Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Semakin Rumit


__ADS_3

Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...


***


“Kamu mau pulang sama siapa Ay? Mau Kakak anter apa gimana?” Faisal bertanya ketika ia sudah berniat untuk pulang.


Ayla masih saja memikirkan pembicaraannya dengan Aisha tadi, bahkan ia sampai tak mengindahkan pertanyaan sang Kakak.


“Em Ayla pulang sama aku aja Kak, kita masih ada yang mau diomongin.” Tiba-tiba Gus Hasan membuka suara.


“Ya kan Ay?” imbuh Gus Hasan meminta persetujuan dari Ayla yang masih saja terdiam.


“Ah gimana? Oh iya iya.” Ayla gelagapan sendiri ketika mendengar penuturan Gus Hasan yang seketika membuatnya tersadar dari lamunannya.


Sedangkan Faisal hanya tersenyum karena menangkap maksud lain dari kalimat Gus Hasan itu.


“Ok kalo gitu Kakak duluan, Enjoy your time,” tukas Faisal lalu melengang pergi.


Ketika punggung Faisal sudah tak lagi nampak, Gus Hasan segera menarik Ayla untuk bangkit dan mengikuti langkahnya.


“Kita mau kemana sih San?” Ayla bertanya ketika Gus Hasan tak melepas cekalan dari lengannya, ia bahkan semakin mempercepat langkahnya, membawa Ayla ke dalam lift yang langsung menuju ke rooftop restoran.


“San? What’s wrong?” Ayla kembali bertanya ketika Gus Hasan tak menggubris pertanyaannya.


“Hasan!” Ayla berteriak sambil menepis kasar cekalan Gus Hasan yang tak kunjung lepas dari lengannya.


“Kamu kenapa sih tiba-tiba narik aku kayak orang kesetanan? Ditanya nggak dijawab.” Ayla menghentikan langkahnya ketika mereka sudah sampai di rooftop.


“Kenapa kamu bilang? Kenapa?” Tba-tiba Gus Hasan bertanya dengan nada yang sedikit membentak.


“Apa?” ayla justru balik bertanya.


Gus Hasan sontak tersenyum kecut dengan jawaban Ayla.


“Apa yang kamu katakan sama Aisha?”


“Oh kamu masih peduli sama istri kakak sepupumu itu? Apa kakak ipar tercintamu itu ngadu sama kamu? Dia bilang apa? jelek-jelekkin aku?” pikiran Ayla benar-benar kalut karena diselimuti rasa cemburu. Tanpa sadar tindakannya hari ini justru sudah memperumit keadaan.


“Stop kamu ngomong kayak gitu tentang dia! Aisha nggak seburuk yang terlintas di kepalamu.” Kini Gus Hasan benar-benar membentak Ayla.


“Mau sampe kapan kamu terus peduliin istri orang San? Sampe kapan!? Sampe dia tinggalin suaminya terus berpaling sama kamu? Itu yang kamu harepin?” Ayla bertanya dengan nada tak kalah tinggi membentak Gus Hasan.


“Sejak kapan kamu peduli sama urusanku? Aku cerita tentang ini ke kamu bukan berarti kamu bisa mencampuri urusanku seenaknya. Aku memang mencintai Aisha, tapi aku juga tau batasannya Ay. Masalah hatiku dengan Aisha biarlah jadi urusanku, kamu nggak perlu repot-repot mikirin tentang kita.”


“Maaf kalo kepedulianku sudah membuatmu tidak nyaman. Satu yang harus kamu tau San, Seni seviyorum (Aku mencintaimu).” Suara Ayla melemah, ia lantas segera berbalik dan berlari meninggalkan Gus Hasan yang masih terkejut di tempatnya.

__ADS_1


Gus Hasan terdiam melihat Ayla berlari masuk ke dalam lift, ia benar-benar terkejut dengan pengakuan Ayla baru saja. Tapi egonya melarang Gus Hasan untuk mengejar Ayla, rasa kecewa ketika Ayla mencampuri masalahnya dengan Aisha masih saja menyelimuti dadanya.


***


Aisha kembali ke kursinya lantas tersenyum ke arah suaminya yang sudah memandanginya sejak ia dari kejauhan.


“Kenapa Sayang? Kok lama?” Faris bertanya ketika istrinya sudah kembali duduk di kursinya.


“Em nggak apa-apa Bang, abis benerin make up aja.” Aisha tak berani membalas tatapan Faris, rasa bersalah seketikamenjalari hatinya kala terpaksa harus berbohong pada suaminya.


Faris hanya mengangguk-angguk tanda paham.


Selang beberapa menit pun Gus Hasan yang pasalnya meminta izin ke toilet juga sudah kembali.


“Lama amat di toilet kayak anak gadis aja.” Faris meledek adik sepupunya itu.


“Oh anu itu tadi agak ngantri Mas.” Gus Hasan pun tak berani menatap wajah kakak sepupunya, ia memilih segera kembali ke tempat duduknya.


“Loh Ayla kemana?” Faisal bertanya pada Gus Hasan karena adiknya tak kunjung kembali.


“Ih nggak tau Kak, masa iya Hasan ke toilet barengan sama Ayla.”


“Em dia tadi masih di toilet kok,” tukas Aisha justru menjawab Faisal.


“Tuan, semuanya sudah siap. Kita berangkat malam ini juga.” Roger tiba-tiba datang dan berbisik pada Faris.


“Em San, Mas sama Aisha balik ke Indo malem ini, kamu ada mau nitip sesuatu nggak buat Pakde sama Bukde?” Faris membuka suara dan memberitahukan perihal kepulangannya pada Gus Hasan.


Hal itu sontak membuat Aisha terkejut bukan main, ia pun segera menoleh menatap suaminya, pasalnya Faris tak berbicara apapun padanya perihal kepulangan mereka.


“Loh buru-buru banget Mas? Bukannya Mas bilang kalian baru beberapa hari di Istanbul?”


“Iya emang, cuma Mas kan nggak bisa lama-lama ninggalin kantor, apalagi Rumah Sakit. Kamu baik-baik ya di sini, belajar yang bener nggak usah mikirin apapun dulu.”


Deg, nasehat Faris seolah menjadi tamparan keras untuk Gus Hasan, apalagi jika kakak sepupunya itu tahu perihal maksud yang sebenarnya dari kedatangannya ke Turki. Ia datang bukan hanya sekedar untuk kuliah, bukan itu tujuan utamanya, tapi ia datang justru untuk menghindar dari luka yang terus saja akan semakin menganga jika dirinya masih diam di tempat.


“Iya Mas InsyaAllah. Kalian hati-hati ya.”


“Tuan, mohon bimbingannya untuk adik saya.” Kini Faris beralih untuk berpamitan pada Faisal.


“Tuan tidak perlu khawatir, ini sudah menjadi tanggung jawab saya. Semoga kita ada kesempatan untuk bertemu kembali.” Faisal menanggapi pesan Faris dengan ramah.


“Aamiin.” Semua yang ada di sana sontak mengaminkan perkataan Faisal.


Kini Faris dan Aisha sudah dalam perjalanan pulang menuju hotel, tidak seperti biasanya, kini perjalanan mereka hanya dipenuhi dengan keheningan.

__ADS_1


“Bang.” Aisha menyentuh lembut tangan suaminya yang sejak tadi terus melempar pandangannya keluar jendela.


“Emmm.” Faris hanya berdehem lalu menoleh pada istrinya.


“Ica pengen solat di Blue Mosque ya Bang sebelum kita pulang,” pinta Aisha yang segera diangguki suaminya.


Cup, Faris mengecup lembut puncak kepala istrinya lantas menarik tubuh Aisha ke dalam pelukannya.


“Ica nggak apa-apa kan kalo kita pulang malem ini?” Faris bertanya sambil mengusap-usap dengan sayang kepala Aisha.


Aisha yang tengah dalam pelukan Faris hanya mendongak lantas mengangguk mengiyakan. Setelah mendengar perintah dari Tuannya, Roger segera mengarahkan mobil yang dikemudinya menuju ke Blue Mosque.


Selesai dengan solatnya, Aisha tak langsung melepas mukenanya. Ia kembali bersujud, bertasbih  dan merendah ke hadapan pencipta-Nya. Ia lantas menengadahkan tangannya, lalu mulai mencurahkan segala keganjalan hatinya.


“Ya Allah apa keputusanku sudah benar dengan merahasiakan perihal Gus Hasan dari Bang Faris? Ica cuma nggak mau hubungan mereka jadi merenggang kalo semuanya terungkap.” Aisha bergumam seraya memejamkan netranya.


“Maafin Ica yang nggak bisa jujur tentang semua ini ke Abang, Ica cuma mencoba berusahamenjaga hubungan baik yang selama ini terjalin di antara kalian.”


Tiba-tiba Aisha merasa kepalanya sangat berdenyut, ia bahkan sampai harus berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya yang melangkah.


“İyi misiniz, hanımefendi?” Seorang wanita paruh baya segera menopang tubuh Aisha yang hampir terhuyung. (Apa anda baik-baik saja, Nona?)


“Ben iyiyim, hanımefendi. Teşekkürler.” Aisha mengangguk dengan ramah dan segera mengakkan tubuhnya. (Saya baik-baik saja, Nyonya)


Aisha meraba nadi pada pergelangan tangannya sendiri, terasa nadinya sangat tak beraturan.


“Ada apa denganku?” Ia bertanya-tanya dalam hati karena tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa sangat lemas.


“Sepertinya anda sedang kurang sehat, apa perlu saya antar untuk mencari taksi, Nona?” Wanita itu menawarkan bantuan karena tampak tidak yakin dengan kondisi Aisha.


“Terima kasih sebelumnya Nyonya, tapi sungguh tidak perlu. Suami saya ada di luar.”


“Oh baiklah, apa perlu saya antar hingga ke suami anda?”


“Sungguh tidak perlu Nyonya, sekali lagi terima kasih atas tawarannya.” Aisha menolak wanita itu dengan halus, lantas segera melangkah keluar menemui Faris dan Roger yang mungkin sudah menunggunya.


***


Hah sudahlah author udah tegang banget ini bingung mau komentar apa gaess ...


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2