
Aisha mengerjapkan netranya saat sayup-sayup mendengar suara tahrim dari masjid komplek, langit-langit kamar berwarna silver yang sudah tak asing mengingatkannya bahwa semalam ia sudah kembali dari rumah ibunya. Diliriknya jam yang bertengger di samping lampu tidurnya menunjukan pukul tiga dini hari.
Ia menyibakkan selimutnya saat merasa sesuatu menindih pinggangnya, ternyata itu lengan kekar suaminya, memang setelah menikah Faris jadi memiliki kebiasaan baru, yaitu harus tertidur dengan keadaan memeluk dirinya. Tentu saja Aisha tidak keberatan, justru ia malah menyukainya.
Aisha berbalik, mendapati suaminya yang masih terlelap dengan damai. Sosok yang selalu sabar menghadapi segala sikap buruknya. Sosok yang tak lagi asing bagi Aisha yang selalu menghibur dirinya, wanita dengan penuh gores luka di masa lalu. Sosok yang selalu menjaga air matanya agar tak tumpah karena kesedihan. Sosok yang tak pernah sekalipun marah meski istrinya selalu berbuat kesalahan.
Aisha mengamati setiap inci dari wajah damai itu, sesak karena rasa bersalah menyelimuti dadanya. Tanpa sadar bulir bening terjatuh juga dari sudut netranya.
“Bang Faris suami yang baik, suami yang terlalu sempurna buat wanita dengan segala kekurangan kayak Ica. Makasih ya Abang udah menghadirkan surga dalam dunia Ica. Ya Allah, izinkan aku menjadi bidadarinya di surga-Mu kelak. You’re the one and only.”
Perlahan jemari Aisha terangkat, membelai rahang tegas yang nampak tenang. Sebuah kecupan mendarat di bibir Faris yang sedikit terbuka dalam lelapnya.
“Bang, bangun yuk,” ujar Aisha sangat lembut sambil sesekali mengusap wajah yang tetap tampan meski dengan mata terpejam.
“Bang,” panggilnya kembali saat suaminya tetap tak ada pergerakan.
Aisha semakin mendekatkan wajahnya dengan berbantalkan lengannya sendiri.
“Suamiku ini kalo tidur ganteng banget sih,” gumamnya menatap lekat wajah di hadapannya dengan senyuman yang merekah.
Sebuah ide jail melintas di kepala cantik Aisha. Disibakkannya selimut yang menutupi tubuh suaminya yang sontak membuat Faris menggeliat dan mengeratkan kedua jemarinya hingga saling bertaut karena hawa dingin yang langsung menerpa kulitnya yang hanya mengenakan boxer dan kaos oblongnya.
“Emmm Sayang,” gumam Faris dengan mata yang tetap terpejam.
“Abang, ayo bangun kita solat tahajud,” bisik Aisha tepat di telinga Faris, membuat sang empunya membuka netranya perlahan.
“Jam berapa sekarang Yang?”
“Udah jam tiga, makanya ayo bangun.”
“Emmm morning kiss dulu,” jawab Faris meletakkan telunjuknya di pipi.
“Baru bangun aja udah mesum kayak gini, gimana kalo udah sepenuhnya sadar,” gumam Aisha pada dirinya sendiri.
“Ayo Sayang,” pinta Faris mengulanginya.
Tanpa Faris duga, Aisha langsung mengabulkan permintaannya, bahkan bukan hanya di pipi seperti yang ia minta, melainkan setiap inci dari wajahnya, membuatnya sontak berbinar dengan senyuman yang mengembang.
“Udah ayo cepetan bangun ah.” Aisha menarik lengan Faris agar benar-benar bangun.
“Kalo tau nikah enaknya kayak gini, kenapa nggak dari dulu aja yah Yang kita nikahnya,” ujar Faris menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya sendiri dengan senyuman yang tak berkurang.
“Dih apaan sih senyum-senyum gitu,” ucap Aisha yang segera bangkit dan berlari ke kamar mandi yang sebenarnya tengah menyembunyikan rona di wajahnya yang seketika memanas.
“Sayang bareng dong,” teriak Faris karena Aisha yang terlanjur masuk ke kamar mandi.
“Nggak ada yah, nanti nggak selesai-selesai kalo sama Abang,” teriak Aisha yang masih bisa terdengar walau pintu kamar mandi telah tertutup.
“Ish gimana nggak betah coba punya istri segemes itu, Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan Faris,” gumamnya tersenyum sendirian dengan wajah menengadah dan mata terpejam.
__ADS_1
***
Di tengah hiruk pikuk club, dua orang wanita dengan pakaian yang berbeda seratus delapan puluh derajat terduduk di salah satu sofa di sudut ruangan.
“Sof kita balik aja yuk?” ajak Karina yang sejak tadi tidak bisa duduk dengan tenang.
Sejak awal Karina benar-benar tak ingin memasuki tempat ini, ia sudah berkomitmen pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mendatangi tempat laknat seperti ini lagi.
Apalagi kini Karina sudah memantapkan hati untuk berhijrah, terlihat mulai dari gaya pakaian yang ia kenakan saat ini. Tak aneh jika sejak awal ia memasuki club itu banyak sorot mata yang menatapnya seperti menelanjangi penampilannya dari ujung kaki hingga kepala. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Sofia dengan keadaan seperti ini, ia takut Sofia akan berbuat nekat karena hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
Hingar bingar dentuman musik dan kerlap kerlip lampu disko yang menyala membuat siapapun terlarut dalam alunan durjana yang memekakan telinga. Aroma alkohol dan asap rokok yang menyesakkan pernapasan membuat Karina semakin gelisah.
Jika dipikir kembali, kenapa dulu dirinya juga sangat menyukai tempat terkutuk seperti ini setiap kali dirinya dilanda gundah gulana, berharap dengan mendatangi tempat ini ia bisa menghapus kesedihan yang tengah diderita.
“Apa Rin? Lo ngomong apa?” teriak Sofia karena suaranya yang tenggelam alunan musik di sana.
“Kita balik sekarang.” Karina berteriak dengan mengisyaratkan bahwa mereka harus keluar.
“Oh come on Rin, what’s wrong with you? Bukannya dulu Lo paling hobi ke tempat ginian, haha,” ujar Sofia heran dengan temannya itu.
Sofia kembali menuangkan cairan memabukkan dari botol hijau yang baru saja dibawakan oleh seorang waitress ke meja mereka, padahal kondisinya saat ini sudah cukup mabuk.
“Stop it Sofia! Lo udah mabuk!” cegah Karina mengambil botol minuman itu dari tangan Sofia.
“Give me Karin!” Sofia yang sudah cukup mabuk sontak merasa jengkel karena Karina mengambil kesenangannya.
“Open your eyes! Di dunia ini cowok tuh banyak Sof, lupain Faris! Lagi pula Lo kan udah punya suami, suami Lo juga nggak kalah tajir dari Faris kok, bahkan kalian udah punya anak. Lo nggak perlu maksain apa yang seharusnya bukan buat Lo, jika pun itu kejadian, maka hubungan kalian nggak bakalan sehat nantinya karena Lo udah memaksakan ketidakmungkinan itu menjadi mungkin. Let’s move on,” ujar Karina mencoba menyadarkan Sofia.
“Terus sekarang Lo mau gimana? Kalo Lo nggak move on, gimana cara Lo mau ngelanjutin hidup, hah? Mau coba jadi pelakor Lo? Aduh come on, itu cuma bakal ngerendahin harga diri Lo! Cantik-cantik kok pelakor, keliatan banget nggak lakunya,” sindir Karina, ia sudah tak tahu lagi bagaimana caranya membuka jalan pikiran temannya.
“Diem Lo! Dari pada Lo ngoceh nggak jelas kayak gitu, mending Lo cabut gih!” racau Sofia yang mungkin sudah tak sadar.
“No! gue nggak mungkin ninggalin Lo sendirian di tempat laknat ini.”
Karina segera bangkit dan memapah Sofia dari tempat itu, beruntung Sofia yang sudah mabuk sehingga tak terlalu memberontak ketika Karina mencoba menyeretnya keluar.
***
“Udah siap Sayang?” tanya Faris yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sudah tampil menawan.
“Udah dong, nih baju Abang,” jawabnya menyerahkan setelan untuk suaminya.
Pagi itu mereka memang akan ke bandara Djuanda untuk menjemput keluarga dari Yogyakarta. Faris memang memilih agar dirinya yang menjemput langsung.
Karena mengambil penerbangan pertama dari Yogyakarta, maka pagi-pagi sekali Faris dan Aisha sudah bersiap. Jadwal kedatangan pada pukul 07.10 maskapai Wings Air.
“Kita berangkat ya Bu,” ujar Faris dan Aisha bersamaan, keduanya bergantian mengecup punggung tangan Maya.
“Iya Sayang, hati-hati ya.” Maya yang tengah berkutat di dapur dengan beberapa pelayan yang tengah menyiapkan makanan pun menghentikan kegiatannya untuk mengantar keduanya hingga ke depan.
__ADS_1
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Pukul 07.00 waktu Indonesia bagian barat, mobil yang dikendarai Faris tiba di terminal 1 kedatangan domestic. Setelah melewati pos aviation security, Faris memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan.
Dengan saling menautkan jemari, mereka melangkah bersisian menuju ke area ruang tunggu dekat pintu keluar domestic sambil melihat papan pengumuman yang ada.
Pada panduan kedatangan jelas tertulis ‘Hall kedatangan: area ini diperuntukkan untuk proses penjemputan setelah penumpang keluar dari terminal kedatangan’
Tepat pukul 07.10 dari monitor kedatangan pesawat terlihat bahwa pesawat yang membawa keluarga Faris sudah mendarat dan sedang rolling belt koper.
“Bukde …,” teriak Faris melambaikan tangannya ketika melihat Bukdenya tampak menoleh kanan kiri mencari-cari sesuatu.
Faris segera menubruk tubuh wanita yang mulai merenta itu saat beliau melangkah ke arah dirinya,
“Faris kangen banget tau sama Bukde,” ujarnya dalam pelukan sang Bukde.
“Yo wes jelas kalo itu,” goda Nyai Hamidah mengelus-elus punggung keponakannya itu.
“Assalamualaikum Ning,” sapa Aisha seraya menyaksikan drama suaminya.
“Waalaikumsalam Aisha, ya Allah tambah cantik aja kamu ya,” puji Ning Sabina yang langsung memeluk wanita yang kini telah berstatus sebagai sepupu iparnya itu.
“Mba Ica, Fakih kangen banget sama Mba Ica tau,” celetuk Gus Fakih saat menyaksikan ibunya berpelukan dengan Aisha.
“MasyaAllah, Mba Ica juga kangen loh sama Guse,” ujar Aisha berjongkok menyamakan tingginya dengan Gus Fakih yang langsung menubruk memeluknya.
“Sama Om nggak kangen nih Fakih?” ujar Faris yang ikut berjongkok.
“Sama Om juga kangen,” jawabnya antusias berpindah pelukan pada Faris.
“Assalamualaikum, Bukde apa kabar?” tanya Aisha membungkuk takdim, ia terlihat canggung tampak dari senyumnya yang ragu-ragu. Aisha masih belum terbiasa jika harus bersikap friendly layaknya keluarga pada gurunya itu.
“Waalaikumsalam Nduk, alhamdulillah Bukde sehat. Kalian gimana? Baik-baik aja to semuanya?”
“Alhamdulillah Bukde.”
“Pakde nggak ikut Kak?” tanya Faris setelah menyalami kakak sepupunya itu.
“Pakdemu nanti nyusul kalo pas walimatussafar, beliau ndak bisa lama-lama ninggalin pondok soalnya,” ujar Nyai Hamidah menimpali, membuat keponakannya hanya manggut-manggut mengiyakan.
“Ya udah yuk kita pulang biar bisa langsung istirahat,” ajak Faris yang langsung disetujui oleh semuanya, ia lantas mengambil alih koper dari tangan Bukdenya dan menyeretnya menuju pintu keluar.
Sedangkan Aisha berjalan menuntun Gus Fakih yang sudah menautkan jari telunjuknya pada jari telunjuk miliknya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...