
“Aku kan bawa mobil tau Ka.” Karina tak berhenti menggerutu ketika pagi ini Azka mengantarnya untuk ke Rumah Sakit, padahal Karina sendiri mengemudikan mobilnya.
“Ya udah biarin sih, mobil kamu aman kok di rumah aku, nggak bakal aku jual,” ujar Azka malah justru menggoda Karina.
“Iya iya deh terserah kamu.” Karina akhirnya mengalah enggan berdebat dengan pria di sampingnya, meski sejatinya hatinya tengah bersorak gembira atas perhatian kecil seorang Azka ini.
“Nah gitu dong, sama calon imam itu harus nurut.” Azka berucap santai seolah tanpa beban sambil tetap mengemudikan mobilnya, sedangkan Karina sudah kelabakan sendiri mengatur perasaannya akibat penuturan Azka.
Tak menunggu lama kini Azka sudah memarkirkan mobilnya di halaman Rumah Sakit, ia memang hanya sekedar mengantar Karina tanpa berniat untuk turun karena memang ia pun harus bergegas untuk kegiatannya hari ini.
“Kamu nggak kerja hari ini?” Karina bertanya sebelum membuka pintu mobil.
“Kerja kok.”
“Kok belum siap-siap sih?” Karina menatap heran karena pasalnya Azka masih mengenakan pakaian santainya.
“Nggak ada yang nyiapin.” Lagi-lagi dengan enteng Azka menggoda Karina.
“Ck nggak lucu.” Karina memilih segera turun dari pada harus meladeni celotehan papa muda itu.
“Jangan marah dong Bu dokter ….” Azka menurunkan sedikit kaca mobilnya dan sedikit berteriak karena Karina yang tetap saja melangkah tanpa menoleh.
Di meja resepsionis ternyata seorang ibu muda dan anaknya yang baru saja keluar dari poli gigi memperhatikan langkah Karina sejak ia turun dari mobil yang diantar oleh seorang pria.
“Hay calon istri Bapak Azka yang terhormat, seger banget deh tuh muka, roman-romannya sih lagi di mabuk asmara nih.”
Karina yang memang hendak menuju ruangannya tentu melewati meja resepsionis yang belum terlalu dipadati para pasien karena hari masih cukup pagi. Tapi ia hanya melirik sekilas tanpa menghentikan langkahnya pada wanita yang sepertinya berujar padanya tadi.
“Enak aja Lo mau pergi gitu aja.” Tiba-tiba lengan Karina dicekal hingga ia harus menghentikan langkahnya.
“Maaf ya Bu, saya terlalu sibuk nggak ada waktu melayani anda.” Karina berbicara formal karena memang mereka tak hanya berdua di sana.
“Kalo nggak salah denger waktu itu Bapak Azka bilang kalo dia calon suami Lo ya, emang udah ada ngelamar? Kok gue nggak di undang sih?” Sofia bertanya setengah berbisik di telinga Karina, tapi pertanyaan itu lebih terdengar seperti sebuah ejekan yang tentunya langsung membuat hati Karina bergejolak.
“Ati-ati loh sama model sugar daddy kayak gitu, jangan-jangan selama ini dia cuma butuh lo buat ngurus anaknya doang.” Sofia kembali berbisik ketika melihat Karina tak bereaksi apapun.
__ADS_1
Dengan kasar Karina segera menepis cekalan Sofia pada lengannya, ia memilih untuk segera melangkah ke ruangannya tanpa ingin menanggapi ocehan Sofia, meski sejatinya tanpa disadari perkataan Sofia baru saja sudah berhasil merusak suasana hatinya pagi ini.
“Lo berani main-main sama gue Rin … gue jabanin! Liat aja apa yang bakal gue lakuin karena lo udah berani berulah sama gue.” Sofia masih saja menggerutu menatap kepergian Karina, hingga rengekan putrinya yang meminta pulang membuatnya lantas berlalu dari Rumah Sakit.
***
Aisha membawa kompresan air hangat ketika mereka baru saja menyelesaikan solat isya berjamaah, entah kenapa malam ini Faris merasa sangat merindukan istrinya hingga ia memilih untuk berjamaah di rumah tak seperti biasanya yang selalu di masjid kompleknya.
Perlahan Aisha mengompres pelan pipi Faris yang masih terlihat memar itu.
“Masih sakit nggak?” Aisha bertanya seraya menempelkan handuk kecil yang sudah ia basahi di pipi itu.
Faris hanya mengangguk sambil sesekali memercing menahan ngilu.
Cup, Aisha mendaratkan kecupannya di pipi Faris yang masih tampak memerah.
“Masih sakit?”
Dengan cepat Faris menggeleng dengan wajahnya yang berbinar.
Aisha yang bangkit berniat untuk mengambil salep di kotak medisnya, tiba-tiba tubuhnya ditarik oelh Faris sehingga ia duduk di pangkuan suaminya itu.
“Ica mau ngambil salep dulu buat obatin pipi Abang.” Aisha berujar dengan lirih karena tercekat oleh kegiatan Faris yang sudah bermain-main di ceruk lehernya.
“Udah sembuh kok,” ujar Faris mendongakkan wajahnya dan langsung menyambar lagi bibir ranum yang tepat di depan wajahnya.
“Emmpp.” Aisha yang belum siap lagi-lagi sedikit kewalahan dengan perbuatan suaminya.
“I want you.” Faris berbisik dengan lembut sambil merebahkan Aisha perlahan, tangannya sudah menjalar kemana-mana menyentuh apa yang seharusnya di sentuh.
Tangan Faris masih melingkar pada perut Aisha di bawah selimut, ia memiringkan badannya hingga menghadap ke arah suaminya yang sudah terlelap lebih dulu setelah melepas kerinduan mereka malam ini.
Aisha tersenyum mengingat bagaimana malam ini suaminya menggaulinya, ada sesuatu yang berdesir mendapat perlakuan yang berbeda dari biasanya. Malam ini ia merasa suaminya lebih agresif seperti singa lapar ketika disuguhkan tubuhnya, Aisha bahkan bisa melihat bercak kemerahan memenuhi hampir seluruh bagian tubuhnya.
Aisha mengecup bibir Faris yang sedikit terbuka dalam lelapnya, diusapnya wajah yang sudah nampak tenang itu lantas ia menyelipkan tangannya pada tubuh itu dan membalas pelukan suaminya.
__ADS_1
Aisha semakin mendekatkan tubuhnya hingga wajahnya tenggelam sempurna pada dada bidang yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini.
Baru saja Aisha hendak memejamkan netranya ketika tiba-tiba sapuan lembut menyapa keningnya.
“Abang belum tidur?” Aisha mendongak dan mendapati suaminya sudah menatap intens ke arahnya.
“Udah, cuma ada bibir nakal yang mengusik tidur Abang.”
“Kenapa? Mau lagi?” Faris kembali bertanya ketika wajah istrinya hanya tersenyum.
Entah keberanian dari mana tiba-tiba Aisha menganggukkan kepalanya dan langsung membuat Faris membenarkan posisinya.
“Istri Abang suka nakal kalo lagi laper yah,” ucap Faris menjawil hidung Aisha lantas menarik selimutnya dan bergelung di bawah sana membuat Aisha menggelinjang dengan perbuatannya.
Bagaimanapun Faris juga lelaki normal, maka ketika ia mendengar rengekan istrinya tentu saja ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Tiba-tiba Aisha merasakan sesuatu tak nyaman di area perutnya, namun sesegera mungkin ia menepis perasaan itu karena tak ingin mengecewakan sang suami yang notabene hubungan mereka baru saja membaik setelah beberapa hari ini melewati perang dingin.
“Sayang?” Faris memanggil Aisha dengan lembut namun penuh tanya, terlihat dari kedua alisnya yang saling bertaut, pasalnya istrinya itu justru memejamkan matanya seperti menahan sesuatu, juga terlihat peluh semakin membanjiri dahi mulus itu.
Dengan cepat Aisha menggeleng dan segera menyambar bibir Faris yang berada di atasnya untuk mengalihkan perhatian suaminya itu.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar lengkingan panjang dari keduanya yang bukan lagi saling bersahutan, melainkan seirama saling beriringan.
“Makasih ya Sayang, istri Abang ini pinter banget deh buat suaminya kenyang.” Faris berbisik menyatukan kening mereka, membuat Aisha semakin tersipu malu dengan pujian suaminya itu.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1