
Hola!!! Kita come back 🤩🤩🤩
“Abang mau minta Bukde bikinin jamu dulu ya Yang,” ujar Faris yang segera diangguki oleh Aisha.
Aisha masih dengan kekhawatirannya, rasa was-was masih menyeruak di dadanya. Bagaimanapun ia adalah seorang wanita, seorang istri. Bukankah memiliki keturunan dari rahimnya adalah impian semua wanita dari sebuah pernikahan?.
Hampir setengah jam Faris baru kembali ke kamarnya dengan segelas jamu yang sudah Nyai Hamidah racikan khusus pereda nyeri untuk datang bulan, rasa lelah kini benar-benar dilupakannya.
“Sayang?” panggil Faris saat tak mendapati istrinya di ranjang tidur mereka.
Hening, tak ada jawaban.
Semua ruangan di kamarnya termasuk walk in closet dan kamar mandi pun sudah Faris periksa, namun hasilnya sama-sama nihil.
Faris mencoba mengecek ke luar balkon kamarnya, barangkali istrinya tengah mencari udara segar di sana, namun hasilnya tetap sama, ia tak menemukan apapun di sana.
“Ica?”
Faris teringat pada satu ruangan yang jarang sekali dijamahnya.
Didorongnya pintu yang sudah sedikit terbuka. Dan benar saja, istrinya tengah terduduk di sana, menatap kosong tumpukan peralatan-perlatan bayi yang tempo hari Bukde dan kakak sepupunya belikan yang sudah memenuhi ruangan itu.
“Sayang.”
Diusapnya bahu yang tampak rapuh itu oleh Faris, terlihat Aisha dengan buru-buru mengusap pipinya yang sudah basah.
“Abang mohon Ca jangan kayak gini, kita jalani semuanya dengan ikhlas ya Sayang.”
Faris menenggelamkan wajah sendu itu ke dalam dekapannya, menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri tengah menyembunyikan kerapuhannya.
“Maaf ya Bang, Ica belum terlalu kuat. Bimbing Ica ya Bang, biar Ica mampu.”
“Pasti Sayang, Abang pasti bakal selalu sama Ica.”
“Makasih ya Abang selalu sabar ngadepin Ica yang kayak gini,” ujar Aisha menengadah, menatap wajah suaminya yang tak pernah membosankan menurutnya.
“Ini udah tanggung jawab Abang, Sayang. Masih sakit nggak pinggang sama perutnya?”
Aisha hanya mengangguk dalam dekapan suaminya.
Faris lantas mengajak Aisha agar keluar dari ruangan itu dan segera meminum jamu yang dibawakannya.
“Abang ada lembur malem ini?” tanya Aisha saat menyadari suaminya yang masih mengenakan seragam operasinya.
“Iya, tapi udah Abang cancel,” jawab Faris seraya memberikan jamu yang dibawanya.
“Pasti gara-gara Ica, maaf ya Bang.”
“Iya emang, gara-gara Abang kangen sama Ica,” alibi Faris tak ingin membuat istrinya semakin merasa bersalah.
__ADS_1
“Dih bohong banget.”
“Beneran Yang, kok bohong sih. Masih sakit nggak pinggangnya?”
Aisha hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami.
Sebagai seorang tenaga medis, Faris tahu betul jika wanita yang tengah mengalami menstruasi pasti moodnya akan naik turun, terlebih di hari-hari awal masa menstruasi. Karenanya ia harus memaklumi jika hari ini istrinya benar-benar membuat kepalanya cukup pening.
Faris teringat candaan ayahnya dulu ketika ia tak sengaja mendapati sang ayah yang justru tidur di sofa ruang TV, jangan pernah bikin perkara dengan wanita yang tengah menstruasi jika tidak ingin kena semprot. Dan sekarang Faris merasakannya, beruntung istrinya tidak sampai mencak-mencak jika awal masa menstruasinya.
Faris menyibakkan selimut yang menutupi separuh tubuh Aisha, turut bergabung dengan istrinya yang tengah berbaring.
“Ya udah yang mana yang sakitnya? Di sini?” tanya Faris seraya mengeratkan pelukannya.
“Sama ini juga,” jawab Aisha membimbing tangan suaminya ke perutnya.
“Uh Sayang, ini yang sakit? Abang elus yah.”
Aisha hanya menganggukan kepalanya ketika Faris mulai mengusap pelan area pinggang dan perutnya sambil sesekali mengecupi wajahnya.
Setelah dirasa napas Aisha mulai teratur dalam lelapnya, perlahan Faris berusaha untuk bangkit dan membersihkan dirinya sebelum akhirnya kembali bergabung dengan sang istri merebahkan badannya yang terasa amat lelah oleh kegiatannya hari ini.
***
Karina menjatuhkan dirinya ke sofa di sampingnya, sedangkan Azka yang masih bersimpuh turut mendudukan dirinya di lantai dan menyandarkan punggungnya ke sofa yang tengah diduduki Karina, tatapannya kosong, kepalanya masih mencerna pengakuan yang baru saja Karina katakan.
“Sudah aku duga, siapapun pasti akan merasa jijik ketika aku menceritakan siapa aku di masa lalu,” racau Karina tanpa memalingkan pandangannya.
“Makasih kamu udah mau jujur, makasih karena dengan kejujuran kamu berarti kamu nganggep aku cukup penting untuk memasuki duniamu.” Azka menoleh, mendongak pada Karina yang masih bergeming.
Deg, rasanya seperti ribuan kupu-kupu berterbangan di hati Karina saat mendengar jawaban Azka, hanya saja ia masih cukup ragu untuk mengutarakan ya.
“Beruntung selama ini Allah telah menutupi aibku sehingga orang-orang menganggapku baik. Tapi aku mengatakan semua ini hanya karena nggak mau kamu nyesel nantinya milih aku kalo kamu tau semua ini terlambat. Aku mau semuanya berjalan apa adanya, tanpa ada rekayasa dan kepalsuan,” ujar Karina mencoba membalas tatapan Azka.
“Nggak pernah ada orang yang selalu bener, nggak ada juga orang yang selalu salah, karena kita bisa belajar dari semua kejadian, apapun itu.”
Ada lengkung indah yang tercipta dari kedua sudut bibir Karina.
“Kalo lagi-lagi aku banyak membuat kesalahan, tolong temukanlah alasan untuk memaafkan, dan rapuhkanlah alasanmu untuk meninggalkan.”
Seketika wajah Azka berbinar mendengar penuturan Karina, gadis yang dulu menurutnya terlalu absurd, kini ternyata membuatnya bertekuk lutut dengan segala metamorfosanya.
“Yeah, I swear. I will not leave you or let you go,” ujar Azka mantap, membuat rona di pipi Karina semakin tampak. (Ya, aku bersumpah. Aku tak akan meninggalkanmu atau membiarkanmu pergi)
“Permisi Non, ini minumannya. Maaf tadi Bibi ke warung dulu beli gula.”
Tiba-tiba asisten rumah tangga Karina muncul dengan nampan yang sudah penuh oleh minuman dan beberapa jenis makanan, membuat Karina seolah terselamatkan dari debar di dadanya.
“Eh aduh ini kenapa si Aden malah lesehan di lantai? Dingin atuh Aden,” ujar asisten rumah tangga Karina dengan logat khas sundanya.
__ADS_1
‘Abis drama tadi ceritanya Bi.’
“Ah iya nggak apa-apa Bi,” ucap Karina turut membantu meletakkan minuman yang dibawa.
Sedangkan Azka hanya tersenyum kikuk dan memilih bangkit dari duduknya di lantai dan berpindah ke sofa di seberang Karina.
***
“Bang, Ica harus packing dulu ini,” ujar Aisha berusaha melepaskan kedua lengan suaminya yang sejak tadi melingkari perutnya, membatasi ruang geraknya.
“Ya packing aja Sayang, tapi Abang kayak gini aja” jawab Faris enteng merebahkan dagunya pada bahu Aisha tanpa berniat melepaskan pelukannya.
Aisha hanya menghela napasnya panjang, biarlah suaminya terus menempel pada dirinya seperti itu.
Sekarang Aisha merasakan sendiri tentang pepatah Arab yang mengatakan bahwa seorang suami itu adalah thiflun kabir yang artinya bayi besar.
Seperti suaminya saat ini yang tengah bermanja-manja dan merengek padanya. Maka seorang istri harus merendah dan menuruti segala kemauannya selama itu tidak melanggar syariat, termasuk permintaan sesederhana apapun.
Selesai memilah dan memilih beberapa pakaian dan semua perlengkapan yang akan diperlukan keduanya selama menjalankan ibadah umroh dan honeymoon, Aisha kini berpindah dan duduk di tepi ranjang sambil melipat pakaian dan mengemasinya ke dalam koper. Jangan lupakan juga suaminya yang sejak tadi mengekorinya, masih dalam posisi yang sama, Faris memeluknya dari belakang.
Aisha yang merasa risih mencepol rambutnya tinggi-tinggi, membuat leher jenjangnya terekspos sempurna, yang hal itu justru membuat Faris semakin kegirangan karena ia semakin leluasa untuk menghirup aroma tubuh Aisha pada ceruk lehernya, aroma yang kini selalu menjadi candunya.
“Abang ih geli,” pekik Aisha menggerak-gerakkan kepalanya.
“Salah sendiri bikin Abang selalu kecanduan, aroma tubuh Ica tuh me-ma-buk-kan,” bisik Faris membuat gelenyar aneh pada sekujur tubuh Aisha.
Faris terus menyesap candunya tanpa sekejap pun ingin melepasnya.
“Ss-sayang, nanti nggak selesai-selesai ini,” ujar Aisha menggeliat kan tubuhnya.
Aisha membalikkan tubuhnya, membuat Faris mau tak mau mengangkat wajahnya untuk memghentikkan kesukaannya.
Seketika Faris terhipnotis oleh iris cantik yang tengah menatapnya lekat dan intens, membuat kepalanya semakin berdenyut, bahkan debar di dadanya kini semakin kentara. Dalam sekejap ia merasakan sapuan lembut pada bibirnya, membuat Faris sontak menutup netranya.
Aisha sontak meledakkan tawanya saat menyaksikan reaksi suaminya yang seperti tengah berjuang menahan keinginannya.
“Arrgh Sayang,” pekik Faris mengusap wajahnya kasar lalu membenamkan wajahnya pada bantal di samping istrinya.
Faris memilih untuk merebahkan tubuhnya sambil menunggu Aisha menyelesaikan kegiatannya, jika terus menerus menempel pada istrinya, ia khawatir tidak akan mampu lagi menahan keinginannya, padahal ia tahu jika saat ini istrinya masih dalam keadaan hadats. Dan ia enggan jika harus mandi air dingin malam-malam begini.
***
Cie Azka sang sugar daddy udah nggak jomblo nih🤩 semoga cepet move on dari Mba Aisha ya Mas😇
Babang Faris juga kebiasaan deh kalo Aisha lagi dapet tamu bulanan tuh 😁😂
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang...