
“Abang! Tolong ya kalo abis mandi itu handuk jangan disimpen di atas kasur, bisa?” Aisha yang tengah mempersiapkan keperluan mereka untuk berlibur hari ini tampak menghentakkan kakinya kesal kala suaminya begitu pelupa masalah handuk yang harus disimpan di tempatnya kembali setelah mandi, padahal hampir setiap saat wanita itu tak ada bosannya mengingatkan sang suami.
“Ya Allah Sayang maaf, beneran lupa. Sini biar Abang aja,” sahut Faris segera meraih handuk di tangan istrinya sebelum bibir cantik itu kembali menggerutu untuknya.
Sebisa mungkin Aisha tetap mengulas senyumnya, “Abang Sayang, lupa itu sekali dua kali. Lah ini Abang setiap abis mandi loh Bang.”
“Iya iya Sayang maaf. Yah yah?” rajuknya segera meraih sang istri ke dalam dekapannya.
“Iya ya udah sekarang siap-siap, kasian nanti Ning Sabina sama Gus Hasan kelamaan nunggu loh.”
“Em tapi Ica beneran udah nggak apa-apa kan kalo nanti kita naik ferry ke Bosphorus? Abang takut Ica mual lagi,” ujar Faris mengingat acara berlibur mereka yang akan menaiki kapal ferry untuk menikmati Bosphorus Cruises. Sebuah tour yang paling menjadi buruan para wisatawan agar dapat menikmati keindahan dari perairan Turki bagian Eropa dan bagian Asia.
Meski Faris dan Aisha sebenarnya sudah cukup sering menikmati tour itu mengingat mereka yang sudah beberapa kali berkunjung ke kota ini, tapi Ning Sabina yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Istanbul rasanya sangat perlu untuk Faris bawa mengelilingi keindahan kota ini dari selat Bosphorus. Rasanya sudah sangat lama Faris tidak berlibur bersama keluarganya, karenanya selagi sang kakak berkunjung ke sini ia pun ingin melakukannya bersama Ning Sabina juga Gus Hasan sebagai salah satu keluarganya yang tersisa.
“InsyaAllah Ica bakal baik-baik aja Bang, kata dokter kemaren juga usia kandungan Ica udah cukup aman buat dibawa jalan-jalan, asal jangan kecapean,” jawab Aisha menenangkan kekhawatiran suaminya. Sebelum merencanakan untuk perjalanan mereka hari ini, keduanya memang menyempatkan lebih dulu untuk memeriksa kondisi kehamilan Aisha. faris juga meminta untuk dilakukan USG mengingat usia kehamilan istrinya yang sudah menginjak delapan minggu dan sudah saatnya untuk USG pada trimester pertama.
Rasanya Aisha sangat bahagia ketika dalam kondisi hamilnya ini sang suami benar-benar mencurahkan perhatiannya dengan penuh terhadapnya dan calon buah hati mereka. Apa memang sebahagia ini rasanya ibu hamil ketika mendapat perhatian dan perlindungan lebih dari sang suami? Mengingat kehamilan pertamanya Aisha tak mendapatkan semua ini, ah wanita itu memang kadang masih sering mengingat bagaimana ia kesulitan saat kehamilan pertamanya dulu.
“Tapi pokoknya nanti kalo Ica cape atau ngerasain apapun, langsung bilang sama Abang, jangan dipendem sendiri. Ok Sayang?”
“Iya Papi, Ade nggak akan nakal dan ngerepotin Mami kok. Ya kan Nak?” ujar Aisha justru mengajak janinnya berbincang. Sungguh pemandangan yang sangat indah di mata Faris.
“Ah sweet banget deh kesayangan-kesayangan Papi. Jadi nggak sabar pengen cepet dia lahir ke dunia,” celoteh Faris membuat Aisha tergelak seketika.
“Udah ah ayo siap-siap, Ica juga mau nyelesain ini,” tukas Aisha menunjuk wajahnya yang belum sepenuhnya menyelesaikan acara beriasnya.
“Jangan cantik-cantik ya Sayang, nanti kan ada Hasan,” ujar Faris sedikit khawatir dengan keberadaan adik sepupunya itu.
__ADS_1
“Abang percaya sama Ica?” Calon ayah itu sontak mengangguk cepat menanggapi pertanyaan istrinya.
“Kalo Abang khawatir, Ica pake cadar juga nggak apa-apa deh.”
“Nggak usah Sayang, Abang percaya kok sama Ica.”
Aisha kembali mengulas senyumnya yang membuat hati Faris selalu menghangat, hingga akhirnya keduanya melanjutkan kegiatan masing-masing yang sempat tertunda sebelum Gus Hasan dan Ning Sabina menunggu keduanya terlalu lama.
***
Faris menggandeng istrinya dengan berbinar, hari ini semuanya sudah berkumpul di apartemen miliknya. Faris memilih untuk menyetir sendiri dengan Gus Hasan di kursi samping kemudi sedangkan para wanita dan Gus Fakih di belakang. Bukan tanpa alasan Faris melakukan semua ini, ia sengaja ingin memberi Roger istirahat mengingat pemuda itu sudah cukup bekerja keras selama mereka di kota ini, termasuk dalam kepergian mereka ke Ankara waktu itu.
“Are you ready guys?! Let’s go!” teriak Faris memekakkan telinga ketika mobil yang dikendarainya mulai merayap di jalanan Istanbul.
Plak! Ning Sabina menggeplak pundak adik sepupunya yang kebetulan wanita itu memang duduk di belakang kemudi.
“Ye ini mah emang bawaan dari orok Mba,” sahut Faris membela diri dengan menyugar rambutnya ke belakang.
“Sok kecakepan dasar!”
“Lah emang Faris cakep, tanya aja Aisha. Ya kan Sayang?” tanya Faris mencari pembelaan dari istrinya.
“Heran Mba sama kamu Sha, kok bisa betah sama bocah tengil modelan dia hih,” cibir Ning Sabina tetap tak ingin kalah.
Gus Hasan yang sudah terbiasa dengan keributan antara kakak kandung dan kakak sepupunya itu hanya melirik sekilas dengan tetap dengan mode kalemnya irit bicara seperti biasanya. Sedangkan Aisha yang duduk di belakang bersama Ning Sabina dan Gus Fakih justru mengulas senyumnya melihat perseteruan kakak beradik sepersusuan itu. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Aisha ketika menyadari ternyata suaminya yang sangat dingin terhadap orang asing justru sangat hangat jika bersama keluarganya, dan Aisha menyukai itu.
“Umi, Om Faris, bisa nggak jangan ribut-ribut terus. Kasian tau dede bayi di perut Mba Ica, kupingnya kan masih kecil nanti sakit kalo denger kalian ribut terus.” Tiba-tiba saja bocah lelaki yang tengah sibuk dengan berbagai macam camilan di tangannya berujar dengan mengatasnamakan calon anak Faris yang bahkan ukurannya saja masih sebesar buah cherry di dalam. Sontak saja semuanya tergelak mendengar celotehan Gus Fakih yang memang sangat pintar itu.
__ADS_1
“Sorry ya boy, Umi Fakih tuh emang harus dikasih paham nih biar nggak ngeledekin Om terus,” tutur Faris mengusap lembut puncak kepala keponakan kecilnya itu. Bocah lelaki itu hanya mengangguk dengan tetap fokus pada camilan-camilan di tangannya.
“Oh ya San kamu beneran lagi free kan nggak ada jadwal kuliah?” tanya Faris melirik adik sepupunya yang sejak tadi lebih banyak terdiam di tempatnya.
Gus Hasan yang tengah memandangi jalanan pun menoleh ke arah sang kakak, “Sebenernya ada sih Mas, kelasnya Sir Faisal. Tapi beliau katanya nggak bisa masuk karena ada urusan. Jadi alhamdulillah Hasan free hari ini,” jawab Gus Hasan menjelaskan jadwalnya.
“Emang Kak Faisal ada urusan apa Sayang sampe nggak ke kampus?” tanya Faris kepada istrinya dengan melirik dari kaca spion di depannya.
“Loh Ica nggak tau malah, beberapa hari ini Kak Isal emang jarang ngabarin Ica. Mungkin urusan di kantor, Bang,” jawab Aisha yang juga penasaran dengan urusan kakaknya yang sampai membuat lelaki itu tidak mengosongkan jadwalnya di kampus.
“Oh ya Sha, ngomong-ngomong tentang kakak kamu berarti nanti dia juga ikut pulang ke Indonesia bareng kalian sama Bu Maya?” tanya Ning Sabina mendengar lelaki yang beberapa hari lalu ditemuinya di unit milik Faris dan Aisha.
“Belum tau Ning, Kakak saya di sini kan punya orang tua asuh. Kayanya bakalan berat juga buat Kakak ninggalin keluarganya di sini,” jawab Aisha tampak sendu mengingat kakak yang baru ditemukannya itu pasti akan lebih memilih untuk tetap di sini bersama keluarga yang sudah membesarkannya selama ini.
“Nggak usah khawatir Sayang, apapun yang Kak Isal putuskan nanti pasti itu yang terbaik buat dirinya dan kita sekeluarga. Kalo pun Kak Isal nggak bisa ikut pulang ke Indonesia kan kita bisa sering-sering amin ke sini.” Faris yang menyadari perubahan istrinya itu segera memberi semangat agar Aisha tak terlalu memikirkannya.
“Maaf yah Mba malah bikin kamu jadi kepikiran Sha. Mba refleks aja tadi makanya nanya kaya gitu.” Ning Sabina meraih tangan Aisha untuk kemudian diusapnnya, ia merasa tak enak hati sudah membuat adik iparnya itu justru merasa kepikiran dengan pertanyaannya.
“Nggak apa-apa Ning. Cepat atau lambat itu memang akan terjadi.”
“Ya udah back to the trip, kita nanti mau langsung naik ferry apa mau nanti agak sorean aja biar dapet sunset-nya?” tanya Faris mencoba mengalihkan topik.
“Mba sih ngikut aja, menurut kalian yang udah sering mendingan gimana?” Ning Sabina menyerahkan penuh keputusan itu pada adik-adiknya yang sudah lebih berpengalaman di sini.
***
Bersambung ...
__ADS_1