
Di depan cermin riasnya Aisha tengah memoles wajahnya menjadi lebih mempesona, ia berniat untuk ke Rumah Sakit memberikan kejutan pada suaminya sekaligus memeriksakan keadaan kandungannya.
“Roger, kamu bisa tolong antar saya ke Rumah Sakit sekarang?” Aisha berujar ketika panggilannya sudah tersambung pada kontak atas nama ‘Roger’.
“ … “
Panggilan telepon diputus setelah Aisha mendapat jawaban dari sebrang.
“Kita temuin Papi ya, Sayang. Kita kasih Papi kejutan.” Aisha tak henti-hentinya mengelusi perutnya dengan seulas senyum yang selalu merekah di wajah cantiknya, hormon kehamilan membuat auranya semakin terlihat mempesona.
“Wah … bumil cantik sekali, mau kemana ini?” Bi Asih menyapa ketika dilihatnya sang Nyonya tengah menuruni satu persatu anak tangga dengan perlahan.
“Kita mau nyamperin Papi, Bi. Mau kasih dia kejutan sekalian konsultasi pertumbuhan si adek.” Aisha berujar dengan gembira sambil tangannya tetap mengelusi perutnya.
“Adek pasti sehat Mami, kuat kayak Papinya ya Sayang.” Kini giliran Bi Asih yang justru berbicara dengan gaya seolah dirinya bayi dalam kandungan Aisha.
“Hati-hati ya, jangan nakal-nakal di perut Mami,” imbuh Bi Asih turut mengelusi perut Nyonya mudanya.
“Iya Bibi … adek jagain Mami terus kok ya.” Keduanya tergelak bersama merasa tak sabar menantikan Faris junior terlahir ke dunia.
***
Drrtt … drrtt … ponsel Karina berdering tepat setelah ia keluar dari bangsal terakhir dan kembali ke ruangannya. Seketika rasa penat karena seharian bekerja seperti tiba-tiba sirna saat melihat siapa yang mengundang untuk melakukan panggilan video ke ponselnya.
“Halo cantik ….” Azka langsung menyapa Karina begitu panggilan videonya diterima.
“Nggak usah teriak-teriak juga, ini Rumah Sakit tau.” Seperti biasa Karina selalu dengan nada ketusnya meski sebenarnya dalam hati ia tengah bersorak gembira.
“Iya iya maaf Bu dokter.” Terlihat Azka menangkupkan kedua tangannya di seberang.
“Ada apa?” Karina bertanya karena biasanya Azka tak akan mengganggunya ketika ia tengah bekerja.
“Ada yang kangen nih,” jawab Azka enteng.
‘Dasar cowok enteng banget yah bikin hati serasa pengen jungkir balik digombalin mulu’
“Siapa?” Karina pura-pura takt ahu.
Tiba-tiba Azka mengarahkan kameranya ke arah lain, terlihat seorang balita melambai-lambaikan tangannya ke arah kamera.
“Rafa kangen Mama Karin nih katanya,” ujar Azka yang sudah memangku Rafa.
Sedangkan Karina hanya bisa menghela napas kemudian tersenyum manis berusaha menghilangkan perasaan kesal karena sempat mengira jika Azkalah yang akan berkata merindukan dirinya.
“Halo ganteng … udah makan belum?” Karina turut melambaikan tangannya dan langsung disambut riang oleh balita di sebrang sana.
__ADS_1
“Udah dong Ma, dicuapi Papa.” Azka menjawab dengan menirukan suara anak-anak seolah dirinya Rafa.
“Loh emang kamu nggak ngantor?”
Azka yang bingung hendak menjawab apa hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Em nga-ngantor kok, cuma pulang lebih awal aja,” seloroh Azka sedikit terbata.
“Kamu udah makan?” alibi Azka segera mengalihkan pembicaraan.
“Udah kok, kamu?” Karina balik bertanya.
“Udah juga.”
Tok … tok … tok ….
“Permisi … Dokter sepuluh menit lagi kita ada jadwal di bangsal VIP.” Seorang perawat mendatangi ruangan Karina dan mengingatkan akan jadwal mereka.
“Ok baik, saya segera bersiap.” Karina mengangguk ramah menanggapi sang perawat.
“Aku lanjut kerja dulu yah,” ujar Karina beralih pada kamera.
“Ok jangan cape cape Bu dokter, nanti sakit.” Azka berpesan sebelum mengakhiri panggilannya, dan tentu saja membuat Karina tersipu hanya dengan kalimat sederhana itu.
“Papanya enggak nih?” tanya Azka memasang wajah kesal.
“Dadah juga Papanya Rafa ….”
“Dadah Bu dokter cantik ….” Azka turut melambaikan tangannya juga tangan Rafa yang berada dalam genggamannya bersamaan.
Setelah sambungan panggilan diputus, ia segera bersiap untuk ke bangsal selanjutnya bersama para perawat lain yang selalu mendampingi dan membantunya.
***
Ketika melewati pintu, Aisha bisa melihat Roger yang sudah siap di depan mobilnya dan langsung siaga membukakan pintu mobil begitu melihat Nyonya mudanya berjalan ke arahnya. Lantas ia sendiri segera berlari mengitari mobil dan duduk di balik kursi kemudi setelah memastikan Aisha benar-benar nyaman di kursinya.
“Apa Nyonya sedang kurang sehat?” Roger bertanya karena tiba-tiba Aisha meminta dirinya untuk mengantar ke Rumah Sakit.
“Nggak kok Roger, cuma mau nyamperin Abang aja,” tutur Aisha dengan lembut.
Roger hanya mengangguk-angguk menanggapi jawaban Nyonya mudanya.
Sekitar empat puluh menit, akhirnya mereka tiba di basement Rumah Sakit. Seketika senyum Aisha mengembang dengan hanya melihat mobil suaminya yang terparkir rapi di jejeran mobil-mobil lainnya.
“Selamat siang Bu Faris ….” Seorang resepsionis yang memang sudah akrab dengan sosok Nyonya Faris menyapa Aisha dengan ramah.
__ADS_1
“Selamat siang Mba, Abang masih ada jadwal?”
“Sebentar ya Bu saya cek dulu jadwal Dokter Faris.”
Aisha hanya mengangguk menyetujui sang resepsionis yang langsung mengoperasikan tabletnya.
“Dokter Faris masih ada jadwal operasi hingga satu jam ke depan Bu.” Sang resepsionis berujar dengan ramah pada Aisha.
“Oh kalo gitu saya tunggu di ruangan beliau aja deh.”
“Baik Bu, silahkan.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Aisha segera melangkah ke arah ruang kerja suaminya yang sudah sangat ia hapal tanpa ditemani oleh Roger, karena memang ia sendiri yang meminta agar Roger tak perlu mengantarnya.
Aisha masih mematung di ambang pintu yang baru saja dibukanya, ia berdiri cukup lama memandangi pemandangan ruangan itu yang masih tetap sama seperti terakhir kali ia berkunjung. Aroma obat-obatan langsung menyeruak menyapa indra penciumannya.
Aisha memilih untuk menunggu suaminya dengan merebahkan diri di sofa yang terdapat di sudut ruangan yang tertata rapi.
Tiba-tiba netranya menangkap sebuah foto yang tertata rapi tepat di meja kerja Faris. Bibirnya seketika tersungging saat mengetahui bahwa foto itu adalah potret dirinya dan juga ada yang bersama suaminya.
“Dari mana Abang punya foto ini?” Aisha mengambil salah satu foto itu dan mencoba mengingat-ingat kapan dan di mana dirinya pernah berfoto seperti itu.
Di belakang figura dengan foto dirinya itu tertulis ‘Nafasku’.
“Papi kamu ternyata romantis banget ya Sayang, makanya Mami tuh rasanya kayak tiap hari makin jatuh cinta terus sama Papi, Nak.” Aisha kembali berbincang kepada bayi dalam perutnya.
“Jadi nggak sabar liat gimana reaksi Papi setelah tau kamu udah di sini, Sayang.”
Sepuluh menit, lima belas menit, Aisha mulai merasa bosan menunggu di sana. Netranya sejak tadi hanya mengikuti arah jarum jam yang berdetak menggantung di dinding.
Semakin lama jarum jam itu terasa seperti membiusnya, membuat netranya semakin berat untuk tetap terbuka. Alhasil Aisha justru terlelap di atas sofa di ruangan suaminya.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1