Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Dinner kejutan


__ADS_3

“Saya minta maaf jika perkataan saya di mall waktu itu sudah menyakiti kamu. Untuk saat ini saya memang belum bisa cerita, tapi saya janji suatu saat pasti akan saya ceritakan siapa mereka.”


Tiba-tiba hati Karina meluluh mendengar penuturan Azka, kesal yang sejak waktu itu ia tahan-tahan seketika sirna melihat Azka meminta maaf padanya dengan tulus.


“Sekarang jadwal Rafa ke Rumah Sakit,” tutur Karina memecah kecanggungan.


“Baik, saya nganterin kalian dulu lalu ke kantor.”


Rafa memang tak mengalami gangguan kesehatan apapun, namun Azka yang merasa dirinya tidak mampu jika harus mengurus seorang bayi sendirian lebih memilih untuk memercayakannya pada seorang ahli gizi juga beberapa perawat yang turut mengasuh Rafa.


Meski seorang single parent yang super sibuk, tapi Azka tak mau jika sampai terjadi sesuatu pada pertumbuhan Rafa. Karenanya mungkin Azka terlihat over protektif jika itu mengenai Rafa, ia tak ingin sampai mengecewakan mendiang istrinya yang sudah mati-matian memperjuangkan kehadiran Rafa juga keutuhan rumah tangga mereka.


Karina menatap lurus ke depan sambil medorong stroller Rafa melintasi setiap ruangan di Rumah Sakit untuk mencari Azka.


Pasalnya tadi Azka akan menunggu mereka hingga pemerikasaan Rafa selesai, namun Azka sudah tak ada di tempatnya saat Karina keluar setelah pemeriksaan Rafa.


Tepat di pintu utama Rumah Sakit Karina menghentikan langkahnya, dahinya berkerut, ia melihat pria yang dicarinya tengah berbincang dengan seorang perempuan cantik, tubuhnya tinggi semampai dengan rambut bergelombang yang tergerai indah, wanita itu memang tak berhijab seperti dirinya, pakaiannya juga sopan meski sedikit ketat.


Entah kenapa rasanya darah Karina mendidih ketika melihat perempuan itu mengulurkan tangan, untungnya Azka tak membalas. Dia hanya menangkupkan telapak tangan di depan dadanya.


Namun tak berapa lama kesabaran Karina seperti sudah di ubun-ubun saat perempuan itu seperti sengaja berpura-pura jatuh hingga refleks Azka membantu menahan tubuhnya agar tak menyentuh paving di halaman Rumah Sakit.


“Ih dasar sama-sama ganjen yah. Harusnya biarin aja jatuh, kenapa harus dipegangi segala coba? Liat Rafa kelakuan Papa kamu!” gerutu Karina menatap tajam ke arah keduanya.


Dengan langkah cepat meski sambil mendorong stroller Rafa, Karina menghampiri Azka dan langsung menepis tangan wanita itu dengan kasar hingga terjatuh.


***


Aisha mempercepat langkahnya menuju pintu di ujung tangga yang berada di dek kapal. Hampir saja Aisha berteriak saat sebuah kertas terjatuh menggantung ketika ia membuka pintu, kertas itu menggantung tepat di depan wajahnya.


“Aku menunggumu. Faris.” Aisha mengerutkan dahinya saat membaca tulisan di kertas yang menggantung dihadapannya.


Aisha segera menyibak tirai yang menghalangi di depan pintu tempatnya berdiri. Saat ia buka tirai itu, ia dikejutkan dengan pemandangan yang tertangkap oleh netranya saat ini.


Sangat indah. Hanya itu yang terlintas di benaknya saat ini.


Netranya sudah membulat sempurna dengan senyum yang semakin melebar menyaksikan pemandangan yang disuguhkan.


Sebuah ruangan terbuka di atap kapal pesiar itu terdapat kolam renang yang di bagian tengahnya dilengkapi dengan sebuah bangunan kecil untuk dinner yang sudah tertata rapi.


Tirai-tirai bernuansa putih yang tergantung di setiap sudut ruangan berterbangan oleh


 terpaan angin, semakin menambah kesan klasik untuknya.

__ADS_1


Lentera-lentera kuning yang tergantung di sepanjang jalan setapak menuju tengah kolam menerangi langkah Aisha.


Bayangan-bayangannya yang memantul di air memperjelas kecantikan teratai yang terapung bebas memenuhi kolam.


Taburan-taburan bunga mawar merah dan lilin-lilin yang yang sudah berjajar rapi di sepanjang jalan menambah manis suasana malam itu.


Sungguh malam yang sangat indah.


Aisha masih berdiri dengan anggun di tengah kolam, di atas taburan mawar merah ia enggan


untuk melewatkan semua keindahan ini.


Namun lilin di tengah jalan yang tiba-tiba padam cukup mengalihkan perhatian Aisha, membuatnya kembali meneruskan langkahnya. Sontak Aisha menghampirinya. Ternyata dalam mangkok putih lilin itu terdapat sebuah note kecil untuknya.


“Ikuti petunjuk ini ya sayang. Cari bunga mawar putih di sekitar sini. Jika Ica berhasil menemukannya, Ica harus berhenti mencari. Faris.”


Senyum di wajah Aisha melebar saat membaca isi kertas itu kemudian mulai mencari bunga mawar putih yang ditujukan pada selembar note tadi.


Satu tangkai Aisha temukan di ujung jalan, sayang yang ditemukannya adalah mawar merah.


Satu tangkai lagi Aisha dapat di atas meja makan, lagi-lagi ternyata mawar merah, bukan mawar putih yang ia cari.


Aisha mulai kebingungan mencari, beberapa kali yang ia dapat lagi-lagi mawar merah, kini peluhnya sudah mulai bercucuran.


Aisha menghentikan langkahnya di jalan setapak yang bertabur bunga di tengah kolam, terlihat dadanya naik turun untuk mengatur nafasnya yang mulai kelelahan.


Di tengah aktifitasnya, seketika tubuh Aisha menegang saat merasakan sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Dari wangi khasnya, dapat ditebak jika itu adalah wangi khas pria idamannya.


“Kamu cantik.”


Aisha semakin melebarkan senyumnya saat mendengar bisikan halus Faris yang tepat di telinganya.


Wajahnya juga kini semakin merona mendengar pujian yang dilontarkan Faris untuknya.


“Ihhh Abang jahat, Abang bikin aku cap-“


Aisha membalikkan tubuhnya sambil memukul pelan dada bidang suaminya melayangkan protes, namun ucapannya terhenti saat Faris menyatukan bibirnya dengan bibir merona milik Aisha, membuat Aisha seketika bungkam dan menutup matanya.


Faris menunjukan benda yang sejak tadi Aisha cari-cari.


“Apa? Ica cari ini ya?” tutur Faris sambil mengangkat mawar putih ke hadapan Aisha.

__ADS_1


“Ih Abang ngeselin banget ya, tau gitu mendingan Ica nggak usah nyari tadi.”


Tiba-tiba Faris menatap mata Aisha intens, membuat Aisha perlahan menghentikan protesannya.


“Sayang,” panggil Faris lirih tanpa mengalihkan tatapannya pada Aisha sedikit pun.


“Hmmm?” Aisha menjawabnya juga dengan membalas tatapan Faris.


“Tadi di note itu bilang kalo Ica udah nemuin bunga mawar putih maka Ica harus berhenti kan?” tanya Faris yang langsung diangguki Aisha.


Faris melanjutkan kalimatnya.


“Berarti sekarang Ica harus berhenti, dan Ica nggak perlu lagi mencari-cari terlalu jauh, nanti Ica capek. Mawar putih itu ada di Abang, tandanya Ica cukup berlabuh dan berhenti di Abang, karena Abang adalah satu-satunya pelabuhan untuk Ica.”


Aisha tersenyum mendengar penuturan Faris yang sedemikian meyakinkan.


“Abang nggak mau Ica capek-capek lagi ya buat nyari mawar-mawar yang lain. Ica udah nemuin mawar putih itu di sini. Tandanya Ica berakhir di Abang. Promise always stay with me?”


“I am promise Dear.” Aisha menjawabnya bersamaan dengan bulir bening yang lolos terjatuh dari sudut matanya.


Aisha terkejut saat Faris mengambil mawar-mawar merah tadi yang Aisha temukan lalu tiba-tiba membuangnya ke tengah kolam.


Faris memberikan setangkai mawar putih yang sejak ia pegang tadi pada Aisha, membuat Aisha semakin mengerutkan keningnya.


“Kenapa dibuang Bang?”


“Mereka adalah masa lalu, sekarang masa depan Ica yang ini, dan di sini, yaitu Abang,” jawab Faris tersenyum.


“Anggep aja mereka adalah masa lalu Ica, jadi Abang minta lupain semua masa lalu Ica ya, siapapun itu. Dan mulai sekarang berjanjilah hanya akan ada masa depan kita, yaitu Abang sama Ica, dan nanti Insya Allah anak-anak kita,” tutur Faris melanjutkan kalimatnya.


Aisha segera memeluk erat tubuh Faris setelah pria itu menyelesaikan kalimatnya yang kemudian dibalas oleh Faris dengan ******* lembut di bibir ranum Aisha, benar-benar lembut namun cukup lama, hingga Aisha hampir kehabisan napasnya.


“Makasih buat semua kejutan-kejutan yang selalu Abang hadirkan di hidup Ica, makasih selama ini Abang selalu sabar menghadapi sikap Aisha. I love you,” tutur Aisha mendaratkan kecupan singkat di bibir suaminya.


Faris tersenyum melihat reaksi Aisha.


“I love you more,” jawab Faris kembali membalas kecupan di bibir Aisha, benar-benar hanya sebuah kecupan.


Setelahnya Faris menuntun Aisha ke arah meja makan di tengah kolam untuk memulai first candy light dinner mereka malam ini.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2