Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Ibadah lagi


__ADS_3

Malam yang cukup panjang bagi kedua insan yang masih bergelung di bawah selimut, hawa dingin membuat keduanya semakin mengeratkan pelukan.


Aisha mulai mengerjapkan netranya saat merasa geli di bagian lehernya. Ia merasakan hembusan hangat di ceruk lehernya.


Namun  seketika Aisha membulatkan matanya sempurna saat jemarinya merasakan langsung kulit suaminya yang tak terhalang apapun, membuatnya kembali teringat kegiatan semalam mereka.


Sebelum kepergok oleh Faris, Aisha berniat untuk bangkit ke kamar mandi membersihkan diri. Baru setelahnya ia akan membangunkan suaminya.


“Aduh ….”


Pergerakan Aisha terhenti saat tiba-tiba perih terasa di pangkal pahanya, membuatnya kembali terduduk di ranjangnya.


Faris yang merasa terusik karena pergerakan Aisha membuatnya ikut mengerjakan mata.


“Kenapa Sayang? Sakit ya?” tanya Faris yang sudah sepenuhnya terbangun dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Aisha hanya menganggukan kepalanya sambil menutupi wajahnya yang sudah bersemu merah.


Faris bangkit dari tidurnya, berjalan ke sisi ranjang dekat Aisha. Disibaknya selimut yang masih menutupi tubuh istrinya, lalu tanpa aba-aba Faris menggendong Aisha menuju ke kamar mandi.


“Abang!” pekik Aisha terkejut sekaligus malu.


Faris hanya tersenyum dan berjalan santai, Aisha sontak menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Faris dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Faris.


Faris menurunkan Aisha di sisi bathub kamar mandi yang terlihat sangat luas dan megah, ia mengisi bathub dengan air hangat. Tak lupa memasukan bubble bath dan minyak aromaterapi beraroma lily kesukaannya.


Aisha hanya menatap suaminya penuh kekaguman, netranya mengikuti setiap pergerakan yang Faris lakukan.


Setelah selesai, Faris membantu Aisha untuk berendam, menikmati aroma bunga lily yang menyeruak ke hidung bangirnya.


“Mau mandi bareng nggak?” goda Faris yang terduduk di sisi bathub memandangi wanitanya yang terlihat sangat rileks bersandar dan berendam dalam bathub.


“Abang ih!” Sontak Aisha membuka matanya yang tengah terpejam menikmati acara berendamnya.


“Ya udah gantian, tapi jangan lama-lama. Kalo lama nanti Abang langsung nyusul juga.” Lagi-lagi Faris menggoda istrinya yang terlihat sangat menggemaskan.


***


“Tunggu! Kamu tuh yah kebiasaan kalo orang lagi ngomong ditinggalin.” Terdengar Ayla sedikit menaikan suaranya sambil mengejar langkah Gus Hasan. Tak lupa kedua pengawalnya yang selalu setia mengikuti Ayla.


“Ayla! Oh my God itu beneran Ayla kan?”


Tiba-tiba segerombolan anak muda di sekitar jembatan Bosphorus menggerumutinya, berebutan meminta berfoto dengan dirinya. Bahkan kedua pengawalnya pun kewalahan menghadapi para fans Ayla yang membludak.


“Ayla we love you ….”


“Ayla kami merindukanmu ….”


Di Istanbul, siapa yang tidak kenal sang musisi dengan suara indahnya bernama Hulya Ayla Filiz. Namun tidak banyak yang tahu latar belakang dari seorang Ayla, meskipun namanya melangit tapi ia termasuk public figure yang sangat tertutup dengan media, mereka hanya tahu sebatas nama panggungnya saja, yakni ‘Ayla’.


Putri tunggal dari pasangan Ajeng Pramisti, wanita berdarah Jawa dan Ahmed Abbas Yilmaz, pria berkebangsaan Turki. Perpaduan dua gen luar biasa menjadikan Ayla tak hanya berparas menarik, tapi juga wanita tangguh nan karismatik terselip dari gen ibunya sebagai wanita  Jawa.

__ADS_1


Karena kepiawaiannya dalam dunia suara, banyak label yang berlomba-lomba merekrut Ayla ke dalam naungannya, namun ia terlalu cinta dengan kebebasannya. Ia tak ingin terikat dengan sesuatu apapun, ia hanya ingin bernyanyi mengikuti nalurinya.


Semua usaha yang telah Ayla lakukan bahkan hingga melebarkan sayapnya cukup jauh seperti saat ini, tentu saja bukan karena uang. Menurutnya itu semua hanya sekedar untuk mengisi kekosongan dalam dirinya yang entah apa itu. Ia hanya kucing liar yang butuh perhatian.


Gus Hasan menghentikan langkahnya, mengamati kericuhan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu.


Naluri dalam dirinya mengatakan untuk membantu wanita yang terlihat kesulitan tengah dikerumuni oleh para fansnya yang membludak.


Tanpa sadar sejak pertemuannya di pesawat waktu itu, mengapa dirinya harus selalu ikut campur dalam urusan wanita itu. Apa Gus Hasan mulai mempedulikan Ayla? Dan perlahan melupakan Aisha?.


“Ikut saya!” ajak Gus Hasan menyelinap di antara para fans.


Ayla yang terlihat kebingungan hanya menurut saja, meninggalkan pengawalnya menghadapi para fansnya sendirian.


Gus Hasan menghentikan langkahnya saat merasa keadaaan cukup aman, dirinya amat terkejut saat tanpa sadar sejak tadi ia menggenggam tangan Ayla. Bersentuhan dengan lawan jenis, sesuatu yang tak pernah Gus Hasan lakukan kecuali pada ibu dan kakak perempuannya. Berkali-kali lisannya merapalkan istighfar karena telah melanggar prinsip yang selama ini selalu ia jaga.


“Maaf, saya nggak bermaksud apapun,” tutur Gus Hasan kikuk.


“Emmm aku semakin yakin kalo kamu sebenarnya peduli kan sama aku?” Ayla semakin percaya diri setelah melihat perlakuan Gus Hasan padanya tadi.


“Sebenarnya motif kamu selalu muncul dalam dunia saya tuh apa sih? Nggak mungkin karena popularitas ataupun uang kan? Kamu sudah punya semuanya.”


“Siapa bilang? Hidupku nggak sesempurna yang kamu bayangkan.”


“Terus kenapa?”


“Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik, apa salah?” jawab Ayla membuat Gus Hasan seketika bungkam.


“Nothing. Biarkan semua berjalan dengan sendirinya, we can be friend right?”


“Okay, just a friend.” Pandangan Gus Hasan tetap lurus ke depan, menerawang indahnya langit malam dari atas jembatan Bhosporus tempatnya dan Ayla berbincang.


“Kamu orang Jogja?” tanya Ayla membuat Gus Hasan menoleh.


“Ya, aku asli Jogja.”


“Ke sini buat kuliah? Kerja? Atau apa?” Ayla mulai penasaran pada kehidupan Gus Hasan.


“Melarikan diri,” tutur Gus Hasan enteng, membuat Ayla yang tengah meneguk air mineralnya seketika tersedak.


“Uhuk … uhuk. Maksud kamu?”


“Kita baru saja kenal, apa aku bisa memercayaimu?” Gus Hasan terlihat menyelidik.


“Hey, aku nggak se bar-bar yang kamu kira ya. Kita berteman sekarang,” jawab Ayla membela diri.


“Sometimes,” ucap Gus Hasan tetap datar.


Ayla hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tak mau terlihat terlalu ingin ikut campur. Padahal mereka baru saja berteman, tentunya Ayla tak mau merusak imagenya di depan teman barunya.


***

__ADS_1


Aisha tengah merapikan kembali mukenanya saat Faris melangkah masuk ke kamar mereka sepulang berjamaah subuh di masjid komplek. Tak lupa Aisha segera mencium punggung tangan Faris, mencari berkah dan ridho suaminya.


“Sayang sini deh,” ucap Faris menepuk-nepuk ranjang kosong di sampingnya.


“Ish nggak ah, nanti malah tidur lagi. Abang kan harus ke Rumah Sakit,” jawab Aisha yang masih sibuk merapikan kembali baju koko yang Faris kenakan tadi.


“Sebentar doang, plisss,” tutur Faris dengan puppy eyes-nya, membuat Aisha tak bisa untuk tak menurutinya.


Faris langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan Aisha.


“Abang ngantuk banget Sayang, semalem kan cuma tidur bentar doang,” goda Faris dengan langsung memejamkan netranya.


Plakkk …. Pukulan ringan mendarat di lengan Faris, membuat sang empunya hanya tersenyum dalam lelapnya, lalu seketika berubah menjadi usapan-usapan halus di wajah Faris yang membuatnya semakin terlelap.


“Abang ih nggak boleh tidur, kan harus ke Rumah Sakit,” tutur Aisha menggoyang-goyangkan tubuh Faris di pangkuannya.


“Hmmm.”


Faris justru semakin melesakkan kepalanya pada perut Aisha, kedua lengannya melingkari pinggang ramping istrinya.


“Hari ini Abang libur dong,” tutur Faris samar-samar namum masih bisa di dengar oleh Aisha.


Sontak wajah Aisha berbinar mendengar ucapan suaminya, tentu saja quality time seperti itu tak boleh mereka lewatkan begitu saja.


“Ica sayang banget sama Bang Faris.” Aisha berbisik tepat di telinga Faris yang masih terlelap.


Faris yang belum sepenuhnya terlelap sontak membuka matanya dan bangkit dari tidurnya. Menyusul Aisha terduduk dengan bersandar pada headboard ranjang.


“Apa Sayang? Sekali lagi.”


Aisha tersenyum, mengangkat pelan tangannya untuk membelai lembut rahang tegas suaminya.


“Ica sayang banget sama Bang Faris,” tuturnya menatap intens manik mata Faris yang berbinar.


Faris mendekatkan wajahnya, mengusap pelan bibir cantik yang terlihat sangat merona ingin dilahap, Aisha hanya mengulas senyumnya merasakan hangatnya hembusan napas Faris yang menyapu wajahnya.


Faris langsung memagut bibir manis di depannya, kali ini lebih panas dari sebelumnya. Aisha pun sudah semakin lihai membalas setiap pagutan yang Faris salurkan.


Perlahan bibir Faris mulai turun menyusuri leher jenjang Aisha, dan berlama-lama pada ceruknya membuat Aisha mencengkeram kuat lengan Faris yang melilit di pinggangnya. Terlihat Aisha menggigit bibir bawahnya, mungkin menahan agar tidak mendesah.


Namun Faris semakin gencar meluncurkan serangan-serangannya yang membuat pertahanan Aisha runtuh seketika.


Ciuman yang semakin memanas, membuat gejolak pada tubuh keduanya semakin memberontak, bahkan dinginnya pagi dan pendingin ruangan pun tak mampu meredakan gejolak yang kian membara.


Pagi itu mereka kembali mengulang ibadah mereka semalam dengan sensasi yang berbeda.


***


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2