Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Sabarmu ... kuatku


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Ayla, Faisal memutar arah mobilnya menuju ke asrama Hasan setelah mengantar adiknya pulang.


Faisal bukan bermaksud ingin ikut campur dengan masalah adiknya, hanya saja sebagai seorang kakak ia pun ingin adiknya mendapatkan yang terbaik, ia hanya ingin memastikan semuanya.


Sekitar lima belas menit akhirnya tesla hitam itu berhenti tepat di halaman asrama yang cukup luas. Faisal melirik arlojinya, semoga saja Hasan belum memjamkan matanya, hanya itu yang ada dikepalnya saat ini.


Tutt … tutt … tepat pada dering ketiga panggilannya diangkat.


“Assalamualaikum San?” Faisal menyapa ketika tak mendapati suara dari sebrang.


Dan benar saja, di sana Hasan memang masih mematung saat mengetahui siapa yang meneleponnya, ketika tahu jika itu adalah Faisal, kepalanya langsung teringat dengan Ayla, pasti panggilan Faisal ada hubungannya dengan Ayla, hanya itu yang terlintas dibenaknya.


“Iya Kak, waalaikumsalam ….”


“Em kamu udah tidur San?” tanya Faisal karena Hasan cukup lama tak bersuara.


“Belum kok Kak.” Hasan menjawab singkat.


“Bisa tolong keluar sebentar, saya udah di depan asrama kamu.”


Deg, tiba-tiba degup jantung Hasan berdetak tak karuan, dugaannya sudah pasti benar.


“Udahlah, aku emang harus lurusin semuanya,” gumam Gus Hasan setelah mematikan sambungan teleponnya.


Dengan langkah gontai ia keluar dari kamarnya sambil berusaha menstabilkan detak jantungnya.


“Mau kemana Gus malam-malam?” Jaya yang baru saja pulang dari tak sengaja mendapati Gusnya yang berjalan menunduk menyusuri lorong asrama sendirian.


“Itu ada tamu sebentar.” Gus Hasan menjawab singkat sambil mengangkat wajahnya.


“Jangan bilang Mr Faisal yang di depan adalah tamu sampeyan?” Jaya benar-benar penasaran karena pasalnya seorang tutor besar seperti Faisal sudi meluangkan waktu untuk berkunjung ke asrama mereka.


Sedangkan Gus Hasan hanya mengangguk kecil.


“Woahh … tamu-tamu sampeyan memang beda kelasnya sama saya nggeh Gus.” Jaya sudah berdecak kagum dengan Gusnya yang pasalnya baru saja beberapa bulan ini menginjakkan kaki di Turki, tentu jauh sekali dengan dirinya yang sudah bertahun-tahun.


“Berlian memang akan selalu berkilau dimanapun.” Lagi-lagi Jaya hanya bisa terkagum-kagum ketika Gusnya sudah melewatinya untuk bertemu seseorang yang disebutnya ‘tamu’.


“Kita cari tempat yang lebih nyaman buat ngobrol gimana?”


“Di ujung gedung asrama ini ada café kecil, apa Kakak mau?” tanya Gus Hasan menawarkan.


“Okay.”


Faisal berjalan mengikuti Gus Hasan setelah lebih dulu mengunci mobilnya, letak café itu memang hanya beberapa puluh meter sehingga mereka cukup berjalan kaki.


“Ehem ….” Faisal berdehem mencoba mencairkan suasana setelah mereka duduk dan memesan dua gelas americano.


“San … saya sudah tau semuanya, saya benar-benar minta maaf atas nama adik saya setelah dengan lancangnya dia ikut campur urusan kamu.” Faisal mencoba membuka percakapan.

__ADS_1


“Nggak apa-apa Kak, saya ngerti kok. Lagian kita kan memang berteman, mungkin dia cemas dengan saya yang harus kembali berhadapan dengan kakak sepupu saya dan istrinya.” Hasan menjawab dengan tenangnya.


“Saya benar-benar menyayangkan perbuatan Ayla yang mengatasnamakan cintanya, jujur saya juga sedikit kaget kenapa dia bisa berbuat senekat itu.”


“Apa Ayla juga menceritakan mengenai perasaannya?”


Faisal mengangguk sambil menyeruput kopinya.


“Semuanya." Faisal berucap dengan tenang.


Ia meletakkan kopinya dan melanjutkan kalimatnya.


“Bukan saya bermaksud ikut campur dengan urusan kalian San, saya hanya mencoba bersikap sebagai seorang Kakak yang ingin melindungi adiknya. Saya tau perasaanmu terhadap istri kakak sepupumu tak akan semudah itu hilang hanya dengan mendengar pengakuan adik saya sama kamu, itu urusan hatimu, saya nggak bisa memaksa. Saya cuma minta  jika memang kamu nggak bisa, tolong jangan sakiti Ayla, jangan kamu buat dia berharap, adik saya juga gadis yang lemah, karena itu saya sangat tidak bisa melihat air matanya berjatuhan. Kita sama-sama lelaki, kamu pasti paham maksud saya.”


Gus Hasan menghela napasnya perlahan, jujur hatinya sedikit goyah setelah mendengar pengakuan Ayla.


“Allah itu Maha membolak-balikkan hati Kak, saya sendiri nggak tau kemana arah hati saya nantinya, begitupun Ayla. Tidak ada yang tidak mungkin untuk yang Maha Kuasa atas diri kita.”


***


“Ssshh … Allohu Akbar punggungku ….” Faris menghela napas gusar sambil memegangi punggungnya yang terasa remuk, ia baru saja keluar dari ruang operasi lalu menyantap makan siangnya bersama para staf yang lain.


Netranya memercing ketika mendapati pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Ia melangkah perlahan lantas melongok siapa gerangan yang ada di ruangannya.


“Huh … kirain siapa, Yang.” Faris bergumam sendiri ketika melihat ternyata istri cantiknyalah yang tengah meringkuk di sofa ruangannya.


Seketika penat yang menyerangnya seakan sirna setelah melihat wajah ayu itu yang tengah terlelap dengan damai.


“Hmm ….” Aisha hanya bergumam kecil sambil menggeliat membuat kemeja yang dikenakannya sedikit tersingkap namun sanggup menampakkan bagian pusarnya.


“Aduh Sayang, awas nih kalo sampe ketiduran di tempat umum,” gerutu Faris bersusah payah menelan salivanya, lantas dengan segera ia benarkan kemeja Aisha yang tersingkap itu.


“Abang ….” Perlahan Aisha membuka matanya, pemandangan pertama yang didapatinya adalah wajah tampan Faris yang sudah tersenyum manis memandanginya.


“Ica kok nggak bilang-bilang sih kalo ke sini?”


“Tadi kata resepsionis Abang masih ada operasi, ya udah Ica nunggu di sini deh. Eh taunya malah ketiduran,” tutur Aisha mendudukan dirinya sambil membenarkan tampilannya.


“Udah lama Ica nyampenya?”


Aisha melirik arloji di tangannya.


“Sekitar sejam yang lalu.”


“Ya Allah Sayang … kenapa nggak panggil Abang aja sih? Ica dianterin siapa ke sini?”


“Dianter Roger.” Lagi-lagi Aisha hanya menjawab enteng, padahal raut kekhawatiran sudah jelas tersirat di wajah suaminya.


“Abang lagi padet banget yah?” Aisha bertanya ketika melihat suaminya yang tampak lelah.

__ADS_1


“Iya nih Yang, ini aja ada jadwal sepuluh menit lagi.” Faris berucap penuh sesal, ia tidak tega melihat istrinya yang harus sendiri lagi karena selalu ditinggalkannya.


“Ya udah gih siap-siap, jangan telat. Udah solat, udah makan kan?” Aisha berucap seolah dirinya baik-baik saja.


Faris hanya mengangguk, ia jelas tahu jika istrinya saat ini pasti merasa sedih karena harus ditinggalnya lagi.


“Abang temenin Ica makan dulu yuk, pasti Ica belum makan kan?”


Aisha menggeleng dengan berusaha menampilkan senyumnya.


“Ica nggak apa-apa, belum laper juga kok, Abang lanjutin gih kerjaannya.” Aisha menarik lengan suaminya agar bangkit.


“Ica mau nunggu di sini apa gimana?” Faris turut bangkit menuruti keinginan istrinya.


“Nggak apa-apa Ica pulang aja deh, mau belanja juga.”


“Maaf Abang nggak bisa nganter ya Sayang, nggak apa-apa kan pulang sama Roger lagi?”


Aisha mengangguk kecil mengiyakan.


“Maaf ya Sayang, Ica harus Abang tinggal terus. Abang juga nggak tau kenapa minggu ini jadwal Abang padet banget.” Faris berucap dengan sendu sambil memegangi wajah istrinya.


Diusapnya tangan kekar yang tengah membelai wajahnya oleh Aisha, ia berusaha selalu tersenyum meski terkadang hatinya sendiri masih memungkiri jika ia juga ingin seperti wanita lain yang selalu didampingi suaminya, apalagi di saat awal-awal kehamilannya seperti ini.


Sejak awal Aisha paham betul resiko yang harus ditanggungnya sebagai istri dari seorang dokter, setiap saat ia harus rela jika harus berbagi waktu dengan nyawa-nyawa yang selalu menunggu uluran tangan suaminya, ada amanah yang juga selalu dipikul di pundak itu. Bukan Aisha tak pernah mengeluh dengan semua keadaan itu, ia hanya berusaha untuk selalu kuat di hadapan suaminya, karena tegar dan tabahnya adalah kekuatan untuk suaminya.


Aisha mencintai Faris semata tak hanya karena fisik dan materinya, melainkan semua yang ada dalam dunia Faris, apa adanya, termasuk kesibukan yang juga tak jarang membuat Aisha merintih kesepian.


“Ica nggak apa-apa kok Bang, Abang kan sibuk juga cari nafkah, bukan macem-macem.” Aisha berujar dengan tenang.


Mendengar istrinya yang begitu sabar, Faris mengecup kening Aisha dengan lembut, lantas beralih mencium bibirnya, dalam sekali, hingga Aisha tak ingin melepaskannya.


“Yuk Abang anter ke Roger.” Faris berucap pelan dengan masih menyatukan kening mereka.


“Abang duluan aja, Ica mau benerin dandanan Ica dulu sekalian solat di sini.”


“Beneran nggak apa-apa Abang tinggal?”


Lagi-lagi Aisha mengangguk menampilkan senyumnya, membuat Faris tak bisa menolaknya.


Cup, satu kecupan singkat mendarat lagi di bibir Aisha sebelum Faris benar-benar meninggalkannya.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


 


 


__ADS_2