sudah seperti terkena gempa, porak poranda tak jelas rupanya.


Seorang gadis dengan santainya tengah menyantap makanannya di mini bar yang tepat berada di samping meja makan.


“Kamu masih mabok Dek?” tanya Faisal mendekat, menyentuh kening sang adik. Ya siapa lagi jika bukan Hulya Ayla Filiz.


“Aku tuh laper Kak, nyari-nyari makanan nggak ada yang bisa dimakan. Ya udah bikin sendiri,” jawab Ayla dengan tenangnya masih menyantap sajian hasil karyanya.


“Iya Kakak emang belum sempet belanja. Btw emang kamu bikin apa?” Faisal melongok mencoba melihat apa yang tengah Ayla santap.


“What? Cuma mie instan? Bikin beginian doang kamu nyampe ancurin dapur Kakak, Dek?”


Yang ditanya hanya nyengir kuda mengacungkan dua jarinya untuk menutupi wajah berdosanya.


“Kakak kayak nggak tau aku aja deh. Emang selama kita hidup bareng Kakak pernah liat aku masak selain masak mie instan?” ujarnya mencebikkan bibir.


Sebenarnya di sini siapa yang dirugikan sih? Kenapa malah jadi adiknya itu yang ngegas? Faisal jadi pusing sendiri, ah sudahlah mungkin efek alkohol semalam belum sepenuhnya hilang.


“Iya iya terserah kamu lah Dek, mau kamu robohin apartemen Kakak juga boleh. Kakak mau mandi dulu.”


Faisal memang tipe pria yang sangat menyayangi keluarga, lihatlah apapun akan ia lakukan demi orang-orang yang disayanginya, contohnya seperti adik semata wayangnya itu.


Tok, tok, tok ….


Ayla yang masih berkutat dengan mie instan nya sebenarnya malas sekali harus beranjak untuk sekedar membukakan pintu, tapi hanya ia yang berada di situ, kakaknya tampaknta belum selesai dengan ritual mandinya.


“Ck, sore-sore gini nganggu orang aja! Awas aja kalo cuma cewek-cewek kegenitan yang udah kena pesona kakak gue, terus rebutan pengen dinikahin. Dih geli gue liatnya.” Sepanjang jalan Ayla terus saja menggerutu.


Ayla memang paling tidak suka jika kakak satu-satunya itu sudah menjadi bahan rebutan para kaum hawa. Ia jadi risih sendiri.


Dengan malas Ayla membukakan pintu tanpa berniat melihat siapa yang datang, wajahnya bahkan sudah ia alihkan untuk memandang ikan-ikan yang tengah asyik berenang ke sana kemari di dalam aquarium di sudut ruangan.


“Kebetulan banget kita ketemu di sini.”


Suara itu sontak membuat Ayla mengangkat wajahnya, dan benarlah sekujur tubuh Ayla rasanya seperti kaku ketika mengetahui siapa yang datang, seperti ada lem di bawah kakinya yang membuatnya tak mampu untuk sekedar bergeser, apalagi beranjak.


“What the fu….” Ayla segera menutup mulutnya sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, dengan mata yang sudah membulat sempurna tentunya.


***


Faris menengadahkan wajahnya yang tengah rebahan di pangkuan sang istri di balkon resort, sejak tadi Faris tak henti-hentinya memandangi wajah Aisha yang masih berbinar dengan senyum yang selalu mengembang meski ia bangun tidur.


“Abang cemburu deh sama bukit-bukit itu Ca,” ujar Faris sontak membuat Aisha menunduk untuk melihat wajah sang suami.


“Dih nggak elit banget cemburu kok sama bukit-bukit yang diem nggak bisa ngapa-ngapain,” jawab Aisha mencubit gemas pipi Faris yang dibuat seperti ikan kembung.


“Abis Ica liatin terus sih, Abang aja nggak pernah tuh diliatin sampe segitunya sama Ica.”

__ADS_1


“Abang itu udah melekat sempurna di hati dan pikiran Ica, jadi mau Ica merem pun, Ica bakalan hapal semuanya tentang Abang.” Sontak hal itu membuat lengkung indah di sudut bibir Faris semakin kentara.


“Cie udah bucin nih sekarang,” goda Faris sontak membuat Aisha memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah jambu di pipinya.


Faris melirik Mont Blanc hitam yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.


“Masuk yu Yang,” ajak Faris segera bangkit.


“Ish Ica masih pengen liatin itu dulu Bang,” rengek Aisha menunjuk barisan-barisan bukit yang mempesona.


Tanpa ba bi bu, Faris segera mengangkat sang istri menuju kamar mereka lantas menutup pintu dengan salah satu kakinya.(Rusuh sekali Abang ini 🤣)


“Abang!” pekik Aisha terkejut karena tubuhnya melayang, ia sontak mengalungkan lengannya agar tak jatuh.


“Abang kangen banget sama Ica,” lirih Faris setelah menidurkan Aisha di ranjang, netranya tak beralih sedikit pun dari wajah indah yang kini berada di bawahnya.


Aisha mengernyitkan dahinya bingung, kangen? Bukankah mereka selalu bersama setiap waktu?.


“Kan kemaren selama di Haramain Abang puasa,” ujar Faris seolah memahami raut sang istri yang penuh tanya.


Kini Aisha paham kemana arah pembicaraan sang suami, terdengar dari suaranya yang seperti tercekat sedang menahan sesuatu.


“Abang ih badan Ica lengket banget nih delapan jam di pesawat.”


Aisha menahan dada Faris agar tak menindih sempurna ke tubuhnya sambil berusaha menggeleng-gelengkan kepalanya menghindari kecupan sang suami.


“Terus? Mau mandi bareng?” tanya Faris dengan satu tangannya menahan kepala Aisha agar tak banyak bergerak.


“Dih nanti keburu subuh kalo barengan. Abang nggak mau makan dulu atau apa gitu? Biar Ica mandi dulu.”


Tok, tok, tok ….


“Shit!” Faris sontak mengumpat saat mendengar ketukan pintu yang telah berhasil mengganggu kesenangannya.


Siapa yang tidak akan kesal ketika hasrat sudah di ubun-ubun tapi tiba-tiba harus dihentikan.


“Abang!” sergah Aisha cukup kesal dengan kebiasaan suaminya yang satu ini.


Faris memang terkadang masih suka mengumpat ketika merasa tidak senang dengan sesuatu, meskipun menggunakan bahasa Inggris namun tetap saja Aisha merasa tak suka.


“Hehe, maaf Yang.” Faris hanya nyengir kuda menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil beranjak membukakan pintu, melihat siapa gerangan yang sudah mengganggunya.


“Wait a minute,” ujar Faris sedikit berteriak karena ketukan yang masih belum berhenti. (Tunggu sebentar).


“Awas aja kalo nggak penting! Gue bogem tuh orang.” Faris masih saja menggerutu sepanjang jalan, sengaja ia pelankan suaranya agar tak sampai terdengar oleh humairanya yang bisa mencak-mencak jika tahu.


Pip … pintu terbuka saat Faris memasukkan kartu aksesnya.


“Good morning Sir, do you like the resort?” (Selamat malam Tuan, apa anda menyukai penginapan ini?)


Seorang pria berseragam pelayan berdiri dengan ramahnya menyapa Faris.


What? Pagi buta begini mengganggu kesenangannya hanya untuk menyapa?. Faris sudah benar-benar keki setengah mati.


“Yeah of course, this resort is perfect. I liked it,” jawab Faris seramah mungkin. (Ya, tentu saja, penginapan ini sangat sempurna. Saya menyukainya)


Faris cukup terkesan dengan pelayanan di resort ini yang sangat ramah, meskipun pagi buta begini tapi tak menyurutkan mereka untuk memberi pelayanan sebaik mungkin kepada tamunya yang baru saja tiba.

__ADS_1


“So, is there anything I can do for you? Like a meal or something else?” (Lalu apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk anda? Seperti makanan atau sesuatu yang lain?)


“Oh nothing. I just need to sleep now,” jawab Faris sedikit menekankan kata ‘sleep', berharap pelayan itu peka dan segera enyah dari hadapan Faris. (Oh tidak ada, saya hanya butuh tidur untuk saat ini)


“Sure, have a nice day, Sir.” (Baiklah, selamat menikmati hari anda, Tuan)


Ternyata pelayan itu cukup peka, sesuai dengan harapan Faris dan benar-benar menghilang dari hadapan Faris dengan ramah.


Dengan semangat empat lima Faris segera berlari ke kamarnya, namun ternyata ia tak mendapati istrinya di pembaringan.


Faris mendengar suara air dari dalam kamar mandi, dengan cepat ia bergegas untuk bergabung, tapi sepertinya keberuntungan sedang tak memihak dirinya, Aisha mengunci pintunya.


“Yah Sayang, kok dikunci sih pintunya?” rengek Faris dengan wajah melasnya yang sudah menempel sempurna di pintu kamar mandi.


“Ica bentar lagi selesai kok Bang,” teriak Aisha mengalahkan suara air dari shower.


Demi apapun Aisha benar-benar sudah tak tahan dengan tubuhnya yang merasa benar-benar lengket, karenanya ia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu agar merasa nyaman sambil menunggu suaminya yang menerima tamu.


“Ah curang nih, padahal Abang pengen mandi bareng,” ujar Faris sedikit berteriak pula.


Pupus sudah harapan Faris untuk buka puasa pagi itu, ia berjalan gontai ke arah pembaringan, menunggu sang istri untuk bergantian membersihkan diri.


Di dalam kamar mandi Aisha terkikik geli, membayangkan wajah melas suaminya yang pasti layu seperti tanaman-tanaman di halaman rumahnya jika pelayan lupa menyiram. Ia jadi sedikit merasa bersalah, dengan cepat ia segera menyelesaikan ritual mandinya, berharap sang suami tak murka terhadapnya.


Hingga Aisha benar-benar selesai dan keluar, ternyata suaminya sudah memejamkan netranya dengan kaki yang menggantung di sisi ranjang.


“Ya Allah, maafin Ica ya Bang. Ica nggak ada maksud bikin Abang kecewa, Ica cuma pengen melayani Abang sebaik mungkin, makanya Ica mandi biar nyaman, eh taunya Abang malah ketiduran.”


Meski sudah terpejam tapi Faris masih bisa merasakan sapuan lembut di pipinya dan belaian lembut di kepalanya.


“Sayang.”


“Hem.” Faris hanya berdehem tanpa membuka matanya.


“Bangun,” imbuh Aisha lagi.


Tiba-tiba Faris merasakan sejuknya sapuan lembut yang kini tepat di bibirnya, memaksa netranya terbuka.


MasyaAllah, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?


Faris sontak membelalakkan netranya sempurna melihat pemandangan yang pertama menyapanya, lihatlah betapa mempesonanya istri cantiknya yang kini baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuh indahnya.


“Sayang! Jangan godain Abang deh kalo Ica nggak mau,” pekik Faris meraih bantal untuk menutup wajahnya agar tak kembali tergoda dengan pemandangan di atasnya.


“Ya udah.” Terdengar suara Aisha menjauh membuat Faris kembali memejamkan netranya yang sudah sangat berat.


Aisha memilih untuk kembali ke walk in closet dan mengenakan pakaiannya, mungkin malam ini suaminya lelah, ia sendiri pun butuh istirahat secepatnya.


***


Yah Babang Faris nggak jadi buka puasa deh🤭 sabar ya Bang😂


Eh kayanya Ayla kesurupan gara-gara nahan laper sejak dari kampus deh Ka Faisal 🤣 mohon di maklum yahh🤭


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2