
Jaya menghela napasnya gusar, “Cinta itu tidak salah Gus, karena kita tidak bisa mengatur pada siapa hati ini jatuh cinta. Yang salah Guse kalo sampai cinta itu dijadikan alasan dan dilibatkan dengan ambisi untuk memiliki. Karena cinta pun tidak bisa dipaksakan Gus, juga tidak harus memiliki. Bukan hanya kakak sampeyan dan wanita yang sampeyan cintai yang akan terluka, tapi juga Guse sendiri. Gus … apa yang menjadi takdir kita tidak akan Allah berikan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Bukankah itu yang selalu Guse katakan jika saya mulai menyerah dengan hidup ini?”
“Saya mencintai Aisha jauh sebelum saya tahu jika dia adalah wanita yang akan dipersunting kakak sepupu saya. Dan ini adalah pertama kalinya saya merasakan perasaan seperti ini pada wanita Jay, saya merasa gelisah jika sehari saja tak melihat wajah manisnya, tidur saya tidak nyenyak jika belum tau kabar tentangnya, hingga saya merasa hidup saya akan hampa jika tanpa kehadirannya. Tapi saya tidak tahu jika cinta sepihak akan sebegini sakitnya Jay, bahkan sampai sekarang hati ini masih saja terasa sesaknya jika melihat mereka bersama.”
Gus Hasan menyandarkan tubuhnya ke tepi ranjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Karenanya saya memilih untuk mengambil beasiswa di sini agar saya bisa sedikit bisa melupakan tentang dia, tapi nyatanya luka saya malah setiap harinya semakin meradang. Hingga saya bertemu dengan seorang gadis yang tanpa sadar sedikit banyak kehadirannya bisa mengalihkan pikiran saya dari rasa sakit ini. Tapi saya juga tidak menyadari jika ternyata kedekatan kami justru akan menimbulkan masalah baru dan membuat hati saya semakin rumit, saya sama sekali tidak ada niat memberinya harapan karena saya sadar jika hati saya saja masih berantakan. Dan gadis itu adalah Ayla, adik dari Mr Faisal yang kamu temui tadi di halaman asrama.”
Jaya sudah melongo sejak tadi mendengarkan penuturan Gusnya, “Allohu Akbar … percintaan sampeyan benar-benar rumit Gus. Tapi ya kita ndak tahu akan seperti apa takdir kita di masa depan, Allah itu Maha membolak-balikan hati, mana tahu besok Guse malah beneran jatuh cinta dengan adiknya Mr Faisal.”
“Kamu yakin saya bisa jatuh cinta pada Ayla?”
“Saya ya ndak tahu Gus, tapi ya tidak ada yang tidak mungkin bagi sang Maha membolak-balikkan hati.”
“Luka karena manusia memang sakit Gus, bahkan mungkin sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya diri kita sendirilah yang mampu dan memahami seutuhnya di antara orang lain yang berusaha berempati atas apa yang kita rasa itu. Lekaslah ikhlaskan dia seutuhnya, bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk kebahagiaan diri sendiri, karena hidup harus tetap berjalan, Guse tidak bisa terus bertahan dalam kesakitan.”
“Saya sudah mencobanya Jay, bahkan selalu mencoba. Nyatanya Aisha tetap saja bertakhta dalam hati saya.” Gus Hasan mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar merasa lelah dengan keadaan, sejauh ini ia selalu mencoba, namun nyatanya semuanya seperti sia-sia.
“Saya tahu memang pada kenyataannya mengikhlaskan begitu tidak mudah, semua itu memang tak sesederhana yang kita bayangkan. Tapi cobalah sekali lagi, mengikhlaskan tak harus melupakan, simpanlah ia sebagai kenangan, tapi jangan Guse gali lagi sosoknya ke permukaan, saya yakin waktu selalu punya cara untuk menyembuhkan.”
“Kata-katamu ini sepertinya kamu sudah sangat berpengalaman Jay, kamu yakin belum pernah jatuh cinta?” Gus Hasan tiba-tiba memercingkan netranya curiga.
Jaya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’, “Beneran Gus, suer.”
***
__ADS_1
“Tasya sama tante-tante ini dulu ya.” Faris berujar sambil menyerahkan Tasya pada pelayan-pelayannya yang sudah berjajar saat tahu majikan mereka pulang.
“Om Faris mau kemana emangnya?” Tasya masih terus menggelayuti lengan Faris seakan tak ingin ditinggalkan.
“Om Faris masih harus ke Rumah Sakit, mau ngobatin orang-orang yang sakit di sana.” Faris membungkuk untuk membujuk Tasya.
“Kalian tolong jagain Tasya ya, ganti bajunya, suapi makannya dan jangan lupa ajak dia tidur siang juga.” Faris berpesan pada pelayannya yang langsung mengangguk dengan patuhnya.
Setelah menyerahkan Tasya, ia segera berlari memasuki lift, tujuannya saat ini adalah kamarnya sendiri, karena ia tahu jika istrinya pasti ada di sana.
“Sayang … Ica ….” Faris memeriksa segala ruangan di kamarnya namun tak mendapati Aisha di sana.
Matanya langsung tertuju ke kamar mandi yang tertutup, ketika ia mendekat, terdengar gemericik air dari shower juga suara isakan yang sayup-sayup tenggelam dengan derasnya air mengalir.
Hati Faris turut sakit mendengar isakan pilu istrinya, ia benar-benar merutuki kebodohannya yang tak bisa mengontrol emosi hingga tanpa sadar justru melukai istrinya.
Hening beberapa saat, kini hanya gemericik air yang terdengar, mungkin Aisha menghentikan tangisnya begitu mendengar suara Faris dari balik pintu.
“Nggak ada yang perlu dibicarain Bang … emang Ica yang ceroboh, Ica yang salah.” Aisha berucap dengan lirih, namun Faris masih bisa mendengarnya karena posisinya yang kini juga terduduk di depan pintu kamar mandi.
“Nggak gitu maksud Abang, Sayang. Abang minta maaf udah kelewatan, Abang panik tadi.”
Faris melanjutkan kalimatnya ketika tak ada jawaban, “Buka pintunya ya Sayang? Kita harus bicara.”
Aisha menghela napasnya berat, air matanya masih saja belum sudi berhenti dari kedua ujung netranya.
__ADS_1
“Sayang … maafin Abang lagi-lagi harus bikin Ica nangis. Tapi beneran Abang nggak ada maksud apapun.”
Aisha masih saja bungkam, tak menjawab sedikitpun setiap kalimat yang Faris lontarkan, ternyata hatinya belum bisa menerima semua yang telah suaminya tuduhkan terhadapnya.
Faris melirik arlojinya, hampir saja ia terlupa untuk kembali lagi ke Rumah Sakit, ia harus menunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter.
“Kalo Ica nggak mau buka pintunya, Abang balik dulu ke Rumah Sakit ya Sayang, Abang ada jadwal operasi siang ini. Ica yang bilang kan kalo Abang harus tanggung jawab sama pekerjaan Abang, bagaimanpun resikonya. Jadi sekarang Abang hanya berusaha memenuhi tanggung jawab itu. Sekali lagi Abang bener-bener minta maaf Ca, langsung keluar ya setelah Abang pergi, jangan kelamaan di dalem, nanti Ica kedinginan.” Faris menatap nanar pintu kamar mandi yang masih saja tak menunjukan tanda-tanda terbuka., dan lagi-lagi istrinya pun tak menjawab apapun dari dalam.
“Abang pergi ya Sayang, Ica jangan lupa makan … Assalamualaikum.” Faris melangkah gontai ketika tak mendapati jawaban lagi, ia benar-benar menyesal dengan semuanya hingga membuat bidadarinya harus kembali menitikkan air mata.
Sejatinya sejak tadi Aisha pun mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang Faris lontarkan, hanya saja lidahnya seakan kelu untuk sekedar memberikan tanggapan, ia pun tengah berusaha mengatur dirinya agar isakannya tak sampai terdengar oleh Faris yang dari suaranya mungkin ia sudah bersandar di depan pintu juga seperti dirinya.
“Ica nggak tau kenapa hati Ica rasanya sesakit ini pas liat Abang yang begitu kacau saat tau Ica yang nggak bisa jemput Tasya, hati Ica juga sesak Bang liat perhatian yang Abang tujukan buat anak yang bahkan darah Abang tak mengalir dalam darahnya. Anak kita cemburu Bang liat Papinya yang justru sampe sekarang belum tau keberadaannya.” Aisha semakin terisak di setiap kalimatnya.
“Ica juga bingung harus gimana lagi ngomongnya sama Abang tentang kehamilan ini, Abang terlalu sibuk dengan dunia Abang sendiri, terlebih saat Tasya dateng ke rumah ini, Abang bener-bener nggak punya waktu buat sekedar dengerin apa yang Ica rasain, apalagi buat tau apa yang sekarang Ica alami.”
Aisha menyandarkan kepala di atas lututnya, dipeluknya kedua kakinya erat-erat seiring dengan semakin pilunya tangis yang terdengar.
Aisha beralih mengusap perutnya, arah pandangnya pun turut menunduk, “Kamu nggak usah khawatir ya Sayang, meski Papi belum tau keberadaan kamu, tapi Mami janji akan selalu jaga kamu dengan baik meski harus sendirian.”
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...