
Aisha melangkah lebih dulu begitu lift berdenting, berjalan ke arah basement meninggalkan Faris di belakangnya. Bahkan di dalam lift pun keduanya saling membisu, padahal hanya ada mereka berdua dalam lift itu.
Suasana hatinya kini benar-benar tak bisa dikendalikan, mendengar Karina menanyakan perihal dirinya dan Azka membuat hatinya kembali porak-poranda.
“Beneran nggak jadi belanja dulu?” tanya Faris menghentikan langkah Aisha sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
Aisha hanya menggeleng lemah tanpa mau membalas tatapan suaminya.
Faris memasangkan seatbelt untuk Aisha, membuatnya kini benar-benar bisa menetap perubahan raut istrinya dari dekat.
Aisha hanya menunduk, lagi-lagi tak berani membalas tatapan Faris.
“Sebenernya Ica kenapa?” tanya Faris mengangkat dagu Aisha agar kembali menatapnya.
Mau tak mau mata Aisha harus bersitatap dengan Faris karena jarak mereka yang amat dekat, bahkan Aisha bisa merasakan deru napas Faris menerpa wajahnya.
Aisha masih tetap dalam diamnya, tak menjawab pertanyaan suaminya meski netranya sudah membalas tatapan suaminya.
“Ada yang terjadi tadi di toilet?” lagi-lagi Faris bertanya meski tak kunjung mendapat jawaban.
Aisha memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya gusar. Mencoba untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
“Aku ketemu Karina tadi waktu di toilet. Dia nanyain tentang hubungan Ica sama Mas Azka dulu,” jawab Aisha tampak ragu.
“Terus Ica jawab apa?” tanya Faris lembut.
Lagi-lagi Aisha hanya menggeleng lemah.
“Abang boleh nanya?” tanya Faris tiba-tiba kembali ke posisi duduknya.
“Apa?” Aisha tampak menyadari perubahan suaminya.
“Apa Ica udah bener-bener bisa ngelupain Azka?” tanya Faris membuat Aisha sedikit terkejut.
Hening. Lisan Aisha seakan kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan Faris.
“Atau posisi Azka di hati Ica masih sama?”
“Bang nggak gitu,” jawab Aisha sedikit panik dengan pertanyaan Faris.
Faris hanya tersenyum menanggapinya.
“Nggak apa-apa, Abang ngerti kok,” jawab Faris tanpa menatap Aisha.
Faris segera memasangkan seatbelt untuk dirinya, menghidupkan mesin lalu segera kembali membelah padatnya jalanan Surabaya tanpa satu pun kata yang terucap.
Setelah pernikahan, Faris segera memboyong Aisha untuk tinggal di kediamannya.
Kini mereka tinggal di rumah Faris, tepatnya rumah peninggalan kedua orang tuanya.
“Jujurlah selama Ica bisa melakukannya, berbohonglah selama Ica bisa menyembunyikannya.”
Faris berkata tanpa menoleh, mematikan mesin mobil lalu melangkah keluar tanpa lebih dulu membukakan pintu untuk Aisha seperti biasanya.
__ADS_1
Aisha masih termenung di kursi penumpang, kalimat yang baru saja Faris katakan benar-benar seperti tamparan keras untuknya.
***
Karina menghela napasnya panjang.
“Oke aku pelakunya! Memang aku yang udah nanya sama Aisha tentang apa sebenernya terjadi antara kalian bertiga!” jawab Karina dengan mata yang mulai memanas.
“Bertiga?” tanya Azka bingung.
“Iya! Kamu, Aisha dan Diana,” jawab Karina dengan bulir bening yang lebih dulu lolos dari ujung netranya.
Azka mengusap wajahnya kasar saat mendengar jawaban Karina.
“Kenapa kamu sangat penasaran sama apa yang terjadi pada kehidupan saya di masa lalu?”
Deg, mendengar pertanyaan Azka membuat Karina tersadar, kenapa juga ia harus mempedulikan masa lalu Azka? Bukankah itu sama sekali bukan urusannya?.
Tapi entah kenapa Karina tak bisa memungkiri rasa pedulinya pada sosok pria single parent dihadapannya.
Jika ditanya ‘kenapa’, ia pun tak tahu apa jawabnya. Karena rasa itu juga hadir tanpa mengenal ‘kenapa’.
Karina segera mengemasi barangnya bersiap untuk pergi. Namun tangan kekar Azka lebih dulu menghentikan langkahnya.
Azka menatapnya dengan tatapan meminta jawaban, namun Karina yang benar-benar tak tahan pada situasi saat itu segera menghempaskan pegangan Azka di lengannya. Meninggalkan Azka dengan tanda tanya.
Karina segera berlari ke arah lift, tanpa mempedulikan sorotan-sorotan mata di sekelilingnya.
Azka yang juga tersadar bahwa sejak tadi dirinya ternyata menjadi pusat perhatian segera meraih stroller Rafa yang beruntungnya saat ini putranya tengah terlelap.
***
Gus Hasan menyipitkan netranya saat tiba-tiba seseorang menyejajarkan langkahnya dengan dirinya, mengembalikan buku bersampul birel miliknya yang lagi-lagi terjatuh tanpa disadarinya.
“Kamu?” tanya Gus Hasan sedikit terkejut saat mengetahui siapa yang mengembalikan bukunya.
“Kamu menjatuhkannya lagi.”
Seseorang itu langsung melangkah pergi setelah Gus Hasan menerima bukunya, bahkan ia tak memberikan Gus Hasan kesempatan untuk sekedar mengucapkan terima kasih atau pun bertanya namanya.
“Ceroboh!” tutur wanita itu sambil berlalu, namun Gus Hasan masih bisa mendengarnya.
Gus Hasan merogoh saku celananya ketika mendengar dering ponselnya, melupakan ujaran wanita tadi yang mengatakannya ‘ceroboh’.
“Waalaikumsalam warohmatulloh,” jawab Gus Hasan seraya menempelkan ponselnya ke telinga kanan.
“Bagaimana Gus? Sampeyan sudah sampai mana?” suara teman Gus Hasan yang membantunya bisa menginjakan kaki di Istanbul.
“Hasan saja, kamu ini ya.”
Terdengar suara tertawa di seberang telepon.
“Saya ingin berjalan-jalan sebentar menikmati Bosphorus.”
__ADS_1
“Baik saya tunggu di sana ya,” tutup Gus Hasan memasukan kembali ponsel ke dalam sakunya.
Gus Hasan kembali melangkahkan kakinya menuju jembatan Bosphorus, menikmati pemandangan Bosphorus yang akan terlihat lebih cantik dari atas jembatan.
***
Faris menyerahkan kunci mobil pada penjaga yang sudah bersiaga di halaman rumahnya, menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya baru mereka.
“Langsung dibawa masuk semua Tuan?” tanya salah satu pegawai Faris.
Faris hanya mengangguk lesu tanpa berucap.
“Pak Toni kemana?” tanya Faris saat tak melihat asistennya di deretan para pegawainya.
“Tadi katanya ada urusan di kantor sebentar Tuan.”
Faris menganggukinya tanpa kembali bertanya, karena memang ia sudah menyerahkan semua urusan kantor pada Pak Toni, orang kepercayaannya sejak dulu.
Ia segera melangkah menuju kamarnya tanpa menunggu istrinya lebih dulu.
Suasana hatinya kini benar-benar tak bisa dikendalikan, rasa cemburu kini memenuhi hati dan pikirannya, Ia butuh menenangkan diri.
***
Pertama kali datang ke rumah itu, Aisha merasa seperti seorang ratu yang 24 jam selalu siaga para penjaga, ternyata di balik kesederhanaan suaminya, kekayaannya amatlah melimpah.
Tapi suaminya lebih memilih menekuni kesukaannya terhadap dunia kedokteran dari pada meneruskan perusahaan keluarga yang ditinggalkan mendiang orang tuanya.
Aisha menyunggingkan senyumnya, di rumah ini semuanya sudah ada yang melayani, Aisha bahkan merasa bingung harus berbuat apa di rumah sebesar ini.
Aisha tak mendapati suaminya ketika tiba di kamar mereka, pintu kamar mandi tertutup, mungkin Faris sedang mandi, pikirnya.
Karenanya, ia lebih memilih untuk membereskan terlebih dahulu barang-barang mereka dari koper yang baru saja diantarkan salah satu pelayannya.
Aisha mendengar pintu kamar mandi terbuka saat sedang bersusah payah meletakan koper ke atas lemari yang tingginya tak sepadan dengan dirinya, membuatnya harus berjinjit-jinjit bahkan sesekali melompat.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar membantunya, membuat Aisha menoleh. Ia sedikit menahan tawanya, meskipun sedang dalam kondisi marah tapi suaminya tetap membantunya saat dirinya terlihat kesulitan.
“Abang mau makan apa? Biar Ica masakin.” Aisha lebih dulu memulai perbincangan untuk mengurangi kecanggungan yang ia ciptakan sendiri.
Bagaimana pun Aisha adalah seorang istri, Faris suaminya, tanggung jawabnya. Meski mereka sedang dalam hubungan yang kurang baik, tapi Aisha tidak mungkin diam terlalu lama, durhaka pada suami sama saja durhaka pada Allah.
“Ngga usah, Abang masih kenyang kok. Ica kalo laper di meja makan pasti udah disiapin.” Faris menjawab tanpa menoleh, lalu kembali menyibukan dirinya dengan buku-bukunya di tepi ranjang.
“Ica juga masih kenyang,” jawab Aisha mengikuti langkah suaminya.
“Jangan marah lagi Bang,” lanjut Aisha yang tak mendapat jawaban dari suaminya.
Faris tetap tak bergeming di tempatnya, bahkan ketika Aisha terduduk di sampingnya ia tak mengalihkan pandangannya.
***
Bersambung ….
__ADS_1
Jangan lupa vote. like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….