Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Sakit luar dalam


__ADS_3

Meski hawa dingin kian menyerang, Aisha masih setia dengan langkahnya, menyusuri jalanan Istanbul yang masih sangat ramai.


Aisha bahkan tak ada niatan untuk menghentikan taksi yang beberapa kali melintasinya. Ia lebih memilih berjalan mengikuti langkah kakinya seraya membiarkan butiran air matanya berjatuhan di setiap jalanan yang ditapakinya.


Aisha masih benar-benar bingung dengan bagaimana nasib rumah tangganya ke depan. Sejak menyadari kenyataan bahwa calon putranya tak bisa lagi diselamatkan, Aisha merasa hidupnya hampa, ia merasa gagal menjaga titipan Tuhan yang dipercayakan kepadanya, ia merasa gagal bahkan sebelum menjadi seorang ibu. Ia berpikir apa gunanya gelar dokter yang disandangnya jika ia tak berhasil menjaga dan menyelamatkan darah dagingnya sendiri.


Aisha masih berjalan dengan tatapan kosong hingga sebuah dering dari ponselnya menyadarkan ia dari lamunannya, segera dihapusnya air mata yang masih berjatuhan dari kedua ujung netranya begitu menyadari siapa yang menelponnya.


“Iya Kak?” Aisha baru teringat jika tujuannya datang ke kafe adalah untuk bertemu dengan kakaknya saat mendengar suara Faisal.


“…”


“Iya ga ap-.” Tut … tut …


Tiba-tiba sambungan telepon langsung diputus begitu saja, bahkan sebelum Aisha menyelesaikan kalimatnya, tak biasanya kakaknya seperti ini, begitu pikir Aisha. Namun ia juga bersyukur karena tidak mungkin ia akan menemui kakaknya dengan tampilan seperti ini, kakaknya pasti akan semakin salah paham jika melihat dirinya dalam keadaan kacau seperti ini.


Kini Aisha benar-benar merasa lega, ia pun mendudukkan dirinya pada salah satu bangku yang tersedia di tepi jalan. Lagi-lagi air matanya tumpah, jujur untuk saat ini Aisha begitu membutuhkan tempat untuk bersandar, untuk sekedar mengadukan kekacauan di hatinya. Beberapa pejalan kaki menatapnya iba, tak jarang pula yang tak peduli dan tetap meluruskan pandangan mereka.


Menyadari ada lampu sorot kendaraan yang seperti mengarah kepadanya Aisha segera mendongakkan wajahnya, netranya menyipit mencoba melihat siapa gerangan pengemudi yang tiba-tiba menepikan mobil di hadapannya, tapi tampaknya Aisha mengenal mobil itu.


“Nyonya? Apa yang Nyonya lakukan malam-malam sendirian di sini?” Aisha paham betul siapa pemilik suara itu, ya tentu saja itu adalah Roger.


Mendengar dari pertanyaan dan keterkejutan Roger, tampaknya ia memang tidak tahu jika Aisha baru saja bertemu dengan Tuannya.


Dengan segera Aisha menghapus sisa-sisa air mata di ujung netranya, “Saya cuma lagi pengen jalan-jalan aja kok Ger,” ucap Aisha sebiasa mungkin.

__ADS_1


“Kamusendiri?” tanya Aisha berjaga-jaga barangkali memang Faris yang sengaja mengirimkan Roger untuk menemuinya.


“Saya baru saja mengirimkan berkas untuk klien, saya kira Nyonya tengah bersama Tuan karena tadi beliau bilang hendak ada urusan di sekitar sini,” tukas Roger yang tampaknya tidak ada kebohongan dari sorot matanya. Aisha hanya mengangguk berpura-pura tak tahu.


“Kalau begitu biar Nyonya saya antar pulang. Tenang saja, saya tidak akan membawa Nyonya ke apartemen Tuan.” Tampaknya Roger memahami kekhawatiran yang terpancar di mata Aisha.


“Nggak usah Ger, saya masih pengen jalan-jalan,” tolak Aisha dengan beralibi ingin berjalan-jalan.


“Tapi ini sudah malam Nyonya, lagi pula ini bukan di negara kita, saya khawatir terjadi sesuatu dengan Nyonya.”


“Ini memang bukan negara saya, tapi di sini kota kedua yang saya cinta setelah kota kelahiran saya.”


“Saya tau Nyonya merasa segan karena hubungan Nyonya tengah tidak baik-baik saja dengan Tuan, saya seperti ini bukan hanya karena Nyonya dan Tuan Faris adalah majikan saya, anggaplah saat ini saya bukan seseorang yang mengenal Tuan, ini murni dari sisi kemanusiaan saya yang khawatir melihat seorang wanita berjalan sendirian malam-malam seperti ini.”


Di dalam mobil, Aisha tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya memalingkan wajahnya memandangi jalanan dengan tatapan kosongnya.


“Dari pada dipaksa untuk berhenti, lebih baik dikeluarkan secara alami.” Tampaknya Roger pun menyadari jika Nyonya mudanya tengah berusaha menyembunyikan air matanya. Roger pun turut merasa terluka melihat hubungan kedua majikannya yang tengah tidak baik-baik saja, padahal ia yakin jika dalam hati keduanya masih tersimpan rasa cinta untuk satu sama lain, mereka hanya perlu waktu dan keadaan yang tepat untuk kembali bersatu.


----


Hembusan angin musim gugur di kota Istanbul sedikit membuat orang-orang yang berlalu lalang merapatkan jaket mereka karena tak ingin angin berhembus mengenai permukaan kulitnya.


Tak ayal beberapa pengunjung kafe yang masih setia di tempat duduknya pun tampak lebih sering menyeruput minuman panas mereka guna menghalau rasa dingin yang sepertinya kian menyusup ke ruangan meski pemanas ruangan sudah dinyalakan.


Berbeda dengan seorang pria yang baru saja memasuki kafe dengan wajah lesu dan kemeja yang terbuka dua kancing atasnya, bagian lengannya ia gulung hingga siku,  membuat semilir angin justru tak segan menyapu kulitnya.

__ADS_1


Beberapa pengunjung kafe tentu saja tak lupa dengan wajah itu, pria yang beberapa saat lalu berhasil mencuri perhatian mereka dengan kepiawaiannya membawakan lagu untuk wanita yang duduk di pojok ruangan sana.


Tak sedikit pula dari mereka yang mulai berbisik saat melihat Faris yang kembali ke dalam kafe dengan wajah lesu, terlebih lagi Faris datang seorang diri, tak lagi bersama wanita yang beberapa saat lalu menjadi pemeran utama dalam lagu yang dibawakannya.


“Thanks for your appearance Sir (Terima kasih untuk penampilan anda, Tuan),” tukas seorang bartender di sana saat Faris menghampirinya untuk mengambil mantel jaket miliknya. Tanpa berniat menjawab, Faris hanya mengulas senyumnya lantas segera berlalu keluar dari kafe itu.


Sudah hampir setengah jam sebuah BMW hitam milik Faris yang terparkir tak jauh dari kafe masih tetap di tempatnya, dengan lampu sorot yang menyala terang namun tanpa niat dilajukan oleh pemiliknya.


Di balik kemudinya Faris tampah menyandarkan dahinya di atas stir kemudi, sesekali tangannya mengepal bahkan memukuli kemudi hingga membuat buku-buku jari tangannya memerah.


Perbincangannya bersama Aisha baru saja ternyata berhasil membuat Faris di ambang putus asa. Bukan ia tak percaya takdir, hanya saja Faris pun hanya manusia biasa, tak berbeda jauh dengan para suami di luaran sana.


Berbagai cara sudah ia coba untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya, bahkan sampai menyusul Aisha ke kota ini tanpa lagi mempedulikan urusan rumah sakit dan pekerjaan kantor yang juga membutuhkan tenaganya. Nyatanya, sejauh ini ia sama sekali belum menemukan titik terang untuk membuat istrinya bersedia kembali ke dalam peluknya.


“Allahu … aku benar-benar membutuhkan Kun fayakun-Mu.”


Menyadari malam yang semakin beranjak, Faris pun melajukan mobilnya membelah jalanan Istanbul yang masih tetap padat. Hati dan pikirannya benar-benar kalut saat ini, ia butuh mengadu kepada Tuhannya. Mengingat perbincangannya dengan Aisha membuat Faris semakin dalam menginjak pedal gasnya.


Ckiittt … Brakkk!


Tiba-tiba sebuah Ferrari berwarna merah menyalip dan mengambil jalurnya tanpa memberikan lampu sein, Faris yang memang fokusnya tengah terbagi dengan masalah rumah tangganya pun tak bisa lagi menghindar untuk tidak menabrak mobil mewah di depannya itu. Faris tidaklah salah, ia sudah menaati lalu lintas sesuai jalurnya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2