Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Hari Kita


__ADS_3

Cuaca hari ini begitu cerah, di langit sana tak ada sedikit pun gumpalan awan yang menutupi bias mentari.


Semesta seakan turut bahagia menyaksikan acara yang diharap hanya terjadi sekali dalam seumur hidup.


Bagi setiap gadis, baju pengantin adalah lambang kebahagiaan sepanjang masa yang selalu dinanti dalam hidupnya.


Ketika seorang gadis dipinang, maka ayahlah yang akan paling merasa kehilangan. Di mana seorang lelaki akan menjabat tangan ayahnya, mengijabkan kabul atas pergantian tanggung jawab seorang ayah pada menantu lelakinya.


Aisha menatap langit dari jendela kamarnya yang terbuka lebar, berharap langit itu menayangkan sosok ayah yang selama ini ia rindukan. Ayah yang seharusnya hari ini mengantarnya ke pelaminan.


"Ayah, hari ini Aisha akan menikah dengan lelaki pilihan Aisha. Aisha teramat ingin ayah ada di sini, menyaksikan bagaimana lelaki itu mengambil alih tanggung jawab atas Aisha dari ibu dan ayah. Semoga ayah selalu ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya," lirih Aisha dalam isaknya.


Perlahan Aisha hapus tetesan di ujung netranya, lalu merapihkan riasan wajahnya, karena ini adalah hari bahagianya, hari yang setiap gadis impikan.


"Udah siap kan sayang?" tanya Maya yang diikuti oleh Ning Sabina ketika menghampiri putrinya di kamar.


"Insya Allah bu," jawab Aisha mantap.


"Masya Allah cantiknya ...." puji Ning Sabina kagum melihat kecantikan Aisha.


"Terima kasih Ning yang lebih cantik," jawab Aisha yang membuat semuanya tergelak.


"Yo wes ayo turun, semuanya sudah nungguin Aisha," tutur Nyai Hamidah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Maya menuntun Aisha perlahan menuruni anak tangga, jika acara lamaran dilaksanakan di pesantren, tapi akadnya tentu saja di rumah pengantin wanita.


***


Seorang lelaki yang tampak lebih gagah dengan balutan baju pengantin adat Jawa yang senada seperti yang Aisha kenakan tengah duduk takdim di depan pamannya, ya paman yang akan menggantikan ayahnya menjadi wali Aisha.


"Tenang saja Ris, ndak usah tegang kayak gitu," tutur Kyai Safar yang melihat Faris menunduk meremas jemarinya sendiri.


"Ya wajar tegang to Pakde, wong mau ngehalalin anak orang. Kan tanggung jawabnya besar," jawab Faris berbisik pada Pakde di sampingnya.


“Sudah tahu berat tapi tetap saja kepengen.”


“Jika seorang hamba telah mampu, maka menikahlah. Karena dengan menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya,” jawab Faris mantap kepada Pakdenya.


“Sudah besar ternyata keponakan Pakde yo,” ucap Kyai Safar yang justru menggoda Faris.


"Tapi buat ijab kabulnya sudah hapal kan?" lanjutnya.


"Ya jelas hapal Pakde, ngehapalnya saja siang malam," jawab Faris polos yang sontak mengundang tawa Pakdenya.


Sedangkan Gus Hasan yang berada di samping Abahnya lebih banyak terdiam. Tepatnya ia sedang mengkondisikan hatinya untuk tetap kuat menyaksikan gadis impiannya justru dipersunting kakak sepupunya.


Di tengah perbincangan Faris dengan Kyai Safar, terdengar derap langkah seseorang yang menuruni anak tangga, ya seseorang itu tak lain adalah Aisha yang terlihat begitu mempesona dalam balutan kebaya dan kain batik adat Jawa yang tetap bernafaskan islami dengan hijab, tanpa harus menggunakan paes namun dilengkapi dengan cunduk mentul, kembang goyang gunungan hingga kalung sungsun yang tetap memancarkan keanggunan tradisional yang berpadu dengan syariat islam.

__ADS_1


Faris menatapnya tanpa kedip, ia terpaku, terpesona, akan kecantikan bidadari yang sebentar lagi akan menjadi kekasih halalnya.


"Mempelai pria sudah siap?" tanya penghulu yang membuyarkan lamunan Faris seketika.


"I-iya saya siap," jawab Faris tergugup.


"Sabar le, sebentar lagi halal," goda Pakdenya.


***


Para ulama fikih berpendapat terkait bahasa yang digunakan ketika ijab kabul boleh menggunakan kata-kata dalam bahasa apapun, tidak terikat satu bahasa, asalkan lafalnya bisa dipahami dan menunjukan rasa ridho dan setuju.


Seperti pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa ijab kabul ketika akad nikah boleh dilakukan dengan bahasa, kata-kata, atau perbuatan apapun yang dianggap sudah menyatakan terjadinya pernikahan oleh masyarakat umum.


Seperti yang terjadi di kediaman Aisha hari ini, seorang lelaki yang tak pernah disangka-sangka menjabat tangan wali Aisha, kemudian mengucapkan akad nikahnya saat itu juga.


“Saudara Faris Zein Abdullah bin Haris Abdullah, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan keponakan saya Aisha Ameera Al-Insani binti Muhammad Ameer dengan mas kawin berupa emas seberat 25 gram, uang senilai dua puluh lima juta rupiah dan sepuluh dinar Kuwait dibayar tunai,” ucap paman Aisha dengan menjabat tangan Faris.


Dengan satu kali tarikan nafas, Faris mengucapkan qobul dengan lantang, berharap Aisha mendengarnya dari sudut ruangan yang berbeda.


“Saya terima nikah dan kawinnya Aisha Ameera Al-Insani binti Muhammad Ameer untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”


“Bagaimana saksi? Sah?” tanya penghulu lantang.


“Sah.” Jawab seisi ruangan kompak.


“Alhamdulillah ….”


Setelah ijab dan kabul dilaksanakan dan mereka sudah resmi menjadi suami istri, Faris menghampiri Aisha di ruangannya.


“Assalamualaikum yaa baabarrahmaan (Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu wahai pintu kasih sayang),” ucap Faris lirih ketika sudah di hadapan Aisha.


“Waalaikumsalam yaa sayyidal amiini (Semoga keselamatan juga menyertaimu wahai tuan yang dipercaya),” jawab Aisha dengan senyum yang paling indah yang Faris lihat.


Aisha meraih tangan Faris, mengecupnya takdim, Faris merasakan ada  bulir bening yang ikut luruh membasahi tangannya. Faris sendiri tengah berusaha agar tak ada parit di ujung matanya yang mungkin akan memperlihatkan kelemahannya.


Faris kemudian menuntun Aisha ke ruangan utama di depan penghulu untuk menandatangani surat-surat nikah dan saling menyematkan cincin pernikahan.



Setelah semuanya selesai, Faris dan Aisha dipandu ke ruang rias guna berganti baju untuk prosesi upacara panggih, resepsi adat Jawa yang dilakukan setelah ijab dan qobul.


***


“Mas-nya di ruangan sebelah ya,” ucap penata rias yang melihat Faris masih terus menggenggam tangan Aisha hingga ke ruang rias wanita.


“Lah kan sudah halal Mba,” jawab Faris polos.

__ADS_1


“Tapi masa iya Mas-nya mau ganti baju di sini juga,” ucap penata rias terkekeh dengan tingkah Faris.


“Ya nggak apa … aww sakit ya Alloh,” ucap Faris meringis merasakan pinggangnya seperti digigit semut. Siapa lagi jika bukan perbuatan Aisha, dia sengaja mencubit suaminya sebelum dia melanjutkan kalimatnya.


“Kok dicubit sih cantik?” tanya Faris sambil mengelus-elus pinggangnya.


“Lagian bar-bar.”


“Bukan bar-bar, nanti takutnya kamu kangen kalo aku tinggal,” goda Faris yang semakin gemas melihat rona merah di pipi Aisha semakin terlihat.


“Ah iya iya aku keluar,” ucap Faris mengangkat tangan saat melihat tangan istrinya bersiap dengan posisi hendak mencubitnya lagi.


“Dadah sayang,” lagi-lagi Faris menggoda Aisha.


Aisha tersenyum melihat tingkah lelaki yang kini berstatus suaminya, tapi ia belum terbiasa dengan itu semua sehingga kadang ia yang merasa malu sendiri.


“Maaf ya Mba,” ucap Aisha pada penata rias ketika Faris telah meninggalkan ruangan.


“Wajar Mba, pengantin baru,” jawab penata rias terkekeh.


Aisha menutup wajahnya dengan telapak tangan, menyembunyikan rona di pipinya karena tingkah suaminya.


***


Faris telah siap dengan busana pengantin adat berwarna hitam yang dipadukan dengan batik bermotif sama dengan yang Aisha kenakan. Tak lupa sebagai perlambang kegagahan, Faris mengenakan keris berbentuk Ladrang dan diberi bunga Kolong Keris yang diselipkan di bagian belakang sabuk. Kerisnya diberi ukiran di tangkainya dan diberi perhiasan berbentuk lingkaran bulat seperti cincin.



Dengan segera Faris menghampiri Aisha di ruang rias pengantin, betapa ia begitu terpesona ketika melihat Aisha telah siap dengan busana pengantin yang senada dengan yang ia kenakan.


Jika tadi Aisha mengenakan kebaya dan kain batik ketika akad nikah, kini konsep baju pengantin Aisha untuk upacara adat selanjutnya adalah baju adat Jawa yang dimodifikasi menjadi gaun yang terlihat semakin menawan dengan adanya ekor dibagian bawahnya sehingga terlihat semakin modern tapi tidak meninggalkan adat.


Tak lupa bagian hijabnya tetap dilengkapi dengan cunduk mentul dan kembang goyang gunungan yang membuat kecantikan Aisha semakin terpancar.



“Abang ….” panggil Aisha menepuk lengan Faris yang masih mematung di depan pintu.


“Hah?” jawab Faris terkejut.


“Ayo,” ajak Aisha.


“Oh udah?” jawab Faris yang terlihat masih bingung.


“Makanya ngajakin juga karena udah Bang.”


Faris tersenyum menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, jika di depan Aisha ia seperti kehilangan kesadaran. Lalu Faris mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh genggaman Aisha. Mereka melangkah bersama menuju pelaminan yang telah dinanti-nantikan.

__ADS_1


Bersambung ….


Jangan lupa vote like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….


__ADS_2