Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Apa dia sesempurna itu?


__ADS_3

Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...


***


Ting tong … ting tong …


"Evet... Bir dakika bekle.” Faisal yang masih di atas sajadahnya sedikit berteriak saat bel apartemennya berbunyi. (Iya ... tunggu sebentar)


Ting tong … ting tong … ting tong … bunyi bel rumahnya semakin terdengar sangat rusuh karena Faisal belum kunjung membukannya.


“Astaghfirullah … Bir dakika bekle!” Faisal sedikit berlari untuk membuka pintu. (Tunggu sebentar!)


Brukkk … seorang gadis langsung menerobos masuk dan memeluk Faisal begitu ia membuka pintunya.


“Kakak … apa salah Ayla Kak? Apa? Ayla juga nggak tau kapan perasaan ini mulai tumbuh, Ayla sendiri nggak bisa ngendaliinnya.” Belum sempat Faisal bertanya, Ayla sudah memberondongnya dengan keluhan-keluhannya dengan diringi isak tangis yang terdengar memilukan.


“Hey, bilang sama Kakak, ada apa? Siapa yang udah bikin kamu nangis kayak gini?” Faisal melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah adik kesayangannya.


“Kak, apa salah kalo Ayla jatuh cinta sama Hasan?” Kini Ayla sudah bertanya dengan lebih tenang, Faisal pun turut menghapus sisa-sisa air mata di wajah adiknya itu.


Faisal tersenyum mendengar penuturan adiknya.


“Cie udah beneran jatuh cinta nih sama Hasan? Padahal Baba mau nikahin kita loh,” tutur Faisal justru menggoda adiknya yang tengah gundah gulana itu.


“Mulai lagi deh Kakak!” Ayla sontak mencubit perut rata kakaknya, membuat Faisal sontak terpekik hingga berjingkatan.


Faisal membimbing adiknya untuk duduk di depan mini barnya, lantas ia pun mengambilkan segelas air untuk membuat adiknya lebih tenang.


“Kamu ke sini dianter sama Hasan?” Faisal mulai bertanya untuk mengetahui duduk permasalahannya.


“Boro-boro dianter, yang ada kayaknya sekarang Hasan lagi benci banget sama Ayla.” Ayla menjawabnya dengan lesu sambil menenggak air pemberian kakaknya.


“Karena?” tanya Faisal belum mengerti.


“Ya karena sekarang dia udah tau tentang perasaan Ayla.”


“What? Kamu yang ngungkapin duluan? Terus gimana reaksi Hasan?” Faisal justru semakin penasaran dengan cerita adiknya.


“Ishh Kakak!” gerutu Ayla memberikan tabokan tepat pada bibir Faisal.


“MasyaAllah … jahat kamu Dek. Ya udah terus gimana?”


Ayla mulai menceritakan kisah asmara antara Hasan yang bertepuk sebelah tangan terhadap wanita yang sekarang justru telah menjadi kakak sepupunya, juga tentang bagaimana hatinya yang tiba-tiba mulai terketuk oleh sosok yang menurut Ayla sama sekali bukan standar tipenya, tapi nyatanya sekarang hati itu justru tertambat sepenuhnya pada sosok yang diceritakannya.


“Wajarlah kalo sekarang Hasan benci sama kamu Dek. Lelaki nggak akan tinggal diam liat wanita yang disayanginya terancam.” Faisal menanggapi penuturan adiknya sesuai dengan isi kepalanya.


Bukan karena Ayla adalah adiknya lantas Faisal akan begitu saja membenarkan perlakuan Ayla padahal ia tahu jika itu salah. Faisal adalah orang yang akan selalu menegakkan keadilan jika itu perlu dilakukan.

__ADS_1


“Kakak bilang kayak gini semata-mata karena Kakak juga lelaki Dek, Kakak paham kesulitan seperti apa yang lagi dialami Hasan.” Faisal melanjutkan kalimatnya ketika melihat sang adik mulai menunduk menyesali perbuatannya.


“Ayla juga nggak tau kenapa perasaan ini tiba-tiba muncul Kak, apa Ayla salah kalo mencintai Hasan?”


“Perasaan kamu nggak salah Cantik, tapi kamu yang salah karena menunjukkannya dengan cara seperti itu. Ayla wanita, Aisha juga wanita, sesama wanita apa Ayla nggak mikirin gimana perasaan Aisha pas dituduh kayak gitu sama Ayla? Apalagi dia wanita yang sudah bersuami.”


“Nah itu salahnya, dia wanita yang udah bersuami tapi kenapa masih keganjenan apalagi sama adik sepupunya sendiri.” Ayla sontak merasa kesal karena merasa kakaknya sejak tadi justru malah membela Aisha.


“Astaghfirullah … sejak kapan Baba sama Mami mengajarkan hal seperti ini padamu? Itu namanya fitnah Dek kalo kamu menuduh nggak sesuai sama faktanya, kamu bahkan nggak tau kan apa gimana cerita yang sebenernya di antara mereka?”


Faisal merasa kecewa karena adiknya justru bisa melakukan hal seperti itu dengan mengatasnamakan cinta, padahal cinta adalah sesuatu yang fitrah.


“Pulanglah … tenangkan diri kamu dulu.” Faisal beranjak meninggalkan sang adik yang masih termenung di depan mini barnya.


“Sekarang Kakak juga membela wanita itu dari pada Ayla adik Kakak sendiri? Sesempurna itukah Aisha di mata kalian para kaum Adam Kak? Apa sekarang Kakak juga ikut-ikutan kayak Hasan mencintai istri orang?” Ayla langsung bangkit dari duduknya dan meluapkan segala kekesalannya, benar saja penuturannya itu mampu menghentikan langkah sang Kakak.


Faisal berbalik, menatap adiknya yang sudah diselimuti amarahnya.


Prokk … prokk ….


“Bagus!” Faisal berjalan perlahan ke arah adiknya sambil bertepuk tangan dengan lambat


“Sekarang gara-gara cintamu kamu tuduh kami yang nggak sejalan sama kamu Dek? Kakak tau gimana rasanya jatuh cinta, tapi jangan sampai cinta itu membuat kamu buta Dek! Apalagi menghalalkan segala cara untuk dapetin apa yang kamu mau. Cinta nggak sekotor itu Dek!” Tercetak jelas sorot kekecewaan di wajah Faisal, ia bahkan berujar dengan nada cukup tinggi yang mampu membuat Ayla bungkam seketika.


Ayla segera menghambur memeluk kakaknya yang sudah menghentikan langkah beberapa meter di hadapannya, ia terisak karena selama ini kakaknya itu belum pernah sedikit pun membentaknya.


“Maafin Ayla Kak, Ayla cuma merjuangin perasaan Ayla,” tukas Ayla tersedu-sedu dalam pelukan kakaknya, Faisal yang merasa tidak tega pun merengkuh kembali adiknya itu.


“Sekarang apa yang harus Ayla lakuin Kak? Ajari Ayla Kak, Ayla nggak tau gimana caranya.”


Kini sudut bibir Faisal sedikit tertarik, ia paham betul bagaimana perasaan adiknya saat ini. Jatuh cinta pada sosok seperti Gus Hasan akan jauh berbeda cerita dengan kisah-kisah sang adik bersama mantan-mantannya dulu yang mayoritas hanya sebatas obsesi yang mengatasnamakan cinta.


“Jodoh, rezeki dan maut sudah dituliskan di lauhul mahfudz sana, jadi kamu nggak perlu khawatir tentang itu, karena apa yang menjadi takdirmu nggak akan Allah biarkan orang lain mengambilnya. Jika memang nama Hasan yang ditakdirkan bersanding dengan namamu di lauhul mahfudz sana, Allah pasti akan permudah jalan kalian seberat apapun rintangannya. Tapi jika bukan, Kakak minta jagalah hatimu agar tetap baik-baik saja, dan kamu harus yakin jika rencana selalu yang terindah.”


Ada sesak yang turut menyelusup ke rongga dada Faisal pada setiap kalimat yang dilontarkannya, ia sendiri pernah berada di fase itu, berjuang merawat hatinya agar tetap baik-baik saja walau kenyataan tak sesuai seperti yang ia harapkan.


“Ayla terlalu takut jika Hasan bukan Allah takdirkan buat Ayla Kak.”


“Jodohmadalah cerminan diri, jadi berusahalah untuk selalu memperbaiki diri agar kamu layak disandingkan dengan Hasan. Tapi jangan sampai kamu berharap kepada manusia, mintalah ia langsung pada penciptanya, karena Allah nggak akan mengabaikan tangan yang menengadah untuk meminta kepada-Nya.”


“Kakak dulu pasti sakit banget yah waktu ditinggal sama Kak Sabila?” Ayla yang masih dalam pelukan kakaknya langsung mendongak untuk mengetahui reaksi Faisal.


Hening, Faisal hanya memejamkan netranya tanpa menjawab pertanyaan sang adik.


“Maaf, Ayla nggak bermaksud ngingetin Kakak tentang Kak Bila.”


“It’s okay, Bila adalah kenangan yang mungkin akan selalu tinggal di hati Kakak. Tapi Kakak

__ADS_1


tahu kok kalo hidup harus tetap berjalan, Kakak yakin Allah sudah rencanakan sesuatu yang lebih indah untuk Kakak di masa depan.”


Ayla kembali menenggelamkan wajahnya pada pelukan Faisal, kini diusapnya punggung kekar yang Ayla tahu betapa berat beban yang sudah kakaknya pikul itu.


Drrrtt … drrtt …. Ponsel yang tergeletak di atas mini bar Faisal bergetar yang menandakan panggilan masuk membuyarkan kebersamaan mereka. Ayla memutar matanya dengan malas saat mengetahui siapa yang meneleponnya.


“Iya Ba?”


Faisal hanya mematung menyimak pembicaraan sang adik yang sepertinya bersama Babanya.


“Nggak! Sejak kapan Baba peduli sama Ayla? Urus saja perusahaan penghasil uang Baba itu.”


Faisal langsung merebut ponsel itu dari genggaman adiknya ketika mendengar Ayla bernada ketus pada Babanya.


“Hallo Ba, Assalamualaikum.”


“ … “


“Ayla ada di tempat Isal Ba, kita baru aja pulang diskusi tadi. Sekarang juga Isal antar Ayla pulang ya Ba.”


“ … “


“Iya Ba, Assalamualaikum.”


Sambungan telepon ditutup dan Faisal langsung mengembalikan ponsel itu pada adiknya.


“Dek kamu nggak boleh bicara kayak gitu sama Baba, ingat ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua kita.” Faisal menegur adiknya yang tampaknya masih belum bisa berdamai dengan Babanya.


“Ayla bahkan selalu merasa sendiri Kak, Baba sama Mami selalu sibuk sama urusan mereka masing-masing.”


“Kakak tau, tapi sekarang Baba sama Mami kan udah berusaha buat lebih merhatiin kamu, jadi Kakak mohon cobalah untuk menghargai usaha mereka ya?”


Ayla tampak berpikir mencerna setiap perkataan Kakaknya.


“Ayla coba ya Kak.”


“Nah gitu dong adiknya Kakak, yuk Kakak anter pulang sekarang.”


Faisal segera meraih jaket dan kunci mobilnya lantas menggandeng sang adik menuju basement apartemennya.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


 


 


__ADS_2