Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Menjadi saksi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sholatnya, Karina berniat menutup gorden jendelanya karena awan mendung terlihat sebentar lagi akan menjatuhkan airnya.


Betapa terkejutnya ia ketika ternyata Azka masih tetap di tempatnya, terduduk di depan pagar yang sengaja ia kunci.


Karina berniat untuk menyuruh Azka pulang, karena sepertinya sebentar lagi hujan akan datang. Tapi ternyata pernyataan tak terduga yang Azka lontarkan mengurungkan niatnya.


“Apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?” tanya Karina yang tanpa Azka sadari sudah berdiri di sampingnya.


Azka mendongakkan wajahnya. “Maaf.” Hanya itu yang bisa ia katakan.


“Apa kamu tau perasaanku?” tanya Karina kembali yang sudah mendudukan dirinya di samping Azka, bersandar pada pagar yang tak tertutup rapat.


“Aku tau perasaanmu, dan aku mungkin belum bisa benar-benar membalasnya. Perasaan ini masih terlalu tabu untukku,” jawab Azka menatap lurus ke arah jalanan yang terlihat sepi.


Ada yang membuat Karina seketika mengerutkan keningnya, rupanya panggilan Azka kini telah berubah menjadi ‘aku, kamu’, membuat sesuatu dalam diri Karina bersorak gembira.


“Apa itu karena Aisha? atau ibunya Rafa?” Karina masih berusaha baik-baik saja.


Azka menghela napas berat. Saat ini rasa bersalah menghinggapinya. Ia tak ingin memberi harapan jika akhirnya ia tak bisa mewujudkan.


“Aku dan Aisha sempat bertunangan, tapi menjelang pernikahan aku harus pergi karena alasan pekerjaan. Kecelakaan yang tak terduga membuatku terpaksa harus menikahi Diana, ibu dari anakku. Dua tahun itu aku hidup dirundung penyesalan. Dan benar saja, saat aku kembali ternyata hanya bisa menancapkan duri tajam untuk Aisha, hingga dia benar-benar kecewa. Aku sudah hampir menyerah hingga aku berjuang untuk mencoba menghadirkan Diana di hatiku. Nyatanya hingga Diana benar-benar pergi sekalipun, Aisha masih tetap bersarang dalam hatiku.”


Azka mengusap wajahnya gusar sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Lalu saat  Aisha kembali menghilang, ternyata Faris yang lebih dulu menemukan dan berhasil menyembuhkan luka Aisha, membuatku benar-benar menyerah untuk kembali memilikinya.”


Azka mengusap sudut matanya yang terasa basah, sejak tadi ia tak berani menoleh pada


Karina yang juga tampak tengah menahan isaknya.


“Bukankah akhir-akhir ini kamu ….” Karina memejamkan matanya, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


“Aku tau, tapi bagiku Aisha adalah kenangan yang sampai saat ini masih saja bersarang. Karena tak mudah membiasakan diri menjalani hidup tanpa seseorang yang sempat lama tinggal.”


“Tapi apa benar sudah tak ada ruang?” Karina mencoba melanjutkan kalimatnya.


“Orang bilang, semua akan indah pada waktunya. Tapi, sampai kapan aku harus menunggu saat itu tiba dan mulai melupakannya? Jadi, jika kamu masih bersedia untuk bertahan, bersabarlah.”


Karina memejamkan matanya, mencoba mencari ketenangan di sana.


“Mencintaimu adalah takdir, bersamamu adalah pilihan. Dan aku memilih berjuang untuk takdirku dan bertahan demi pilihanku.” Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulut Karina, membuat Azka memalingkan wajahnya menatap Karina yang sudah melebarkan senyumnya.


“Pulanglah, hujan dan kenangan bukan perpaduan yang baik untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan,” tutur Karina mengangkat lengan Azka untuk bangkit.

__ADS_1


Malam ini menjadi saksi bagi kedua insan yang tengah sama-sama berjuang. Azka berjuang untuk melupakan dan Karina berjuang untuk tetap bertahan.


***


 Tiba-tiba beberapa meter dari jarak Faris dan Aisha, terdengar sebuah dentuman yang cukup keras seperti suara sesuatu yang saling bertabrakan.


“Sayang, denger nggak?” tanya Faris memelankan laju motornya.


“Iya Bang, apa ya itu?”


“Kita cek ke depan ya.” Faris kembali menancap gas untuk memastikan apa yang terjadi.


Saat melewati jalanan yang cukup sepi, keduanya amat terkejut karena melihat pembatas jalan yang hancur juga bekas goresan ban mobil di jalan raya. Sontak Faris segera menghentikan laju motornya, dan mengamati lokasi sekitar kejadian.


“Astaghfirullah! Abang liat, itu kayak mobil yang tadi nyalip kita deh Bang,” tutur Aisha saat melihat kepulan asap dari bawah jurang. Dan benar saja BMW hitam yang tadi menyalip mereka kini terjatuh ke jurang.


Faris tentu sangat terkejut dan segera menghampiri Aisha, melihat apa yang terjadi.


“Ica langsung hubungi Rumah Sakit ya, minta kirim bantuan dan ambulan secepatnya. Abang mau coba cek ke bawah, siapa tau korbannya masih bisa diselamatkan.”


Aisha yang juga tak kalah panik segera mengiyakan perkataan suaminya.


“Abang hati-hati,” teriak Aisha saat Faris perlahan mulai menuruni jurang.


“Sofia!” Faris benar-benar terkejut saat mengetahui siapa si pengemudi. Meski sudah sangat lama mereka tak berjumpa, tapi Faris masih hapal dan mengenali wajah itu.


Di atas sana, Aisha terlihat begitu panik menunggu suaminya yang belum juga kembali dari bawah jurang.


Hingga akhirnya beberapa menit kemudian Faris kembali dengan seorang anak kecil dalam gendongannya.


“Ica coba cek kondisi anak ini ya, di bawah masih ada satu orang yang harus Abang selametin,” tutur Faris dengan napas yang tersengal-sengal karena medan yang cukup terjal, bahkan terlihat pakaian Faris cukup kotor karena kondisi tanah yang basah setelah hujan mengguyur semalam.


“Tasya!” ucap Aisha saat mengetahui siapa anak dalam gendongan suaminya.


“Ica kenal sama anak ini?”


“Ini anak yang Ica ceritain tadi di mall Bang, berarti yang di bawah adalah ibunya?” tanya Aisha panik.


“Abang juga nggak tau Sayang, Abang akan coba ngeluarin dia sambil nunggu pertolongan dateng,” tutur Faris kembali menuruni jurang yang cukup terjal.


Setelah melihat naik turunnya dada yang menandakan bahwa anak kecil itu masih hidup, Aisha segera memiringkan tubuh Tasya dengan posisi kepala, leher, dan tulang belakang tetap lurus.


Namun ketika Aisha mengecek denyut nadinya, ternyata denyut nadi Tasya sangat lemah, bahkan hampir tak teraba.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Aisha segera melakukan kompresi dada dengan menekan bagian tengah dada Tasya menggunakan dua jarinya dengan tekanan yang tidak terlalu kuat.


Akhirnya usaha Aisha membuahkan hasil, Tasya perlahan membuka matanya.


“Aw … Tante cantik,” ucap Tasya lirih saat membuka matanya dan melihat Aisha.


“Iya Sayang, Tante di sini, Tasya aman sama Tante,” tutur Aisha menenangkan Tasya dan segera mendudukannya.


“Mama dimana Tante?” tanya Tasya saat tersadar dimana dirinya berada.


“Tasya tenang ya, suami Tante lagi coba nyelametin mama Tasya di bawah sana.” Aisha mencoba menenangkan Tasya yang seketika menangis saat melongok ke bawah dan melihat mobil ibunya yang terdampar di bawah sana.


Untung saja tak selang berapa lama suara sirene mobil polisi dan ambulan saling bersahutan mendekat.


“Saya dan suami saya seorang dokter Pak, suami saya sedang mencoba menyelamatkan korban di bawah sana,” tutur Aisha saat polisi bertanya mengenai identitasnya dan,kronologis kejadian.


“Baik Bu, kami akan menyusul suami Ibu untuk menyelamatkan korban.”


Seorang pria berbadan tegap yang Aisha tebak seorang komandan, segera mengerahkan, pasukannya untuk mengevakuasi korban di bawah jurang.


Aisha segera meminta bantuan tim medis untuk membawa Tasya ke Rumah Sakit, karena luka-luka Tasya cukup serius dan membutuhkan perawatan intensif.


Aisha baru bisa bernapas lega saat Faris dan para polisi berhasil naik ke atas dan menyelamatkan korban.


Dengan keringat yang masih bercucuran, Faris menghampiri istrinya.


“Gimana keadaan anak tadi Sayang?”


“Alhamdulillah Tasya udah sadar abis Ica kasih kompresi dada, sekarang udah dibawa ke Rumah Sakit.”


“Hebatnya humairaku,” tutur Faris dengan napas yang masih terengah-engah.


“Suami Ica yang lebih hebat, huh sampe keringetan gini,” jawab Aisha tersenyum sambil mengusap-usap keringat yang bermunculan di dahi suaminya dengan kedua telapak tangannya.


“Permisi, Bapak dan Ibu mohon bantuannya agar ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut mengenai kronologis kejadian.” Tiba-tiba suara bariton mengejutkan aktifitas Faris dan Aisha.


“Oh iya baik Pak, kami akan ikut Bapak ke kantor,” tutur Faris segera mengikuti laju mobil polisi yang juga mengawalnya dari belakang.


***


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2