Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Hancur sia-sia


__ADS_3

Hay readers semua ... alhamdulillah author bisa come back nih ... ada yang nungguin kelanjutan novel ini nggak sih? hehe ...


***


Mobil yang membawa Aisha kini sudah berhenti di Bandara, Aisha turun dengan langkah yang sedikit ragu, tubuh dan hatinya terasa tak sejalan. Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sudah tepatkah keputusan yang diambilnya saat ini? Tepatkah jika ia memilih pergi mengakhiri rumah tangganya dan berharap bisa menemukan kebahagiannya?


Bagaimanapun bencinya Aisha, namun tetap saja sosok Faris pernah bertakhta cukup dalam di sanubarinya, bahkan sampai saat ini namanya masih saja bersarang meski dengan keras Aisha berusaha melupakannya. Hatinya sedikit ragu untuk benar-benar pergi dan mengakhiri semuanya, namun ternyata sakit dan kecewanya mampu menepis semua keraguan itu. Aisha kembali memejamkan mata untuk meyakinkan pada dirinya jika keputusannya sudah tepat sebelum ia benar-benar kembali melangkah memasuki Bandara.


Aisha langsung melangkah menuju bagian tiketing, menunjukkan tiket online juga menyerahkan paspornya. Sebelum melewati serangkaian pemeriksaan, Aisha tampak berbicara dengan sedikit berbisik kepada petugas di sana, tampak untuk beberapa saat sang petugas terlihat sedikit berpikir sebelum akhirnya mengangguk.


Namun sekuat apapun Aisha mencoba menghadapi pilihannya, nyatanya air mata itu kembali mengalir saat pesawat yang membawanya kini benar-benar sudah mengapung di udara. Aisha bukan wanita yang kuat, hanya saja ia juga tak ingin terlihat lemah, apalagi di hadapan orang-orang yang sudah menancapkan duri tajam di hatinya.


“May be you need it.” (Mungkin kamu membutuhkan ini) Tiba-tiba seorang pramugara berwajah latin menyodorkan sebuah sapu tangan di depan wajah Aisha.


Aisha yang memang tengah terisak pun sontak mendongak saat melihat tangan kekar menawarinya sebuah sapu tangan.


Ia celingukan karena merasa tak enak dengan penumpang lainnya sebelum menerima sapu tangan itu, beruntung di kelas bisnis hanya ada beberapa orang dan mereka kini tengah terlelap.


Pramugara itu kembali menganggukan kepalanya ketika mendapati Aisha yang tak kunjung menerima sapu tangannya.


“Thanks.” Aisha berujar dengan lirih lantas meraih sapu tangan itu.


“Buaya nggak usah ditangisin. Kamu cantik, nggak usah khawatir.” Pramugara itu berujar seolah memahami kesedihan Aisha, dan tiba-tiba ia membungkuk, mengambil kain selimut yang ternyata jatuh dan lantas kembali membentangkannya untuk Aisha.


Aisha sontak merasa tak enak diperlakukan seperti itu, apalagi oleh pria asing, sedangkan statusnya kini masih sebagai istri orang.


“Maaf maaf, aku nggak bermaksud apa-apa kok,” ujarnya sebelum berlalu, sontak Aisha pun hanya mengangguk dengan sopan.

__ADS_1


***


Setelah menyelesaikan solat isyanya, hati Faris sedikit lebih tenang, meski tetap saja tak ia pungkiri jika kegelisahan akan istrinya masih ada.


Ia kembali mengendarai mobilnya untuk kembali ke rumah, ia tak bisa melakukan semuanya sendirian, ia akan meminta white evil untuk menyusuri seluruh penjuru kota hingga menemukan sang istri tercinta.


Setengah jam kemudian ia sampai di rumah, tak disangka ternyata Pak Toni sudah menunggunya. Lagi-lagi Faris tak kuasa untuk tak mengeluarkan air matanya lantas segera merengkuh tubuh lelaki renta yang sudah menunggu kepulangannya.


“Kamu nggak usah khawatir, white evil sudah dikerahkan untuk menyusuri seluruh penjuru kota mencari istrimu,” ujar Pak Toni mencoba menenangkan pria muda di pelukannya.


Ternyata memang sejak tadi Pak Toni mengikuti Faris yang menuju ke rumah Maya dan mendengar kabar jika Aisha dan Maya tidak ada di rumah dan tak bisa dihubungi juga dilacak.


“Dulu kan istrimu juga pernah kabur ke pesantren Pakdemu kan? Kenapa sekarang nggak coba tanya mereka siapa tau istrimu ke sana lagi.” Pak Toni memberi usul ketika Faris hanya duduk termenung di balkon kamarnya.


Faris segera merogoh ponselnya, taka da salahnya mencoba. Setelah terdengar dering beberapa kali, akhirnya suara lembut sang Bukde menyapa indra telinganya.


“Tumben malam-malam begini telpon kamu, Le. Ada apa?” tanya sang Bukde setelah menjawab salam dari keponakannya.


“Oalah … Bukde sama Pakde yo alhamdulillah baik, semuanya di sini juga baik.”


“Alhamdulillah ….”


“Kamu gimana di sana Le? Baik juga to? Istrimu juga baik kan? Gimana sudah ada tanda-tanda isi apa belum?” Nyai Hamidah justru memberondong Faris dengan pertanyaan yang membuat Faris mengurugkan niatnya untuk bertanya perihal keberadaan istrinya.


“Oh alhamdulillah kita semua di sini juga baik, Bukde doakan saja ya semoga segera ada kabar baik,” ujar Faris dibuat sebiasa mungkin.


“Kamu banyak-banyak minta sama Gusti biar cepet dikasih momongan Le, Bukde sama Pakdemu ini sudah kepengen gendong cucu loh.”

__ADS_1


“Iya Bukde, doain aja ya Bukde. Oh ya Faris lupa masih ada urusan, Bukde sama Pakde sehat-sehat ya di sana, Faris tutup dulu teleponnya,” ucapnya sedikit bergetar menahan gemuruh di dadanya.


“Gimana?” tanya Pak Toni setelah Faris menutup sambungan teleponnya, sedangkan Faris hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.


“Aku harus kemana lagi cari istriku Pak?” Tubuh Faris kini bahkan sudah luruh ke lantai, punggungnya bersandar ke tepi sofa.


“Kita tunggu kabar dari white evil besok, ini kan belum dua puluh empat jam, mungkin istrimu lagi butuh waktu sendiri.” Pak Toni mencoba menenangkan Faris.


“Apa maksudnya sampe Aisha balikin cincin kawin sama semua kartu debit yang aku kasih Pak?” tanya Faris dengan nada khawatirnya.


Pak Toni melirik arloji pada pergelangan tangannya, “Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu, tenangkan pikiranmu, kamu juga belum sehat sepenuhnya.”


Faris mengangguk, selain karena kepalanya yang benar-benar berdenyut memikirkan semuanya, tubuhnya juga terasa seperti remuk mengikuti hati yang sama kacaunya saat ini.


Faris meraih foto pernikahannya, ditatapnya lamat-lamat wajah ayu yang tengah tersenyum ke arah kamera. Faris hanya bisa meneteskan air matanya menyadari jika kini Aisha tak lagi di sampingnya, rasa bersalah benar-benar seperti mencekik lehernya.


“Bukan hal mudah bagi Abang memendam perasaan ini bertahun-tahun Ca, merasakan sesak ketika Abang tau ternyata Azka sudah lebih dulu meminangmu. Dulu Abang cuma berani menyukaimu diam-diam Sayang, meminjam namamu untuk Abang curhatkan di sepertiga malam, meski Abang tau kamu sudah milik orang. Tapi ternyata Allah mendengar doa Abang, akhirnya Dia kabulkan kamu menjadi penyempurna hidup Abang. Tapi kenapa semudah ini perjuangan Abang hancur sia-sia?.” Faris bergumam seolah Aisha ada di hadapannya. Dadanya semakin saja terasa sesak mengingat bagaimana perjuangan yang telah dilewatinya hingga mempersunting sang istri dengan bahagia.


Sekali lagi ia mencoba menghubungi kontak sang istri, berharap ada keajaiban di sana, hanya saja lagi-lagi keberuntungan sedang tak berpihak padanya, karena masih tetap saja suara operator yang ia dengar dari sebrang.


“Allah … aku hanya ingin istriku …,” rintih Faris dengan mendekap erat foto dalam genggamannya.


Hingga waktu menunjukkan dini hari, air mata Faris belum juga mengering, ia memang berbaring dan terpejam, namun sama sekali tak terlelap.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2