Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Doa pilu di rumah-Mu


__ADS_3

Dua jam lebih menyusuri gurun pasir dengan bus, akhirnya rombongan Faris dan Aisha sampai di kota Makkah.


Hati mereka semakin bergetar saat dari kejauhan sudah terlihat banyak sekali jamaah dengan pakaian ihromnya berjalan menuju satu arah.


Karena jam menunjukkan sudah hampir memasuki waktu subuh, maka bus yang mereka tumpangi tidak bisa mendekati hotel, karena lautan manusia tidak bisa dilewatkan.


Alhasil mereka harus berjalan menuju hotel yang berjarak kurang lebih tiga ratus meter lagi.


“Ica mau Abang gendong?” bisik Faris tak tega melihat istrinya yang seperti kelelahan.


“Dih ini di Makkah Bang, bukan di depan komplek.”


Faris sontak tertawa dengan jawaban sang istri, ia lupa jika selama prosesi umroh maka mereka harus menjaga dan menahan diri dari pasangan, atau ia akan dikenakan dam(denda).


Sampai di lobi hotel dan mendapatkan kunci kamar, semua jamaah langsung menuju kamar masing-masing.


Beruntung Faris dan Aisha bisa sekamar, karena memang sejak awal Faris sudah request harus sekamar dengan Aisha, dengan alasan ia tidak bisa tidur jika tak ada aroma sang istri.


“Tapi tolong tahan diri ya Pak, jangan sampai umrohnya batal.” Pesan ustadzah pihak travel yang membuat Faris hanya meringis menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Pagi itu Faris dan Aisha berjamaah solat subuh di kamar hotel, karena memang ketika mereka sampai, jalanan menuju masjid sudah ditutup. Setelahnya mereka langsung sarapan dan menuju masjidil haram untuk melaksanakan umroh wajib.


***


Seperti biasa Ayla baru saja keluar dari kelasnya, mata kuliah pada jurusan managemen bisnis memang selalu menguras otaknya, membuat perutnya bertalu-talu minta diisi setelahnya.


“Ayla!”


Ayla sontak menoleh saat namanya dipanggil.


“Wanna join?” (Mau gabung?)


Teman-teman tongkrongannya yang mayoritas bule mengajaknya hang out bersama, jika dulu dirinyalah sang leader, tapi sekarang sejak mengenal Gus Hasan ia tak lagi berminat dengan hal seperti itu.


“No thanks, I have to go,” tolak Ayla yang sangat disayangkan oleh teman-temannya. (Nggak ah makasih, aku harus pergi).


Untuk pertama kalinya Ayla pergi ke cafe kampusnya, merasakan menjadi mahasiswa biasa yang tak banyak neko-neko.

__ADS_1


Ia baru saja memesan makanan ketika tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok yang akhir-akhir ini tengah ia hindari tengah menyesap minumannya dengan tatapan sedikit pun tak beralih dari buku dalam genggamannya.


“Kok dia bisa di sini sih,” gerutunya memalingkan tubuh dan menutupi wajahnya dengan tasnya.


Ah ia lupa jika dirinya satu kampus dengan lelaki itu. Meski berbeda fakultas, namun tidak menutup kemungkinan jika ia bisa berjumpa dengannya.


Ayla berinisiatif untuk berputar balik, dengan tertatih ia berjalan dengan berjinjit-jinjit agar seseorang itu tak sampai menyadari kehadirannya, sayangnya ia terlambat, seseorang itu lebih dulu mengetahui keberadaannya dan memanggil namanya.


Ayla semakin mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan panggilan dari lelaki itu.


“Hulya Ayla Filiz!”


Suara lantang itu mampu menghentikan langkahnya seketika dan membuat seisi cafe menoleh ke arahnya. Membuat Ayla mau tak mau menghampiri orang itu sebelum ia bertindak lebih memalukan.


Sejak tadi Ayla tak mengeluarkan suara sepatah kata pun, ia hanya terus menunduk sambil mengaduk-aduk makanannya, bahkan sama sekali tak berani mengangkat wajahnya.


Bayangan kejadian semalam terus berputar-putar di kepalanya, ia mencoba untuk mengingat apa saja yang telah dirinya lakukan, bagaimana jika ia berbuat sesuatu yang memalukan pada Gus Hasan semalam?.


“Aaaa...,” teriak Ayla segera menyembunyikan wajahnya pada lengannya yang bertumpu di atas meja.


Sontak seisi cafe lagi-lagi menoleh pada pria dan wanita yang terduduk di sudut ruangan, ya itulah mereka, Gus Hasan dan Ayla yang kini menjadi pusat perhatian.


Gus Hasan mencoba mengguncang-guncangkan lengan Ayla yang tak kunjung menampakkan wajahnya, khawatir orang-orang akan beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar.


Tiba-tiba Ayla bangkit dari duduknya, membuat kursi yang didudukinya sedikit terdorong menimbulkan decitan yang tentu saja membuat orang-orang yang memang sejak tadi sudah memperhatikan mereka semakin mengerutkan kening. Bahkan beberapa terdengar saling berbisik.


“Aku nggak bisa, nggak bisa ...,” tutur Ayla menggelengkan kepalanya dengan panik, membuat Gus Hasan semakin bingung.


“Hulya, hey, what's wrong?” Gus Hasan turut bangkit dari kursinya. (Ada apa?)


“Ma-maaf San, aku harus pulang. Anggep aja semalem nggak terjadi apa-apa yah. Makasih jemputannya semalem.”


Buru-buru Ayla menggaet tasnya dan berlari keluar.


“Hey Hulya! Hulya Ayla Filiz!” teriak Gus Hasan yang sama sekali tak digubris Ayla, ia justru semakin mempercepat langkahnya.


“Apa efek alkohol semalem masih belum ilang yah?” gumam Gus Hasan benar-benar bingung dengan sikap Ayla.

__ADS_1


***


Setelah sarapan, rombongan Faris dan Aisha sudah bersiap untuk berjumpa ka'bah dan memulai thawaf.


Sebelum memulai melaksanakan umroh, rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok. Faris dan Aisha berada di satu kelompok yang kebanyakan juga pasangan suami istri, kelompok mereka dipimpin oleh Pak Said, urusan dari pihak travel.


Di Indonesia, kebanyakan sering beranggapan bahwa bersentuhan antara suami istri dapat membatalkan wudu. Ketika manasik, ramai-ramai menanyakan hal tersebut pada Pak ustadz.


Jawabannya, selama tidak ada rasa syur, maka bersentuhan antara suami dan istri tidak membatalkan wudu atau kegiatan lain yang mengharuskan berwudu. Begitu pula jika suami istri bergandengan tangan selama berthawaf, sai, atau kegiatan ibadah lainnya.


Seperti Aisha dan Faris yang sejak tadi tak pernah melepaskan tautan jemari mereka sedetikpun karena khawatir terpisah. Keduanya bersyukur karena islam banyak memberikan kemudahan kepada mereka semua.


Dan akhirnya mereka menatap Ka'bah, Baitullah, rumah Allah. Yang menjadi pusat arah seluruh muslim di penjuru dunia untuk melaksanakan solat.


Pak Said membimbing doa pertama kali melihat Ka'bah, sementara mata Faris dan Aisha masih tidak terlepas dari Ka'bah. Bersyukur karena keduanya diberi kesempatan kembali untuk menginjakkan kaki di rumah Allah yang mulia ini, terlebih saat ini mereka berdiri dengan orang yang teramat dicintai.


Pak Said lantas memberi aba-aba untuk memulai thawaf, dan mereka menuju pelataran Ka’bah.


Bismillah, Allohu Akbar, maka berthawaflah mereka. Mengelilingi Ka’bah tujuh kali dimulai dari hajar aswad, berlawanan dengan jarum jam sehingga Ka’bah selalu berada di sisi kiri mereka. Kelompok Faris dan Aisha melebur dengan mereka yang sudah melaksanakan thawaf lebih dulu. Bacaan talbiyah saling bersahutan, sementara Aisha semakin mengeratkan pegangannya pada sang suami, khawatir terlepas melihat hiruk pikuk ramainya manusia yang berseliweran.


Putaran demi putaran mereka lalui, Ka’bah yang berbentuk kubus itu tampak sangat kecil dilihat dari keluasan Masjidil Haram. Ka'bah itu tertutup oleh kain kiswah yang terbuat dari sutera hitam dan bersulamkan kaligrafi dari emas timbul di bagian atasnya.


Mentari yang semakin meninggi menjadi saksi lautan manusia dengan berbagai ras dan suku bangsa yang berbaur menjadi satu, membaca doa berbahasa Arab dengan aksen masing-masing negeri, semuanya merasa dekat dengan Sang Pencipta karena mereka tengah berada di Baitullah, Rumah Allah.


Mendekati Hajar Aswad, batu hitam yang dikisahkan diturunkan Allah dari syurga melalui malaikat Jibril, Faris dan Aisha masing-masing merapalkan doa dengan khusyuk, berhimpitan dengan lautan manusia yang semakin terasa sesak karena banyaknya orang yang ingin mendekat dan mencium Hajar Aswad.


Ditengah khusyuknya Aisha berdoa, netranya menangkap sosok bocah yang ia lihat di bus tadi, yang selalu membuat hatinya bergetar hanya dengan menatap wajahnya. Dengan lincahnya bocah itu mengiringi langkah sang kakek untuk berthawaf, wajahnya terlihat sangat damai, seperti malaikat kecil yang tengah bertasbih pada Rabbnya.


“Allohu ... karuniakanlah dari rahimku sosok malaikat kecil yang selalu bertasbih pada-Mu,” lirih Aisha dengan wajah yang terasa semakin basah, menatap pilu bocah dan kakeknya itu yang semakin menjauh dari pandangannya.


***


Sabar yaa Aisha mudahan-mudahan cepat terkabul karena doanya pas di maqom ijabah 😇


Buat Gus Hasan tolong peka ya Gus 🤣


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang...


__ADS_2