
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
______
Di kamar apartemennya, Faris sudah bersiap dengan setelan kemejanya untuk memenuhi undangan Tuan Abbas tempo hari. Menunggu Roger yang belum juga kembali, Faris memilih untuk mengecek beberapa pekerjaannya di laptop yang masih bertengger di atas nakas di sisi ranjang tidurnya.
Meski sampai saat ini hubungannya dengan Aisha belum menemukan titik terang, setidaknya dalam pertemuan nanti ia berharap bisa untuk sekedar menatap wanita yang begitu ia rindukan, ya dia berharap jika Faisal akan membawa serta Aisha dalam acara keluarga nanti.
Menatap foto yang terpajang apik di atas nakas itu, Faris mengurungkan tangannya untuk meraih laptop di sampingnya. Kini yang diraihnya justru figura foto itu, mengelusnya perlahan seakan takut jika figura itu akan pecah.
Wanita dalam foto itu tampak tersenyum begitu menawan di bawah langit Cappadocia dengan balon-balon udara di sekelilingnya. Faris sungguh sangat merindukan senyum itu, senyum yang dulu selalu Aisha tunjukkan padanya.
“I miss you, Sayang …,” rintihnya mengecup figura itu cukup lama.
“Maafin Abang Ca, I was wrong. Please come back ….” (Aku yang salah, tong kembalilah ) Faris semakin mengeratkan pelukannya pada figura itu.
Entah akan bagaimana kelanjutan hidupnya nanti jika Aisha benar-benar tak kembali padanya, itu yang Faris takutkan saat ini. Inikah balasan jika berharap kepada manusia? Kecewa. Hanya itu kemungkinan yang akan terjadi. Faris tahu, tidak seharusnya ia sampai begini. Berharap kepada manusia yang padahal tiada suatu apapun selain penciptanya yang paling pantas untuk ia menggantungkan harapan. Istrinya pun hanya manusia biasa, sebagaimana dirinya. Manusia biasa yang sifatnya berbolak-balik hatinya.
“Abang ….” Sebuah suara memanggilnya dengan lirih.
Sepertinya Faris mengenal suara itu, namun seketika ia justru memejamkan netranya, pikirnya apa ia sampai berhalusinasi karena amat merindukan istrinya.
Perlahan Faris mengangkat kepalanya, menatap lama wanita yang kini masih mematung di ambang pintu kamarnya, setetes air mata lolos begitu saja dari ujung netranya. “Ica?”
Sadar akan posisinya, Roger yang berdiri di balik tubuh Aisha pun segera melengang pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
Melihat kembali sosok suaminya, Aisha segera berlari dan menghambur memeluk pria yang masih berstatus suaminya itu dengan erat, “Maafin Ica Bang, I’m sorry I was so selfish.” (Maaf aku sungguh egois)
Tentu saja Faris membalas pelukan itu tak kalah erat, “Nggak Sayang, Ica nggak ada salah apa-apa, ini semua emang salah Abang. Maafin Abang yang lagi-lagi mengingkari janji untuk nggak buat Ica kecewa.”
Aisha mengurai pelukannya, menatap lama wajah tampan yang selama ini juga begitu ia rindukan. Diusapnya air mata yang juga sudah membasahi pipi suaminya. “Abang udah berjuang buat keluarga kecil kita, Ica yang buta sama semua perjuangan Abang. Maaf … Ica belum bisa jadi istri yang baik buat Abang.”
“No Sayang, buat Abang … Ica lebih dari sempurna. Maafin Abang juga.” Keduanya kembali saling memeluk dengan erat, seolah tak sanggup lagi untuk kehilangan.
__ADS_1
“Please jangan tinggalin Abang lagi Ca … Abang nggak sanggup. Abang udah kehilangan calon anak kita, dan Abang nggak mau kehilangan Ica juga. Cuma Ica yang Abang punya sekarang, Abang mohon jangan hukum Abang lagi dengan pergi.”
Mendengar pengakuan suaminya, hati Aisha pun turut sakit, dengan cepat ia mengangguk dalam pelukan suaminya.
“Promise?” tanya Faris mengangkat wajah istrinya, menatap dalam iris cantik yang selama ini menjadi candunya.
Aisha meraih tangan Faris, menggenggam dan mengecupnya lama, “Ica janji Bang, kita mulai semuanya dari awal.”
Faris pun mengangguk dan kembali memeluk istrinya, “Iya Sayang, kita hadapi sama-sama yah.”
“Ica sayang Abang,” ujar Aisha lirih dalam pelukan Faris,
Faris pun mengulas senyumnya kemudian mengecup lama puncak kepala sang istri, “Abang lebih sayang sama Ica.”
Sepasang suami istri itu berhasil mengutarakan perasaan masing-masing yang masih saling mendamba satu sama lain.
Teringat sesuatu, Aisha tiba-tiba kembali mengurai pelukannya, menatap sang suami dari atas ke bawah. “Abang jadi pergi?”
Yang ditanya justru kebingungan karena tiba-tiba Aisha memukuli dadanya, meski sebenarnya tak berasa apa-apa untuk seukuran tubuh kekar yang rajin berolahraga sepertinya.
“Abang jahat sama Ica! Apa tadinya Abang udah nyerah sama Ica sampe menuhin undangan Tuan Abbas untuk ngenalin putrinya ke Abang? Setelah semua yang Abang lakuin, Abang nyusulin Ica ke sini, ngebatalin semua proses perceraian kita sampe rela dipukulin Kak Isal, Abang kira Ica baik-baik aja sama semua itu? Abang yang terus kayak gitu bikin Ica nggak bisa buat nggak kepikiran Abang tau nggak.” Genangan air kembali menggantung di pelupuk mata Aisha.
Sedangkan tersangka justru menahan senyumnya, bagi Faris pemandangan Aisha yang tengah mengomel dengan wajah cemberut seperti itu justru semakin menggemaskan, akhirnya Aishanya mulai kembali menjadi wanita yang pencemburu seperti yang ia kenal dulu.
Dengan kasar Aisha segera menghapus air mata yang nyatanya tetap turun meski sudah susah payah ia tahan, mengambil kembali sling bag-nya yang terjatuh lantas segera berbalik meninggalkan Faris yang nyatanya tak berkomentar apapun mengenai pengakuannya.
Belum sempat langkah itu meninggalkan pijakannya, tangan kekar yang tentu saja milik Faris sudah melingkar sempurna di pinggang ramping Aisha. Wajahnya Faris letakkan pada salah satu bahu Aisha yang lebih rendah dari dirinya.
“Abang suka liat Ica cemburu,” bisik Faris tepat di telinga Aisha, membuat sang empunya merinding seketika dengan deru napas yang terasa begitu dekat.
“Ap-.” Belum sempat Aisha membuka mulutnya Faris justru semakin merapatkan tubuh mereka, membuat tubuh Aisha semakin menegang tentu saja, entah merasa sesak napas karena Faris yang memeluknya terlalu erat atau justru karena degup jantungnya yang sudah menabuh genderang tak karuan.
“Abang mau dateng ke acara makan malem Tuan Abbas karena selain udah janji … juga karena Abang pengen ketemu Ica, bukan Ayla. Abang berharap siapa tau Kak Faisal ngajak Ica sama Ibu juga ke acara itu.”
Aisha berbalik mencoba menatap sang suami yang tampaknya tak sedikitpun tersirat kebohongan di sana. “Kak Isal bahkan nggak tau kalo Tuan Abbas mau ngadain acara makan malem,” tukasnya masih dengan wajah muramnya.
__ADS_1
“Kan Abang nggak tau Sayang … Abang kira karena ini acara makan malem sebagai sesama kolega bisnis ya otomatis pikiran Abang pasti ada Kak Faisal juga, karena keliatannya Tuan Abbas selalu ngebanggain Kak Faisal kalo tentang bisnis.”
Mendengar penuturan Faris yang masih ia cerna, Aisha hanya bisa menghela napasnya.
“Terus sekarang Abang masih tetep mau pergi? Meski udah tau di sana nggak bakalan ada Kak Faisal, apalagi Ica.”
Faris pun mengangguk dan langsung mendapati tatapan yang sulit diartikan dari Aisha, “Oh iya lupa, kan masih ada Ayla yang harus dikenalin. Ya udah Ica pulang, semoga lancar acaranya.”
Dilepasnya tangan Faris yang masih bertengger di pinggangnya. Tapi lagi-lagi langkah Aisha kembali terhenti karena Faris kembali mencekal lengannya.
“Apa lagi?” tanya Aisha dengan raut yang sudah tak bersahabat.
“Hey Sayang, dengerin. Kita perginya sama-sama, Ica ikut Abang yah?”
“Yang mau dikenalin ke Ayla kan Abang, bukan Ica,” ketus Aisha berusaha melepaskan cekalan di tangannya.
“Kalo Tuan Abbas emang mau ngenalin Ayla … Abang juga mau ngenalin istri Abang dong, plis Sayang kita berangkat sama-sama yah? You promised.” Aisha tampak berpikir sejenak.
“Mana yang katanya tadi mau mulai lagi semuanya sama-sama? Dateng buru-buru ngalahin ego demi cegah Abang dateng ke acara itu, katanya sayang Abang hm?” sindir Faris sambil meraih dagu istrinya agar menatapnya.
Hal itu sontak membuat wajah Aisha bersemu sehingga membuatnya memalingkan wajah, tapi sayang Faris sudah terlanjur melihat reaksi menggemaskan itu.
Aisha melirik pakaian yang dikenakannya saat ini, dress santai dengan pashmina yang ia gunakan dengan asal karena terburu-buru, begitu berbanding terbalik dengan suaminya yang sudah rapi sejak ujung kaki hingga kepalanya. “Ica nggak bawa baju,” ujarnya lirih membuat Faris tak bisa untuk menyembunyikan tawanya.
“It’s okay, kita cari baju dulu. Masih sempet kok.”
Lelaki yang sudah rapi dengan setelan kemeja dan rambut klimisnya itu tampak menggiring sang istri dan membawanya masuk ke dalam mobil
______
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1